Just A Little Bit Of Your Heart

Just A Little Bit Of Your Heart
Dua puluh sembilan



Pagi ini tak seperti pagi biasanya, duka tengah menyelimuti kami. Kepergian yang begitu mendadak sungguh mengejutkan kami. Ia hadir dan pergi dengan mengejutkan, tak ku sangka orang yang sempat ku cintai itu telah pergi meninggalkan banyak duka, terlebih untuk dua putraku.


Satu hari setelah Keefe merajuk, aku dan Nathan terus mendesaknya untuk berbicara dan mengatakan apa yang diinginkannya. Dan dengan penuh kehati-hatian ia berkata, jika ia ingin bertemu dengan Austin, daddynya.


"Aku, hanya ingin bertemu daddy, daddy yang sebenarnya. Aku mau daddy Austin, mom.." ucapnya lirih, dapat ku ketahui jika ia tengah menahan tangis dari suaranya yang bergetar.


Aku terdiam, tak tahu harus bagaimana?


Bertemu dengan Austin sungguh hanya akan membuat kekeliruan diantara dirinya dan Nathan, meskipun lelaki itu tak pernah mempermasalahkannya. Namun ia sebagai seorang kelasih, jelas ingin menghargainya dengan menjauh dari pria masa lalunya itu.


"Apa tidak ada yang lain, hum?!" tanyaku sekali lagi, aku harap ia merubahnya.


"Tidak, aku hanya ingin bertemu dengan daddy Austin mom, hiks... Aku ingin memeluknya, aku ingin bersamanya mom..hiks, hiks..." Keefe menangis.


Tak tahu harus berbuat apa, yang bisa ku lakukan hanya diam. Nathan menatapku dengan senyumannya, ku tahu lelaki itu menahan kekesalahnnya, ku tahu ia sedang meredam emosinya mendengar permintaan dari Keefe. Namun disisi lain, ku tahu juga ia tak bisa melihat kesedihan diwajah putraku ini.


"Kita akan memintanya datang, kau jangan sedih lagi.. Kau akan bertemu dengan daddy Austin, jangan menangis, kemarilah biar aku yang memelukmu dulu, okay..." cetus Nathan, ia menarik lembut Keefe dalam peluknya.


Dan keesokan harinya, aku dengan terpaksa meminta Austin untuk segera datang menemui kami. Dan tanpa alasan lelaki itu segera mengiyakan ucapanku, ia berucap penuh rasa bahagia.


Austin langsung mengambil penerbangan utama, ia datang dengan membawa beberapa mainan dan buku untuk kedua putraku, ahh.. putranya juga. Keith dan Keefe tentu saja bahagia, meskipun Keith masih menampilkan wajah datarnya saat pertama kali pria itu datang. Namun itu tak lama, setelah melihat seri mainan favoritnya Keith sontak memeluk Austin dengan erat.


Air mataku tak dapat ku tahan, aku terharu. Pria yang sempat kumiliki, pria yang begitu arogan, egois dan selalu menyakitiku bahkan tak mengakui janin yang berada dikandunganku dulu. Kini bisa tersenyum senang dan memberikan perasaanya pada janin yang sempat ditolaknya dulu.


"Terimakasih. I love you, and I'm sorry for my mistakes daddy..." bisik Keith tepat ditelinga Austin.


"Daddy, I want you go hug me too..." cicit Keefe.


"Tentu, kemarilah nak.. Aku daddy mu.." ucap Austin terharu.


Aku melihatnya tersenyum senang, kedua putraku pun begitu. Senyuman itu tercetak dengan jelas diwajah keduanya.


Namun sungguh tak ku sangka, jika itu adalah pertemuan mereka untuk yang terakhir kalinya. Austin harus kembali karena pekerjaannya, dan dengan berat hati kedua putraku merelakannya pergi untuk bekerja.


Alih alih pergi bekerja, Austin justru meninggalkan kami untuk selamanya. Pesawat yang ditumpanginya terjatuh setelah mengalami kerusakan mesin, hingga terjatuh menimpa pemukiman warga.


"Mom, hiks.. hiks.., kita baru bertemu, dan daddy sudah pergi.." lirih Keefe dalam gendonganku.


Keith yang tak jauh berbeda dengan Keefe pun sedang menangis dalam gendongan Nathan.


"Kita akan datang untuk terakhir kalinya, kalian janganlah menangis seperti ini.. Tidurlah.." ucap Nathan dengan lembut.


Disinilah kami, berdiri berdampingan dengannya, melihatnya berbaring dengan menggunakan pakaian terbaik.


"Daddy, ini boneka kesukaanku... ini akan menemani mu bermain disisi Tuhan, hiks.." ucap Keefe, sambil meletakkan sebuah boneka kecil kesayangannya tepat disamping sang ayah.


