Just A Little Bit Of Your Heart

Just A Little Bit Of Your Heart
Tamu Mereka (Maria Pov)



Semua makanan sudah tertata diatas meja makan, hidangan yang aku dan bik Sum buat sejak tadi pagi. Kini, sudah selesai. Ku lihat jam dipergelangan tanganku, sudah menunjukan pukul 11.45. Sebentar lagi datang...


"Gimana? udah siap?!..." Ku balikkan badanku menghadap adikku.


Dia tampak cantik dengan pakaian yang dikenakannya. Gaun bermodel Length dress, sangat cocok dipakainya. Tak lupa juga riasan wajahnya yang nude dan flawless. Perfect.


Apa aku terlihat seperti orang bermuka dua??


Aku memuji orang yang sudah merebut perhatian Suamiku, ahh tidak.. Tasya tidak merebut, tapi dia memang pemilik hati suamiku. Dan akulah disini yang merebutnya.


Kuhela napas berat sebelum menjawabnya.


"Semuanya udah siap, kalau boleh tau hari ini ada acara apa, sya?! " tanyaku.


"Acara penting untuk aku dan Austin. Nanti juga loe akan tau" ku lihat dia tersenyum miring sebelum pergi dari hadapanku.


Ku langkahkan diri menuju kamar yang terletak dilantai dua rumah. Saat kakiku menginjak anak tangga pertama, tiba-tiba Austin datang dengan mengenakan Tuxedo hitam. Tampan sekali.


Aku tersenyum padanya saat ia berada dihadapanku.


"Segera kau pindahkan foto pernikahan didepan sana!! gambar itu membuat mataku sakit dan juga aku tak ingin teman-temanku mengetahui bahwa kita terikat pernikahan...


....ahh ya, setelah itu. Kau bereskan dirimu, kau terlihat seperti pembantu dengan tampang kumalmu itu" dia lalu pergi keatas setelah melewatiku.


Ayoo Maria, kau harus kuat..!!!


Ini belum seberapa dengan dirinya yang selalu bermesraan dengan Tasya.


Ku berjalan menuju foto yang katanya bisa membuat sakit mata. Ku ambil dan segera ku bawa menuju kamarku.


Foro pernikahan yang malang, baru melihat fotonya saja kau sudah begitu, bagaimana saat aku berada dihidupmu seperti ini, Austin.


Ku simpan foto ini disamping tempat tidurku, seluruh foto pernikahanku dan Austin tersimpan dalam kamar ini. Ku rasa aku akan menyimpannya untuk diriku sendiri. Tanpa perlu orang lain mengetahuinya.


Ku hirup oksigen untuk memenuhi ruang dadaku yang kosong dan sesak. Aku segera membenahi diriku, sebentar lagi tamu mereka akan datang. Aku tak ingin mempermalukan Austin dengan penampilanku didepan teman-temannya.


********


Terdengar suara riuh dari bawah saat aku menuruni anak tangga. Dahiku mengeryit, saat ku lihat ternyata Austin dan Tasya sedang saling memeluk satu sama lain. miris. Semua orang bertepuk tangan dan saling memberikan selamat. Atas apa?!!!.....


'kalian sudah bertunangan, ku harap pernikahan kalian akan segera diaksanakan"


jlebb..


Hatiku sakit. Sangat sakit. Terdapat sayatan dihatiku yang terasa begitu menyakitkan dan perih.


Berarti, sejak pagi. Aku memasak dan membuatkan makanan untuk acara Pertunangan suamiku sendiri?!!


Lelucon macam apa ini Tuhan?!!


Dadaku naik turun, emosi tengah menguasai ku dan aku menghampiri mereka. Ku berjalan dengan menahan air mata yang hampir keluar. Aku tak ingin menangis dihadapan mereka, aku harus kuat. Harus. Ku pasang senyuman saat sampai dihadapan mereka.


"Kak Maria?!! Kau disini?!..." Seseorang menyapaku dengan menggunakan bahasa inggris, sebentar. ahh.. dia Claire. Sahabat adikku, Tasya.


"Hallo Claire, senang bertemu disini" Aku tersenyum, aku cukup mengenal Claire.


Dia gadis baik hati, ceria dan friendly. Tak pernah aku mendengar kabar buruk tentangnya sewaktu kuliah dulu.


"Wow.. ini, calon iparmu Austin?! Halo perkenalkan namaku Mike Johnson cukup Mike atau kau mau memanggilku sayang atau honey pun aku terima...


...ini Tommy, yang itu Jeremy dan sebelahnya Aaron" Ku alihkan pandanganku pada pria bernama Mike yang tengah mengulurkan tangannya padaku.


"Apa kau single?!" Mike berucap enteng sekali, sedangkan aku?!! Aku terkejut dengan apa yang dia katakan barusan. Ku lirik sekilas pada Austin yang sedang menatap ku tajam. Ku alihkan pandanganku pada Mike yang sedang tersenyum bodoh.


