
"Vero?!"
Veronica tersenyum dengan wajah tiada dosanya pada mereka berdua. Aray mengembalikan ekspresi wajahnya ke seperti semula.
"Ke mana selama tiga hari ini kamu membolos sekolah?" pertanyaan Aray seakan-akan mewakili pertanyaan Elias dan Gerry.
"Bisakah membiarkan aku masuk? Kali ini aku sudah sangat mengantuk." Veronica menunjukkan ekspresi mengantuknya dengan menguap lebar-lebar dan menutup mulutnya itu dengan telapak tangannya.
Elias, Gerry, dan Aray sedikit menjauh dari Veronica sebelum membiarkannya masuk. Mereka bertiga terlihat sedang berdiskusi, sedangkan Veronica penasaran setengah mati apa yang sedang mereka diskusikan.
"Kurasa, ini bukan Veronica yang sesungguhnya," ucap Gerry. Matanya sempat menengok ke belakang, memerhatikan Veronica yang sok sibuk memandang ke arah lain.
"Biasanya dia arogan dan sinis," tambah Elias.
"Dan lagi, jangan-jangan dia-"
Ucapan Aray dipotong oleh Gerry, "Seorang yang sudah mati lalu jiwanya tertukar dengan jiwa seseorang yang lain!"
"Kau terlalu banyak menonton adegan novel, Gerry," ejek Elias.
"Seingatku, aku tidak sedang menyetel film ketika memegang buku."
Mereka bertiga membubarkan diskusinya. Elias dan Gerry tersenyum pada Veronica, sedangkan Aray memandang ke arah lain tak peduli.
Anak yang satu itu memang selalu menyebalkan, gumam Veronica dalam hati.
"Kami punya satu syarat."
Suara yang dihasilkan Gerry menginterupsi. Veronica menatapnya dengan mata berbinar-binar, seolah-olah dia mengatakan 'beritahu-aku-apa-syaratnya'.
Elias sok sibuk mengamati kuku-kukunya yang tertata rapi. Sedangkan Aray mulai merasakan hawa keanehan yang membuatnya benci. Ingin sekali Aray menyelesaikan ini dengan cepat.
"Kami pernah memintamu untuk tinggal di sini sebelumnya. Tapi itu ... dulu." Pandangan mata Veronica agak merosot ketika Elias mengatakan hal itu. Tapi secerca harapan kembali berpancar ketika Elias melanjutkan perkataannya, "Jika kamu ingin tinggal di sini, syarat pertama tidak boleh mengacak atau menyentuh barang milik kami. Kedua, selalu ikuti kata-kata kami, mengerti?"
Tadinya, Veronica agak senang ketika Elias menyebutkan syarat yang pertama. Lalu setelah mendengar syarat yang kedua, gadis itu berkacak pinggang di hadapan mereka.
"Apa maksudmu dengan syarat yang kedua itu?" Veronica mulai tersulut emosinya.
Aray tersenyum licik di hadapannya. Lelaki itu kemudian berkata, "Silahkan kamu tunggu di luar sampai menyetujui kemauan kami."
"Tidak bisa! Awas, aku mau masuk!" Tanpa berkata apa-apa lagi Veronica langsung menerobos masuk menghantam tubuh mereka berdua. Tapi suatu kemalangan menimpa dirinya.
Veronica terselimpat dengan kakinya, dia benar-benar gadis yang ceroboh. Keseimbangannya berkurang, hingga suara gedebum yang lumayan kencang mampu membuat ketiga lelaki tadi geleng-geleng kepala sambil menutup sebentar telinga mereka.
"Sejak kapan gadis ini punya sifat yang begitu keras kepala?" tanya Elias ketika dia melihat Veronica yang sedang dalam keadaan begitu payah.
