Just A Little Bit Of Your Heart

Just A Little Bit Of Your Heart
Sebuah Ajakan



"Rumah mu sangat nyaman..." ucapnya sembari sesekali menyesap kopi yang sudah kubuat. Kami sedang duduk ditaman belakang yang berhadapan dengan kolam renang. Keefe dan Keith sedang berganti pakaian bersama Sofia.


"Terima kasih, Nath.." ucapku, meskipun ia sudah menganjurkan ku untuk bersikap lebih santai. Tetap saja, kekakuan itu masih melekat dimulutku saat mengucap namanya..


"Apa kau tahu?..." aku menggeleng. Aku menunggunya berbicara.


"Sofia.. itu adalah......." aku menunggu dengan jantung berdebar. Sofia?!! Gadis itu, aku bertemu dengannya saat ia sedang berjalan sendirian diderasnya hujan. Karena rasa kemanusiaan, akhirnya ku tolong dia. Tanpa memikirkan siapa dia sebenarnya.


"Dia adalah adik kandungku..." ucapnya santai. Aku terkejut, bagaimana bisa?!! Bagaimana bisa aku mempekerjakan seorang Braxton sebagai pengasuh anak-anakku?!! Apa mereka akan menuntutku?!!


"Aa...aku, aku tak tahu... maafkan aku sebelumnya, aku sungguh tak tahu jika, Sofia adalah adikmu.. aku bertemu dengannya saat ia berjalan diderasnya air hujan... dan saat itu, tanpa bertanya lebih dulu... aku membawanya kemari.. maafkan aku..." ucapku dengan menyatukan telapak tanganku dihadapannya. Memohon agar itu tak menjadi masalah. Anak anakku masih sangat kecil jika aku harus dipenjara karena tuntutan keluarga Braxton ini.


"Heii... santai saja, aku tak akan melakukan hal yang kejam padamu... hanya saja, aku akan membalas tindakanmu dengan sesuatu yang menarik..." ucapnya disertai senyum seringai. Bulu kudukku langsung meremang melihatnya.


"Kak.. ku mohon... jangan lakukan apapun pada kak Maria, dia tidak tahu menahu tentang kebenaran diriku... aku yang meminta pekerjaan ini padanya.. Dan aku menyukai Keith dan Keefe... ku mohon jangan lakukan apapun. Aku terkejut saat Sofia sudah berada dibelakang ku. Ku lihat Keith dan Keefe sedang bermain didalam rumah.


"Tidak. Dia secara tidak langsung sudah menghina ku, aku tak suka jika nama baikku tercoreng karena itu" Nathan memandangku dengan tajam. Aku hanya terdiam, lidahku kelu untuk sekedar menyela ucapannya.


"Kak.. ini semua salahku, aku yang kabur dari rumah... aku tak tahan dengan tunanganmu itu, dia memperlakukanku tidak baik.. aku tak mau tinggal satu atap dengannya. Aku kabur karena aku tak mau kau menikah dengannya.. dia itu seekor ular. Aku memberontak karena aku sayang padamu, kau kakakku... aku tak mau kau menikah dengannya... ia selalu menjambak rambutku, menamparku, menghina ayah dan ibu, dan sebelum aku kabur... aku sempat mendengarnya berbicara ditelepon, bahwa ia akan menjualku karena ia tak mau jika aku tinggal bersama kalian jika nanti menikah!!!!...." amarah Sofia meledak. Baru kali ini ku dengar gadis itu berteriak. Aku bisa memahaminya, bagaimana rasanya jadi orang yang diharapkan lenyap. Bagaimana rasanya tersakiti, terhina dan tersiksa.


Ku raih tubuhnya yang sedang bergetar hebat akibat tangisan bercampur emosi kedalam pelukanku.


"Jangan menangis... jangan sedih, jangan emosi... yang tidak menyukaimu akan tertawa melihatmu... dia akan senang karena berhasil memenangkan permainannya, jangan lemah Sofi... aku pernah berada dalam kondisi jauh lebih buruk dari pada dirimu..." bisikku, ku usap pipinya yang basah karena air mata.


