Just A Little Bit Of Your Heart

Just A Little Bit Of Your Heart
Awkward moment



Suasana canggung kian terasa, apalagi tatapannya yang menusuk netra. Lelaki yang dulu pergi menemui orang tuanya kini telah kembali.


"Nate, kalo cuma mau diem doang lebih baik aku pulang" Aku berdiri dan mengambil tas milikku. Namun dengan cepat ia menahannya.


"Okay, aku mau jelasin. Semuanya. Maaf. maaf udah ninggalin kamu, dan udah gak jujur sama kamu.. Aku pergi karena harus fokus pada perusahaan bunda di Amerika yang sedang kolaps, keadaan darurat sampai aku gak punya waktu untuk jelasin semuanya sama kamu...." ucapnya pelan.


Aku masih diam, masih mendengarkan ucapannya. Sejauh apa penjelasan yang akan dia berikan.


"Maafin aku, alesan aku bohong karena waktu itu, aku lagi ada problem sama bunda.. dan aku pergi dari rumah... kamu inget?! saat aku bilang aku ini pengangguran?!!" ku lihat wajahnya, dapat ku lihat dengan jelas kesedihan itu.


"Iya, aku inget.. kamu bilang kamu pengangguran dan kamu lagi cari kerjaan paruh waktu untuk biaya kuliah kamu, kamu hidup susah dengan nenek kamu. Padahal... kamu gak pernah kuliah di universitas Indonesia. Lulusan luar negeri dengan gelar cumlaude, dan sekarang kamu jadi CEO diperusahaan gantiin bunda kamu. Hebat banget kamu ngebohongnya, Nate.." jawabku sarkas. Ku putar bola mataku jengah dengan suasana canggung ini.


"Baiklah, sekali lagi maafkan aku. right... " dia menarik tanganku dan menangkupnya.


"huft.. karena aku baik hati maka aku maafkan. Setelah ini, jangan ada kebohongan lagi, Nate!!" ku tunjuk wajahnya sambil ku keluarkan wajah galak yang ku miliki, ku lihat seketika wajahnya berubah ceria setelah mendengar ucapan ku. Aku tak bisa benar-benar membenci lelaki ini.


"Baiklah, oleh karena itu.. biar aku yang mentraktirmu kali ini" dia tersenyum padaku.


"Heii, kamu pikir aku mau bayar makanan ini? Sorry ya, nggak tuh!! Emang dari awal aku mau minta traktirin kamu" ku balas ucapannya, seketika suasana canggung berubah. Yang ada hanya tawa.


Setelah puas bertukar cerita, dan sadar waktu makan siang sudah habis. Nate mengajakku kembali ke kantor.


"Maria, tolong siapkan berkas untuk meeting besok" huft.... baru saja sampai. Dia sudah berbicara masalah meeting.


"Iya pak, saya akan mengantarkannya setengah jam lagi" jawabku.


Untung saja, aku diingatkan bu Mega untuk menyiapkan berkas ini dua hari yang lalu. Hanya tinggal menyelesaikan sedikit lag, maka beres dan tinggal memberikannya pada boss.


******


"Senang bekerja sama dengan Anda, walau masih muda. Anda sudah mampu memimpin perusahaan besar ini." Aku berdiri disamping Nate saat ia berjabat tangan dengan klien.


"Anda terlalu banyak memuji, tuan Rudi" Nate melirikkan matanya padaku sebentar, dan tersenyum.


"Wah, sekretarismu sedang hamil? sudah berapa bulan, nak..? anak perempuanku juga sedang mengandung saat ini" Ku tersenyum saat orang seperti pak Rudi yang notabene seorang bos besar bertanya padaku.


"Sudah lima bulan pak, semoga anak bapak selalu sehat sampai proses melahirkan" ucapku tulus.


"Kau juga nak, terima kasih. Suami mu masih mengizinkan kau bekerja??! " pertanyaan pak Rudi membuatku terdiam, hanya menyisakan senyuman pias diwajahku.


"Tuan Rudi, Anda sedang berhadapan dengan suaminya saat ini" ucap Nate sesaat terjadi keheningan setelah pertanyaan dari pak rudi ini.


