
....
Terdengar deru mobil dipelataran rumah, sepertinya mereka sudah pulang. Dengan berlari kecil aku dan Sofia segera bersembunyi setelah sebelumnya ku matikan semua lampu dirumah ini.
"Kak, mereka sudah datang...." bisik Sofi disampingku.
"Iya,..Ssstttt...,, mereka membuka pintu..." ucapku sambil menahan tawaku.
Pintu perlahan terbuka, siluet dari ketiganya terlihat dari arahku.
"Gelap?" ucap Nathan bingung. kemudian disusul dengan suara kedua putraku.
"Mommy... where are you??!!" teriak Keefe dengan suara falsetto-nya.
"Mom... kau dimana, aunty Sofi....?!!" kali ini Keith yang berteriak.
Aku dan Sofia berusaha sekeras mungkin menahan tawa kami agar tak terdengar mereka, mengingat jarak antara kami dengan mereka tak terlalu jauh....
"Dad... aku takut, huhu..." kali ini ku dengar rengekan Keefe, aku sedikit tak tega mendengarnya.
"Sebentar, kita nyalakan dulu lampunya, mungkin mereka belum pulang..." ucap Nathan menenangkan. Diam-siam ku tersenyum mendengar ucapannya itu,
"Kak Nathan sudah menjadi ayah yang baik, iyakan kak Maria" bisik Sofia. Menggodaku.
"Ssttt..." untung saja lampu tengah mati jika tidak, sudah pasti Sofia dapat melihat raut merah diwajahku.
''''Ttekk'''''
Mataku memicing kala semua lampu sudah menyala, dan ku lihat Nathan tengah berdiri menggendong Keefe dan Keith. Aku jadi bingung sendiri bagaimana caranya ia menekan saklar, sedangkan dua bocah itu menggelayut disana??
Ia berjalan perlahan-lahan dengan wajah yang sulit untuk ku tebak emosinya. Ia menatap dekorasi dengan dahi mengkerut, heran.
Aku dan Sofi berjalan membawa kue dengan lilin yang menyala diatasnya.
"Happy Birthday to You.... Happy Birthday, to you... Happy Birthday, Happy Birthday.......... Happy Birthday..... to you....
......
...."
Nathan berbalik, ku lihat matanya berkaca-kaca, ia mengecup Keefe dan Keith yang sama terkejut dengannya bergantian. Hatiku tersentuh melihat sikapnya.
"Kalian... ahh, a..aku.." ucap Nathan tergugu tak percaya. Ia menggeleng sambil tersenyum.
"Selamat ulang tahun, kak...." ucap Sofia, gadis itu memeluk sang kakak setelah Nathan menurunkan Keith dan Keefe.
"Thank you, lil'sister..." bisik Nathan tulus.
"Sama-sama, ahh... aku terharu melakukan ini semua..." kata Sofia dengan menghapus air mata di pipinya, lalu melepas pelukan antara keduanya.
"Kau tidak mau mengucapkan sesuatu padaku?" aku terkesiap saat Nathan mengambil alih kue yang ku bawa, dan menatapku dengan jarak cukup dekat.
Ku hirup napas perlahan, bukannya oksigen yang kudapat namun aroma woody note bercampur dengan manisnya aroma vanilla membuatku tanpa sadar menggigit bibir bawahku.
"Kenapa kau gigit bibirmu,hmm..." ucapnya lirih, ku rasakan sentuhan dibibirku..
Gesekkan antara ibu jarinya dan kulit bibirku. jangan lupakan suara seraknya yang bisa membuatku bergetar.....
Aku masih terdiam, mata kami bertemu dan saling mengunci satu sama lain.
Itu berlangsung cukup lama, sampai suara deheman terdengar dan mengacaukan khayalan dipikiran kita masing-masing.
"Ekkhheemmm,.." aku melihat Sofia yang memasang wajah cemberut sambil ke dua tangannya menutupi pandangan Keith dan keefe.
*Astaga, Maria....
Kau melupakan statusmu*!!!!
