
Ku kerjapkan mataku ketika pusing tiba-tiba mendera. Ku coba meraih ponsel yang semalam ku simpan diatas nakas samping tempat tidur. Ku susuri dengan tangan mencarinya.
prannggg...
Tak sengaja tanganku menyenggol gelas hingga pecah, kepalaku pusing. Aku tak sanggup untuk berdiri, janganlan berdiri bngun dari tidurku pun tak bisa. Ya Tuhan... ku mohon tolong aku. Siapa pun, toloooong...
"aa.. aarrgghh... ya Tuhan, tolong aku.. nak, bantu mommy ya.. aargghh,.." aku semakin meringis karena kesakitan saat tiba-tiba tubuhku ikut terjatuh dari ranjang, perutku langsung keram.
Ku buka mataku perlahan, mencoba menahan sakit kepala dan pecahan kaca yang melukai tanganku. Aku harus keluar, kamar ini kedap suara. Sekeras apa pun aku berteriak, tak akan pernah ada orang yang mendengar.
Ku susur nakas, untuk mencari ponselku kembali dan aku mendapatkannya. Tanpa ragu ku hubungi Nate, baru sampai nada sambung pertama ia sudah mengangkatnya. Syukurlah...
"Nn.. Nate.. toloong aku.." ucapku lirih.
'Maria.. ada apa?' ia berkata dengan nada khawatir.
"A.. aku dikamar, dan terjatuh dari tempat tidurku,..." belum selesai ku bicara dia sudah berkata akan datang kemari.
'ku mohon tunggu sebentar, aku akan kesana.. wait..' dia menutup sambungan teleponnya sepihak.
"Bertahan baby..." ku elus perut ku yang sedikit keram, meski tak sesakit saat ku terjatuh tadi. Ku berharap Nate akan datang dengan segera.
Tak lama ku menunggu, terdengar langkah kaki mendekati kamarku. Pintu kamar yang semalam ku kunci kini terbuka dan menampilkan Nate dan mama serta mama mertuaku.
"Maria... ayo..!!" Nate mengangkat tubuhku seperti permen kapas, begitu ringan baginya.
"Maria, nak.. kenapa denganmu.. dimana Austin?!" mama mertua ku berbicara sambil menangis.
"Sudah, cepat kita lebih baik pergi ke rumah sakit dulu!!" ucap Mama dengan nada tidak ramah.
Nate mengangkat tubuhku penuh kehati-hatian namun cepat saat menuruni anak tangga, aku hanya bisa menyandarkan kepalaku didada bidangnya yang ternyata membuatku merasa nyaman. Ku angkat wajahku untuk melihat wajahnya. Sesekali ku dengar ia berkata lirih..
'tahann baby... i don't want to lose you...'
'Maria... bertahanlah... '
Aku tersenyum dibuatnya, andaikan suamiku ahh... Tidak!!! Austin dan Nate adalah orang yang berbeda. Untuk apa aku menyamakan mereka berdua..
Ku pejamkan mataku menyelami rasa nyaman suara detak jantung yang terdengar di indera pendengaran ku. Dia berdetak kencang, seakan takut akan sesuatu terjadi. Suaranya menyaratkan rasa khawatir, itu firasat ku.
"Non... ada apa nyonya?! ada apa dengan non Maria?!!" ku dengar suara bik Sum, namun aku terlalu malas untuk melihat kearahnya. Aku masih ingin mendengar suara jantung ini.
"Nak.. tolong bawa Maria ke rumah sakit lebih dulu, tante akan kesana dengan papanya.." ku rasakan kecupan didahiku, ku yakin itu mama.
'Maa, maafkan Maria.. maria tahu mama pasti khawatir sekarang... ' ucapku dalam hati..
"Maria.. kau bangun?!" ku buka mataku, ah ternyata sudah berada dalam mobil. Aku mengangguk, tanganku kembali mengelus perutku. Aku khawatir pada bayiku.. sangat..
******
Aku sudah sangat khawatir dengan keadaan bayiku, dan akhirnya rasa khawatir ku terganti dengan kabar bahwa aku sedang hamil bayi kembar. Betapa senangnya kedua orang tua dan mami mertuaku saat mendengar ucapan dokter.
"Maria ini seperti neneknya Austin, yang memiliki kembaran. Aku tak menyangka gen ini akan terbawa oleh cucuku" Mami Laras- mertuaku terus berbicara dan aku pun senang jika melihatnya senang.
