Just A Little Bit Of Your Heart

Just A Little Bit Of Your Heart
Something happened



Plaaakk...


Tamparan mendarat dipipiku, tubuhku sampai ikut bergerak karenanya. Ada apa ini? Apa aku membuat kesalahan?!!


"Dasar wanita j****g... kau sudah berani mengadu pada adik lelakimu huh.. Kau tau, apa yang sudah adikmu lakukan pada Tasya-ku ?!!" Apa yang sudah kamu lakukan Kelvin?!!


aakhh...


Kepalaku!!!


"Lepas... Austin ku... mohon,... maafkan aku, akhh.. " Tarikannya pada rambutku semakin kencang. Wajahku semakin mendongak keatas. ku pejamkan mata, menahan sakitnya kepalaku saat ini.


"Ikut aku... ayoo.. ikut!!" Austin menarik rambutku agar aku mengikutinya,demi Tuhan ini sakit.


brakk...


Tubuhku terjatuh diatas lantai kamar, ia kembali menarik wajahku hingga berdiri.


"Kau ingin aku memperlakukanmu sebagai istri kan?! baiklah.. akan ku lakukan.. akan lukukan itu.. " suaranya begitu dingin, hingga membuatku gemetar ketakutan.


"Kita akan melakukan hal yang sepatutnya dilakukan suami kepada istrinya..." ku lihat ia tersenyum miring, dan itu sangat menakutkan untukku.


Ku rasakan tangannya mulai meraba punggungku dan terus merambat turun hingga bagian bokongku dan me****snya. Tubuhku bergetar, bukan karena gairah tapi karena aku belum siap melakukan hal semacam ini..


Ku coba memberontak, ku pukul dadanya. Tapi sepertinya itu tak berhasil. Ia mulai menciumku paksa, ku gelengkan kepala mencoba menhindar. Namun cengkraman diwajahku sebagai jawaban dari penolakanku.


"Ini kan yang kau mau, huh... ini yang kau mau!!!" ku pejamkan mata saat ia berteriak didepan wajahku.


Sraakkk....


Bajuku dirobeknya menjadi dua bagian. Tersisa bra hitam yang masih melekat ditubuh bagian atasku.


"Ku mohon... jangan.. hiks, jangann... Austin, ku mohon jangan lakukan ini.. Akhh.. " Aku meraung kesakitan saat ia m****s pa*udaraku yang masih terbalut bra.


"Bukan kah ini yang kau mau, aku akan memberikannya.. jadi DIAM dan rasakan kehancuranmu karena kau... kau.. sudah berani membuat Tasya-ku menangis karena ulah adik lelaki sialanmu itu!!!!" Ia menamparku lagi setelah sempat berteriak.


Plakk ..


Plakk..


Plakkk....


Tak hanya sekali, ia menampar pipi ku bergantian. Papa... Tolong aku, hiks.....


******


Aku tak bisa berhenti menangis, sejak beberapa jam lalu. Austin mengambil paksa sesuatu yang seharusnya ku berikan pada Suami yang kucintai dan mencintaiku. Ia merenggutnya, dan setelah ia puas, ia menendangku untuk tidur dibawah. Dilantai. Tanpa alas, tanpa bantal ataupun selimut.


Ku lihat jam menunjukan waktu hampir pagi, tubuhku lemas dan rasanya badanku remuk semua. Ku ambil kemeja putih milik Suamiku untuk ku pakai, aku tak mungkin berjalan menuju kamarku tanpa memakai sehelai benang pun.


Ku punguti pakaian yang teronggok dilantai, ku ambil semua pakaian milikku hingga ku yakin tak ada yang tertinggal disini. Aku tak ingin mengambil resiko dengan membuatnya marah dengan pakaianku. Lalu dia akan menyiksaku lagi.


Ku keluar dari kamarnya, berjalan sambil terseok dan meringis karena kesakitan dipangkal pahaku ini sungguh menyiksaku saat berjalan...


Aku tak menangis.. rasanya air mataku kering karena tangisanku semalam. Yang ada dan tersisa hanyalah rasa marah, kecewa dan sakit hati atas tindakannya padaku.


Ku buka pintu dan langsung ku kunci dari dalam. Aku tak ingin diganggu. Oleh siapapun dulu, aku ingin sendiri, meratapi nasib yang entah sampai kapan aku jalani dengan segala bentuk penyiksaan ini.


Ku rebahkan tubuhku tanpa berniat membersihkan diri, rasanya aku tak mampu lagi berjalan. Austin melakukannya dengan cara kasar, tak lupa juga tamparan dan jambakan dipipi dan rambutku yang jadi tambahannya. Mataku memberat, pandanganku pun berubah menjadi hitam.


Aku terlelap...


Aku mengerjap, menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam mataku. Aiishh.. aku lupa, semalam aku tak menutup gordennya. Ku lihat jam menunjukan hari sudah siang. Aku tak berangkat kerja, perset*n dengan pekerjaan itu. Aku sudah muak dengan kehidupanku ini.