Aku tersenyum meringis melihatnya, ku berjalan mendekat dan mengangkat Keefe dan Keith dalam gendonganku sekaligus. Beratnya....
"Bagaimana liburan kalian dengan Daddy, mmmhh??" ucapku sambil mengecup pipi putraku satu persatu.
"Uhh, mommy... itu sangat seru!! Tak ada yang berteriak 'Keefe., sebelum bermain pakai sunblocmu dulu....' atau menyuruhku makan siang dengan sayuran yang banyak..." ucapnya sambil mencoba menirukan suaraku. Aku dibuat terkekeh, ku lihat Keith juga teraenyum melihat tingkah adiknya.
"Mommy, daddy janji akan mengajak kami pergi berlibur seperti tadi lagi.." ucap Keith dengan senyumannya yang menampilkan gigi susunya.
Tapi Tunggu!!!!
Ku buka mulut Keith dan, hilang!!
"Dimana gigimu,Keith?" ucapku terkejut.
"Dia pergi mom, diambil baby shark..." ucap Keith enteng dan bahkan memamerkan gigi depannya yang hilang.
"Giginya tanggal, saat kami makan siang direstoran seafood ia tak sengaja menggigit cangkang kepiting..." seru Nathan, ia terkekeh dan itu menular bagi kami yang mendengarnya.
"Dia menangis dengan sangat kencang, mom. Dan ia membuat kami dilihat semua orang.." tambah Keefe dengan adegan dramatisir miliknya.
Semua orang tertawa melihat tingkah keduanya, mataku sampai berair.
"Kita makan kue-nya sekarang ya..." rengek Sofia dengan menarik kakanya menuju kue diatas meja.
"Ahh.., ku kira adikku ini sudah dewasa, ternyata masih tetap saja kekanakan..." gerutu Nathan, meski begitu ia tetap tersenyum.
"Daddy, make a wish...!!!" seru Keith,
"Mom... aku mau turun, come on daddy!! make a wish..." ucap Keefe dengan riang.
Ku turunkan keduanya, tanpa aba-aba mereka langsung berlari menuju Nathan.
"then,.. blow out the candle" ucap Sofia.
Malam ini sangat menyenangkan, semua orang bahagia. Dan aku sangat bersyukur untuk itu, melihat Keith dan Keefe yang tumbuh dengan cerdas, sehat, serta sifat ceria keduanya membuat luka dihatiku berangsur-angsur pulih.
Terlebih kehadiran Sofia dan Nathan, yang membuat kebahagian kami bertambah. Meskipun aku dan Nathan masih belum menentukan, jenis hubungan apa yang tengah kami jalani saat ini.
Aku hanya bisa berharap, jika kebahagiaan datang padaku. Entah itu dengan Nathan, atau tidak....
Yang jelas, aku bahagia dengan kehadirannya saat ini.
* * *
Hembusan angin malam menerpa kulitku saat ini, suasana malam hari seperti ini sangat bisa membuatku tenang. Ku berjalan mendekati pagar pembatas balkon, ku pejamkan mata untuk menikmati keheningan ini.
Pikiranku seakan lari dari tempatnya, semua masalah terasa berhamburan, aku menyukai ini, setidaknya untuk sejenak bisa membuat otakku beristirahat.
Ku rasakan sepasang lengan melingkari pinggangku,dan helaan napas yang terasa hangat di bahuku. Aku tak perlu berpikir siapa yang melakukan ini, sudah pasti jawabannya. Nathaniel Barxton a.k.a Nathan a.k.a daddy Nath.
"Thank you..." bisiknya tepat dikupingku.
"Untuk.........., semuanya, untuk kehadiranmu dihidupku, untuk kehadiran Keith dan Keefe, untuk... kebahagian yang kalian bagi untukku dan Sofia..." ucapnya masih dengan berbisik.