Aku terkejut, bagaimana bisa dia mengakui dirinya sebagai suamiku dengan begitu enteng?! Bagaimana jika kebohongan ini menyebar?!!


"Ahh.. maafkan aku nak, ternyata kalian suami-istri.. baiklah, jaga istrimu selalu.. " setelah itu, ia pamit lebih dulu dan kita maksudnya aku dan Nate pun berjalan beriringan keluar restoran ini.


Sampai didepan lobi, aku hendak pulang karena hari sudah mulai gelap. Namun, Nate memaksaku untuk ikut bersamanya. Tak ingin ribut didepan restoran dan mengundang perhatian orang lain, aku langsung setuju ikut dengannya.


Tak ada percakapan yang serius dalam perjalanan kali ini. Hanya percakapan seputar kehamilan dan keluhanku saat hamil yang dibahas. Dan setelah sampai didepan halaman rumah pun, kami langsung berpisah.


"Terimakasih Nate" ku buka pintu dan segera keluar dari mobil tanpa menunggu jawaban darinya terlebih dahulu.


Aku terlalu lelah hingga yang saat ini ku inginkan adalah berbaring diatas ranjangku, hanya itu. Pengaruh hormon ibu hamil.


******


Pagi ini entah angin dari mana, Austin kembali ke rumah. Apa hubungannya dengan Tasya sudah berakhir dan dia ingin memperbaiki hubungan kita.


Ku gelengkan kepalaku untuk menghilangkan pemikiran bodoh itu dari otakku. Maria!! Sadarlah sadarlah!!!! Kau bukan wanita yang diharapkannya.


"Mariaaaa!!!!!...." Austin? Ada apa dia memanggilku?!


Aku yang sedang berbaring sedikit kesusahan karena perutku yang buncit dan kepalaku sedikit pusing, hingga tiba-tiba pintu terbuka lebar. Austin memandangku dengan tatapan kesal.


"Lama sekali... hei, lusa orang tua ku dan orang tua mu akan datang kemari. Sebaiknya bereskan pakaian mu dan segera pindah ke kamarku" ucapnya ketus.


"Tapi..." aku ingin menolaknya, namun..


"Gak ada tapi tapiaaannn!!! Dengerin aja!! Gak usah pake ngebantah apa yang gue suruh " Aku tak punya pilihan. Aku akan menyuruh bik Sum membantuku membereskan pakaian ke dalam kamarnya.


Cengkramannya terlepas. Ku angkat wajahku dan tanpa sengaja kita saling menatap. Aku tak pernah bisa menatap dalam jarak sedekat ini dengannya, aku tak pernah bisa berada dihadapannya tanpa siksaan atau hinaan darinya kecuali saat ini.


Entah apa yang sedang ia pikirkan tentang ku, aku tak bisa membaca itu. Wajahnya tak menjelaskan apapun yang dapat ku pahami. Nihil.


Inilah Austin, suamiku..


Yang akan berkata ketus dan sarkas.


Yang tak akan mencintai ku.


Yang selalu menyalahkanku saat sesuatu terjadi pada Tasya, kekasihnya.


Yang sayangnya, adalah ayah dari calon anakku.


Aku hanya diam, tak ada pergerakan darinya. Helaan napas yang bisa ku rasakan dipipiku, menjadi satu satunya hal yang ia lakukan. Ku angkat tangan kananku menuju wajahnya, dan entah mendapat keberanian dari mana tangan ini mengusapnya perlahan.


'nak... ini papa mu sayang, mama harap bisa menjadi obat rindumu bulan lalu..' batinku,


Ku usap perutku dan wajah Austin bersamaan, ku harap bisa membuat bayiku mengerti dan merasakan bahwa saat ini ayahnya tengah berdiri dihadapannya.


'Bulu mata yang lentik, hidung mancung, dan rahang tegasnya milik papa mu. Mama harap akan kamu bawa kedunia dalam wujud kamu sayang" aku bergumam kecil, berharap ia tak mempermasalahkannya.


"Bicara apa kamu!! " bentakannya membuat ku terkejut, dan secara cepat ku tarik kembali tanganku dari wajahnya.


"Maaf.." ku pejamkan mata dan menunduk, takut jika ia akan menamparku kembali seperti waktu itu, yang mengakibatkan wajahku lebam.