Mama, tentu saja mama juga senang hanya saja. Dia masih enggan untuk berbicara saat ini, terlebih ada Austin dan Tasya. Mereka datang setelah Mami mengabarkan bahwa aku masuk rumah sakit.
Nate masih ada disini, dia duduk bersama Papa dan Kelvin. Entah sejak kapan mereka bertiga mengakrabkan diri, sesekali ku lihat mereka tertawa dan mengobrol. Ku yakin seputar bisnis, memangnya apalagi??
Seorang suster masuk kedalam ruang inapku untuk mengecek kondisiku saat ini. Ku rasa kondisiku sangat baik, tangan yang sempat tergores pecahan gelas sudah diobati terlebih anakku baik baik saja.
"Maaf, suami nyonya Maria silahkan menemui dokter diruangannya" ucap suster itu sebelum pergi.
Suasana hening sementara, namun ia segera berdiri dan pergi. Aku tersenyum padanya saat ia meminta izin padaku untuk pergi menemui dokter, aku sangat beruntung memilikinya. Nate, terimakasih...
"Padahal aku mau pergi lho kak, ehh Suami kakak udah duluan kesana" ucapan sarkas Kelvin kembali terdengar, huh.. aku seharusnya banyak menghirup udara baik tapi adikku ini malah memperkeruhnya... Sabarkan aku Tuhan....
"Sebaiknya kamu cepat sembuh Maria.. agar anakmu sehat, dan kamu bisa melahirkan mereka dengan keadaan sehat.. Lalu segera urus perceraian mu. Mama dan papa pergi dulu, nanti malam mama akan kembali" Ucapan mama membuatku tak bisa berkutik, bercerai? aku belum pernah berpikir kearah sana..
Kelvin duduk dengan terus menatap nyalang pada dua insan yang sedang saling memeluk disebrang sofanya, dan aku hanya bisa terdiam disini. Aku tidak akan mengelak, aku memang memiliki perasaan pada suamiku ini. Aku tak memyangkalnya, hidup dirumah yang sama satu tahun lebih. meskipun saat awal kehamilanku dia sempat pergi.
Aku mencintai dia, tapi aku tahu rasa itu hanya akan membuat diriku sendiri tersiksa.
"Maria... kamu jangan lakukan apa yang mama mu katakan tadi ya.. " Mami mertuaku ini memang sangat lembut, dan sensitif. Dia menggenggam tanganku, seakan aku tak boleh meninggalkan anaknya yang tak pernah pedulikan aku. Istrinya.
"Mami pulang gih, aku bisa sama kelvin disini.. Nate juga pasti akan segera kembali... Mami istirahat.. " ucapku menenangkannya, ku lihat ia mengangguk mengiyakan.
Nate kembali setelah sebelumnya Mami pergi untuk pulang.
"Dokter bilang apa?" tanyaku saat ia duduk.
"Kau jangan terlalu banyak pikiran, nanti anakku ahh maksudnya anakmu akan ikut merasakannya. Jika kau stres atau depresi maka anakmu akan ikut terpengaruh. So.. carilah hal menyenangkan, menikah denganku misalnya.." aku tersenyum mendengarnya.
"Kau diam dan tersenyum begitu, aku dapat menyimpulkan bahwa jawabanmu adalah 'Ya' ..." dia terkekeh setelahnya.
"Apa kau selalu Percaya diri seperti ini, Nate?" ku tatap dirinya, yang masih belum berhenti tertawa.
"Ku rasa iya, tapi itu tidak bekerja saat bersama mu, Maria" Ku rasakan tangannya menangkup tanganku hingga tenggelam didalamnya. hangat..
"Ya, kau benar.. itu tidak bekerja untukku.. maafkan aku Nate, harusnya kau bekerja.. bukannya disini menemani ku.." ucapku sungguh-sungguh
"Hei, tak apa.. kau itu kan incaranku jadi aku akan berkorban apapun untukmu" ku pukul kepalanya hingga ia meringis.
"Aku ini sedang hamil, apa kau lupa?! Incaran apa?!!" aku masih menatapnya dengan tatapan jengkel.
"Hei... aku dan Austin pergi karena kurasa kau sudah baik-baik saja" Tasya menginterupsi percakapan ku dan Nate, ahh.. aku melupakan keberadaan mereka.
"Lihat, suamimu bahkan tak peduli keadaan anaknya.. apa kau masih mau bertahan?!" Aku terdiam, aku tak ingin menjawab pertanyaan yang dilontarkan Nate padaku.
Apa aku harus berpisah?!!