"Kau tahu, semenjak orang tuaku meninggal... tepatnya delapan tahun lalu, aku tak pernah lagi sedekat ini dengan Sofi, tak pernah lagi aku merayakan ulang tahun seperti ini, dan aku sungguh tak percaya.... diusiaku yang menginjak tiga puluh dua tahun ini, aku tak menyangka akan mendapat kejutan ulang tahun dengan balon dan gliter seperti tadi.... but it's okay, i like it....aa**aawwhhhh...."" ucapnya dengan ringisan setelah ku cubit pinggangnya,
"Hei... kenapa mencubit?...., baiklah, baiklah... aku menyukainya," ucapnya lagi.
"Tentu saja kau harus suka, aku dan Sofi sudah bekerja keras hari ini..." ucapku, ku putar tubuhku menghadapnya. Ia masih tetap memeluk pinggangku.
"Hmmm...... kau belum mengucapkan sesuatu padaku, selamat ulang tahun sayang, misalnya..." ucapnya.
Nathan menaik turunkan kedua alisnya, dan aku tergelak melihatnya.
" Aku sudah mengucapkannya tadi, dalam lagu..." jawabku, sambil melipat tangan.
"Itu kan berdua dengan Sofi... Aku ingin yang khusus, darimu, sendiri, dengan, penuh, perasaan, untuk, ku..." ucapnya penuh penekanan.
Ku tarik napas sejenak.
"Selamat ulang tahun, semoga kau bahagia selalu... panjang umur, ku harap kau bisa menjadi kakak yang baik untuk Sofia, dan aku...." aku tak bisa melanjutkan ucapanku, itu terlalu memalukan..
"Aku.... apa?" dahinya berkerut, tanda bahwa ia penasaran dengan perkataanku.
"Tidak!" tukasku.
"Apa?!" tanya Nathan, lagi.
"Tidak!!" tukasku, lagi.
Tiba-tiba Nathan menangkup wajahku, jarak wajah kami sangat dekat.
"Apa?! cepat, bicara...." ucapnya dengan seringai, ahh... itu membuat tubuhku meremang.
"Tidak!!" ucapku, keras kepala.
"Baiklah, jika tidak mau bilang... aku akan menciummu, kemarilah, kemarikan bibirmu Maria..." mataku membulat, enak saja dia ingin menciumku.
Aku harus melepaskan diri darinya.
Bagaimana caranya???
Ku injak kakinya dengan keras hingga ia melepaskan rangkulannya dari tubuhku, dan dengan cepat ku berlari menuju ruang tengah menghindarinya.
"Aarrgghh, Maria!!! kemari kau..." teriaknya disertai ringisan.
Ku lihat kebelakang, ia mengejarku rupanya. Sekuat tenaga ku berlari menghindar darinya. Oh Tuhan, maafkan aku yang melupakan usia dan statusku sebagai ibu dari dua anak. Ini terlalu menyenangkan untuk dilewatkan, kapan lagi aku bisa berlarian didalam rumah.
"Maria..., kamu harus mendapatkan hukuman telah menginjak kakiku." ku dengar suaranya semakin dekat, aku tak berani lagi melihat kebelakang.
Ku berlari mengelilingi sofa dengan cepat, berusaha mengelak saat Nathan coba menggapaiku. Ia tertawa dengan kerasnya, dan aku pun ikut tertular.
Ahh, napasku tersengal sengal.
Baiklah, sepertinya aku harus menyerah, ini terlalu malam untuk berlarian dalam rumah. Ku harap tidur Keith dan Keefe tak akan terganggu.
Ku memilih menjatuhkan diriku disofa, dadaku naik turun, napasku tersengal. Ku pejamkan mataku, mencoba menenangkan detk jantung yang berdebar dengan cepat, *sepertinya aku harus mulai berolah raga.
''bruukkk*''''''
Ku rasakan sesuatu menimpa pahaku, ku buka mata, dan ternyata Nathan. Ia tertidur dengan kepala beralaskan pahaku, dan keadaanya tak jauh beda. Napas tersengal, dan dada yang naik turun dengan cepat.
Ku usap peluh yang berada didahinya, banyak sekali.
"Hhh... usiaku tak muda lagi, Maria... hhh, ku rasa aku harus memulai hidup sehat dari sekarang,hhh" ucapnya sambil terus mengatur napas. Ku terkekeh mendengarnya.