Veronica merasa ada yang berkunang-kunang di atas kepalanya. Dia juga tidak dapat mendengar dengan jelas pembicaraan ketiga lelaki itu. Gadis itu berusaha bangkit, tapi pandangannya tiba-tiba menjadi gelap. Yah ... bukan karna dia terjatuh, tapi efek dari mengantuk dan pusingnya yang dialami. Veronica jadi tertidur di atas lantai.
"Dia tidur atau pingsan?" tanya polos dari Gerry. Aray melayangkan pukulan pelannya di dahi Gerry.
"Bodoh! Biar aku saja yang mengantar Veronica ke kamarnya." Aray bersiap-siap ingin mengangkat tubuh Veronica, tapi Elias tiba-tiba memukul tangan Aray dan menghalanginya untuk menyentuh Veronica.
"Tidak! Nanti kau bisa berbuat senonoh pada Veronica."
Dan kemudian, Elias dan Aray berdebat dengan mulut mereka. Saling melempar pembicaraan yang saling menyalahkan dan bukannya mencari solusi. Gerry benar-benar terpuruk. Kini gantian mereka berdua yang berdebat. Kepalanya hampir ingin pecah mendengarnya, jangan lupakan Veronica yang masih tergeletak di lantai. Tiba-tiba satu ide cemerlang hinggap di pikiran Gerry. Lelaki itu menggumam pelan, "Kenapa tidak kupikirkan daritadi!"
***
Srup ... srup ...
Elias menyedot hingga tak tersisa darah seekor kelinci gemuk. Di belakangnya juga ada Aray yang tengah makan darah ayam dengan tenang. Aray mencibir ketika dia melihat Elias diam-diam memperhatikannya.
"Darah ayam yang paling enak, kelinci hanya akan membuatmu bersin," ucap Aray.
Hach-
Iya juga. Tadinya Elias memang sangat ingin bersin, tapi lelaki itu langsung menutup hidungnya untuk mencegah bersin. Sebenarnya Elias sudah meminum darah kelinci gemuk sepuluh kali malam ini, dan Aray minum darah ayam baru lima kali. Selama itu Elias menahan bersinnya mati-matian di hadapan Aray, tapi lelaki itu bersikap sok cuek tak peduli.
"Tidak juga," jawab Elias. lelaki itu menggaruk hidungnya yang terasa gatal.
Klek.
Mendengar pintu dapur di buka membuat mereka terkesiap. Sosok tubuh berpakaian daster dengan rambut hitam panjang berkilau mengageti mereka berdua.
"Ah, aku lapar. Tapi ... bau busuk apa ini?" Dia yang berbicara itu adalah Veronica. Gadis itu langsung menutup hidungnya ketika mencium bau busuk dari dapur ini.
"AAARRGHHHH! SETAN, KALIAN SETAN!" Entah omongan Veronica itu menyumpah atau bermaksud kalau dia melihat hantu. Yang jelas, gadis itu melihat ada dua orang yang bergelantung terbalik di atap.
Wajah Aray adalah wajah yang paling dekat dengan Veronica ketika gadis itu menyalakan lampu. Tentu saja gadis itu terkejut, jantungnya seperti habis lomba lari marathon. Sedangkan Elias tergantung di sebelahnya. Sudut mulutnya dipenuhi oleh darah, hidungnya juga sangat merah.
"Tidak bisakah kalian tidak membuatku terkejut di tengah malam ini?!" seru Veronica. Gadis itu baru menyadari ketika Aray dan Elias dalam keadaan terbalik, telinga mereka sangat runcing. Taring mereka juga menguar keluar. Tidak mengejutkan kalau Aray punya taring. Tapi ternyata, Elias juga punya.
"Elias, kamu ..."
"Apa?" potong Elias dengan cepat. Lelaki itu melompat dan kembali menapakkan kaki di lantai. "Tolong bersihkan ranjang sampahku yang banyak kelinci busuk dong, atau kamu yang nanti bakal aku gigit sampai mati."
