
Saat ini, ku habiskan malam dirumah sakit. Keith masih sering kali merengek karena perih dan pusing pada kepalanya. Lukanya tidak terlalu parah, hanya sedikit sobek didahi dan itu sudah mulai kering. Besok sudah diizinkan pulang.
keith tertidur bersebelahan dengan adiknya, ia rela membagi tempatnya karena tak mau jika Keefe harus pulang. Jiwa seorang kakak berada dalam dirinya. Begitu pun Keefe, ia kerap kali membantu sang kakak saat mengambil minum. Aku bersyukur mereka saling menjaga dan menyayangi.
'Ttok.. Ttok.. Ttok..'
"Maria.." ku lihat siapa yang datang. Senyumku merekah seketika. Ku berdiri dan berjalan menyambutnya dengan pelukan.
"I miss you..." ucapnya dalam pelukanku.
"Kelvin.. lepasin dulu.. aku sesak.." ku meronta dan memukul punggungnya. Namun bukannya kesakitan ia malah terkekeh
"Baiklah... kakakku... bagaimana kondisi keponakan ku itu, huh?! Aku terkejut saat mendengar kabar bahwa Keith terjatuh...." Kelvin menggandeng lenganku menuju sofa.
"Siapa yang memberitahu mu?!" Kududuk disampingnya.
"Aku baru tiba, dan pas aku berkunjung ke rumah mu... Sofi bilang bahwa Keith dirumah sakit... yeah.. I'm here...." kelvin menyandarkan kepalanya dipundakku.
"Bagaimana kabar mama dan papa, aku kangen..." ku lihat ia mulai terpejam.
"Mereka baik... hanya saja, pengganggu itu datang ke rumah beberapa minggu lalu.. dia berkata jika Maminya jatuh sakit dan ingin bertemu dengan mu dan cucunya....
Apa?? Tante Anjani sakit?!!
"Jangan coba-coba untuk merasa khawatir atau sejenisnya, mereka tak pantas mendapatkan simpatimu... ahhh... menyesal aku bilang padamu, kak.... " Kelvin berdiri dan mendekat pada Keith dan Keefe yang sedang tertidur pulas.
"Jangan membuat mereka berdua merasakan apa yang dulu kau rasakan, mereka masih terlalu kecil untuk berhadapan dengan mereka..." dapat ku dengar nada kekhawatiran disana.
"Apa kamu tau kak, pria br*ngs*k itu merayakan kepergianmu dengan mengadakan pesta ditempat yang sama denganmu, tempat dimana kamu menangis dan tersiksa.... jadi, ku mohon.. untuk kebaikan keponakanku... untuk kebaikan anakmu... jangan pernah berpikiran apa pun tentang mereka lagi..." Ku menunduk, ku pahami kata demi kata yang adikku ini ucapkan.
Ya, Kelvin benar...
Aku sudah bahagia bersama anak-anakku.. Dan akan sangat disayangkan jika aku kehilangan kesenangan ini karena memilih kesakitan yang sudah pernah ku rasakan dulu.. Aku tak ingin bodoh seperti keledai yang akan jatuh pada lubang yang sama untuk kedua kalinya...
Tidak... aku tidak mau, melepaskan kebahagian yang sudah ku rangkai dan ku buat sedemikian rupa...
Aku tak mau Keith atau pun Keefe merasakan sakit, dan tersiksa sepertiku dulu...
Mereka lahir tanpa ada sosok ayah, dan akan aku pastikan mereka besar pun akan seperti saat pertama mereka datang kedunia ini.
Ayah kandung mereka sudah lama mati....
***
"Uncle Kelv... aku senang uncle datang menjemputku disini...." Keefe langsung bangun saat mengetahui bahwa Uncle-nya berada disini..
"Ummm.... Uncle, bagaimana keadaan disana? ku dengar Indonesia itu sangat indah, kenapa kita tidak tinggal disana juga agar dekat dengan grandpa dan grandma..." tanya Keith dengan nada lesuh..
Ini bukan pertama kalinya ia ingin pergi ke sana. Entah saat Kelvin, Grandpa, atau grandma nya datang.. Pasti ia akan bertanya hal yang sama. Dia pernah bertanya padaku, kenapa kita hidup berjauhan dengan keluarga?! Mengapa kita tak tinggal di Indonesia saja?! dan masih banyak kata mengapa lainnya.
Bukannya aku tak ingin bersama, apa lagi dengan keluargaku.. Hanya saja, aku masih takut untuk datang dan bertemu dengan orang orang dimasa lalu.
"Hei.. dengar, mommy kalian itu harus bekerja.. dan pekerjaannya ada disini.. jadi mungkin nanti kalian akan tinggal disana..." Kelvin mencoba memberikan pengertian. Ku hela napas berat, aku terlalu lelah menghadapi ini.
