
Ku berjalan dengan perlahan, meneliti sudut rumah yang sudah ku tempati sejak awal pernikahan. Rumah yang menjadi saksi hancurnya rumah tanggaku, saksi berbagai perbuatan yang menyakitiku, saksi pernikahan yang telah hancur. Kini aku harus pergi dari sini, dan ku harap bisa melepaskan ku dari kesakitan itu.
Tujuanku hanya satu, aku ingin anakku hidup dengan baik-baik saja. Tanpa perlu merasakan sakit, tanpa perlu tersiksa, tanpa perlu tertekan seperti yang ku rasakan saat hidup dikurungan ini. Aku ingin membesarkan mereka meski tanpa sosok ayah dihidupnya.
Aku harus pergi...
'drrt..''' satu pesan masuk, Nate..
'aku sudah didepan, apa kau sudah siap?'...
'Ya..'' segera ku berjalan tanpa perlu lagi melihat kebelakang, aku yakin aku bisa...
harus....
Dengan pasti ku buka gerbang ini, Nate sudah berdiri disamping mobilnya dan segera menghampiriku..
Nate menatapku, dapat ku rasakan kekhawatiran dari sorot matanya...
"Sudah... ayo, kau harus istirahat.." ku berjalan lebih dulu menuju mobilnya, sedangkan pria itu masih berdiri ditempatnya.
Tak lama kemudian, deru mobil terdengar.. ku hela napas, sekali lagi...
'Good bye my husband...'
******
"Kamu segera istirahat, jangan terlalu dipikirkan.. selamat malam, Maria" Ucap Nate sebelum ia pergi meninggalkan ku dikamar ini.
Ku terduduk ditepi tempat tidur, memikirkan banyak hal yang telah terjadi rasanya tak akan pernah selesai. Besok tepat kehamilanku memasuki bulan ke enam, perutku sudah lebih besar karena mengandung bayi kembar. Rasanya ingin cepat cepat melihat mereka lahir, tumbuh dengan baik dan sehat, mendapatkan pendidikan yang bisa membuat keduanya berguna dan sukses jika sudah besar.
Hidup baru ku sudah menanti, ada atau pun tidak sosok suami disamping ku.. aku akan tetap berjuang...
Untuk mama dan papa, besok akan ku hubungi mereka. Akan lebih baik jika sekarang aku tidur. Ku baringkan badanku, mencari kenyamanan ditempat baru. Aku bersyukur Nate mau membantu ku pergi dari sana, aku sangat bersyukur memiliki sahabat seperti dia..
"Selamat malam baby..." ku terpejam masih dengan tangan yang mengelus perutku sendiri.
Meski hati dan hidupku kacau, mereka berdua harus tetap hidup diperutku.
*
Ku terbangun setelah mendengar suara ponsel yang ku letakkan diatas nakas semalam, ku lihat nama yang tertera.
Mama...
Aku tersenyum, feeling seorang ibu memang jangan diragukan.
"Maria.... kamu dimana sayang?!! kamu pergi ke mana?!!!" dapat ku bayangkan raut khawatir diwajahnya, maafkan aku maa...
"Maria pergi ma, aku gak mau tinggal disana.. tapi mama jangan khawatir, aku ada ditempat yang aman... jika waktunya tepat, aku akan dateng temui mama.." ucapku perlahan.. ku dengar mama menghela napas berat disana.
"Pasti ada hubungannya dengan mereka berdua, iyakan?!!" tanya mama tepat sasaran. Aku tersenyum miris.
"maa Maria akan datang ke rumah, bulan depan... dan, saat ini biarin Maria tenangin diri dulu ya maa... salam untuk papa, dan juga Kelvin.. Mama juga jaga kesehatan, bye maa" ku tutup telpon tanpa mendengarkan ucapan mama selanjutnya. Aku hanya ingin tenang, sampai waktu persalinan ku saja....
Ku matikan ponselku, karena aku yakin akan ada banyak yang menelponku setelah mama.
Ku lihat jam yang menunjukan pukul tujuh pagi. Segera ku bangkit dan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.
"Morning..." sapanya setelah tahu keberadaan ku disana.
Nate sudah berada didapur, ku lirik pada masakan yang telah ia buat. Pancake...
"Wahh... pancake, apa ini untukku?!" ku duduk dipantry dan langsung berhadapan dengan pancake buatannya.
"Tentu, calon istriku... " ucapnya jahil.
"Kenapa, enak?!" tanyanya setelah melihat wajah terkejutku.
"Jangan percaya diri Tuan, biasa saja..." cetusku, mengelak.
"Bukan percaya diri, hanya saja... teman dan bundaku akan bilang itu saat memakan pancake buatanku yang nikmat ini..." ku lihat wajahnya yang konyol, dengan kecepatan dua alis yang naik turun menggodaku.