Suasana awkward ini tak bertahan lama setelah Claire berkata bahwa ia kelaparan. Tanpa peduli pandangan dan tingkah laku absurd dari Austin dan Mike. Claire menarikku menuju ruang makan dengan semangat. Anak ini tak pernah berubah.


"Wahh.. aku yakin, ini pasti masakan kak Maria. Masakanmu tak pernah berubah, dan jadi lebih enak saja kak" Dia berkata dengan mulut mengunyah makanan.


"Perasaan biasa saja, kau itu berlebihan Claire" ku lihat Tasya memutarkan bola matanya jengah, tak sopan anak ini. Tapi aku diam saja, dari pada Austin yang akan membalas ucapanku dengan hinaan atau caciannya.


"Ku rasa ini nikmat, bukankah kau tak bisa masak Tasya?! seenaknya kau mengolok kakakmu sendiri" Mike mengedipkan matanya padaku, pria ini tak tahu saja. Jika aku adalah istri sah dari Austin, tunangannya Tasya.


"Aku akan belajar memasak mulai besok, agar suamiku Austin tak makan diluar dan betah dirumah. Saat itu terjadi, aku tak akan membiarkanmu menyicipi masakanku, Mike" Ku rasa Tasya tak menyukai kehadiranku disini terlihat dari nada sarkas serta tatapan matanya padaku, lebih baik aku pergi.


"Sudah Mike, jangan mengganggu Tasya lagi. Kau lihat tunangannya memandangmu dengan tajam" kulihat Aaroon menyenggol bahu Austin.


"Silahkan dimakan, aku harus pergi sebentar. Permisi" aku pergi dari meja makan ini setelahnya.


Saat kakiku menginjak anak tangga pertama, terdengar suara bell. Mungkin dia temannya Austin yang datang terlambat. Karena jarak antara diriku dan pintu tak jauh, aku gegas membukanya. Dan kejutan.


"Hai Maria!!' Dihadapanku jelas bahwa Malvin, atasanku dikantor datang. Ada apa?!


"Bos?!! ada apa? apa ada pekerjaan?" aku heran, untuk maksud apa ia datang kemari?


"Aku diundang oleh temanku, katanya disini acara...." Seseorang dibelakangku telah memotong ucapan Malvin.


"Dia temanku, Hai brother.. sudah hampir tiga tahun kita tak ketemu lagi." Austin datang menginterupsi percakapan diantara aku dan Malvin.


"yeah... tiga tahun." Malvin menatapku, aku tak tahu apa arti tatapannya itu. Sungguh.


"Maria, bukankah ini rumahmu dan....suamimu?" Aku harus menjawab apa??


"Kalian saling kenal?!" ku alihkan pandanganku saat mengetahui Austin menatapku dengan dahi mengkerut. Seakan tak percaya.


"Dia sekretaris ku, dia bekerja diperusahaanku, dan kami berdua satu sekolah saat SMA, dia adik kelasku. Gadis yang rajin ku kejar cintanya" Malvin... untuk apa kau menceritakannya?! uughh, aku gemas ingin mencuci mulut dan otaknya agar tak perlu mengingat hal hal yang tidak penting.


Ku lihat Austin hanya mengangguk, aku tau dia tak ingin membahasku terlalu jauh. Dia kan memang tak suka padaku. Setelah Austin membawa Malvin masuk kedalam rumah, aku tetap kembali kekamarku.


*******


Apa yang sekarang harus aku lakukan? Mempertahankan pernikahan ini terasa semakin sulit setiap harinya. Dan akupun hanya wanita biasa, aku tak bisa menerima jika harus dimadu dengan adikku sendiri.


tokk tokk tokk...


"Non, bibik boleh masuk ndak?!" Ahh.. rupanya bik Sum, ku bangun untuk membukakan pintu.


"Ada apa bik" lho ada apa? kok bik Sum terlihat sedang khawatir?!


"I..itu non, anu.. anu, den.. den Kelvin ada dibawah..." Apa?!! jangna sampai adikku itu tau hubungan Austin dan Tasya.


Segera ku langkahkan kakiku menuju bawah, ku lihat ia duduk diruang keluarga. Aku bersyukur dia tak datang ke ruang makan, jika ia disana. Ia asti akan mengadu pada Papa.


"Kelv?! Ada apa??" ucapku setelah berdiri dihadapannya. Ku lihat ia diam, dengan ekspresi tajam menatapku.


"Kak, aku sudah tau. Aku sudah tau, semuanya....


Kak Austin tak mencintaimu, dia mencintai Tasya." ucapnya lirih, dari mana dia tau??


"Kelv, ja.. jangan ngasal deh kamu" aku mengelak dan tersenyum, berusaha membuatnya percaya.


"Aku gak ngasal, aku tau karena aku pernah liat dia dan Tasya pergi kehotel berdua kak!! Aku gak bodoh untuk tau bahwa hubungan diantara mereka, belum selesai!!" Aku hanya diam saat adik laki-laki ku bicara kebenaran. Memangnya aku bisa apa? menghindar lagi seperti orang bodoh?!!