
Maria Pov
Pekerjaan hari ini terasa sangat melelahkan sekali, mondar-mandir, kesana kemari. Dengan adanya tumpukan berkas yang harus segera dikerjakan membuat semuanya terasa lengkap. Untung saja, Malvin mau berbaik hati dengan mengizinkan ku membawa sebagian berkas yang belum selesai ke rumah. hhuftt....
"Kamu mau ku antarkan pulang kemana?!" Kulirik Malvin, yang tengah mengemudikan mobilnya. Ia memutuskan untuk membawa mobilnya sendiri, padahal tadi pagi kami diantar oleh sopir. Entahlah... ada alasan dibalik itu, hingga sang sopir pergi tadi siang.
"..uumm.. anterin ke rumah yang di***** aja deh, Malv. ".. ku buka handphone ku. Berharap ada pesan atau telepon masuk dari suamiku.
Tapi kenyataannya itu termasuk hal yang mustahil. Suamiku mencintai adikku. Harusnya tak perlu, aku bersusah payah mengharapkannya.
Setelah menempuh jarak yang lumayan jauh. Disertai badan pegal bukan main, bermili-mili peluh menempel ditubuh ahh... akhirnya sampai juga.
" Makasih ya bos, udah anterin pulang. Hati-hati dijalan, jangan ngebut!! "Ucapku sembari melihat kearahnya sebelum keluar. Saat aku membuka pintu, tiba-tiba ia menahan lenganku. Ku lihat ia dengan alis mengkerut, meminta penjelasan padanya.
"Maria, apa mau aku bantu menjelaskan pada suami kamu?!" ucapnya khawatir. Sebenarnya aku ingin tertawa, saat ia berkata seperti itu. Namun, aku harus tetap menjaga nama baik suamiku. Dan berkata..
"Nggak usah, mending bos pulang udah jam satu lebih lho ini!! Sampai jumpa! " aku segera pergi dari sana. Aku tak ingin membahas rasa tak enaknya pada suamiku, bisa bisa aku lebih lama lagi untuk masuk kedalam.
"Malem non, baru pulang?!" ucap Bik Sum menyambutku setelah pak Jamal membukakan gerbang.
"Bik.. kenapa belum tidur?! ini udah malem lho. Ayo masuk" Aku menggandengnya masuk ke dalam rumah.
Baru sampai ruang tengah, seseorang menarik bahuku dengan kuat. Arrgghh.. badanku sakit dan sekarang bahuku tambah sakit oleh tarikannya.
Ku lihat Austin memandangku dengan kilatan amarah, entah kesalahan apa yang sudah aku lakukan.
"Kau dari mana? apa begini kelakuan seorang istri, huh?!! " suaranya datar dan penuh penekanan , tentu saja itu membuatku gemetar.
"A..aku baru pulang bekerja, dar.. dari luar kota" ucapku dengan gemetar. Aku hanya mampu menundukkan kepalaku, tak sanggup jika harus memandangnya. Apalagi dengan jarak yang sangat dekat seperti sekarang ini.
aargghh...
Bahuku dir*m*snya dan itu sangat sakit.
"Dasar j*l*ng!!! apa menurut mu aku percaya, huh?!!" Dia beralih menjambak rambutku.
Ya Tuhan..
ini sangat amat menyakitkan...
Tolong aku...
"Den, non Maria kesakitan... apa aden tidak menerima pesan tadi pagi dari pak Owi?! bahwa nona ada pekerjaan diluar kota?! " bik Sum sepertinya sesang berusaha menolongku. kulihat air mata menggenang dipelupuk matanya.
Hal yang sudah biasa aku lihat saat Austin memberiku sedikit pelajaran. Bik Sum memang salah satu orang yang peduli padaku, dan aku tak keberatan akan itu.
"den.. udah den, kasian non Maria.. den bibik mohon!!" aku hanya mampu menangis daam diam melihat keadaan yang tengah terjadi kini.
Bukannya mendapat perhatian dan perlindungan dari suami, aku malah menjadi pelampiasannya saat amarahnya datang.
Dengan gerakan keras, ia melemparkan kepalaku yang sebelumnya ia jambak. Hingga membuatku sedikit terhuyung. Untung ada bik Sum yang sigap menangkap ku.