Tentu saja diancam seperti itu membuat Veronica takut dan mau tak mau mengikuti perintah Elias. Ternyata ini yang menyebabkan bau busuknya tadi. Dasar biadab! Awas kau, Elias! gerutu Veronica dalam hati.
Rasanya ia ingin mati ketika dihadapi dengan bangkai. Veronica memasuki satu persatu tubuh kaku dari kelinci-kelinci malang itu ke dalam kantung plastik besar.
"Veronica." Gawat, ada yang memegang pundaknya sekarang. Bahkan Veronica tahu siapa pemilik suara ini. Gadis itu berbalik, Elias sudah tidak ada di sini. Yang di hadapannya tentu saja adalah Aray. "Bersihkan ranjang sampah punyaku juga ya!"
Aray mengedipkan sebelah matanya sembari menunjuk ranjang sampah pribadinya yang ada di pojok. "Atau ... kamu mau lanjutin adegan kita yang di kamar kemarin itu?"
Yang mana?
Ah iya, itu. Tunggu, Veronica mengingat sesuatu.
"Dasar mesum! Biadab kau, Aray!" Veronica mengatakan dengan mata berapi-api. Tapi Aray tiba-tiba mendekat padanya.
Ritme jantungnya berpacu cepat, tubuhnya kaku seperti boneka porselen. Namun yang didapatnya adalah ciuman singkat di kening dari Aray.
"Selamat malam untukmu. Aku banyak pekerjaan, pergi dulu ya!" Aray tsrsenyum padanya sebelum pergi.
Eh?
Kenapa rasanya ... begitu aneh? Veronica mengedipkan matanya, saat itulah ia langsung tersadar. Gadis itu kembali melakukan kegiatannya yang tertunda tadi. Tapi ada yang berbeda, di pikirannya tiba-tiba terus terbayang senyuman Aray yang tadi.
Sialan, kamu Aray!
Veronica mendengus. Gadis itu keluar melewati pintu belakang dapur untuk buang sampah. Tanpa menyadari ada yang memerhatikan gerak-geriknya sedari tadi.
"Dia tinggal bersama ketiga lelaki itu, Veronica Adelle, gadis asli keturunan bangsawan. Aku mendengar kalau dia sempat hilang ingatan tapi telah menemukan jati dirinya. Mungkin anda harus berhati-hati."
"Jangan khawatir. Terima kasih atas informasinya."
Beep
Teleponnya dimatikan. Seseorang yang memata-matai tadi langsung berlari pergi. Veronica sadar seperti ada orang yang berlari, namun ketika gadis itu menengok sudah tidak ada orang di sana.
Veronica mengangkat bahunya tak peduli, gadis itu kembali masuk dan langsung membuka lemari es. Walaupun banyak kantung darah yang dibekukan, tapi masih ada beberapa makanan manusian seperti pudding, kue dan sebagainya. Mata Veronica berbinar meski ia sempat bingung, bangsa vampire sekarang memang aneh dan lucu. Veronica langsung mengambil makanan manusia yang enak-enak itu. Mungkin malam ini akan menjadi malam terpanjang bagi dirinya untuk menghabisi makanan enak yang ada di dapur ini~
***
Happy 1k Readers!
🤩
Author bener2 seneng banget pertama kalinya buat cerita pembacanya memasuki 1k views. Padahal biasanya, paling banyak aku dapat cuma 700 views doang, Awokawok.
Terima kasih banget yg sebanyak-banyakny pada kalian, para pembaca. Terutama yang setia baca It's Vampire sampe part ini. Sini aku ketcup satu-satu😚😚😚
Karna aku lagi bahagia, aku mau promoin cerita baru aku yang masih anget banget nih😂

TADAAAAAA!
Jangan lupa baca ya, cek akunku makanya😂
Oh, iya. Jangan lupa follow:
*******: @thisAnneRose
Instagram: @hafnizrl
Twitter: @hafnizrl