
"**Kak** Emerald?" tanyaku lagi. Gadis di hadapanku hanya terdiam.
Lama setelahnya, ia berbicara. Tadinya aku sempat bingung dengan tingkah anehnya.
"Kita ... bertemu lagi."
Aku memberikan senyuman terpaksa untuknya. Dia berkata dengan wajah yang sangat datar, bibirnya begitu pucat ... matanya menatap kosong dan sayu. Apalagi tempat ini terlihat sepi, aku khawatir ada kejadian yang tak mengenakan nanti.
"Kak?" Aku mengayun-ayunkan tanganku di hadapan wajahnya, dia diam saja. Perlahan-lahan ia membuka mulutnya.
Memperhatikan sebuah ... taring yang begitu runcing di giginya. Astaga, itu ... pemandangan yang sangat mengerikan. Aku merasa jika keringatku sudah bercucuran. Bulu kudukku meremang, tiba-tiba saja aku merasakan hawa dingin yang mencekam di sini. Ini benar-benar tidak beres.
Gadis yang aku yakini bernama Emerald ini, warna mata Emerald-nya tadi berangsur-angsur berubah menjadi warna semerah darah. Pandangan matanya menakutkan, ia berjalan perlahan mendekatiku. Hingga aku tak sadar jika aku sudah berjalan mundur menghindarinya.
Gawat, ini sangat gawat. Apa tidak ada seorang pun yang lewat sini? Dari awal aku sudah merasakan ada yang aneh di sekolah ini. Kakiku seakan tak lagi berdaya, kini aku sudah terpojok di dinding. Kak Emerald masih mendekatiku, perlahan dan sangat perlahan. Hingga aku memundurkan kepalaku. Namun ketika Kak Emerald berusaha mendekatiku, lagi-lagi aku melihat pemandangan yang aneh.
Tubuh Kak Emerald seperti memberontak. Tiba-tiba saja aku bisa merasakan jiwa itu. Lalu, lengan Emerald tak sengaja aku sentuh.
Kilas balik terlihat dari mata merah darah kak Emerald sekarang. Aku seakan-akan tertarik masuk ke dalamnya, lalu tiba di tempat yang sama sekali tak aku kenal. Beberapa orang kuperhatikan berlalu lalang, namun seperti tak ada yang bisa melihat atau menyentuhku ketika aku menyodorkan lenganku.
Di pinggir jalan aku melihat kak Emerald menggunakan syal musim dingin. Pandangannya tertunduk ke bawah, gadis itu kemudian berjalan pergi, dan kakiku seakan tertarik untuk mengikutinya. Lalu kami sampai di suatu rumah yang tak besar dan tak kecil. Kak Emerald memencet bel rumah itu, lalu muncullah seorang gadis jangkung yang lebih tinggi dari Emerald.
"Kau terlihat konyol, gadis lugu!" gadis jangkung itu menampar pipi Emerald. Kemudian aku bisa lihat dari sini kalau pipi itu memerah.
Emerald hanya diam, ia menurut ketika lengannya ditarik untuk segera masuk.
"Jiwa yang lemah, dan hati penuh dengan dendam dan kemarahan hanya akan membawa pada kesesatan ...."
"Jadilah kau, Emerald. Mengikuti segala perintahku."
Argh!
Kepalaku tiba-tiba saja kepalaku merasa sangat pusing. Seperti habis ditimpa batu seberat satu ton lebih. Aku ... seperti tahu kemampuan ini. Psi ... psi apa itu namanya?
"Psychometri," gumam seseorang entah dari mana.
Samar-samar aku melihat Kak Emerald yang ada di hadapanku, matanya tak lagi semerah darah. Taring tak lagi ada di antara giginya. Wajahnya juga tak lagi pucat, malah menggambarkan ekspresi khawatir dan bersalah.
"Veronica, aku minta maaf ..." ucapan kak Emerald tidak terlalu jelas terdengar di telingaku selanjutnya. Mataku hampir ingin menutup.
Kejadian setiap kejadian yang aku alami akhir-akhir ini tidak ada yang masuk dalam logikaku. Aku masih tak mengerti apa yang sudah terjadi pada diriku.
Author's Note:
Apakah saya berhasil membuat anda (para pembaca) bingung?
>.<