Aku terduduk dipinggir tempat tidur, mencoba mencari letak kesalahanku. Jika bukan karena perjodohan ini, aku yakin kehidupanku akan berjalan normal normal saja.


Cukup lama aku terdiam. Duduk disamping tempat tidurku, aku berdiri dan berjalan dengan pelan menuju kamar mandi.


Keadaanku sangat kacau, pipi dan sudut bibir lebam, rambut tak berbentuk, kissmark memerah bahkan membiru didada dan dileherku. Tubuhku terkulai lemas, aku menangis lagi.


"kenapa begini hiks.. Paa.. jemput aku, ku mohon.. Rasanya sakiiitt sekali Pa.. ma.." dada ku sesak, aku tak terima ini semua. Aku tak suka dia mengambilnya paksa..


******


Sudah dua minggu sejak hari... dimana Austin melakukannya, dan selama itu pula aku tak pernah melihatnya dirumah. Ku putuskan, aku akan berhenti bekerja pada Malvin. Sikapnya yang terus saja mengganggu ku dengan ucapan cintanya padaku sangat membuatku kesal. Lebih baik aku resign saja.


"Pagi Maria, ada apa kamu mencariku pagi-pagi begini?! apa kamu udah periksa file yang ku beri kemarin" Ku lihat Malvin sedang sibuk dengan berkas-berkas dihadapannya.


"Pak, saya mau resign" ucapanku sontak membuatnya mengalihkan perhatian padaku. Aku tau dia terkejut dengan keputusanku yang mendadak resign, tapi mau bagaimana lagi. Aku ingin lepas dari segala permasalahan dihidupku, dan akan ku selesaikan perlahan-lahan dan satu demi satu.


"Apa?!! kenapa ria.. apa ada masalah antara kita sebelumnya? atau ini semua karena suamimu?? " Aku tersenyum. Sudah aku duga, dia pasti akan bertanya seperti itu.


"Iya, suamiku ingin aku bekerja di...." ucapanku terhenti.


"Apa suami mu ingin kamu bekerja diperusahaannya?! begitu?!! " terdengar jelas bahwa Malvin tengah menahan emosinya.


Aku mengenalnya bukan hanya satu tahun atau dua tahun, tapi aku sudah mengenalnya sejak dibangku SMA bahkan kita memutuskan untuk menjadi sahabat. Apalagi aku sempat menjadi sekretarisnya, aku hafal betul sikapnya ini, dia merendam emosinya.


"Iya, maafkan aku Pak" ku harap ia percaya dengan kebohonganku ini.


"Baiklah, ku harap persahabatan kita tak berakhir juga Maria" Dia berdiri dan bergerak mendekatiku. Berdiri dihadapanku.


"Tentu, persahabatan kita gak akan berakhir dengan keluarnya aku dari sini.." aku tersenyum.


"Apa kamu gak mau berubah pikiran? Aku akan merindukanmu, sungguh" dapat terdengar jelas ia menghela napas berat.


"Malvin..." aku harus segera pergi dari sini.


"Baiklah, baiklah.. gimme your hug" huft.. baiklah pelukan terakhir.


Ku peluk dia, ku kira hanya sebentar. Saat aku hendak melepaskan pelukanku dia menahan dan berkata sebentar lagi. Ku biarkan tubuhku dipeluknya dengan erat, ku rasakan hela napas berat dileherku. Ku usap punggungnya.


Tiba-tiba pintu terbuka lebar disusul dengan suara seseorang yang berteriak, Malvin menjauhkan sedikit tubuhnya dariku.


"Apa yang kalian lakukann!!!! aahhhh... Maria-ku.." Mike menyingkirkan lengan Malvin yang masih berada di bahuku.


"Ketuk pintu, sudah ku katakan berapa kali agar kalian mengingatnya? " Malvin mendengus.


"Apa aku menganggu kesenangan kalian berdua, Kakak ipar " Austin, seharusnya aku sadar jika Mike berada disini berarti Austin pun berada didekatnya.


"Tentu saja kalian menganggu"


Bukan aku. Malvin yang terlihat tak suka dengan kedatangan sahabatnya menjawab pertanyaan yang Austin lontarkan padaku.


"Maria.. bisa kau duduk disini dekat denganku" Mike menepuk tempat disampingnya. Aku menggeleng.


"Aku tak b..bis.. huekk.." Ada apa dengan diriku? sesuatu memaksa keluar dari mulutku. Ku berlari menuju kamar mandi yang berada di ruangan Malvin.


Tak ada yang keluar dari tubuhku, hanya cairan bening. Ada apa denganku?! Tiba-tiba pusing yang hebat menyergapku. Ku dengar seseorang berteriak memanggil namaku.


'Mariaa!!!'