
Aku menikah dengannya bukan karena Cinta yang menjadi dasar. Tapi karena perjodohan antara kedua orang tua kami, dan. Sebuah adat yang dipercaya oleh ayah ku. Jangan menikah dengan mendahului kakak perempuan, pamali.
Itu yang papa katakan padaku saat adikku Tasya hendak menikah dengan kekasihnya.
Aku tahu, siapa lelaki yang adikku cintai. Aku tahu siapa lelaki yang hendak menikah dengannya. Dia adalah. Suamiku. Ya, suamiku adalah kekasihnya, calon yang hendak meminangnya.
Namun, aku tak bisa berbuat apa-apa. Jika Papa sudah bertindak, bukan maksudku untuk menikmati kesenangan diatas derita adikku yang kehilangan kekasihnya. Tetapi, karena kondisi Papa yang tidak sanggup aku tolak. Papa sakit, itu yang membuatku dilema.
Toh, sekarang aku pun mendapat balasan setelah merebut kekasih adikku. Aku menderita karena prilaku suamiku sendiri. aku putus asa karenanya. I've got. Hurt, misery, I gripped it. I got what I was supposed to get from ... my husband.
Flashback on
**Rombongan keluarga pengantin pria sudah datang, sang lelaki terlihat gagah dan tampan menggunakan tuxedo berwarna hitam. Diapit oleh sepasang paruh baya, orang tuanya.
Keluarga Adinata--keluarga sang perempuan, memiliki dua orang putri dan satu orang putra. Putri sulung, Brenda Maria Adinata yang berusia 24 tahun bekerja sebagai sekretaris disalah satu perusahaan besar di Indonesia. Kedua Tasya Zamora Adinata 22 tahun bekerja sebagai aktris dan penyanyi tanah air, dan terakhir Kelvin Bhama Adinata berusia 20 tahun seorang mahasiswa hukum.
Senyuman terpatri dimana mana menandai bahwa acara ini telah ditunggu-tunggu semua orang, tetapi tidak bagi dua orang yang tengah saling menatap sendu. Tasya menatap sang kekasih, kekasih yang sebentar lagi akan menjadi iparnya. Bukan tanpa alasan mereka berpisah, itu semua karena peraturan yang dibuat oleh Sang ayah.
Dimana seorang adik jangan sampai mendahului sang kakak, apalagi ia seorang perempuan. Klasik memang, namun itu sanggup mengubah kehidupan dan hubungannya dengan sang pacar. Austin Bernas Notonegoro. Calon suami kakaknya. Bahkan beberapa saat lagi akan menjadi Suami Kakaknya, bukan hanya calon.
'sahh...!!!!! ' para saksi dan tamu undangan berucap serentak.
'sial... Lihat saja Maria, setelah ini. Kepedihan dan keputusasaan akan mendera kehidupanmu. ' Austin menyeringai jahat pada Maria*.
Pernikahan ini sudah berjalan hampir setengah tahun, dan Austin masih tetap dingin padaku. Dia selalu pergi pagi dan akan pulang saat tengah malam atau bahkan tak pulang selama berhari-hari.
Orang tua kami tak mengetahuinya, tentu saja. Austin akan berakting saat didepan mereka. Dan bodohnya, aku menikmati itu. Salahkah aku?
Hari ini seperti biasa, dia tak ada dirumah. Sejak kemarin ia tak pulang. Padahal ini weekend, dimana seharusnya ia libur dirumah dan mungkin menghabiskan waktu bersama?! Entahlah, aku ragu saat berkata seperti itu.
.tok.. tok... tokk...
sepertinya ada yang datang, ku siap membuka pintu dan ternyata.. Austin datang. Dengan Tasya disampingnya dan tak lupa menggelayuti lengan suamiku. Pemandangan ini sudah sering aku lihat, dan.. ini cukup membuat emosiku bak roller coaster, naik turun dengan cepat dan wuusshhhh..... berakhir dengan aku yang menangis dikamar mandi.
"Buatkan kita makan siang, Tasya lapar" dia berkata tanpa menoleh sedikitpun pada ku. Dengan suara dingin bak kutub utara. Suaranya yang dalam, seperti sedang mengambil ancang-ancang untuk meluapkan emosinya.
"Heh.. Maria!! Suami ngomong tuh jawab!! Emang dasar gak becus ya jadi istri!!! " tak aneh adikku berubah hingga 100% setelah satu bulan pernikahanku terlaksana.
"Aku diam bukan berarti aku gak becus ngurus suami, aku selalu coba untuk pahami apa yang dia mau. Sampai aku rela berbagi suamiku dengan adikku sendiri" aku segera pergi dari sana. aku tahu ucapanku itu sangat beresiko mengundang amarah Austin. Dan saat ini aku sedang malas untuk menjadi samsak hidupnya.
•••••
***HAI HAI**!!!!
AKU dateng dengan cerita baru nih, dan aku mohon banget sama kalian untuk dukung aku bisa melalui vote dan like atau jika sempat kalian komentar juga*!!