
"APA?!!........Menikah?" aku terpekik atas ucapan yang baru saja ia lontarkan padaku.
Ku lihat ia yang menghadap arah depan kemudi, seperti tak terganggu dengan pekikkanku. Aku menggeleng tak mengerti.
"Kenapa? Kau single kan?!" kini giliran dirinya yang menatapku, sambil sesekali melihat kedepan.
"A...aku single, hanya saja... Astaga, Mr. Nathaniel.... kita baru bertemu tidak lebih dari dua bulan dan pertemuan itu pun atas dasar bisnis... Kita bicara dengan normal pun baru kemarin, asal kau tahu.." aku coba mengingatkannya.
"Memangnya kenapa? Apa kita harus memasuki tahap pendekatan terlebih dahulu? begitu maksud mu, baiklah.. aku akan mendekatimu dulu..." ucapnya enteng. Aku tak tahu harus bersikap seperti apa dihadapannya.
Terus terang, aku semakin dibuat pusing dengan ini semua. Dia yang hadir kembali, dan bersikap aneh, ditambah dengan pria disampingku ini yang menambah kadar pusing dikepalaku.
Bagaimana jika dia muncul dihadapan Keith dan Keefe? Bagaimana caranya aku bersikap pada kedua putraku, jika itu terjadi....
Ku usap wajahku frustasi.
"Kenapa?...apa yang kau pikirkan diotak kecilmu ini hmmm...??" ku rasakan genggaman hangat ditanganku. Ia membawa menuju pipinya, dan mengusapkan secara perlahan disana.
Aku tertegun, baru kali ini seorang pria memperlakukanku seperti ini. Ahh meski dulu aku sempat dekat dengan Nate, namun itu berbeda. Apa kabar dia, saat ini?...
"Kenapa?... apa kau berpikir aku sangat manis?..." kesadaranku kembali setelah mendengar ucapannya. Ia tersenyum sedangkan aku sudah menatapnya ngeri.
"Apa?...." tanyaku nyalang.
"Kau, kau lama termenung.. jadi ku pikir kau sedang memujiku karena sikap ku yang manis tadi, benarkan....." ku putar bola mataku jengah, dia terkekeh sendiri.
"Aku rasa kau terlalu percaya diri Mr. Flirtatious... Bagaimana bisa Sofia yang baik, manis dan rendah hati memiliki saudara yang sombong dan over confidence sepertimu..." gerutuku.
"Wah wah... kalian sudah sedekat itu ya, sampai kau tahu dengan baik bagaimana sifat adikku itu.... baguslah, jika sudah begitu tinggal aku yang akan mendekatimu... agar kau tahu sifatku yang lain....." ucapnya langsung membuatku berdecak.
"Aku yakin entah saat ini, esok atau mungkin lusa.... kau akan segera menyukaiku atau mencintaiku nona..... uuppss... maksudku nyonya..." tambahnya. Aku tak mau mempedulikannya lagi, ku tutup mataku lebih baik berpura-pura tertidur saja dari pada harus meladeni ucapan absurdnya.
***
Ku kerjap mataku dan membukanya perlahan. Ku lihat sekeliling, ini kamarku..., tapi, bukankah semalam aku bersama tuan genit didalam mobil?? Bagaimana bisa aku disini?!...
"*Mommmmmmmmm..........wake up!!!! hurry....."
"Mommy... mom... hurry up!!! mommy*!..."
Aku tersentak saat kedua putraku berteriak diluar kamarku. Segera ku ubah posisiku menjadi duduk menunggu mereka membuka pintu.
"*Hallo mom.... good morning!!!"
"Morniiiiiingggggggggggg*........... "
ucap keduanya bersamaan.
"Morning son... oh my god, apa yang buat kalian senang,hmmmm?!" tanyaku setelah keduanya duduk dipangkuan ku.
"Tebak dong mom....." ucap Keith. ku taruh telunjuk di dagu, layaknya orang berpikir.
"....Umm, apa ya?.... Mommy gak tahu, mom bingung..." jawab ku.
"Uhhh, mommy.... tadi, daddy Nath-Nath bilang... kita mau liburan, with mommy, and aunty Sofia..." jawab Keefe gemas. Keith hanya tersenyum dan menganggukam kepala saat adiknya menjelaskan.
"Daddy bilang semalam mom juga sudah jadi kekasihnya...." ucapan Keefe kali ini membuatku langsung memelototkan mataku.
"Kekasih itu apa, Mom?" tanya Keith dengan mata bulatnya.
"dimana daddy?" tanyaku geram, dan aku segera bangkit untuk mencari cecunguk genit itu.
