Just A Little Bit Of Your Heart

Just A Little Bit Of Your Heart
I---Don't wanna fight no more



Nate menuntunku saat memasuki mobilnya, hari ini adalah hari kepulanganku. Setelah hampir empat hari ku terbaring diranjang pasien rumah sakit untuk bedrest. Kelvin juga turut membantuku, dia membawa beberapa pakaian dan perlengkapanku selama dirawat disini.


Mama dan papa terpaksa tidak datang, setelah sebelumnya mereka masih ngotot ingin menjemputku. Akhirnya mereka mengalah, dan menunggu ku dirumah saja. Mertuaku pun sama, mereka sempat memaksa untuk menjemputku. Namun ku beri pengertian pada mereka agar menungguku dirumah bersama mama dan papa.


Austin? Suamiku sempat datang, tepatnya semalam ia menemaniku. Meski harus bersama dengan hati yang teriris, perih.


Flashback on


Terdengar suara pintu kamar yang terbuka, aku mengenali aroma parfum ini. Derap kaki miliknya memenuhi indera pendengaran ku.


Diambang percaya dan tidak, hatiku mulai berdesir bahagia.


'Baby's... you're daddy is here... ' ucapku sambil mengelus perut buncitku ini.


"Kau belum tidur" ucapnya dengan nada datar, setelah mendudukan dirinya disampingku.


Austin memperhatikan tanganku yang tengah mengelus perutku. Bola matanya bergerak sesuai gerak lenganku. Aku tersenyum kecil, jarang sekali ia mau duduk dekat denganku. Terlebih ia memperhatikan ku.


"Belum, baby's masih belum mau tidur... dia akan tidur jika sudah ku usap seperti ini" Entah penting atau tidak baginya, ku beri tahu kebiasaan anak-anaknya ini..


Austin hanya diam tanpa berniat menjawab ucapanku. Sepertinya benar, hal seperti tadi memang bukan sesuatu yang penting baginya. Anakku akan tetap menjadi anakku, sesuatu yang tidak diinginkannya tak akan pernah diinginkan olehnya. Meskipun itu hanya sebuah informasi kecil tentang janin yang telah diberikannya padaku.


Ku putar posisi membelakanginya, aku tak ingin calon anakku melihat betapa acuh dan tak peduli daddynya kepada mereka.


Ku pejamkan mataku, ku harap kantuk segera menerpaku dan menghantarkan ku pada mimpi indah bersama anak-anakku.


Tubuhku menegang saat ku rasakan hangatnya usapan dipunggungku dan menjalar ke perutku. Ku terdiam.


"Apa mereka sudah mau tidur? pasti pinggang mu pegal" ... ucapannya membuatku tak percaya, dia bertanya padaku?!!


Ku balik kembali badanku seperti semula, ku tatap dirinya. Dia masih mengelus perutku, awalnya terasa ragu-ragu. Namun ia terus mengusapnya sampai ku rasakan nyaman itu.


"Tasya sering mengeluhkan pegal dipinggangnya, mungkin kau juga sama" cetusnya.


Aku tersenyum miris, disaat seperti ini dirinya masih tetap memikirkan dia. Ku balik memunggunginya kembali, aku tak ingin anak-anakku mendengar ucapan daddynya.


Bodoh sekali kau maria, dia tak akan pernah mau denganmu!!! masih saja kau mengharapkannya, sadarlah Maria sadar!!!!!


Ku berharap rasa kantuk segera menerpaku dan menghantarkan ku pada mimpi indah bersama anak-anakku. Aku tak peduli dia akan tetap disini atau tidak. Aku tak peduli..


Flashback off


Sepanjang perjalanan, aku hanya diam tak ingin membahas apa pun. Rasanya terlalu malas untuk bersuara.


"Kau kenapa? Apa ada masalah?" ku rasa Nate memperhatikan ku yang terus berdiam diri.


