Just A Little Bit Of Your Heart

Just A Little Bit Of Your Heart
Austin



Suasana canggung kian terasa setelah Keefe, Keith dan Sofi pergi untuk bermain diruangan lainnya. Hening, tak ada yang memulai pembicaraan. Bahkan aku bisa mendengar helaan napas mama dengan jelas.


Ku alihkan pandanganku pada Nathan yang berada disebelah kanan ku. Mata kami bertemu, ia tersenyum.


Ku rasakan hangat yang menjalar ditangan kananku, ku lihat jariku tenggelam dalam kehangatan tangannya.


*Hangat....


Nyaman sekali*....


"I miss you.." bisiknya, entah sejak kapan wajahnya sangat dekat denganku.


Ku rasa, wajahku memanas mendengar ucapan dan keadaan wajah kami yang sangat dekat seperti ini. Aku berharap, semoga rona merah dipipiku ini tak terlalu kentara dipenglihatannya.


"Ekkhheemm..."


Ku dorong badannya untuk sedikit menjauh dariku, saat mendengar interupsi dari papa. Ahh.... aku melupakan keberadaan mereka..


"Maafkan aku, aku terlalu merindukannya sampai melupakan kalian" ucap Nathan santai. Mata ku mengerjap mendengar ucapan Nathan.


dasar, Tuan Arogan...


"Kalian bersama?" tanya papa, to the point sekali...


"Tidak paa, kita hanya rekan bisnis. Mr. Nathaniel ini pimpinan dari Braxton Group" ucapku cepat, sebelum ia berkata yang tidak tidak.


"Braxton Group?!.." papa terlihat terkejut dengan kenyataan yang ku ucapkan barusan.


"Iya, Braxton adalah nama belakangku... dan Sofia... ia adikku, berkat kebaikkan putrimu aku tak jadi kehilangan keluargaku satu-satunya.." ucap Nathan.


Ku lihat senyum dibibirnya, meski ia arogan dan menyebalkan.. tapi aku bersumpah bahwa senyumannya sangat manis dan sedikit bisa meluluhkanku.


"Oh, kenapa kau tidak pernah menceritakannya Maria" ucap papa, aku hanya mengangkat kedua bahuku acuh.


"Papa, anterin mama yuk beli sesuatu dulu sebentar aja..." ucap mama tiba-tiba merajuk.


Mataku membulat, ada apa dengan mama?!... Bagaimana bisa mama bertingkah manja seperti itu?!!


"Sebentar aja tapi ya, ayok..." mama mengangguk antusias setelah mendengar persetujuan dari papa.


Ku bisa melihat binar bahagia dari mata keduanya. Binar cinta, sayang...


Tatapan itu tak pernah hilang, meski mereka sudah tak muda lagi... meski sudah beribu masalah yang telah dilalui.


"Maria... i miss you, really miss you..so..bad.." ucapnya menyadarkanku, aku tersenyum melihat Nathan yang untuk pertama kalinya, merajuk dan bersikap kekanakan seperti ini.


"Kau ini kenapa?!" tanyaku heran,


Belum sempat ia menjawab, seseorang yang sudah lama ku lupakan keberadaannya ikut bicara.


"Maria... boleh aku bicara denganmu?!...berdua.." ucap austin dengan wajah tenang. Namun ku yakin dibalik wajah itu terdapat sesuatu yang akan meledak tiba-tiba....


Ada apalagi ini…


"Kau mau apa?... Berbicara dengannya berdua, untuk apa?!!" tanya Nathan tiba-tiba dengan nada tinggi. 


"Ku rasa, apapun hal yang ingin ku bicarakan dengannya...itu bukan bagian dari urusanmu… " ucap Austin sarkas. 


"Kata siapa bukan urusanku, kau harus tau jika aku akan menjadi kekasihnya dalam waktu dekat ini... " cetus Nath tak mau kalah. Waktu dekat?? seriously???


Ku gelengkan kepalaku melihat keduanya yang persis seperti seorang anak kecil. 


Lebih baik aku pergi saja, aku tak mau berhadapan dengan kedua makhluk ini..  


Namun saat ku hendak pergi...


"Jangan pergi!!" // "jangan pergi!!" ucap mereka berdua bersamaan.


"Maria.. ayolah, aku memohon kepadamu.. kita bicara sebentar saja.." mohonnya sekali lagi.


Ku hela napas lelah lalu mengangguk. Ku rasa dengan mendengarnya berbicara bukan hal salah, untuk sekali ini saja.


Dengan cepat ia berdiri dan menarik lenganku untuk berjalan dibelakangnya. Ku lihat Nathan yang memandangku tajam, namun bagaimana lagi... aku harus menyelesaikan masalah dengan pria ini dulu.


****


Aku salah menduga, ternyata mengikuti kemauan Austin adalah pilihan yang tidak tepat. Sudah setengah jam kami terdiam, dalam mobil yang terhenti dipinggir jalan.