Beraninya dia meracuni otak anak-anakku. huh, memikirkannya saja membuatku kesal... ingin ku cabik cabik kepalanya...
""" brakkk """"
Ku gebrak meja sambil memasang wajah garangku dihadapan pria yang sebelumnya sedang tertawa bersama adiknya kini terdiam dan terkejut melihatku.
"Kau..... kenapa kau racuni otak anakku?!!!....." aku berteriak sambil berkacak pinggang didepannya.
Lihatlah.... ia masih bisa bersantai setelah aku berteriak didepannya.....
"Kau itu kenapa? ini masih pagi, Keefe dan Keith dimana?.... ajaklah mereka sarapan dulu..." cetusnya. Ia santai sekali.
Dahiku mengernyit geram, bagaimana bisa dia makan dengan santai setelah apa yang ku lakukan, Sofia saja masih terdiam setelah melihat kelakuanku.
"A...aku, aku akan memanggil anak-anak dulu.." ucap Sofia sebelum meninggalkan ku dan kakaknya yang masih saja intens melihat ku dan memakan buah gaya slow motion--aku jamin ia pikir ia sexy saat melakukannya.Ku doakan agar ia tersedak saat ini juga...
"Kau masih mau berdiri?...." ucapnya seraya bangkit dan berjalan menuju ke arahku. Namun aku masih diam, seakan menungguinya mendekat.
Tentu saja, setelah mendekat akan ku pukul kepalanya.....
Tapi niatan itu seketika menguap saat ia sudah berada dihadapanku, dan mendekatkan wajahnya padaku.
"Kau coba menggodaku, hmmm? " bisiknya.
Apa maksudnya?!...
Ku lihat penampilanku dari bawah hingga atas, tak ada yang salah... ku menunduk lagi dan.....
""pletakkk...""""""
Ku pukul kepalanya, dasar mesum.
Dia tertawa sambil meringis kesakitan. Ku cubit perutnya, meski keras saat kucoba...
"Dasar pria mesum, arogan, sombong, tukang pamer, over percaya diri, dan semua sikap buruk ada padamu..... rasakan ini!!!..." aku terus mencubit apa yang bisa ku cubit.
"Kau itu mencubit atau memijat roti sobekku, huh." aku tak memperdulikannya, aku terus mencubiti perut lalu lengan dan entah bagaimana tangan nakal ku ini sudah berada diwajah tampannya. Aku menangkup wajahnya....
"Ka.. kalian, ayo sarapan..." ucapku sambil terkekeh sumbang. Tunggu. Tanganku, tanganku masih seperti semula....
"Kau genit ya...." ucap pria menyebalkan itu dengan seringai bodohnya.
***
Ku berjalan sambil menghentakan kakiku, didepanku Keith dan Keefe yang sedang menggandeng tangan Nathan. Berjalan dengan riang dan ceria, senyum yang terpatri diwajah mereka sangat berbanding terbalik dengan yang ku rasakan. Sofia hanya terkekeh melihatku.
Nathan mengajakku ahh tidak tidak... lebih tepatnya ia mengajak Keith dan Keefe sambil menyeret ku juga untuk ikut dalam liburan kepantai ini.
Sederhana memang, namun ku rasa ini akan menjadi momen yang tak terlupakan bagi anakku. terlebih mereka berdua yang merekomendasikan tempatnya....
"Keith dan Keefe tampak senang dan bahagia saat bermain air dengan Nathan. Meskipun lelaki itu menyebalkan, tetapi dia juga menyenangkan untuk kedua putraku.
Aku dan Sofi hanya duduk dipinggir pantai, aku terlalu malas bermain air. Sofi pun demikian, ia tak mau basah-basahan seperti mereka.
"Aku senang melihatnya bisa tertawa lepas lagi, setelah insiden dimana istri dan anaknya meninggal... ia tak pernah tertawa seperti saat ini...." ucap Sofi tiba-tiba.
Nathan pernah menikah? dan punya anak?!!
Aku terkejut, bagaimana bisa?
Sifatnya saja menyebalkan seperti itu, wanita mana yang mau menikahinya??
"Kak Nathan yang dingin, angkuh, kini mulai memudar... Padahal kalian baru bertemu dengannya, iyakan?!" aku mengangguk mengiyakan, bahkan awalnya hanya sebuah relasi bisnis.
Kemudian ia tanpa sengaja ikut masuk dalam keluarga kecilku beberapa hari yang lalu, mengklaim dirinya sebagai daddy dari Keith dan Keefe, mengajakku ke pesta, mengklaim diriku sebagai kekasihnya, dan saat ini ia mengklaim Kami sebagai keluarga bahagianya...
