
"Mommy, bisakah uncle kelv tinggal disini?!" ku lihat Keith mengerucutkan bibirnya. Tanda bahwa ia sedang merajuk.
"Iya Mom.. Uncle kelvin pasti akan lama lagi datangnya..." kini Keefe pun ikut merajuk.
Aku tersenyum melihat kedua putraku ini. Bagaimana cara mereka merajuk membuatku benar-benar gemas. Ku membungkuk untuk melihat wajah keduannya. Wajah lucu dengan pipi bulat yang merona, mata yang indah dengan bulu mata lentiknya, dan jangan lupakan bibir yang mengerucut.
"Kan Uncle juga ada pekerjaan disana, baby... Jika uncle tidak bekerja, Grandpa akan memarahinya... emang kalian tega melihat Uncle Kelvin dimarahi?" ku coba memberikan pengertian pada keduanya. Mereka menggeleng lemah.
"Nah nggak mau kan, jadi... jangan sedih sedih gitu dong mukanya, nanti uncle Kelv nya juga ikut sedih..." ucapku kemudian membawa keduanya dalam dekapanku.
"Maafkan uncle, tadi sangat ramai disana... ini es krim untuk Keith... dan ini untuk Keefe..." Kelvin datang dengan membawa dua cone es krim ditangannya. Aku tersenyum melihat keduanya langsung senang dan tertawa bersama Kelvin.
"Yaudah yuk kak... ntarnya ketinggalan pesawat..." cetusnya. Kami pun bergegas menuju bandara, karena hari ini Kelvin akan pulang ke Indonesia setelah hampir seminggu berada disini.
Dalam perjalanan, Keith dan keefe saling berceloteh dan Kelvin yang notabene seorang Uncle, masih saja bertingkah konyol dihadapan keponakannya.
Ku parkir mobil dan segera keluar untuk mengantar Kelvin, Keith dan Keefe ketiganya saling bergandengan tangan. Dan berat hati, akhirnya aku yang harus menyeret koper kecil milik adikku itu.
"Jangan lupa salamin ke papa dan mama ya, bilangin aku kangen banget sama mereka..." ucapku setelah kami sampai.
"Iya kakakku.... makanya cepet balik lagi kesana.. Ada kami yang akan lindungin kakak dari dia..." Aku langsung tediam, ucapan Kelvin sedikit menyentil perasaanku. Bukannya aku tak bisa berpaling dari masa lalu, hanya saja... disaat aku mencoba melupakan, bayangan itu tetap ada meski sudah ku coba untuk berlari. Toh memaafkan bukan berarti melupakan....
"Keith.. Keefe, Uncle pulang dulu.. jaga mommy kalian baik-baik ya, dan kalian juga harus sering belajar agar tahun depan kalian sudah masuk sekolah..." Kelvin berjongkok didepan Keith dan Keefe yang keduanya sudah kompak kaca-kaca.
Aku mengerti kesedihan mereka, hadirnya figur seorang 'ayah' memang mereka dapatkan hanya dari Kelvin. Adikku. Aku tidak pernah dekat dengan lelaki mana pun, sampai saat ini. Masih ada 'sedikit' rasa takut dalam hatiku untuk membangun hubungan baru.
"Baiklah uncle... aku akan belajar yang rajin, dan menjaga mommy... hati-hati" kulihat Keith mengecup pipi Kelvin, begitupun dengan Keefe. Keduanya langsung memeluk Kelvin. Dan kini giliranku....
"Jaga dirimu, ingat kau sudah dewasa... jangan suka memainkan perasaan perempuan, jika kamu suka Teresa.. maka seriuslah dengannya..." ucapku dalam pelukannya.
"Iya iya, aku gak bakalan main hati perempuan... kau juga jaga diri, jaga keponakan ku ya... dan......... jangan terlalu memikirkan sesuatu yang 'bukan urusanmu' lagi.. okay"" aku mengangguk.
*****
Setelah mengantar Kelvin, aku memutuskan untuk membawa Keith dan Keefe menuju swalayan. Mengingat kebutuhan dirumah sudah berkurang. Dengan mendorong troli serta menggandeng dua anak sekaligus memang sedikit repot, meski ini bukan yang pertama kalinya aku membawa mereka berdua. Dengan Keefe yang berada dalam troli dan Keith yang berjalan disampingku. Kadang mereka bergantian.
Ku berjalan menyusuri lorong demi lorong, dan memasukan makanan yang ku butuhkan. Daging, salmon, sayur dan buah juga sudah ku masukkan dalam troli.
"Keith, Keefe... kalian mau apa?!" tanyaku.
"Mommy, dimana Keith?!" ucapan Keefe sontak membuatku terkejut. Ku lihat Keith, tak berada disampingku. Astaga, kenapa aku ceroboh sekali?!! Terlalu asik belanja membuatku tak memperhatikan Keith!!
Ku berjalan menuju tempat yang sebelumnya ku datangi. Sambil terus memperhatikan tiap lorong yang ku lewati. Ya Ampun!!! Keith.....
