
Tercium aroma obat-obatan yang menyengat indera penciuman ku. Ku buka perlahan mataku, rumah sakit. Aku tidak bodoh untuk mengetahui dimana diriku saat ini.
"Maria.. kamu sudah sadar?".... Malvin? sejak kapan dia disini?!
Ku lihat Mike, Tommy dan Aaron yang tertidur disofa ruangan ini. Dimana Austin?!
"Mereka khawatir padamu, karena sejak tadi. Kami sudah mencoba menelpon suamimu tapi tak ada jawaban darinya, jadi kami yang menjagamu disini" Apa?! Tidak, jangan sampai mereka tahu bahwa Austin adalah suamiku. Aku tak ingin Papa sampai menjadi drop.
Flashback
Austin menarikku hingga kesudut ruangan dapur.
"Awas ya, jika sampai kau memberitahu teman-temanku bahwa kau adalah istriku, lihat saja.. Akan ku hancurkan kau!! ku hancurkan papamu, dengan mengatakan bahwa aku. Mencintai Tasya!!... ucapanku buakan main main!! " Austin menghempaskan wajahku dengan kasar. Kali perfi Ayolah take melakukan gal yang salah.
Flashback off
"Sebenarnya, ada apa denganku?!" Ku coba bangkit, dengan sigap Malvin membantu dengan membenarkan posisi bantal agar membuatku nyaman.
"Seharusnya, suamimu yang mengetahui ini Maria. kau, hamil.. sudah dua minggu dia berada disini" Malvin mengusap perutku. Aku hamil?
Apa Austin tahu hal ini? Hingga ia pergi?!
"A.. Austin, dia dimana?!!" ku coba menanyakannya pada Malvin.
"Dia pergi, setelah tadi bertemu dokter untuk menanyakan keadaanmu. Mungkin dia ingin memberitahu suamimu, oh iya. Apa aku mengenal suami mu Maria?!" Harus ku jawab apa?!!
"Ku rasa tidak" jawabku lirih.
"Baiklah, jaga kesehatanmu Maria, kandunganmu masih sangat rentan diusianya yang baru beberapa minggu. Vitamin harus rutin kamu minum, ahh dan jangan lupa susu ibu hamil. Kau membutuhkannya, ku rasa hehe aku tak tau..kan belum memiliki istri, tapi ku rasa kau harus membelinya nanti.." Aku terkekeh mendengar ucapan Malvin, Andai aku bisa memilihmu untuk menjadi orang yang ku cintai, mungkin aku akan bahagia mempunyai suami perhatian sepertimu.
"Akan ku beli nanti, terimakasih Malvin" dia hanya tersenyum dan mengangguk.
Aku terdiam memikirkan, bagaimana reaksi Austin padaku setelah mengetahui diriku tengah hamil anaknya.
Tuhan..
Lindungi aku dan buah hatiku ini, jika nanti Austin tak menerimanya.. biarkan aku sendiri yang akan bertahan untuk anakku ini..
Aku menerima anugerah dari-Mu ini..
Akan ku jaga anakku..
******
Ku berjalan dengan hati-hati saat menuruni anak tangga. Usia kandunganku yang sudah memasuki bulan ke lima, cukup membuatku senang dan tak sabar menanti kedatangannya didunia. Tinggal beberapa bulan lagi anakku akan lahir kedunia.
Austin??
Sudah beberapa bulan ini dia tak tinggal dirumah, dia memutuskan tinggal bersama Tasya. huh.. Awalnya aku sakit hati, bagaimana bisa dia pergi sedangkan istrinya tengah mengandung?? Tapi sekarang aku tak ambil pusing, setidaknya dia tak akan berlaku kasar padaku dan membuat anakku ikut tersakiti.
Dia akan kembali kerumah jika orang tuaku atau orang tuanya datang. Membuat drama didalam drama.
"Non.. turunnya hati-hati.. mending non pindah kamar saja, biar ndak usah naik turun tangga lagi.." bik Sum pertama kali mendengar kabar kehamilanku langsung berubah menjadi sosok ibu bagiku. Dia yang perhatian dan peduli akan kesehatanku dan kehamilanku.
Para orang tua sudah mengetahui kehamilan ini, mereka sangat antusias. Terlebih orangtua Austin, mama Anjani- mama Austin. Sangat bahagia mendengarnya, mengingat keluarga mereka hanya memiliki Austin sebagai anak tunggal.
Adikku, Kelvin. Dia senang dan sangat menyayangi keponakannya ini. Hanya saja, ia masih sangat membenci ayah dari keponakannya. Ku rasa dia akan terus membenci Austin. Tasya? Dia tak pernah datang pada saat mama dan papa datang, mungkin dia tak ingin melihatku.
