Just A Little Bit Of Your Heart

Just A Little Bit Of Your Heart
Menyebalkan



Ku tatap tajam pria yang sedang duduk diantara kedua putraku. Beraninya ia datang kembali setelah melakukan kesalahan dahulu, tak ingatkah dengan apa yang sudah dilakukannya??


"Keith, Keefe... ayo kita pulang.. aunty Sofi sudah menunggu kita" ucapku perlahan, aku tak mau anakku melihat pertengkaran jika aku masih bertahan duduk satu meja dengan pria ini.


"Mom, kita baru sampai... aku lapar..." ucapan Keefe membuatku menghela napas seketika.


"Keefe, kita akan makan dirumah..." ucapku lagi. Aku benar-benar malas berurusan dengannya.


"Tapi aku mau disini, iyakan Keith... Dad..." ucapnya lesu.


"Iya.." // "iya" ucap dua pria dewasa dengan bersamaan.


Astaga...


"Kenapa uncle menjawab ucapan Keefe?.. dia kan bicara pada daddy..." ucap Keith dengan nada tak suka.


"Baby... aku ini ad....." segera ku hentikan ucapan Austin.


"Daddy... bisakah kau membawa kedua putra-mu menuju mobil... mommy akan bicara sebentar dengn uncle ini..." ucapku lembut pada Nathan.


"Apapun darling, kemarilah..." ucapannya membuatku mengernyit.


Namun aku tetap mendekatkan wajahku padanya.


Cup...


Mataku membulat seketika, Keith.. Keefe... mereka masih terlalu kecil untuk melihat....


Kurasakan kecupan singkat dibibirku...


Ku jauhkan wajahku, ia hanya tersenyum setelah melakukannya.


"Kenapa daddy memakan mulutmu, Mom?!" aku tekejut dan segera ku cubit lengannya. Nathan tersenyum dan meringis secara bersamaan.


"Ayo kita pulang, aunty Sofi menangis karena kita tinggalkan..." tanpa berpikir ulang, ku raih Keefe dan Keith meski aku harus melewati Austin terlebih dulu...


***


Perjalanan pulang terasa hening setelah si kembar tertidur. Nathan juga ikut fokus pada jalanan didepan. Sedangkan aku, pikiranku terus saja terpaku pada beberapa saat lalu. Dimana Austin sempat mengecup pipi Keith dan Keefe saat kami hendak pulang.


Flashback....


"tunggu..."


langkahku terhenti saat lengan mungil Keith dan Keefe digenggam oleh seseorang...


"Mau apa kau?..." tanyaku berang.


"Sebaiknya kau pergi sebelum aku menghajarmu disini..." ucap Nathan dengan rahang yang mengeras.


"Baby.... dengarkan aku.. aku tahu kalian belum mengenalku... tapi ku mohon... panggil aku daddy... please...." emosiku langsung tersulut saat mendengarnya berbicara dengan kedua anakku.


Ku dorong badannya hingga tersungkur dan aku menarik kedua putraku yang masih terdiam, meski sedikit terkejut ia segera bangkit. Dan kembali mensejajarkan badannya dengan kedua putraku.


Nathan menggenggam erat tanganku.


"Biarkan ia bicara sebentar saja... aku ingin tahu ia bicara apa?...." bisinya kemudian.


"baby dengar... aku menyayangimu... dan aku pun juga sama menyayangimu... kalian sangat ku rindukan...." ucapnya lalu mengecup kedua pipi anakku.


Lalu pergi begitu saja...


Flashback off....


"Kita sudah sampai, ayo turun..." aku tersenyum padanya, Nathan memandangku dengan pandangan sayunya.


"Apa aku terlalu jahat?...Apa aku salah jika memisahkan mereka?...Apa aku harus memaafkannya?.." ucapku. Suasana kembali hening.


Mataku sudah berkaca-kaca menahan tangis.


"Jangan menangis karenanya.... Aku tak akan pernah membiarkan air matamu ini jatuh dikedua pipimu..." Nathan menangkup wajah, dan perlahan menghapus air mataku.


"Dulu, aku takut jika suatu hari bertemu dengannya... dan kini, ketakutan ku menjadi nyata... dia datang, dia berbicara pada anakku... dia... dia.., aku takut dia akan mengambil kedua putraku..." akhirnya tangisku pecah.


"Aku takut Keith dan Keefe akan meninggalkanku... aku takut mereka memilih hidup dengannya... aku takut sendiri... hiks..."


"Tidak... tidak ada yang pergi meninggalkan mu... Keefe dan Keith tak akan pergi kemana mana... Mereka akan tetap bersamamu... aku sendiri yang akan menjaga kalian..." ku menangis dalam pelukannya.