"Kalau kakak memikirkan tentang lelaki itu, lebih baik cepat lupakan.. anakmu tak membutuhkan dia" kelvin ikut memberikan suaranya.


Jika semudah itu melupakannya, mungkin saat ini aku sudah berpisah dengannya. Satu tahun lebih hidup bersama, membuatku perlahan-lahan jatuh cinta padanya. Meski kerap kali dia berlaku kasar, namun sejak malam itu. Malam dimana kami menyatu meski disertai drama pemaksaan, atau lebih tepatnya pemerkosaan.


"Maria..." ku lihat Nate yang duduk disebelah ku, ku hanya tersenyum. Aku tau dia khawatir.


"Aku baik-baik saja, Nate" Nate hanya menghela napas.


Nate mengacak rambutku kemudian menyelipkan helaiannya dikupingku. Dia pria yang manis.


Tak terasa ternyata sudah sampai, ku lepas seatbelt. Namun ku kalah cepat untuk membuka pintu, Nate lebih dulu membukanya.


"Terima kasih Nate" ucapku lalu dengan bantuannya dan Kelvin ku berjalan meski tertatih.


"Sayang..." Mama memelukku, padahal baru tadi pagi kami melakukan telepon.


"Maa, aku mau ke kamar..." ucapku.


"Kamar kamu mama pindahkan, mama gak mau ambil resiko kamu jatuh dari tangga" aku mengerti kecemasan yang Mama rasakan, jadi aku setuju saja.


"Kak, aku pergi dulu ya.. barangnya aku taro dikamar aja, inget... kalo ada apa-apa langsung hubungin aku" Kelvin mendekat dan mengecup pelipisku sebelum ia benar-benar pergi.


Nate masih setia untuk menopang tubuhku, ku lihat ia yang juga tengah menatapku. Pandangan kami bertemu, ia tersenyum.


"Sayang, mama sama papa ke kamar dulu ya.. Nate, sekali lagi makasih banyak buat bantuannya.. kamu udah mau jagain Maria, tante jadi ngerasa gak enak sama kamu" ucap mama ku. Ku lihat mami Anjani yang masih saja berdiri setelah menyambut ku.


"Mii, mami lebih baik istirahat aja... bukannya besok mami sama papi pulang ke singapura?" Aku tahu sejak kejadian terkuaknya hubungan antara Austin dan Tasya, mama dan mami seperti renggang.


"Iya, mami istirahat ya... kamu juga, umm... Nate, terimakasih sudah menjaga istri anakku " Tekan mami, seperti ingin menyadarkan status ku pada Nate. Dimana aku masih berstatus istri dari Austin.


"Tentu nyonya, karena aku sangat menyayangi istri anakmu ini apapun akan ku lakukan" Nate membuat suasana semakin canggung, tak nyaman.


Mami Anjani tak berniat untuk membalas ucapan lelaki ini, aku bersyukur untuk itu. Setidaknya tak ada pertengkaran yang terjadi.


Aku merebahkan diriku, berniat untuk tidur. Setelah mami Anjani pergi, dan disusul oleh mama. Nate pamit untuk pulang karena urusan pekerjaannya. Tinggalah aku sendiri. Ahhh, maksudku bertiga. Anakku selalu menjadi temanku saat sepi mulai datang.


Ku pejamkan mata, tiba-tiba kilas balik kehidupan ku mulai terbayang. Dimana aku pertama kali bertemu dengan Nate, hingga menghilangnya Nate. Awal aku bertemu dengan Austin pertama kali, saat dimana dia menyeretku dan mencengkeram wajahku di hari pertunangan. Mungkin karena awal pertemuan yang buruk, maka tak heran jika kehidupanku saat ini jadi lebih buruk lagi.


Ku rasakan ranjangku bergerak namun aku masih belum membuka mataku ini, mungkin mama.. biasanya kan mama tidur disebelah ku.