"Bik, aku mau langsung kerja. Bekalnya aku bawa ya.. makasih buat susunya" Ku lihat bik Sum mengangguk dan berkata 'hati-hati'
Aku masih bekerja sebagai sekretaris, bosku kali ini adalah seorang wanita. Diusianya yang tak lagi muda, ia masih sanggup memimpin perusahaan besar, dan yang terpenting beliau sangat menghargai dan baik padaku. Mungkin karena sesama perempuan, terlebih dia mengetahui diriku tengah hamil.
"Non, udah mau berangkat??" Pak owi membukakan pintu mobil untukku.
"Iya pak, pak Owi jangan lupa mampir sebentar ditoko bunga seperti biasa ya"
"Iya non, siap!! " Jawabnya.
Sudah menjadi kebiasaanku untuk membawakan bossku bunga mawar putih. Beliau sangat menyukainya, jadi setiap satu minggu sekali ku bawakan buket mawar putih untuknya.
Aku sampai didepan kantor ku lima belas menit lebih cepat dari hari-hari biasanya, apa karena aku yang berangkat terlalu pagi ya?!
"Sudah sampai non, nanti pulangnya mau saya jemput jam berapa non?" Pak Owi membukakan pintu mobil untukku.
"Nggak usah pak, saya belum tau akan pulang jam berapa hari ini. Soalnya dikantor akan ada acara penyambutan wakil direktur baru" jawabku lalu berjalan dengan hati-hati karena aku menaiki beberapa anak tangga. Dengan sebuket bunga ditangan kanan ku yang lumayan banyak.
"Pagi Maria.. debay nya rewel nggak?" sapa Rossa, resepsionis yang usianya terpaut empat tahun lebih tua dariku.
"Pagi mbak Rossa, debaynya lagi mode baik pagi ini, nggak tau kalo nanti siang" jawabku sambil mengelus perutku yang membuncit.
"Semoga nggak rewel ya debay.. kasian mommy kamu, mohon kerja samanya ya sayang..." Mbak Rossa ikut mengelus perutku, lalu dia mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya.
"Permen jaheee... makasih mbak" ucapku antusias, yeah sejak mengandung aku jadi menyukai segala makanan manis. Padahal, dulu aku sangat menghindari gula.
"iya sama-sama, yaudah hati-hati jalannya ya.. see you debay" ku lanjutkan langkahku menuju lift untuk naik ke lantai 29.
Sejak usia kandunganku tiga bulan, aku memutuskan untuk memakai sepatu berhak tujuh centi. Aku tak ingin mengambil resiko untuk bayiku ini. Bagaimana pun juga, aku sangat mencintai calon bayiku ini. Meskipun ayahnya mungkin tak menginginkannya.
tingg..
Lift terbuka, seseorang masuk dan berdiri disampingku. Aku tak memperdulikannya, fokusku saat ini adalah, pernikahan ku dan Austin. Ku lihat cincin yang tersemat dijari manis ku, cincin yang seharusnya mengikat aku dan Austin. Diam-diam menjadi saksi bisu, bagaimana hancurnya pernikahanku.
Ku hembuskan napas berat untuk menenangkan diri. Melepaskan beban-beban yang selama ini menumpuk dikepalaku. Aku harus fokus bekerja, aku tak ingin mengecewakan bu Mega- nama bos ku saat ini. Aku tak ingin beliau kecewa dengan kinerjaku yang buruk, beliau sudah sangat baik padaku.
Ting..
Lantai 29, ku langkahkan kaki menuju meja kerjaku yang berada disamping ruangan CEO dan berhadapan dengan ruang Manager. Lantai ini masih kosong, eiitss... tunggu, lalu tadi, s.. siapa lelaki yang berada di lift bersamaku ya?!!
Apa, jangan.. jangan....
"Maria, selamat pagi... Apa kabar mu hari ini?! kau terlihat tegang... " ku hela napas lega mengetahui ku tak sendiri disini.
"Pagi bu. Aku baik-baik saja, hanya tadi aku sempat..." ucapku terpotong oleh ucapan seseorang dari arah lift.
Ku lihat ia berjalan dengan langkah tegap, wajahnya masih tampan seperti dulu..
Tapi tunggu, ada apa dia disini?!!
"Bunda, aku senang melihatmu dekat dengan Maria..." Belum selesai keterkejutan yang ku dapat, dia sudah berdiri dihadapanku dan tersenyum. Senyuman khasnya tak pernah berubah..
Tunggu, 'bunda' ?!!!
Apa bu Mega, bu.. bundanya?!!!
"Maria, Nate adalah puteraku. Dia sudah menceritakan semuanya termasuk, pernikahan mu dan suamimu." Bu Mega membawaku keruangannya, ia mendudukanku disalah satu sofa disana.