Ku lihat kedua putraku dikursi belakang. Aku tak mau sampai mereka pergi dari hidupku... aku tak mau...


***


Dua minggu ini aku sibuk dengan pekerjaan dari perusahaan milik papa. Banyak meeting yang harus ku lakukan.


Melelahkan memang, apalagi sudah lima hari ini aku pulang larut dan anakku sudah lebih dulu tertidur.


"""Drrtt... ""


Satu panggilan masuk..


Ku lihat nama yang tertera, Nathan??


"Hallo Nathan..."


"Baiklah... aku akan mengaturnya ulang, kita bisa bicarakan dengan mrs. Watson nanti..."


"Okay, sampaikan salamku padanya..."


"Mereka baik, dan ku harap kau akan menelpon mereka nanti malam..."


"Bukan aku... anakku.. sudahlah, aku harus bekerja, bye!!"


Satu minggu tak bertemu dengan Nathan entah kenapa membuatku rindu, sikap konyolnya, arogannya dan tingkat kepercayaan diri yang tinggi miliknya sedikit membuatku kehilangan. Konyol sekali, dia hanya pergi untuk urusan bisnis. Dan aku bersikap seperti seorang yang sudah lama tak bertemu dengan pasangannya.


Yang benar saja...


Sebentar lagi jam makan siang, aku berencana mengajak Keith dan Keefe makan siang direstoran jepang.


***


"Mom... aku suka..!!" ucap mereka serempak saat ku ajak keduanya makan disini.


"Permisi... boleh aku gabung?!" Ku angkat wajahku saat seseorang datang dibalik badan Keith.


"Duduk Mike, sayang... kenalkan ini uncle Mike..." ucapku pada Keith dan keefe yang tampak bingung saat.


"Sudah lama... dan kamu tidak berubah, masih tetap cantik, dan penyayang..." ucapnya, dan aku juga menyadari bahwa...


"Kau juga tidak berubah... masih suka menggombal dan menggoda orang lain...." ucapku tak mau kalah darinya. Ia hanya terkekeh geli.


"Keith... Keefe, uncle tak percaya sekali bisa bertemu dengan kalian lagi... kemarin kalian masih berada dalam gendonganku.. Sekarang, kalian sudah tumbuh dengan sehat..." cetusnya sambil mengusap kepala anakku.


"Wah... apa aku dulu tampan uncle?!" tanya Keith dengan riang.


"Aww... tentu saja.. kalian berdua adalah kembar paling tampan yang uncle tahu..." aku tersenyum melihat interaksi mereka.


Mengingat dulu, Mike yang membantuku pergi kerumah sakit. Dia yang menungguiku saat keluargaku belum sampai.


"Hai dad!!!!" ucap Keefe dengan berteriak.


Ku hela napas berat, kenapa orang ini harus kembali hadir...


"Haii kids, apa kabarmu, hmm? "" Austin langsung duduk dikursi yang berdekatan denganku.


"Kabarku sangat baik, dad..." jawab Keefe dengan senyuman mengembang diwajahnya.


"Ada apa uncle kemari?..." ucap Keith datar.


Ada apa ini? Keith?


"Hanya ingin menemui kalian saja... karena lusa, daddy akan Pulang ke Indonesia.. " dapat ku tangkap kesedihan disana. Namun dengan cepat ku tepis rasa kasihan dihatiku ini.


"Kenapa dad?... apa daddy akan meninggalkanku?..." ku lihat Keefe tertunduk sedih.


"Daddy harus bekerja, untukmu..." Austin menggapai lengan mungil Keefe. Lalu tersenyum melihat tingkah gemasnya.


"Daddy Nathan dan Mommy bekerja disini, tanpa harus pergi.." Keefe masih tertunduk.


Lihatlah, perubahan yang dialami anakku kali ini. Keith dan Keefe berbeda pendapat, dan aku tidak menyukainya...


"Sayang... itu berbeda, daddy harus kembali karena kantor dad berada disana.." cetusnya.


"Keith.. apa kau suka membaca?... daddy baru saja membeli dua buah buku, satu untukmu dan satu untuk Keefe..." ucapnya dengan senyuman diujung kalimat.


Ku lihat Keefe tersenyum dan menerima dengan baik hadiah yang Austin berikan.


"Thank you dad, i really love it..... aku akan belajar menghitu setelah ini" ucap keefe masih dengan memegang buku belajar yang diterimanya.


"Tidak perlu dad, daddy Nathan akan membelikannya untukku..."


Aku terdiam, Mike pun sama...


Kami masih berada dalam keterkejutannya masing masing setelah mendengar ucapan Keith pada daddynya.