Hening, tumben sekali mama diam. Barangkali dia sedang kesal terhadap papa..


Ku hela napas berat, sebuah lengan kekar tengah mengusap perutku dan membuat pola-pola abstrak disana.


Ku buka mataku dengan lebar, entah harus bagaimana aku merefleksikan suasana hatiku saat ini. Austin, suamiku tengah mengelus perutku. Austin memejamkan matanya seperti lelah, kenapa dia, apa ada masalah?!!


"Austin..." ucapku pelan, lirih.


"Hmmm" hanya itu yang ku dengar. Dia masih enggan membuka matanya.


"Ada apa? a... apa, apa ada masalah?" tanyaku hati hati. Ku coba bangkit dari tidurku dan duduk sambil menyandarkan tubuhku.


Austin masih tetap dengan posisinya, andai waktu bisa berhenti. Aku ingin seperti ini untuk sesaat, melihatnya tertidur ditempat yang sama, mendapatkan perhatian kecil darinya untuk anakku..


"Pijit kepalaku" cetusnya sambil meraih tanganku kearah kepalanya. Lalu ku pijit perlahan.


Aku tersenyum kecil, akhirnya dia menyentuh tanganku tanpa rasa amarahnya. Cukup lama posisi ini bertahan, lambat laun ku elus kepalanya. ini yang selalu kutunggu...


"Kau tahu?! aku mencintainya... sungguh, dia adalah wanita yang sudah membawa warna dihidupku... selama tiga tahun ini kami menjalani hubungan yang tak pernah kami ekspos. Kami menyembunyikannya, sampai pada akhirnya... Kami sendiri yang menanggung akibatnya, aku dijodohkan denganmu Maria... aku menikah denganmu, karena aku yang menyembunyikan hubunganku dengannya... " aku tertegun, ini pertama kalinya Austin memanggil namaku tanpa berteriak.


"Andai, aku bisa mengungkapkan hubunganku dengan Tasya pada semua orang. Pasti saat ini, Aku dan Tasya masih bersama... tanpa harus aku melakukan kesalahan ini. Kau tersakiti, aku dan Tasya pun sama..." tambahnya. Mataku buram. Air mata ini sudah menggenang dipelupuk mataku.


"Aku kehilangan anakku, Maria... Tasya keguguran." Aku bisa merasakan tanganku basah, Austin menangis... tapi bukan unttuku...


"Kamu masih memiliki twins... Austin... mereka ada disini" ku arahkan tangannya agar merasakan pergerakan bayiku. Dapat ku rasakan Twins bergerak, sepertinya mereka berdua mengerti apa yang tengah dirasakan oleh orang tuanya hingga ia bergerak ditelapak tangan daddynya.


"Tak sama.." Austin menarik lengannya, apa maksud dari ucapannya itu?!! Aku masih diam berpikir keras maksud ucapannya.


"Mereka tak ku harapkan, tak sama... Bayiku hilang, dia pergi!!!" Austin berteriak, namun aku masih diam.


Walaupun kata-kata yang ia lontarkan sangat amat menyakitiku. 'tak ku harapkan' kalimat itu melekat hingga menyentil ulu hatiku. Pedih, anakku ditolak. Bahkan sebelum mereka hadir..


Austin masih berteriak dan menangis, aku bersyukur kamar dirumah ini kedap suara. Jika tidak, aku yakin mama akan menyeretku pergi.


Ku hela napasku...


Ku mendekatinya yang tengah menunduk, aku menguatkan hatiku. Ku peluk dirinya yang rapuh, ku menangis sambil terus memeluk pria yang 'tak mengharapkan' anakku.


Wajahnya terbenam didadaku, ku usap kepalanya. Sambil mengusap air mataku sendiri.


'Nak, mungkin ini akan jadi pertemuan kalian yang terakhir dengan daddy... kita akan bertahan, mommy akan bertahan untuk kalian. Kita akan pergi sampai kalian lahir'