Just A Little Bit Of Your Heart

Just A Little Bit Of Your Heart
Sedih dan Bahagia



"Jadi... Kalian menyuruhku datang kesini karena kita akan lunch bareng?!" Nate langsung duduk dihadapanku, tangannya sudah memegang sendok dan garpu.


"Bunda tadinya nggak kepikiran gitu, cuma Maria udah punya niatan buat bikin makan siang buat kamu... Dan kebetulan, bunda dateng bawa makanan. Yaudah kita bikin makanan buat makan siang deh" ucap bunda. Nate hanya mengangguk dengan mulut yang penuh dengan makanan.


Nate menatapku yang hanya diam memperhatikan ibu dan anak dihadapanku ini, aku tersenyum padanya. Dia meraih tanganku, dan menggenggamnya.


"Makan... aku memasaknya untukmu..." ku tangkup tangannya dan sedikit mengelus sebelum melepaskannya. Lalu kita makan dengan candaan yang memang sering terlontar dari mulut Nate.


Setidaknya dengan berada disini, aku bisa sedikit melupakan kesedihanku. Dan ku rasa, ini baik untuk perkembangan janinku. Satu bulan lagi aku akan bertemu dengan Mama. Dan jika bayiku sudah lahir, barangkali aku akan mengurus perpisahan ku dan Austin. Ku pikir itu akan jadi kebaikan antara Aku, Austin dan Tasya. Aku akan menunggu untuk itu.


"Tambah lauknya Maria, cucuku harus makan makanan yang bergizi..." ucapan bunda membuatku terharu, meski aku dan dia baru dekat sekarang ini. Tapi beliau sudah demikian perhatian padaku.


"Bunda juga, masa nasinya cuma sedikit" ucapku.


"Bunda tuh lagi diet, lemak ditangannya udah bergelambi. Iyakan bunda..." cetus Nate dan dihadiahi pukulan dibahunya.


Setelah makan selesai, Nate kembali pergi ke kantornya. Bunda pun sama, beliau juga ikut pergi. Arisan yang membuatnya harus datang. Aku sendirian, dan ku habiskan waktu dengan melihat televisi. Yang tanpa sengaja, sedang membahas tentang Tasya.


'*Anastasya Zamora... Disebut-sebut menjadi orang ketiga'


'Artis Anastasya Zamora Menikah dengan Austin (Kakak Iparnya*)'


Aku hanya tersenyum miris, serapat apapun kau menutupi bangkai, baunya akan tetap tercium. Peribahasa yang tepat untuk keadaanku saat ini. Hubungan yang sebelumnya tak pernah terkuak, maka akan muncul dengan sendirinya.


Ku hela napas, ku putuskan untuk tidur siang saja. Itu jauh lebih baik dari pada mencekoki anakku yang belum lahir dengan berita tak baik seperti ini.


*****


Ku terbangun dari tidurku, saat cahaya matahari menggangguku dengan sinarnya. Aku masih tinggal diapartemen milik Nate, dia membebaskanku untuk menggunakannya. Sudah ku bilang, aku sangat bersyukur memiliki sahabat seperti dia. Bunda pun sesekali datang dan tak jarang akan menginap disini.


Sudah dua bulan ku berada disini, ku putuskan untuk menetap disini sampai proses persalinan nanti. Mama pun sudah ku beritahu tentang keadaanku. Satu bulan yang lalu aku dan Nate pergi menemui papa dan mama, mereka terkejut dengan apa yang ku ceritakan. Dan... mereka, semakin gencar menyuruhku untuk berpisah darinya. Namun aku masih enggan membahas itu, belum waktunya...


Aku masih bekerja sebagai sekretaris, meski kandungan ku sudah sangat besar. Berangkat kerja bersama Nate, dan pulang pun begitu.


"Selamat pagi baby's... bantu mommy lewatin hari ini ya... kita pergi ke kantornya Uncle Nate lagi... kita ketemu sama tumpukan berkas lagi...Abis itu, kita paksa Uncle Nate buat jajanin kita es cream..." ucapku semangat. Sejak memasuki bulan keenam, bunda menyarankan agar aku sering mengajak calon bayiku berbicara. 'biar baby's pintar...' itu jawabnya, dan entah kenapa aku pun ikut melakukan instruksi tersebut.


Ku berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhku. Ku perhatikan perutku yang membesar, setiap kali melihatnya.. aku semakin tak sabar menunggu kehadiran mereka.