Cukup lama kami bertahan seperti ini. Ku lihat Nathan yang juga sedang menatap kearahku, mata kami bertemu. Mata coklat terang namun aku tak bisa menebak apa yang ada didalamnya. Seperti labirin yang menyesatkan.


"Mommy, Sofi kenapa?!.... Sofia... jangan menangis, kami minta maaf jika kami tak bisa diam, maafkan kami.." Keith dan Keefe ikut memeluk kaki Sofi. Aku tersenyum melihat kelakuan keduanya.


"Hiks... ti..tidak, kalian sangat baik dan manis... mana mungkin aku sedih karena kalian... kemari, berikan aku pelukan manis dan hangat....." Sofia berjongkok dan memeluk putra-putraku.


Ku hela napas lega...


"Ayo pulang..." Nathan kembali berulah. Astaga...... berilah aku kesabaran.....


"Tidak!!!.... aku ingin disini.. Emma tunanganmu itu pasti akan menjualku...."Sofia kembali memuncak.


"Keith, Keefe... kalian masuk ke kamar dulu okay..." aku tak mau anakku melihat pertengkaran antar saudara ini. Mereka masih terlalu kecil, dan bisa saja meniru apa yang terjadi dihadapannya.


Setelah keduanya pergi. Sofia dan Nathan kembali saling berbicara, ahh lebih tepatnya bertengkar.


"Ku bilang pulang... Sofia Braxton...." tekannya sekali lagi.


"Tidak!!...aku mau disini, kak Maria akan merawatku dan menerimaku dengan tangan terbuka..." sofia berlindung dipunggungku. alhasil, aku yang berhadapan langsung dengan pria ini. Ku rasa oksigen menipis seketika....


"Dia hanya orang asing, dan tentu saja.... dia akan menerima mu, karena kau seorang Braxton... Sofia...." seketika emosiku ikut terpancing. Ku tatap tajam pria dihadapanku.


"Sebelum ku tahu dia seorang Braxton, aku sudah lebih dulu merawat dan menerimanya dengan baik... Padahal bisa saja saat itu aku tak mempedulikannya, tak membawanya dari hujan deras yang menyelimuti badan mungilnya, tak memberinya makan dan tak menyayanginya seperti adikku sendiri, Tuan Nathaniel Braxton...." Ucapku perlahan namun penuh dengan penekanan.


Dia hanya diam.


"Satu tahun lalu, seharusnya kau mencarinya... satu tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk mencari adikmu dengan teliti... Apalagi kau punyai akses dimanapun dan kapan pun..... Jangan pernah meremehkan orang lain, Tuan... aku memang tak sekaya dirimu, tapi aku masih memiliki harga diri untuk tidak melakukan hal yang keji meninggalkan gadis yang kelaparan dipinggir jalan saat hujan tiba....." tambahku. Aku tak peduli lagi jika ia akan menamparku setelah ini. Atau meremukkan tubuhku. Aku berbicara benar....


"Kak... jangan paksa aku, ku mohon... mengertilah..." Ucap Sofia lirih.


"Tuan Nathaniel... biarkan Sofia disini dulu, kau sudah tahu rumahku, kantorku, dan segalanya... kau tidak perlu khawatir aku akan melukai adikmu disini..."ucapku, ingin segera ku akhiri drama kolosal ini.


"Baiklah... ku beri kau waktu satu minggu. Dan, kau... jangan lupakan bahwa kau pernah mempekerjakan Braxton, nona Maria...." aku terkejut saat ia menunjuk wajahku dengan telunjuknya.


ku kira ia lupa perihal itu....


ternyata aku salah.....


***


Aku masih menemani Sofia, ia terus menangis dan mencurahkan segala rahasianya padaku. Segala kesakitan yang diterimanya pun tak lupa ia ceritakan.


Ku elus kepala putraku Keith dan Keefe yang tertidur dipangkuanku saat ini.