Ku lihat ia berlalu menuju lantai atas, ku yakin ia kembali ke kamarnya.
Bik sum mengelus puncak kepalaku sambil terisak isak. Ku berikan senyuman, berharap ia mengerti bahwa aku. Baik baik saja.
"Non.. sampai kapan non, sampai kapan non mau diam saja.. toh aden itu ndak menganggap non itu ada disini. Jangankan menganggap non sebagai istrinya. Melihat non pun sepertinya enggan.
Kulangkahkan kaki ku dengan gontai menuju kamarku sendiri, dan menguncinya.
*******
Ku rebahkan tubuhku diatas tempat tidur yang sudah hampir tujuh bulan ini aku tiduri.
Sepi.. sendiri..
Tentu saja, memangnya apa yang aku harapkan?
pelukan mesra dari suamiku?! atau ciuman pengantar tidur dikeningku?
Sudah kukatakan, bahwa itu hal yang mustahil terjadi. Austin lebih memilih adikku. Cintanya.. Kekasihnya.. Tempatnya untuk pulang, hanya Tasya. Bukan Maria!!
Haha...
Miris sekali hidupku.
Apa aku harus bersaing dengan adikku sendiri?! Mana mungkin, aku menyayanginya.
Ku ubah posisi tidurku, mengahadap ke sebuah foto berukuran besar yang terpajang dikamarku. Foto dimana aku sedang berpose bersama suamiku, Austin. Terlihat jelas bahwa hanya aku yang bahagia atas pernikahan ini.
Hanya aku yang tersenyum disana sedang dia, menampilkan wajah datarnya. Hatiku berdesir ngilu saat mengingat dia yang tak menerima pernikahan ini.
Aku hanya bisa menangis dan meresapi setiap luka yang sudah dia beri. Jambakan, tamparan, bahkan aku sudah kebal dengan hinaan darinya atau dari Tasya, adikku.
Lebih baik ku sudahi dulu kesedihan ku ini. Setidaknya untuk sementara waktu, dengan tidur. Ku harap esok pagi akan lebih baik, semoga.
***********
Ku buka mataku perlahan, pandangan ku langsung tertuju pada langit-langit kamar tidurku. Berpikir, apa yang akan aku lakukan hari ini selain bekerja. Bagaimana aku akan menghadapi Austin, apakah dia masih emosi?! apakah dia masih menyimpan amarahnya?
Entahlah, aku berharap dia lupa akan emosinya padaku.
Aku terkejut saat mendengar ketukan dipintu kamarku. Ku bergegas membukanya, dan ternyata Tasya.
"bikinin makanan buat acara gue sama Austin nanti siang, kita mau kedatangan tamu. cepetan bikin sekarang!!!" dia langsung pergi setelah mengucapkan itu.
Ku hela napas berat sebelum pergi ke kamar mandi.
Dalam waktu tiga puluh menit, aku sudah berada didapur. Tentunya dengan bik Sum. Kami berdua berencana membuat kue dan beberapa makanan berat lainnya. Karena kata bik Sum, hari ini akan ada tamu temannya Tasya dan Austin. entahlah aku tak pernah tahu siapa teman-teman mereka.
"non.. lebih baik nona istirahat saja, bibik gak tega liat wajah pucatnya nona.. sana istirahat aja dikamar" aku tersenyum pada bik Sum.
"Kalo aku istirahat, justru akan mengundang amarah Austin bik, bibik nget gak? waktu aku gak masakin sarapan buat dia sama Tasya, dia kan marah besar.. " aku sedikit tercekat saat berbicara.
"Duhh, non... makanya mendingan nona pergi aja dari rumah ini non. bibik gak tega liatnya, huhu.. " tuh kan, bik Sum malah hampir menangis.Dia memelukku, dengan eratnya.
"Bibik kok jadi suka nangis sih akhir-akhir ini, aku baik-baik aja lagi" Ku usap-usap punggungnya.
"...kita lanjut masak lagi yuk bik, bentar lagi acaranya dimulai lho" ku urai pelukannya, dan kita kembali memasak.
*********