Just A Little Bit Of Your Heart

Just A Little Bit Of Your Heart
Rumit



"Hmm.... rasanya aku ingin menambah makanan lagi, uncle masih laparr...." ucap Mike sambil mengelus perutnya.


Ku tahu ia sedang berusaha mencairkan suasana diantara kami.


"Pesan lagi uncle, lalu aku akan memintanya, hehe...." timpal Keefe, dengan kekehan.


"Keith, jika kau tak mau buku dari daddy.. biar untukku saja ya... kemari dad, aku akan belajar yang itu juga..." ku lihat senyum Austin seketika merekah, meski ia sempat menatap sendu pada Keith. Namun saat ini Keefe dengan cerianya menarik buku dari tangan Austin. 


Jujur saja, meski aku membencinya. Jauh dalam hatiku tak ingin melihat ini semua, aku bisa merasakan apa yang Austin rasakan. 


Keith memang keras kepala dan berpendirian kuat, sama sepertinya... 


"Ambil saja, daddy Nath akan membelikanku nanti" ucap Keith dengan nada datar. 


"Okay, umm... daddy, boleh aku tahu namamu?,,, aku mau tahu juga, hehe...." ucap Keefe polos. 


Austin tersenyum, meski ku tahu senyum itu tak sampai pada matanya. 


"Waahhh.. kau mau tahu ya Keefe, namanya itu.... daddy Austin... dia sahabat uncle, teman uncle saat main bola dulu... kau tahu, daddymu ini sangat jago dalam menendang... bidikkannya selalu masuk dalam gawang... meskipun begitu, ia sangat payah dalam urusan berlari... lamban...." cetus Mike sambil merangkul Austin dan Keefe yang berada disampingnya. 


"Huhu, daddy Austin hebat... nanti jika dad, datang kembali... ajari aku dan Keith ya daddy.." ucapnya dengan antusiasme tinggi. 


Ku lihat Mike dan Austin tertawa bersama, setelah mendengar ucapan Keefe. 


Namun tiba-tiba, suasana hening seketika setelah Keith berkata... 


"Aku lebih suka renang, apalagi dengan daddy Nath.. dia sangat hebat, apalagi saat ia menemaniku bermain air, iyakan mom...." aku hanya tersenyum mendengar ucapan Keith.


"Kalian suka menghabiskan waktu bersama??...." tanya Mike tiba-tiba. 


Ku tatap tajam dirinya yang kebetulan melihatku, namun dengan cepat ia mengalihkan pandangannya dariku. Menyebalkan… 


"Iya uncle… daddy Nathan itu daddy terbaikku.." ucap Keith bangga. 


"Cepat habiskan makanan kalian, setelah ini kita pulang… mommy masih ada pertemuan lagi..." ucapku tegas.


Aku tak mau keadaan semakin tak terkendali dan besar kemungkinan jika terus ku biarkan akan mengundang hal yang tidak baik diantara Austin dan Keith, terlebih adanya Mike diantara mereka. Kompor....


"Okay mommy...." jawab Keith dan Keefe serempak.


Ku lihat Austin tersenyum. Dan Mike yang juga tengah menatapku dengan senyum bodohnya itu. aishh..... mengapa aku bisa bertemu dengan mereka....


***


Ku kembali berhadapan dengan tumpukan berkas dan komputer, setelah tadi mengantar kedua anakku pulang terlebih dahulu. Mengingat pertemuan tadi dan pertemuan sebelumnya, aku jadi mengetahui jika Keith tidak terlalu suka jika berhadapan dengan Austin. Entah ada apa dengannya, bahkan aku pun belum pernah menceritakan cerita yang sebenarnya. Jika Austin adalah ayah dari mereka.


Apa ada orang lain yang memberitahu mereka?


Flashback on


"Setelah ini, mommy minta kalian tidur siang... jangan lupa cuci kaki dan tangan.. dan jangan banyak bermain..." ucapku setelah memarkirkan mobil di teras rumahku.


"Okay mom, aku akan tidur lalu membaca buku dari daddy Austin,, bye mom..." ucap Keefe. Lalu ia keluar lebih dulu.


ku hela napas perlahan....


"mom, bisakah jika kita tak usah bertemu dengan uncle Austin lagi..." aku terkejut mendengar ucapan Keith. Ada apa??


"Why..??" tanyaku menyelidik. Ku lihat Keith tertunduk lusuh, seperti ada sesuatu yang disembunyikan.


"Aku tidak menyukainya mom, aku lebih menyukai daddy Nath..." ucapnya lalu pergi tanpa menoleh kearah ku.


Ada apa dengan mereka berdua?...


Yang satu tampak antusias, yang satu tak ingin bertemu..


Flashback off


Entahlah, setidaknya aku tidak kehilangan mereka aku tak mau mempermasalahkannya.


"Permisi Ms. Tuan Adinata menunggu Anda di ruang meeting." cetus sekretaris ku.


Tunggu. Papa? dia disini?!!


Ku langkahkan kaki menuju papa yang sedang menikmati kopi diruang meeting.