"Memangnya kenapa harus mommy yang bekerja.. Rexi.. tinggal bersama mom nya dirumah dan daddynya yang bekerja" Kali ini Keefe yang awalnya hanya terdiam, kini ikut dalam obrolan ini.
"Daddy... daddy itu... siapa?? apa kita punya daddy?! Mom?!" napasku seketika tercekat. Jantungku berdebar hebat, aku tak siap.. dengan pertanyaan seperti ini..
"Iya, uncle bisa dibilang daddy.." ucap kelvin.
"Oh iya kau benar Keefe, i'm so stupid... uncle kelv tinggi dan besar dan laki-laki juga... iya kan mommy?!!!!" ku tatap wajah tampan Keith, ku mengangguk dan tersenyum lega.
Aku bersyukur mereka belum terlalu mengerti dengan kondisi yang sedang kita jalani ini. Namun.... waktu itu seperti boomerang, sekarang aku bisa menghindar dari pertanyaan yang dilontarkan anakku... bagaimana jika esok saat mereka paham dan mengerti lalu bertanya hal yang sama, lagi.. Apa aku bisa menjawab dan memberikan kejujuran pada jawabanku nanti?!......
***
Pagi ini seperti biasa, aku disibukkan kembali dengan aktivitas kantor yang padat. Meeting sudah terjadwal rapih untuk ku lewati hari ini.
Kelvin masih berada disini, Keith dan Keefe tentu saja sangat senang bisa bermain dengan Unclenya itu.
Beberapa hari yang lalu, saat kedua putraku bertanya dan membahas tentang "daddy" ... Hidupku mulai tak tenang, jujur.. dalam hatiku seperti gelisah dan penuh ketakutan. Rasa was-was... Rasa takut mulai melingkupiku...
"Permisi... Pimpinan Braxton Group sudah tiba..."
Lamunanku terhenti saat asisten ku memberitahu bahwa rekan bisnis ku sudah tiba.
"Baiklah, kau sudah siapkan segala materinya?!" tanyaku sambil berjalan didepannya.
"Sudah Mrs.." jawabnya.
Ku memasuki ruang meeting, ruanya semua orang sudah berkumpul. Satu persatu ku perhatikan, hingga seseorang diujung sana. Orang yang sama dengan yang ku temui di Braxton corp beberapa hari lalu, siapa dia?!
"Mrs... perkenalkan ini Pimpinan sekaligus Pemilik dari Braxton Group... Mr. Nathaniel Jonathan Braxton" Aku terkejut, rupanya ialah orang dibalik kesuksesan Braxton Group. Dan aku sempat membentaknya, diperusahaan miliknya.
Apa ia tidak terlalu muda untuk menjadi pria sukses yang memimpin perusahaan raksasa?!! ku kira dibalik hebatnya perusahaan itu adalah, pria botak dan perut sedikit gendut dengan kulit yang mulai mengendur karena usia yang tak muda lagi...
Ternyata ekspetasiku salah besar, meski ku yakin ia sedikit dewasa dari pada aku... tapi ia masih bisalah dibilang muda.. ahh, lebih tepatnya.... Pria Matang..
"Selamat datang..." ku usahakan untuk tetap tersenyum dihadapnnya. Aku tak ingin kehilangan kerja sama dengan perusahaan besar ini.
Meeting berjalan dengan lancar, ku harap ia masih mau bekerja sama denganku. semoga saja.....
"Senang bekerja sama denganmu, profesional mommy...." ahhh.... dia masih ingat padaku rupanya.
"Ahh, kau masih ingat rupanya... Senang bekerja sama denganmu tuan..." Ku raih tangan dan menjabatnya.
"Bagaimana aku lupa, itu kali pertama aku dibentak orang lain..." ucapnya enteng, aku hanya bisa meringis merutuki kesalahanku waktu itu.
"Maafkan aku, sungguh saat itu aku panik.. putraku terjatuh dari tangga, dan dia mengalami luka di dahinya.... Sekali lagi maafkan aku...." ucapku tulus, ia hanya memperhatikan ku. Wajahnya datar, namun sorot matanya tak bisa berbohong. Ia adalah pria yang hangat. Ku lihat itu disana, di matanya.....
"Baiklah, ku maafkan... Aku bisa merasakan betapa paniknya saat anak kita terluka...." ucapannya berubah lirih. Aku tak tahu ada apa dengannya.
"Yeah, kau benar tuan.. rasanya kita seperti ikut tersakiti..." ucapku.
"Salam untuk anakmu, Maria....." ia hanya berucap demikian sebelum pergi dari hadapnku.
Entah ada apa dengannya...
Moodnya tiba-tiba berubah....
Hah... sudahlah, yang penting kerja sama diantara kita tetap berjalan..