"Kak Maria... maafkan aku sempat membohongi mu... bukannya aku ingin, hanya saja.. aku tidak tahu harus dari mana kuceritakan semuanya." ucap Sofia yang ikut menyandarkan kepalanya dibahuku..


"Tidak masalah... aku memahaminya, sudahlah... jangan bersedih lagi, tersenyumlah..." ku lihat ia tersenyum meski samar.


"Aku akan memindahkan putraku dulu..." ucapku sambil ku angkat tubuh Keith terlebih dahulu.


"Aku akan membantumu, mereka akan tidur dimana??" ucapnya seraya menggendong Keefe.


"Dikamarku saja, aku rindu mereka berdua..." jawabku sembari menghilang dari kamar Sofia.


***


"Good Morning, Mommmyyyyyyyyy......" ku kerjapkan mataku saat mendengar ucapan selamat pagi dari dua malaikat kecilku ini.


"Morning sun, morning moon...." ku kecup keduanya. Mereka tertawa setelahnya.


"Mom, ayo tebak... Siapa yang ada dibawah?" dahiku mengernyit bingung mendengar ucapan Keefe. dibawah???


"Ayo tebak Mom..." rengeknya lagi.


"umm, Sofia..?!..." jawabku asal, dan mereka langsung menggelengkan kepalanya.


"Umm.... tidak mungkin uncle kelv kan?!...." mereka kembali menggeleng.


"Mom tidak tahu...." aku menyerah, otakku tidak bekerja jika saat bangun tidur diberi teka-teki seperti ini.


"Ahhh, mommy tidak seru....." Keith memonyongkan bibirnya.


"Jawabannya............ adalah..........." Keefe menepuk nepukan tangannya seperti suara drum saat guest star akan muncul.


"......Daddy Nathan...." ucap mereka berbarengan. Seketika tubuhku lesu. Apanya yang spesial?!.....


"Dia membelikanku mainan mom, Keith juga mendapatkannya...." ucap Keefe dengan antusias...


"Dia membawa semua mainan..... sampai banyak....... sekali........." Keith juga ikut mendramatisir.


"Okay, biarkan mommy ke kamar mandi terlebih dahulu sayang..." ku beranjak menuju kamar mandi dan membersihkan diri.


Selepasnya, ku turuni anak tangga. Ku lihat Keefe dam Keith yang sedang bermain dengan mainan yang dibawa oleh Nathan.


"Maria..." ku lihat pria yang kemarin telah melakukan drama dirumahku. Nathan berdiri dengan membawa sebuah bingkisan, dan menyerahkannya padaku.


"Apa ini?!....." tanyaku. To the point.


"Ingat... kau masih belum lepas karena kesalahanmu yang mempekerjakan Sofia, Maria...." ucapnya. Bola mataku memutar jengah.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan?..." jawabku. Ku berkacak pinggang dihadapannya.


"Temani aku nanti malam di pesta konferensi bisnis internasional...." mataku membulat. Apa tidak salah ia memintaku datang bersamanya?!... Astaga, pasti ada yang salah dengannya.....


"Aku tak mungkin datang kesana sendirian tanpa pasangan... tunanganku sudah lenyap, jadi... mau tidak mau kau harus mengikutinya...." ucapnya tegas. Seakan tak bisa menerima penolakan sedikitpun.


"Lalu ini, apa?!" tanyaku lagi pada bingkisan yang masih menggantung ditangannya.


"Dress untukmu, itu sesuai dengan warna pakaian yang ku pakai. Aku akan menjemputmu jam tujuh malam, ku harap kau mengunjungi salon setelah ini..." ucapnya sebelum tiba-tiba pergi menghilang dibalik pintu.


"Kau datang saja kak..." Aku terkejut, sejak kapan Sofia berada dibelakangku?!


"Hmmm.... tidak ada cara lain atau pilihan lain... dari pada dia menuntut padaku,aku akan pergi kesana...." jawabku. Ku lihat Sofi yang tersenyum sambil mengangguk.


"Aku akan menjaga Keith dan Keefe, tenang saja...." ujar Sofia kemudian.