"Ya ya ya... terserah padamu saja. Umm, Nate.. terimakasih, kau sudah mau menolong ku untuk pergi dari sana..." ku coba berbicara serius. Namun, dia hanya terkekeh mendengarnya.
"Calon istriku... aku pasti akan membawamu kemana pun kau mau, jadi jangan berterimakasih padaku" Ku hela napas lelah, sepertinya aku harus banyak bersabar jika berbicara padanya.
"Baiklah, aku berangkat kerja.. jaga dirimu baik-baik.. Baby.. daddy pergi dulu, jaga mommy mu okay!! i'll miss you" ku pukul kepalanya yang tengah berbisik dihadapan perutku, meski pelan namun masih bisa ku dengar dengan jelas.
"Maafkan aku Nate, aku akan bekerja besok.. hari ini masih jatahku untuk berbaring" aku masih diharus bedrest oleh dokterku, dan aku akan bekerja kembali esok hari.
"Iya calon istriku... aku tahu" Nate mengacak avak rambutku yang memang belum disisir, menyebalkan. Ku balas dengan cubitan dipinggangnya, dan ia mengaduh kesakitan.
"Calon istriku ini galak sekali, sudahlah... aku pergi, jangan rindu padaku... " Nate masih menggoda ku dengan godaanya yang tak seberapa itu.
"Siapa yang akan rindu padamu, huh?" kataku, ketus.
"Baby, bilang pada mommy mu jangan terlalu banyak marah... kalian harus membuatnya tetap berbaring ditempat tidurnya okay!! daddy pergi!!! " Ucapnya sambil mengelus perutku, kemudian pergi tanpa berkata apa pun lagi.
Ku tatap punggung tegap pria yang selalu membuatku tersenyum sejak berkenalan beberapa tahun lalu itu, meski dia sempat menghilang. Namun rasa sayang dan nyaman ini masih tetap berada ditempatnya, meski harus berbagi dengan orang yang saat ini sedang ku coba lupakan.
Ku usap wajah dengan telapak tanganku, ku tarik napas. Berpikir apa yang akan ku lakukan hari ini??
"Kita masak buat makan siang Uncle Nate!!" segera ku rapihkan kembali pantry bekas sarapanku.
'Tting...'
Ku balik badanku melihat siapa yang datang, senyum ku seketika merekah saat melihatnya disana dengan membawa kantung makanan.
"Bundaaa!!!!" ku berjalan dan memeluknya, bunda yang dulu sempat menjadi atasanku kini berganti sebagai ibu dari sahabat ku.
"Apa kabar sayang? maafin bunda belum sempat lihat kamu dirumah sakit" bunda menangkup wajahku.
"Gak apa-apa bun, aku paham kok... oh iya Bunda bawa apa ni? " ku raih belanjaannya dan menaruhnya diatas pantry.
"Bunda bawa sayuran, buah, sama makanan lainnya juga... Soalnya bunda tahu kalau Nate itu jarang masak dan udah pasti stok makanan pasti gak ada.. mana kamu kan lagi hamil, gak baik makan makanan yang instan gitu" aku tersenyum kecil, aku seperti melihat mama jika bunda sedang cerewet seperti ini..
"Nate stok makanan kok bun, bahkan dia bikin pancake buat sarapan" jelasku sambil menaruh bahan makanan yang bunda bawa.
"Pancake-nya pasti kamu suka, enak" aku mengangguk setuju, pancake buatannya memang enak.
"Kehamilan kamu udah masuk bulan berapa?" tanya bunda.
"Enam bunda, besar ya?" aku tahu bunda belum mengetahui kehamilanku ini memiliki dua bayi didalamnya. Dia mengkerutkan dahinya, heran.
"Iya kok besar ya, seperti... bulan ke delapan gitu lho..." dahinya makin mengkerut. Aku tertawa.
"Kan twins bunda, makanya besar" matanya membesar, aku semakin tertawa karenanya.
"Oh My God!!!! kembar?? kamu kenapa baru bilang sekarang, apa pas kerja sama bunda kamu sering kelelahan?... Apa Nate juga membuatmu kesusahan??" bunda menuntunku untuk duduk.
"Gak kok bun, aku kerja sama bunda justru enak banget... banyak waktu senggangnya.. bunda tipe orang yang 'jika bisa dikerjakan sendiri kenapa tidak' gak kayak bos bos yang lain... yang semuanya dikasih ke sekretarisnya" jelasku.
"Syukurlah, dulu... bunda yang mengandung satu bayi saja itu sudah kelelahan, apalagi kamu... kembar." bunda tersenyum.
"Nggak kok bun, justru aku semakin semangat karena kehadiran mereka berdua" ku elus perutku.
"Apa karena dulu bunda hamil Nate ya? makanya cepat lelah... " seketika tawa merebak diantara kami.