
"Maria... mama seneng banget deh, bisa nimang cucu cucu mama yang ganteng ini..." ucap Mama sambil menggendong anak pertamaku.
"Kau beri nama siapa? kamu harus memikirkannya, karena kau tau sendiri bahwa ayah dari anakmu ini tak mengharapkan mereka, nak.." Papa benar, aku harus memikirkan mereka. Aku mengangguk.
"Yang mama gendong aku kasih nama Keith Damarion Adinata... yang iniii.... namanya Keefe Darius Adinata.. duo K.." ujarku sambil menciumi wajah Keefe yang sedang tertidur setelah ku beri ASI.
"Adinata?" ku hela napas perlahan.
"Hanya aku orangtua nya paa... Dan aku anak papa... Papa Adinata..." kami tertawa bersama. Sungguh, ini lebih baik..
"Hei kalian bersenang-senang dan melupakanku" Ku tolehkan kepalaku pada sosok pria yang berada dibalik pintu.
"Masuklah Mike..." ucapku. Mama tersenyum dan beranjak dari kursi membiarkan Mike yang mengambil alih.
"Hai jagoan, uncle... apa kabar kalian? uhh gemasnya, boleh aku menggendongnya?!" tanyanya dengan antusias.
"Kemarilah... hati-hati, nah... begitu" Mike terlihat sangat senang saat menggendong Keefe.
"Kau sudah beri mereka nama?" tanyanya.
"Yang kau gendong itu Keefe, dan yang mama gendong itu Keith..." jelasku.
"Double K" ujarnya.
"Hallo haa.... Uncle Kelvin dateng... mana keponakanku.... hei Kakakku yang cantik jelita, tiada duanya dan selalu berada dihatiku ini... bagaimana kabarmu?!" Kelvin datang dengan tingkah laku konyolnya. Papa hanya menggeleng melihat tingkah absurd putranya ini. Mama sudah terkekeh namun segera dihentikan takut suaranya mengganggu tidur Keith.
Kelvin mendekati Mike yang masih asik dengan Keefe. Kelvin melihat kearahku, aku hanya menggedikkan bahuku.
"Sedang apa disini" suara tiba-tiba serius.
"Hai boy" sapa Mike singkat. Aku tersenyum melihat keduanya.
" Kau ini, aku sedang bertanya.. dan.." ucapannya terhenti.
"Sudah, jika kalian ingin bertengkar.. kemarikan anakku dulu" potongku dengan cepat.
"Kau itu sudah jadi Uncle, dan kau masih bersifat kekanakan seperti ini... bisa bisa aku bingung membedakanmu dengan cucu cucuku, Kelv..." Aku terkekeh mendengar ucapan papa, ku lihat wajah kelvin yang sudah merengut.
"Jika kamu merengut begitu, aku merasa memiliki tiga orang anak, kelv..." ucapan ku membuatnya tambah menekuk wajahnya..
"by the way... maafkan aku kak, saat kau melahirkan aku tak ada disampingmu... Papa pasti kesusahan membawamu kemari" Kelvin mendekat padaku, kemudian merangkulku untuk memberikan pelukannya.
"Iya, seharusnya kau disini... tapi untung saat itu aku bertemu dengan Mike... jika tidak, aku tak tahu kelanjutannya seperti apa" jawabku, kelvin mengangguk dibahuku.
"Tapi tunggu. Tadi kau bilang, Mike...?!" aku tersenyum dan mengangguk.
"Kenapa??!!.... Apa terlalu mengherankan? Maria sudah seperti adik bagiku" Mike ikut dalam pembicaraan ku dan Kelvin.
"Terimakasih..." Kelvin bergumam, ia masih memelukku. Bocah ini sangat manja padaku.
"Sudah sudah... Aku ingin memeluk anakku bukan bayi besar manja seperti mu" ku dorong kelvin, mama yang mendekat sambil membawa Keith. Dan menyerahkannya padaku.
"Uhh... lihat Kelv.. ponakanmu ini sedang mengulat manjaa" Aku tertawa saat mama menarik hidung Kelvin karena gemas terhadap Keith.
Tuhan...
Aku bersyukur, sangat...
kehadiran mereka berdua dihidupku seperti membawa angin segar dalam hidupku yang menjenuhkan..
seperti air dalam kekeringan..
*****
"Kau akan bagaimana sekarang?" Tanya Mike.
Hanya kami berdua disini, mama, papa dan Kelvin sudah pulang. Anakku sudah dibawa kembali ke dalam inkubator, karena kondisinya masih lemah. Hanya keluar saat minum Asi.
"Entahlah... aku tak tahu. Tapi akan ku pikirkan itu segera" jawabku. Aku masih bingung akan apa yang harus ku lakukan.
"Ku harap, apapun itu keputusan mu. Semoga yang terbaik. Baiklah, karena baby-baby ku sudah tidur... Aku harus pergi, lekas pulih Maria" Aku mengangguk.
"Terima kasih atas bantuanmu, Mike... jika bukan karenamu. Keefe dan Keith, ahh.. aku tak bisa bayangkan jika mereka tak ada" ucapku. Dan itu membuat Mike berhenti dan berbalik.