Ku usap rambutnya dan ku sisir menggunakan jari, mencoba merapihkan kembali.
"Ayo..." ucapnya sesaat setelah membuka mata dan menatapku.
Dahiku berkerut bingung, 'ayo' apa yang dia maksud??
"Apa?" tanyaku, masih dengan mengelus rambutnya.
"Ayo, kita jalani hubungan yang lebih serius... Aku mencintaimu, aku menyayangimu, begitu pun dengan kedua putramu, aku mencintai dan menyayangi mereka sama seperti rasaku padamu...
....Aku tak butuh waktu panjang lagi untuk bisa memahami perasaanku padamu, waktu tiga bulan ini ku rasa cukup untuk membuat kita memutuskan hal baik untuk kedepannya." ucapnya serius, ku tatap netranya.
Sebuah kesungguhan ada disana, menjawab keingintahuanku atas ucapannya.
"Menikahlah denganku, kita rajut semuanya dari awal, kita bangun semuanya, kita tutup bersama luka serta duka mu dulu,... kita wujudkan pernikahan yang bahagia seperti keinginnanmu, kita...., ayolah menikah denganku, ku mohon...
....Astaga, ini pertama kalinya aku memohon pada seseorang seperti ini..." ucapnya sambil memggerutu dan aku tersenyum mendengarnya, ia bangkit dan duduk dekat denganku.
Tangannya meraih tangan kananku, menangkup dan meremasnya perlahan, memberikan kehangatan yang terasa hingga hati dan jantungku.
"Menikah denganku Maria, please say yes...." ucap Nathan.
"Apa aku punya pilihan lain?" tanyaku.
"Tidak, kau harus bilang yes i do, i will, atau biar singkat, ucapkan yes saja..." titahnya, dengan memasang wajah galak.
Ku hirup napas perlahan, aku terdiam memikirkan perasaanku ini. Apa aku yakin? Apa aku siap? Apa dia juga bisa menerima kekuranganku? Banyak sekali pertanyaan yang menggambarkan sisi trauma ku untuk menjalin hubungan serius kembali.
"Baiklah, yes i do" ucapku lirih, ku menunduk malu.
"Apa?! aku tak mendengarmu?!..." ucapnya menyebalkan.
"Yes I Do" ucapku sekali lagi.
"Sayang, ucapkan sekali lagi!!" ucapnya menggodaku.
Ku tatap ia dengan pandangan menyipit menahan kesal.
"Huh, baiklah jika kau tak mendengarnya luakan saja..." ucapku sebal.
"Ahh aku senang kau menerimaku" ucapnya.
Dapat ku dengar tawa sumbangnya saat mendengar ucapanku. kena juga kau ku jahili...
"Seharusnya aku melamarmu dengan keadaan lebih baik dari ini, dengan bunga dan makan malam romantis serta mengenakan tuxedo... bukannya bercucuran keringat akibat berlarian mengelilingi ruang tamu ini...." ia terkekeh dengan ucapannya sendiri.
Aku mengangguk mengiyakan ucapnnya, kami terlalu bahagia hingga melupakan tata cara melamar pasangan dengan benar.
"I love you, Maria..." ucapnya serius, ku hentikan kekehanku.
"I love you too, Nathaniel Braxton" ucapku mantap.
Ya.
Aku mencintainya, entah sejak kaan rasa ini ada. Namun aku yakin, aku mencintainya...
Cup''''
Ia mengecupku lembut, senyuman diwajahnya membuatku ikut membalas senyumannya. Perlahan-lahan ia kembali mendekatkan wajahnya padaku.
Ku pejamkan mata, saat menerima ciuman dibibirku. Ia meng*l*m dan mengh*s*p bibirku dengan lembut.
Tangannya berada ditengkukku, mendorong guna membuat c**man ini semakin dalam. Ku buka mulut kala ia menggigit kecil bibir bawahku.
Wajahku kian memanas saat ku rasakan ia tengah tersenyum dalam kegiatan ini.
"I love you, i'm fallin deeply in love to you..." bisiknya parau.
Aku tersenyum menanggapi ucapannya.