Ku ambil pakaian kantor dan memakainya, ku poleskan make up tipis diwajahku. Ku rapihkan penampilan ku sekali lagi dan memakai flatshoes.


"Tok tok... Sarapan??" Ku lihat kepala Nate yang muncul dibalik pintu. Aku tersenyum, sejak kapan ia datang??


"Aku ingin memelukmu dulu, sini.. aku rindu pada calon anakku" Nate menarik tubuhku dalam pelukannya, kurasa ia sedang memiliki masalah.. Ku biarkan saja..


"Kapan kau datang?" tanyaku. Lalu melepaskan pelukan tadi.


"Umm... entahlah, yang pasti aku sudah membuat makanan untuk kalian... Sarapan dulu, minum susu mu, vitamin kau taruh dimana?!" Nate sudah seperti suami siaga.


"vitamin ada dikotak obat..."Ku lihat ia mengangguk.


"Kau tahu, nanti siang bunda mengajak kita lunch bersama.." Ku mengkerutkan dahi, tumben sekali bunda mengajak kita lunch.


"Umm... baiklah" ku mengangguk saja.


Setelahnya, kami berangkat bersama. Hingga tanpa sadar seseorang dari jauh sedang memantau diriku yang keluar dari apartemen ini.


*****


Ku hela napas setelah menyelesaikan satu berkas terakhir. Ku lihat jam ditangan, jam makan siang tinggal beberapa menit lagi. Aku, Nate dan bunda sudah janji bertemu direstoran sebrang kantor.


Ku berjalan menuju ruangan Nate.


"Permisi pak, kita harus pergi. Aku tidak tega membiarkan bunda menunggu lama" kataku sambil berkacak pinggang. Dia tersenyum dan melepas kaca mata yang senantiasa bertengger dihidungnya saat bekerja.


"Baiklah nyonya muda, kita pergi sekarang" Dia berdiri dan mengambil handphone serta dompetnya sebelum berjalan bersamaku.


"Calon istriku, kita sudah seperti suami istri sungguhan ya" Nate terkekeh diakhir kalimatnya. Entahlah, aku sedikit merasakan sesuatu yang tak enak saat mendengar kekehannya.


"Seperti itu ya?" tanyaku, dan dia mengangguk. Ku coba tepis rasa itu, berpikir semuanya akan baik baik saja.


"Sebentar, Maria..." Ada apa ini? Kita berhenti dikoridor saat menuju lift.


"Ada apa?" tanyaku panik.


"Aku hanya ingin memelukmu saja, seperti ini..." Nate membawaku kedalam pelukannya. Ku balas pelukan itu.


"Ahh... nyamannya... sebentar ya" ku jawab dengan anggukan. Sepertinya benar, ada masalah berat yang dialaminya.


"Ada masalah?"tebakku. Diam tak ada jawaban atau pergerakan darinya.


Kuusap punggung tegap sahabatku ini, seperti dia yang selalu menenangkanku saat keram diperutku terasa.


Tak berapa lama kemudian, Nate melerai pelukannya. Dia tersenyum.


"Ayo... bunda nungguin" Ku mengangguk.


Sampai restoran, ku lihat bunda sedang duduk dengan seorang wanita disampingnya. Aku belum bisa melihat wajahnya, karena ia membelakangiku. Terdengar hela napas berat yang Nate keluarkan. Ku dongakkan kepalaku melihatnya, ia nampak gusar.


"Bunda..." ucapku menyapanya. Mataku membulat, saat mengetahui wanita yang sedang duduk bersama bunda.


"Claire!!!" dia kemudian menatapku seperti tidak suka.


"Bunda... kenapa wanita ini ada disini?" Ada apa ini? Terakhir kali bertemu, dia masih tersenyum dan bersikap baik padaku. Lalu sekarang, kenapa dia menjadi begini??


"Umm.. Maria ini sahabat Nate. Apa kamu sudah saling mengenal?" bunda melirikkan matanya padaku, dan menarik kursi disebelah kirinya untukku.


"Bunda, dia ini kakak dari temanku... dan, dia yang sudah merebut kekasih adikknya." ucapnya sarkas. Aku tersenyum miris.


"Jaga bicaramu, Claire.." Nate menggenggam tanganku.


"Hei.. lepas... kamu itu calon suamiku, dan kau..." ia menunjuk ku. Mataku membesar melihat tingkahnya.