Ku kira ia akan berbicara dihalaman rumah, ternyata ia malah memaksaku untuk masuk kedalam mobilnya.


"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?" tanyaku to the point. Aku sudah cukup sabar, dan bermurah hati mau berbicara dengannya.


"Maafkan aku.. maaf, aku tahu aku salah.. aku tahu aku memang br*ngs*k... bahkan aku sudah menorehkan banyak luka dalam dihatimu, Maria..." ucapnya, dan ini pertama kalinya ku mendengar ia memanggil namaku dengan lembut...


Aku masih diam, masih menunggunya berbicara lagi..


"Aku menyesal, dan hampir empat tahun ini aku tak bisa lepas darimu... tak bisa lepas dari rasa bersalahku ini.. aku sadari jika, aku memang bersalah atas duka dan lukamu. Maafkan aku. Aku menyesal, sangat amat menyesal" ucapnya lirih.


Ku hirup napas dalam..


"Sudahlah, lupakan saja.. toh itu sudah terjadi, jika kau saat ini merasa bersalah karena perbuatanmu dulu,aku sangat bersyukur kau mau mengakui kesalahanmu itu. sudah sudah, aku tak mau mengingatnya kembali, aku memaafkanmu.." ucapku datar, ku pandang dirinya tepat dimanik itu.


"Aku ingin kita kembali, seperti dulu... ahh, maksudku kita kembali dan membuka lembaran baru lagi bersama kedua putra kita." ucapnya, dengan berani ia menggenggam tanganku.


Matanya berbinar kala ia mengucapkan kalimatnya..


Ku tarik kembali tanganku darinya dan memandangnya kesal.


"Memaafkan bukan berarti aku mau kembali, Austin.. Tak sadarkah jika perbuatanmu padaku meninggalkan beribu luka...?!!" Ku ucapkan dengan nada keras, hingga ku lihat ia tersentak karenanya.


"Terlalu sulit untuk percaya padamu lagi. Semuanya sudah berakhir empat tahun yang lalu, saat dimana kau dan aku resmi bercerai... ahh aku salah, kita tidak pernah memulai, jadi bersikaplah seperti dulu... saat kau dan Tasya berhubungan tanpa menghiraukan aku yang ada diantara kalian.." ucapku lirih, napasku masih tak beraturan.


Dia terdiam, aku pun sama. Aku berharap ia segera melajukan mobilnya, dan aku bisa pergi menghindar dari suasana seperti ini.


"Lajukan mobilmu, aku ingin pulang" titahku tanpa mau melihat dirinya.


Dia masih saja berdiam diri, ku rasakan gerakan dari sebelah kiriku. Dan tangannya kembali meraih tubuhku untuk berada didekapnya. Aku tak bereaksi apapun, saat ia memelukku.


Tak ada rasa debaran. Tak ada kupu-kupu yang terbang dari perutku. Semuanya hambar, tak berasa apapun.


"Pelukkan ini, dekapan ini, dan sentuhan lembut dirambutku inilah yang dulu ku inginkan darimu. Suara lembut penuh kasih sayang inilah yang ingin ku dengar dahulu..." ucapku terhenti, saat ku rasakan ia semakin memelukku erat.


itu dahulu, bukan sekarang....


"...Semuanya terlambat, aku tak menginginkan ini lagi. Terlambat, semuanya takkan berarti lagi, Austin" ucapku lirih.


Ku rasakan hawa panas dileherku, tubuhnya bergetar. Apa ia menangis??


Ku hela napas, dan ku angkat tanganku balas memeluknya.


"Maaf... jika, jika aku terlalu dalam melukaimu.. aku sadari kebodohanku dan kesalahanku dulu padamu, Maria.. Maaf jika aku terlambat untuk membuka mata dan sadar bahwa kau begitu berarti untukku.." ucapnya dengan tersengal sengal.


"Kau tahu, saat pertama kali mendengarmu hamil.. sungguh, aku merasakan letupan dihatiku. Aku merasa senang dan sedih diwaktu yang sama. Namun lagi-lagi aku dibutakan oleh cintaku pada wanita sialan itu. Dan kebodohanku semakin bertambah saat aku tak membantumu saat dilift, saat kau hendak melahirkan..." ucapnya jeda.


Ku rasakan bahuku basah, karena air matanya.


"...Maafkan aku, tapi demi Tuhan. Aku mencintai kalian, aku mencintai Keith dan Keefe... terlebih aku juga mencintaimu Maria, aku akan menjagamu dan kedua jagoan kita. Meski aku harus mencintai kalian dari jauh, meski aku harus menjaga kalian dari tempat persembunyianku. Maaf..." ucapnya panjang lebar.


Ku mengangguk dalam pelukan ini, air mataku hampir saja terjatuh. Tapi aku tak boleh menangis, aku tak boleh menangis untuk pria ini lagi.


Tak akan. Lagi.