Sempurna sekali, jika semua seindah itu...
Namun sayang, itu semua dibumbui dengan otak mesum dirinya. Aargghhh..... aku jadi ingin memukulnya lagi, jika mengingat kejadian dimeja makan tadi pagi.
Dimana aku berdiri, berteriak, sambil berkacak pinggang didepannya tanpa sadar jika pakaian yang ku kenakan sangat tipis dan plusnya.... aku tidak memakai...apa-pun didalamnya....
Aiisshhhh.... memalukan sekali....
"Heii kalian berdua!! Ke pantai tapi tak bermain air, lebih baik kalian pergi atau tidak ikut saja...." bibirku mencebik kesal mendengar teriakan Nathan.
Ku berdiri dan melangkah menuju arahnya. Berkacak pinggang dengan gaya arogan, ku harap aku tak terjatuh karena tersandung saat mempraktekkan gaya aroganku....
"Apa kau bilang?! Pergi?? hei tuan.... Mereka berdua ini anakku.... Aku ibunya, jadi aku akan mengikuti mereka kemana pun..." jawabku sarkas.
"Lalu?...." cetusnya. Lihatlah, menyebalkan sekali dia.
"Apa?! lalu apa?!...." tanyaku menantang.
"Mom, ayo main air..." ucap Keefe membuatku mengalihkan pandanganku padanya.
"Ahhh.... sayang sekali aku tidak membawa peliharaan ku... pasti mereka akan senang jika berenang disini....." ucap Keith lesu.
"Peliharaan?..." tanyaku heran, sejak kapan anakku memelihara binatang??
"Telur katak yang dulu Mom, mereka sudah menetas dan berenang didalam toples kecil itu... mereka berdesakan mom, jika mereka ku bawa disini... pasti akan luaaaaaaassssss...... dan mereka benas berenang renang...." ucap Keith sambil mempraktekan tiap katanya.
Ahh, aku mengingatnya... telur kodok, katak atau apalah itu.... ternyata Keith belum juga membuangnya... Sepulang dari sini aku akan memastikan sendiri telur telur itu akan lenyap seketika... Tak bersisa.
"Apa sikap anehmu, diturunkan pada Keith?!..." tanya Nathan padaku.
"Enak saja, siapa yang kau sebut aneh itu tuan..." ucapku dengan nada tinggi.
"Mom... Dad... jangan bertengkar, baikan ayo... berbaikan dua-duanya....." cetus Keefe.
"Ayo ayo ayo, yeayyyyy...." Keith bersorak saat tiba-tiba badanku terangkat oleh Nathan yang menggendongku.
Refleks ku kalungkan lenganku dilehernya, kami tertawa bersama. Dan pada akhirnya aku basah juga, Sofia tertawa dan dia pun ikut menjadi korban keisengan anakku dan kakaknya.
***
Waktu makan malam tiba, Nathan mengajakku dan anak-anak untyk makan malam direstoran dekat hotel tempat kami menginap. Sofia tak ikut, karena ia sedang tertidur kecapean.
"Mau makan apa?!" tanyanya.
"Aku bisa pes....an" ucapku terpotong olehnya.
"Aku bertanya bukan padamu, tapi pada Keith dan Keefe...." ucapnya menyebalkan.
"Tapi aku juga mendengarnya, jadi aku bebas untuk bicara" ucapku tak mau kalah.
Keefe dan Keith tertawa melihat interaksi ku dan Nathan.
"Baiklah kekasihku yang cantik jelita namun sangat cerewet dan garang...." cetusnya lagi.
Kami makan dengan tenang saat makanan yang dipesan sudah terhidang. Hingga seseorang datang mengganggu ketenangan jantungku.
"Bolehkah aku bergabung dengan kalian..... Mr Braxton dan....... Mrs Adinata?!.."
Ku hirup napas dalam dan sebanyak-banyaknya. Aku perlu mengatur emosiku saat menghadapi manusia satu ini, terlebih dihadapan Putra Putra-Ku.
Ku lihat Nathan sudah mengencangkan rahangnya, memandang pria yang berdiri dengan senyuman bodoh menurutku.
Senyuman yang dulu ingin ku lihat, dan tercipta hanya untukku. Dulu......
"Ayo Uncle.... duduk disamping ku dan Keefe......." aishhh..... Keith...... mommy ingin mencium dan mendekapmu saat ini juga, untuk apa mengajaknya..........
"Wah, makan malam ini akan menyenangkan.... bukan begitu my lovely ex-wife..." ucapnya sambil mengedipkan matanya padaku.