Sudah hampir setengah jam ku cari, namun hasilnya nihil. Area bermain juga sudah ku datangi. Astaga!! dimana harus ku cari?!
"Mommy!!!" ku balik badanku saat seseorang memanggilku. Itu Keith, aku lantas memeluknya erat.
"Kamu pergi kemana?! mom, khawatir..." ucapku lirih.
"Maafkan Keith mom, mommy jangan menangis..." Keith menyeka air mataku, aku pun tersenyum haru.
"Mommy...aku juga mau menghapus air matamu.. bisakah kau kemari, aku susah turun dari troli ini mom..." aku terkekeh mendengar ucapan Keefe, kemudian sambil menggendong Keith ku berjalan dan memeluk putraku, Keefe.
Terlalu asik berpelukan, hingga tak sadar seseorang dibelakangku sedang tersenyum kemudian berdeham keras. Ku lihat dan aku terkejut melihat pria ini. Kenapa bisa?!
"Hallo Maria..." cetusnya. Aku masih diam dan kemudian aku tersenyum.
"Tuan Nathaniel..." ucapku.
"Anda sedang apa disini?!" tanyaku.
"Menyelamatkan anakmu, ku bertemu dengannya saat berada dishowcase makanan didepan sana.. lalu, kita makan bersama dan sedikit berbincang bincang" jawabnya.
Astaga, bodohnya aku yang tak memperhatikan jika tuan Nathan, ada dibelakang Keith. Bodohnya aku!!!
"Terima kasih banyak, maafkan aku yang tidak menyadari keberadaanmu... aku begitu panik tadi, saat... saat menyadari bahwa anakku menghilang... Dan aku bersyukur Anda yang menolongnya..." aku tersenyum padanya.
"Secangkir kopi?! Apakah bisa ku terima?!" cetusnya. Aku lagi, dan lagi malah terdiam.
"Tak bisa ya?! baiklah mungkin kau sibuk..." ucapannya langsung ku hentikan.
"Aku tidak sibuk, hanya saja... kau mau minum kopi dirumahku?!" tawarku.
"Tak masalah, kebetulan sekali aku tak membawa mobil... bisakah aku ikut dalam mobilmu?!" Aku langsung mengangguk.
Setelah membayar belanjaanku, aku langsung berjalan menuju parkiran dimana mobilku berada. Keith dan Keefe duduk dikursi belakang. Dan aku duduk dikursi penumpang bersebelahan dengan Nathan yang mengemudi.
"Keith, dan siapa nama anakmu satunya?" ku lirik sekilas sebelum menjawab.
"Keefe" jawabku.
Sebenarnya aku merasa sneh dengan situasiku saat ini. Duduk disamping seorang pria dan melihat kedua putraku dikursi belakang, lalu kami pulang dalam satu mobil yang sama. Ada rasa yang belum pernah ku rasakan. Rasa senang dan sedih secara bersamaan. Senang akhirnya aku bisa memiliki sketsa bagaimana rasanya memiliki keluarga utuh. Sedih karena semua ini tak nyata adanya.
"Mommy, daddy Nathan... apakah kita bisa jalan-jalan lagi nanti?!" cetus Keith. Dan itu langsung membuat mataku melebar, apa katanya?! daddy Nathan??!!!
"A...apa? Keith, jangan begitu... minta maaflah pada Uncle Nathan" kataku sambil meringis.
"Tak apa Maria, aku senang mereka memanggilku dengan panggilan itu, tak perlu dipermasalahkan" ucapnya enteng sekali.
tak perlu dipermasalahkan?! Lebih baik aku diam saja, aku tak mau mengambil pusing ini semua. Aku yakin esok hari Keith akan melupakan kejadian hari ini.
"Jika kita memiliki waktu senggang lagi, dad janji kita akan pergi ke taman hiburan, bagaimana?!" tanya Nathan,.
"itu pasti seru, ahh... daddy memang menyenangkan... Mom, bisakah yang menjadi daddyku dan Keefe adalah daddy Nathan?!!" aku ingin melempar diriku sendiri, aku malu. Oh Keith, kenapa kamu bicara begitu?!!!!!!.......
"Anak-anakmu sangat pintar, diusia mereka berdua." Aku hanya bisa tersenyum miris atas ucapan Narhan.
*Flashback on
Seorang anak kecil yang berjalan sendiri sambil menangis, membuat Nathaniel menghentikan langkahnya. Dengan perlahan ia mendekatinya.
"Kau kenapa? dimana ibumu?! " ucapanya seketika membuat si anak berhenti dari tangisnya.
"Aku... tertinggal mommy... saat berhenti melihat makanan itu" ucapnya sambil menunjuk showcase makanan .
"Kau mau itu? ayo... kita akan membelinya" tanpa takut, si anak langsung menyambut uluran tangan Nathan.
....
"Uncle, bisakah.... aku memanggilmu daddt?!"tanya si anak.
"Tentu, boleh saja...." jawabnya enteng.
"yeayyyy,,,, Keith punya daddy..... asiikkkkki!!!!!" raut sedih sudah tergantikan dengan perasaan bahagia. Kebahagiaan saat memanggil daddy*.
Flashback off