Tak kunjung menerima apa yang ku takutkan, ku buka perlahan mataku dan mendapati ruangan ini kosong. Hanya aku disini yang berdiri dan kemana Austin?!


"Lebih baik aku mandi dan segera berangkat menemui Nate" Ku berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan diri, setelah selesai dan bersiap dengan pakaian kantor ku yang baru. Yang lebih longgar pastinya.


Aku tak ingin bayiku tertekan dengan pakaian kantor lamaku, yang lumayan ketat dibagian perut. Maklum untuk menekan lemakku yang tak seberapa ini, hehe..


Ku pastikan penampilan ku tak bermasalah, setelahnya aku berjalan keluar menuju dapur. Aku ingin memakan sesuatu yang manis saat ini..


drrt.. drrt...


Ponsel ku bergetar, satu pesan masuk dari Nate bahwa dia sudah menungguku didepan. Dengan cepat aku beranjak mengambil tas milikku, tanpa sempat menyentuh sarapanku pagi ini. Aku takut ia akan menggerutu sepanjang perjalanan nanti.


"Non... mau berangkat?!! ini sarapannya kok belum dimakan?!" bik Sum berteriak sambil berlari kecil menuju kearah ku, aku berhenti sebentar menunggunya.


"Aku mau berangkat, soalnya temenku sudah didepan bik.. oh iya, aku minta tolong pindahkan pakaian ku ke kamarnya mas Austin ya bik.. soalnya mama sama papa mau datang, yaudah aku berangkat.. " bik Sum mengangguk dan tanpa sengaja aku melewati Austin begitu saja saat berpapasan dengannya, tanpa berniat menyapa karena aku terburu-buru.


Ku lihat Nate berdiri disamping mobilnya dan mengobrol bersama pak Owi. Entah apa yang mereka obrolkan..


"Selamat pagi ibu hamil.." ucapnya sambil membukakan pintu mobil untukku.


"Selamat pagi Nate.. Pak Owi, saya berangkat bareng temen saya aja hari ini.. gak usah jemput juga, biar nanti saya naik taksi" ucapku setelah sampai dihadapan Nate.


"Baik non, kalo begitu saya masuk kedalem dulu.. permisi non.. tuan" pamitnya lalu pergi.


"Sekretaris ku, cepat masuk karena aku sudah pegal membukakannya untukmu!! " cih. Gayanya, dia sendiri yang ingin menjemputku dan merepotkan dirinya sendiri. Kenapa mengeluh pegal hanya karena membukakan pintu mobil untukku?!!


"Baik boss, sekretaris mu akan masuk" dia hanya tersenyum saat aku berkata seperti itu. aneh..


Saat hendak memasangkan seatbelt pandanganku menangkap sosok Austin yang berdiri didepan pintu sambil membawa dasi ditangannya. Ku pikir, sepertinya dia memang tak bisa memasangkannya.


Bukan tanpa alasan, pernah suatu hari dia meminta tolong pada Tasya untuk membantunya memasang dasi, dan di lain waktu.. aku juga pernah melihatnya mengenakan pakaian kantor tanpa dasi. 'Sudahlah.. bukan urusanku juga.. ' batinku..


"Nate bisa berhenti sebentar, aku akan segera kembali.." tanpa menunggu jawaban darinya, aku keluar dan berjalan menghampiri Austin yang masih membawa dasi.


"Biar ku bantu..." ucapku lalu menarik dasi dari genggamannya. Tak butuh waktu lama, dasi sudah terpasang dengan rapi dilehernya.


Dan aku baru sadar dengan apa yang telah aku lakukan. Ku angkat wajahku menatapnya yang memang lebih tinggi dari pada diriku. Dia hanya diam.. sambil menatap tajam pada ku. Ku usap dahinya yang mengerut. Astaga Maria!!! Apa yang kau lakukan?!!!!


Segera ku balikkan badan lalu pergi dari hadapannya dan masuk kembali kedalam mobil. Nate yang ku yakini melihat itu semua hanya diam. Hening. Perjalanan kali ini tak ada yang bersuara, baik itu diriku atau Nate sendiri.


'Nak.. mama mohon, jangan bertingkah aneh lagi dengan Papa mu ya, mama malu... ' batinku sambil mengusap perutku.