"Jangan pernah sekalipun mengganggu calon suamiku, seperti yang kau lakukan pada adikmu sendiri!!" Aku terkejut, dia membentakku. Ku menunduk, air mata ku sudah menggenang.


"Claire.. jaga nada bicaramu" Ucap Nate geram.


"Apa? kamu membelanya?!!" Ku yakini kini meja kami sudah mengundang perhatian seluruh pengunjung restoran.


"Maafkan aku...." ucapku sebelum pergi dari mereka. Aku harus pergi. Aku tak ingin terus menerus berdiam diri diantara mereka yang membenci ku.


"Taksi!!!" ku masuk dan segera menuju apartemen, aku ingin mengambil pakaian milikku disana.


Sesampainya disana, ku masukkan segala keperluan milikku kedalam koper. Ku pejamkan mata saat tiba-tiba perutku terasa keram, ini sangat sakit dibandingkan dengan keram biasanya.


'jangan... jangan dulu nak...'


ku hirup oksigen perlahan, air mataku meleleh. Ini sakit.. sangat sakit..


Ku ambil koper dan segera keluar dari sana.


Ku berjalan menuju lift dengan terseok-seok, menjadikan dinding sebagai topanganku. Tangan kiriku menarik koper masuk kedalam kotak besi ini. Tubuhku tersandar, keringat dingin sudah membanjiri tubuhku. Mataku terpejam.


'Jangan sekarang nak, kau harus kuat...'


"trring.."


Lift terhenti dan beberapa pria masuk kedalamnya, mataku masih terpejam. Namun, aku bisa mencium aroma parfum yang sangat familiar.


"Maria.... Kau kenapa?! kenapa badanmu berkeringat seperti ini..." Ku buka mataku, dan mengapa aku lagi lagi harus terjebak bersama mereka.


Austin, Mike, Aaroon dan Jeremy disini.


"To..tolong aku, Mike.. aku akan melahirkan..." suaraku tercekat.


Ku rasakan rangkulan dibahuku, Mike yang melakukannya. Memang aku berharap pada siapa?!!


"Austin, istrimu akan..."


"Aku tak pernah menganggapnya istriku, sudah ku tegaskan padamu berapa kali Mike. Jika kau ingin membantunya, bantu saja. Tasya sudah menungguku." Mataku semakin memerah, hatiku sudah hancur tak bersisa.


"Aku berharap kau mau membantu ku Mike..." ucapku lirih.


"pasti, kau tenang saja... aku masih memiliki hati" Ku genggam tangannya dengan erat.


Mike menuntunku saat keluar dari lift, dan saat akan menuruni anak tangga, tanpa aba-aba dia menggendong ku.


"Permisi!!! Istriku akan melahirkan, heii bisakah kau minggir!!" entah mengapa rasanya aku ingin tertawa miris untuk diriku sendiri. Ku kalungkan lenganku dilehernya. Hidupku terasa sangat menyedihkan...


Setelah sampai didepan mobilnya, ku lihat Aaroon membukakan pintu. Dimasukannya diriku perlahan kedalam mobil. Kami pun segera berangkat menuju rumah sakit setelah ia memasukan koperku dibagasinya.


Ku rasakan cairan meleleh di sela pahaku.


Aku semakin meringis karena sakit ini, pinggangku memanas. Ku cengkram apapun yang berada disekitar ku.


"Atur napasmu, Maria... tarik... buang... perlahan saja" Mike membantuku mengusap perut dan punggung ku.


Tak berapa lama, sampailah aku dirumah sakit. Mike kembali menggendong ku, tubuhku terbaring dibrankar Mike mengikutiku.


"Mike, tolong panggilkan Mama papa ku, tolonggg...." aku meringis, bayiku sepertinya sudah tak sabar ingin melihat dunia.


*****


"Ayo buu... sedikit lagi... tarik napas.... buang... tarik... " ku ikuti instruksi dokter tersebut, ini terakhir... ayo Maria....


"aaarrrrrggggghhhhhh..........!!!!!" napasku memburu, perasaan lega mulai melingkupiku. Aku tersenyum.


"Bayi kedua anda laki-laki juga... Selamat nyonya.. Mereka akan berada diinkubator, kau bisa memberikan ASI mu setelah kau sehat.." Aku hanya tersenyum, badanku masih lemas. Aku bersyukur dapat melahirkan mereka dengan normal. Meskipun mereka dikategorikan prematur, namun aku lega karena mereka bisa tumbuh kembang dengan normal seperti anak lainnya. Aku butuh istirahat......