Just A Little Bit Of Your Heart

Just A Little Bit Of Your Heart
Sakit lagi. (Maria Pov)



Aku masih memikirkan perkataan adikku, Kelvin. Ucapannya tentang Austin dan Tasya yang sering menghabiskan waktu bersama dihotel. Meskipun aku tahu, mereka sepasang kekasih. Tapi apa mereka tak berpikir jika, bisa saja keluarga ku atau keluarganya akan melihat kemesraan mereka berdua?!


Aku hanya bisa tersenyum miris, merasakan sakit hati pun aku sudah biasa, apalagi hari ini aku sudah melihat mereka resmi bertunangan. Bahkan dirumah yang ada aku didalamnya sekali pun.


Ku lihat jam dinding yang sudah menunjukan waktu makan malam sebentar lagi. Bergegas ku keluar kamar dan menuruni anak tangga menuju dapur. Saat ditangga terakhir, seseorang memanggil namaku.


"Maria, bisa bicara sebentar?" Ku lihat Malvin berjalan mendekat. Apa teman-temannya yang lain belum pulang juga?!


"Malvin, ada apa? " ku ajak dia berjalan menuju taman belakang. Disana terdapat kursi, ku yakin pembicaraan ini akan memakan waktu, dilihat dari raut wajahnya yang nampak serius.


"Bisa ku mulai? " tanyanya setelah kami duduk bersebelahan. Aku hanya diam menunggunya berbicara.


"Aku ingin berkata jujur, bahwa. Sebenarnya aku masih memiliki perasaan padamu, ku kira perasaanku ini akan hilang. Tapi nyatanya, justru aku semakin merasakan cinta yang lebih besar lagi padamu...." ia menggenggam tanganku, menangkupnya hingga tanganku tenggelam dalam kehangatan yang bahkan tak pernah ku rasakan dari suamiku sendiri.


"...ku tahu aku gila, berkata seperti ini pada seorang wanita yang sudah memiliki suami. Tapi selama ini aku tak bisa lagi menahannya, ku mohon setelah ini. Jangan ada jarak diantara kita, jangan seperti dulu lagi. Sudah cukup kau menjauh dari ku dulu, sekarang... tak usah kau pikirkan ucapan ku sekarang, aku hanya mengeluarkan apa yang sudah aku pendam selama ini." Ku lihat tepat dimatanya yang gelap, ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


Aku tak percaya, bertahun-tahun dia masih menyimpan perasaannya padaku. Dulu aku sempat menjaga jarak darinya setelah ia menyatakan bahwa selama mengenalku ia memiliki rasa lain yang bisa dibilang cinta.


******


Ku rapihkan piring-piring diatas meja makan setelah ku taruh lebih dulu makanan yang menjadi hidangan makan malam kali ini, Malvin, Mike dan teman-temannya yang lain belum pulang mereka bilang akan makan malam lebih dulu disini.


"Wow, beautiful.. Kau rajin sekali, hah.. suamimu sangat beruntung menikahimu, aku jadi ingin menjadi suami keduamu Maria.. " Aku hanya bisa memutar bola mataku mendengar gombalan dari Mike.


Sedangkan yang lain malah terkekeh, kecuali Austin dan Malvin. Keduannya hanya menatap tajam pada Mike yang juga ikut terkekeh sendiri.


"Suamimu dimana Maria? Aku belum melihatnya... Apa dia tampan? Hah, aku jamin tak lebih tampan dariku. Maka dari itu, lebih baik kau selingkuh denganku saja, bagaimana?!" Ingin sekali aku menyumpalkan sesuatu pada mulut lelaki ini, agar ia diam sekaliiiii sajaaa...


"Maaf, aku termasuk wanita setia Mike.. Silahkan kalian makan, aku akan pergi sebentar.. " sebelum aku berbalik, ku lihat Austin sekilas. Dia tak peduli, seperti biasanya.


"Kau mau kemana Maria? Heeiii Austin, apa kau masih mau disini menunggu Tasya kembali? Seriously, lebih baik kita kembali kerumah mu saja. Maria akan pergi, tak sopan rasanya jika pemilik rumah ini pergi namun kita masih disini" Malvin... Untuk apa dia bertanya seperti itu??


"Ini rumahku. Ini tempatku, dan istriku...." Apa.. Apa dia akan mengatakannya?!


"Oops, maksudku calon istriku. Tasya. Maria hanya menumpang sementara disini"


Deg..