Ku lihat Keith yang masih terdiam, ia tertunduk. Ku tahu ia menahan tangisnya, anak ini... masih saja bertingkah dewasa.


Pelan tapi pasti, ia berjalan mendekati peti itu. Ia memasukkan sebuah surat kecil dan juga mainan kesayangannya.


"Mom, bisakah kau mengangkatku?.. ku ingin menciumnya untuk terakhir kalinya." ucap Keith dengan mata berkaca kaca.


Ku angkat tubuhnya dalam gendonganku, ku condongkan tubuhku agar mempermudahnya.


'Cup..'


"I love you daddy, aku tak pernah membenci mu.. aku mencintaimu daddy, aku mencintaimu seperti aku mencintai mommy dan Keefe. Good bye, my best daddy.." bisiknya namun masih dapat ku dengar dengan jelas kata kata indah dari mulutnya itu.


Aku tak menyangka, anak sekecil ini mampu merangkai kata kata untuk seseorang. Aku sungguh bangga mendengarnya.


Dan kini, giliranku.


Meskipun ia banyak menyakiti dan membuatku bersedih. Namun, tak dapat ku lupa saat ia juga mampu memberikan kebahagiaan dalam wujud dua orang putra seperti Keith dan Keefe.


"*Austin, terima kasih..


Meskipun banyak luka yang kau beri, meskipun banyak rasa pedih yang kau torehkan, meskipun kau datang hanya sekejap untuk ku miliki...


...Namun aku sungguh berterima kasih padamu, kau hadirkan dua malaikat tampan untuk menguatkanku, kau hadirkan dua malaikat tampan untuk menemaniku, kau hadirkan malaikat yang mampu menjadi obatku...


...Aku memaafkan mu, semuanya, aku ikhlaskan dirimu pergi Austin...


..Aku mengikhlaskan dirimu...


..Sampaikan salamku pada-Nya, sampaikan ucapan terimakasih ku pada-Nya.. Terima kasih sudah memberikan hadiah terindah dalam lukaku bersamamu,dulu..


Seamat jalan, Austin.


Kasih sayangku, Keith dan Keefe untukmu*.


...


Suara isak tangis dan rintihan mengiringi turunnya peti, Keith dan Keefe berdiri menahan tangis melihatnya.


Aku pun sama, air mataku tak dapat ku tahan melihat pemandangan dihadapanku.


Taburan bunga mawar, berserak dipermukaan tanah merah basah, menghiasi kekosongan dialasnya.


Ku taburkan rasa sedih melihatnya pergi, namun ku juga menaburkan doa untuk membuatnya bahagia disana.


"Momm,,, hiks.."


"Mom, daddy Austin..."


"Sshhttt, jangan menangis... Daddy Austin sudah tenang dan bahagia disana, kalian jangan bersedih, hmm" ucapku menenangkan keduanya.


"Dia pergi tanpa mengajakku Mom, mengapa kita tak bertemu lebih dulu?" ucap Keefe polos.


"Hei, you wanna leave me?" tanyaku dan diajwab dengan gelengan darinya.


Aku tak tahu hal hal seperti apa yang akan terjadi didepan sana, untuk saat ini, aku hanya akan berjalan bersama kedua putraku dan Nathan tentunya. Kami akan terus saling menggenggam, berjalan dan melaju.


Dengan keyakinan dan kekuatan yang diberikan oleh-Nya, aku akan mengikhlaskan dan melupakan apa yang sudah terjadi dihari lalu. Kesakitan yang kuterima dulu, kesedihan ku dulu, dan kesengsaraan ku ulu kini sedang ku coba ikhlaskan.


Aku tak mau membuat Austin merasa malu dihadapan Tuhan atas perbuatannya dahulu padaku, aku akan memulai kisah baru setelah berdamai dengan masa laluku.


Terimakasih Tuhan, atas luka yang kau beri, atas duka dan sengara yang dulu kau hadirkan dihidupku kini telah kau bayar dengan kebahagiaan, dengan mereka yang menghiasi hari hariku.


"Mengapa kau disini, hmm?" bisik Nathan tepat disamping telingaku.


Pelukkan hangat seketika kurasakan dari tubuhnya, lengan kokohnya yang membelit perutku dengan kuat namun tak menyakiti.


Senyuman terbit diwajahku, ku terpejam meresapi kebersamaan kita berdua. Sebelum esok hari kami akan terpisah oleh kedua jagoan yang semakin manja padaku dan Nathan.


"Ayo tidur..." tambahnya, ia menarikku lembut menuju tempat tidur kami...


•••


***Terima kasih semuanya, atas dukungan kritik dan saran serta likenya kalian...


Mohon maaf endingnya kerasa agak maksa gitu ya.. 😂😂


Please jangan kapok baca ceritaku yang lain juga yaaaa***...