"Aku melihatmu seperti aku melihat adikku Maria, jadi pasti akan ku lakukan apapun untuk adikku" ucapnya sebelum menghilang dari kamar ini.
"Bagaimana kabarmu? kakak... " Aku mendengus melihat pasangan ini. Bukan, bukan karena aku cemburu, hanya terlalu muak untuk melihat mereka berdua disini.
"Dimana keponakanku?!! Ahh, apa ayahnya sudah tahu kau melahirkan?? haha... sayang sekali, ku rasa mereka lahir pun tak diharapkan...." Tasya. Ingin rasanya ku tampar mulutnya.
"Lalu apa bedanya dengan dirimu... Anak yang tak diharapkan orangtua nya" Jawabku sarkas.
"Diam!!" ku tersenyum miris mendengar ia membentakku.
"Namun ku pikir, ada bedanya juga.. Anakku tetap memiliki ibu, dan aku mengharapkannya" tambahku. Ku lihat raut wajah sedih disana. Ku tahu ucapanku pasti sangat menyakitkan. Membuka asal usulnya, bahwa ia memang anak angkat orang tuaku.
"Austin, cepat selesaikan yang ingin kau selesaikan.. ku tunggu diluar" ucapnya lalu pergi.
"Kau keterlaluan, Maria" ku berdecih. Tak sadarkah bahwa mereka jauh lebih keterlaluan padaku.
"Cepat tanda tangani, jangan mempersulitku. Ku tahu hidupmu tak bahagia denganku, jadi.. ku ceraikan dirimu." Austin melemparkan map berisi gugatan perceraian.
Ku ambil dan kubuka perlahan, astaga... kenapa lenganku bergetar......
Ayo Maria, kau harus bisa..
"Cepat. Jika kau masih ingin melihat puteramu hidup" Austin kembali menyadarkanku, ya.. dia benar, puteraku..
"Jangan sentuh, anakku... Austin!!" bentakku.
Dengan cepat ku tanda tangani. Aku tak mau melihat wajah bren*se* ini lagi dihidupku. Apalagi sampai dia berani menyentuh anak-anakku.
"Bagini lebih baik, sampai bertemu dipersidangan, istriku..." Ku hela napas lega. Setidaknya anakku baik-baik saja.
******
Tak disangka sidang perceraian berlalu dengan cepat. Beberapa menit lalu, diriku dinyatakan resmi berpisah dengan suamiku ahh.. tidak, kini ia jadi mantan suamiku.
"Maria... semuanya akan baik-baik saja, aku yakin itu" Ku angkat kepalaku dan melihat Mike yang sedang berdiri dihadapanku.
"Pasti, doakan saja" jawabku.
"Jika kau butuh suami, kau bisa menghubungi ku.. yeah, walaupun kau ku anggap seperti adikku. Ku rasa jika berganti status menjadi suami istri, rakkan buruk juga" ucapnya jahil. Ahh sifatnya kembali, aku akan merindukannya.
"Akan ku pikirkan" jawabku sambil tertawa.
"Baiklah, jika begitu. Aku harus pergi.. sampai bertemu, lusa ku akan mengunjungimu." ucapnya sebelum berlalu.
"Tak ada lusa, Mike... Aku akan pergi dari sini, bersama kedua puteraku. Terimakasih atas banyuanmu" kataku, meski ku yakin Mike takkan mendengarnya.
Ku langkahkan kaki ku menuju mobil. Aku ingin segera memeluk putera-puteraku yang menggemaskan. Namun belum sempat ku buka pintu, seseorang menepuk pundakku.
"Tante.." mantan mertuaku rupanya.
"Jangan begitu, panggil aku mami.. kau ibu dari cucuku.. maafkan anakku, maaf atas semua kesalahan yang sudah ia torehkan padamu. Ku tahu kau gadis yang berhati besar, maafkan dia, nak... ku mohon" ucapnya sambil menangis. Ku rasa hanya dia yang merasa sedih akan perceraian ini. Mama dan papaku sangat bahagia, saat ku ceritakan bahwa aku akan menghadap sidang perceraian.
"Aku sudah memaafkannya, jauh sebelum mami memintaku" ku peluk wanita lemah ini, mertua yang baik hati, tak pernah menuntut apapun.
"Besok aku ingin menemui cucuku nak" ucapnya. Aku hanya terdiam, tak ingin membalas ucapannya.
"Baiklah, aku harus pergi.. salam hangat untuk kedua pangeranku, Maria" ku lihat ia memasuki mobil yang sama dengan Austin.
lelaki itu yanya memandangku sekilas, lalu dia akan membuang pandangannya. Kau pikir aku sudi melihat wajah bren*se* mu, Austin?!!
Segera ku tinggalkan tempat terkutuk itu, aku tak pernah memikirkan bagaimana kisah pernikahan yang berakhir dimeja hijau. Perceraian yang dibuat oleh manusia.
Dengan cepat ku lajukan mobil ini, aku tak mau sampai tertinggal pesawat.
Aku akan membuka lembaran baru, dan ku robek kisah kisah menyakitkan yang sempat ku terima dalam hidupku.
pernikahan bodoh...
pengkhianatan..
dan...
perceraian...
Selamat tinggal!!!