Dugaanku terlalu jauh, aku terlalu mengharapkan sesuatu yang tidak akan mungkin terjadi. Ayolah sadar Maria..!!! Dihatinya hanya Tasya bukan dirimu!!!


"Maria, apa suamimu miskin sampai kau ditelantarkan disini? Lebih baik kau bercerai saja dari pria itu!! Dan datang padaku" Aku tak ingin berada disini lebih lama lagi, ku berbalik menuju kamarku hendak mengganti pakaianku.


Setelah mengganti pakaian aku kembali ke dapur, untuk meminta kunci rumah cadangan pada bik Sum. Dan sialnya, aku harus kembali melewati ruang makan.


Baru saja aku berpikir untuk kembali, seseorang sudah menepuk pundakku dari belakang.


"Kamu mau kemana?" kulihat orang itu yang tak lain, Malvin.


"Mencari udara segar." jawabku sambil berjalan menuju garasi. Rasanya, aku tak mau terlalu banyak berbasa basi kali ini, moodku sedang buruk, sangat buruk.


Ku nyalakan motor sportku, setelah sebelumnya ku kenakan helm fullface milikku. Yeah sebelum menikah, diriku ini memang sangat menyukai motor. Seringkali aku menggunakannya saat ada kesempatan, entah itu bekerja atau sekedar mencari angin seperti sekarang ini.


"Non... non mau kemana toh? ini sudah malem non" bik sum membuatku kaget, wanita ini selalu khawatir padaku. Tapi aku menyukainya, seperti disayangi.


"Ada apa bik? " tanyaku, ku buka kembali helmku. Dia menyerahkan kunci, ahh.. Tuhan, terimakasih..


"Makasih bik, aku mau pergi dulu sebentar, mau cari angin.." jawabku dengan senyuman.


"Oalah.. bibik kira mau kemana, ati ati dijalan non, jangan ngebut ya non" aku mengangguk mengiyakan.


Ku tinggalkan rumahku dengan kecepatan sedang, dan setelah sedikit menjauh. Ku pacu motorku dengan kecepatan tinggi. Aku tak peduli lagi, aku merasa tak kuat lagi mempertahankan hubungan ini.


Aku sakit hati, aku kecewa, hampir satu tahun ku jalani dengan tulus dan penuh perjuangan. Tapi aku semakin tak yakin dengan hubungan ini, setelah hari ini. Pertunangan, huhh..


Ingin aku berteriak dihadapan suamiku, aku istrimu!!! aku sakit melihat mu memeluknya dengan sayang, memandangnya dengan tatapan lembut dan cinta, berbicara dengan tutur kata yang manis.


Aku sakit Austin, kau hanya bisa melukaiku, kau menyentuh tubuhku melalui tamparanmu, dengan jambakan dan cengkramanmu, kau memandangku penuh kebencian seakan aku wanita hina dimatamu, kau hanya berbicara kasar dan kerap kali ucapanmu menyakiti ku.


******


Disini lah aku sekarang, menangis sendiri digelapnya malam. Taman ini, taman yang sering ku jadikan tempat pelarianku. Huh, andai saja.. papa mengetahui ini semua. Apa dia akan diam saja?!


Ku baringkan badanku diatas rumput, taman ini kenanganku bersama dia. Orang yang masih sangat ku rindukan. Dua tahun lalu ia pergi, dia kembali pada keluarganya. Setelah bertahun-tahun ia hidup bersama sang nenek tanpa mengetahui asal usul yang sebenarnya.


Dia pergi, aku tak tahu kapan ia akan kembali. Atau bahkan dia tak akan kembali. Lama aku termenung memikirkan dia, ku rasakan ponselku bergetar.


ddrrtt.. ddrrtt..


Ku buka satu pesan baru disana, Austin?!


-- *kau dimana wanita sialan?!!


Austin*


Ada apa lagi?!


Ku bangkit dan berlari kecil menuju motorku. Mengenakan helm dan segera kembali. Entah masalah apa yang sudah aku lakukan padanya?! Ku harap tak ada sesuatu yang buruk terjadi. Ku mohon Tuhan, bantu aku. Aku membutuhkan bantuanmu.


Dengan waktu empat puluh lima menit, aku sudah sampai dirumah. Ku lihat ia berdiri didepan pintu dengan aura hitam disekelilingnya. Perasaan tidak enak menyergapku. huhhh... ku keluarkan napas berat, dan aku masih berusaha untuk tenang menghadapinya.


Sesaat kemudian, aku sudah berdiri dihadapannya. Lalu tiba-tiba......