"Papa..." ku lihat ia tersenyum dan memelukku erat.


"Apa kabar nak, papa merindukanmu... terlebih mama mu yang saat ini berada dirumah.." alisku mengkerut, dirumah? Belum lama ku antar anak-anak pulang, tapi aku tak melihat mama disana. Hanya Sofi yang tersenyum didepan pintu rumah.


"Papa ingin membicarakan sesuatu, ini masalah anak-anakmu..." ucapnya menginterupsiku lagi.


"Apa paa?!.." tanyaku.


"Masalah Austin... " aku tak terkejut, mendengarnya.


Toh aku bahkan sudah bertemu dengannya, bahkan anakku juga sudah bertemu.


"Austin?.. kenapa?! " tanyaku heran.


"Dia datang pada papa untuk memintamu lagi..." ucap papa enteng. Tak ada emosi diwajahnya saat mengucapkan kalimat yang membuatku sedikit terkejut itu.


"Dia datang satu tahun yang lalu... dan ia bertekat untuk bisa menemukanmu..." tambahnya.


Lelaki itu sudah menemukanku.....


"Dan... bodohnya papa.. papa memperbolehkannya untuk memilikimu lagi, meski dengan catatan jika kamu mau bersama dengannya lagi... maka papa akan merestui kalian" kali ini sangat mudah ku tebak, papa mengucapkannya dengan rasa bersalah.


"Tapi aku gak mau pa, aku gak bisa..." ucapku.


"Kenapa? apa kau sudah memiliki lelaki lain?!" tanya papa.


Ku hela napas berat, apa papa lupa dengan segla tingkah laku pria itu dahulu.. Apa lagi saat aku akan melahirkan dulu, aiishhh... aku tak bisa dengan mudah melupakannya.


"Bukan, tentu saja bukan karena lelaki lain.... aku belum bisa memaafkan dan melupakan apa yang sudah ia lakukan dulu padaku, itu saja paa..." ucapku coba memberi pengertian padanya.


"Berikanlah ia kesempatan... beri ia kata maaf nak..." ucap Papa enteng. Aku tersenyum miris mendengarnya.


"Apa papa lupa, kejadian saat dulu... apa papa lupa ceritaku melahirkan Keith dan Keefe, aku meminta tolong dihadapannya paa, aku memohon untuk ia mau dan sudi.. menolongku untuk melahirkan saat itu tapi Apa?!!!! ia justru membuang wajahnya paa... ia tak pedulikan kami, ia tak mengharapkan Keith dan Keefe sejak awal kehamilanku... Apa papa lupa?!!" tanyaku dengan nada tinggi, aku hilang kendali.


"Dia sudah menyesal nak, dia sudah mendapatkan pembalasan yang setimpal..." aku terkekeh sendiri.


"Aku tak sebaik itu paa, meskipun kini kedua anakku telah bertemu dengannya... aku tak akan pernah mau untuk kembali padanya." ucapku tegas..


"Dia sudah mencintaimu nak, beri dia kesempatan.. Anak kalian sudah semakin besar, akan jadi apa nanti jika mereka tak memiliki sosok ayah dihidupnya..." ucap papa lagi. Aku tergelak.


"Mereka anakku pa... dan akan aku jamin kehidupan keduanya, meski tanpa sosok ayah dihidupnya." ucapku penuh penekanan.


Ku putuskan untuk pergi dari hadapannya, ucapan papa sangat membuatku kecewa. Untuk apa ia selama ini menjauhkanku darinya, jika pada akhirnya aku tetap dipaksa kembali lagi.


Aku tak mau jatuh lagi, apa lagi mengorbankan perasaan anakku. Kepedihan, kepahitan hidupku saat melihatnya bersama adikku sendiri. Menjalin asmara dan saling mencumbu dihadapanku. Bertunangan di istanaku, menghancurkan dan membuangku dari istana yang sama.


Aku tak mau itu semua menimpa putraku.


***


"Mommy pulang...!!" ucapku saat membuka pintu rumah.


Kenapa sepi sekali?! pikirku..


"Kak Maria....mereka sedang berada dihalaman belakang, sedang bermain dan bersantai bersama tuan dan nyonya Adinata." jawab Sofi sambil tersenyum.


Ku hela napas sebelum melangkahkan kaki bertemu mereka.


Ku lihat Papa, mama, Keith, Keefe, dan dua lelaki yang kini sama sama tengah memandangku intens.


Ada urusan apa mereka disini?!....


"Mommy.... look at this.... daddy Nath membelikan kami mainan baru lagi mom...." ucap Keith antusias memperlihatkan mainannya, saat mengetahui kedatanganku..


"Mommy, Keefe juga ada nih..." kini giliran Keefe yang mengangkat mainan mobil dan helikopter miliknya.


Keduanya tampak bahagia...


"Hallo sayang, mama kangen banget sama kamu..." ucap mama memelukku erat. Aku tak sadar mama sudah berada disampingku dan sudah memelukku.


"kabarku baik maa..." jawabku.


Ku berjalan dan duduk disatu kursi tersisa disana. Tepat bersebelahan dengan Nathan..