It's Vampire!

It's Vampire!
-Masa yang hilang-



 


Kami semua berjalan menuju rumah Arlie. Kira-kira memakan waktu lima belas menit hingga kami sampai di depan rumah Arlie. Wow. Rumahnya ... sangat besar! Di pagarnya terdapat corak bunga-bunga yang dicanting rapi. Aku juga melihat ada dua patung burung di atas gapura pagarnya. Arlie sedang berusaha membukakan pintu pagarnya


 


"Nona, anda mau menelepon Ibumu terlebih dulu barangkali?" Wilson menyodorkan ponselnya kepadaku. Menurutku ini boleh juga, aku mengambil ponselnya sembari tersenyum.


Karna tidak ada nomor ponsel Mom di sini, aku memasukkan nomornya. Untuk aku hafal nomor telepon Mom, jadi aku langsung meneleponnya.


Tak lama panggilanku akhirnya diangkat oleh Mom. Kini aku bisa bernapas lega.


"Mom, aku di rumah Arlie sekarang," ucapku langsung.


"Arlie? Oh, rupanya kau sudah akrab dengannya. Mom kira Arlie akan memakan waktu cukup lama hanya untuk berkenalan denganmu. Karna Arlie bilang, kau sangat pendiam ketika di sekolah."


Jadi ... Mom sudah mengetahui Arlie? Kenapa dia tidak bercerita padaku? Mom menyebalkan!


"Y-yasudah, aku ingin matikan dulu teleponnya," ucapku lagi. Kini aku tak lagi ada topik basa-basi dengan Mom.


"Jangan pulang terlalu larut, besok kita akan pergi. Kau ingat?"


Ah, iya.


"Oke."


tuuuuut.


Aku memutuskan sambungannya secara sepihak. Arlie sudah berhasil membuka pintu pagarnya, sedangkan aku tidak melihat Wilson sekarang, gadis itu berdiri di depan pagar rumahnya sembari melipat tangan di dada.


"Sudah selesai berteleponnya?"


"Ya, tolong berikan ini pada Ayahmu nanti ya, Arlie!" kataku sambil menyodorkan ponselnya.


"Ayo masuk. Ayahku bilang nanti kau bercerita denganku saja."


***


"Kerajaan Dalton. Apa kau bisa mengingatnya?" tanya Arlie.


Tentu saja kerajaan itu sangat asing bagiku, aku benar-benar tidak mengetahuinya sama sekali. Jadinya aku menggeleng sebagai jawaban.


"Ya ampun." Arlie menempelkan jari telunjuknya ke dahinya, berlagak sedang berpikir. "Pertempuran abad lalu antara Kerajaan Dalton dengan bangsa penyihir dan vampire?"


Vampire?


Emerald ... tiba-tiba saja aku teringat dengannya. Tapi aku merasa seperti ada yang membisikiku dalam hatiku.


*Vampire...


Vampire*...


Pertempuran abad lalu, aku memaksakan untuk ikut berperang. Banyak kuda berbaris rapi dan juga para bangsawan yang berbaju besi di atasnya. Hamparan padang yang luas yang sudah diisi dengan para manusia untuk berperang. Langit berubah hitam, hal itu disebabkan oleh penyihir. Mereka sengaja untuk memudahkan strategi mereka melawan kerajaan Dalton. Saat itu, kerajaan Dalton diserang dari dua clan langsung. Ya, penyihir dan bangsa vampire yang taring-taringnya saat itu mereka perlihatkan.


Hingga bunyi suara terompet dibunyikan, aku menarik dan membuang napas. Kupegang erat-erat panahku saat itu, bersiap untuk bertempur walau aku masih anak di bawah umur untuk bertempur waktu itu.


"Veronica! Kau ceroboh ..."


Aku tidak tahu siapa orang yang berteriak seperti itu kepadaku. Terngiang-ngiang secara terus-menerus di kepalaku. Bau anyir darah dari peperangan ini tercium sangat menyengat. Aku masih pantang untuk mundur, rambutku diikat kucir kuda.


"Vero, berhenti!"


Aku mengabaikan panggilan itu, melihat lautan manusia yang sedang berperang, aku menembakkan anak panahku berkali-kali ke atas langit. Dan aku sudah yakin tidak akan melesat setiap panahku menancap pada musuh.


Mungkin memang aku yang terlalu ceroboh, aku yang memanah secara sembunyi di balik pohon tak menyadari jika ada yang melawanku dari belakang. Sebuah panah asing menancap di bahu kananku. Darah mengalir deras di sana.


Darah ...


Lalu aku merasa jika duniaku berputar, tapi rasa sakit di bahuku masih terasa padahal panah itu sudah tidak menancap. Di hadapanku ada Arlie yang mengguncang-guncangkan tubuhku.


"Vero? Ada apa?"


"Akh! Sa-sakit..." aku merintih sembari memegangi bahuku yang tiba-tiba terasa nyeri. Bahkan sangat nyeri, seperti habis disayat oleh benda tajam.


"Ada apa, Vero? Coba biar aku lihat!" Arlie nampak panik melihatku merintih. Ia langsung menyingkap kemeja seragamku di bagian bahu. "Ya ampun ... ini benar-benar kau, Vero!"


"huh?"


"Coba kau lihat di pundakmu itu, ada goresan luka di sana."


Aku langsung beralih pada pundakku. Ya, memang ada luka di sana. Lalu apa ada masalah? Sebelumnya aku juga bingung kenapa tiba-tiba di pundakku ada luka ini, tapi ketika aku bertanya pada Mom, dia menjawabnya tidak tahu. Aku tidak tahu apakah Mom pura-pura tahu atau bohong.


"Lalu ... kenapa?" Ngomong-ngomong, bekas luka ini permanent. Sudah ada sejak dulu.


Arlie tiba-tiba saja menyentil jidatku. Aku mengeluh sakit dan mengusap-usap dahiku.


"Waktu perang ... kau sangat ceroboh! Ingat?" Arlie berucap dengan mata seolah-olah sangat berharap.


Tapi ... mendengar pertanyaan Arlie tadi malah membuat kepalaku pusing.


"Ar-Arlie? Bisakah tolong hentikan dulu pembicaraan ini? Jangan mendesakku untuk mengingat! Kepalaku sakit. Awalnya aku hanya ingin tahu apa yang terjadi denganku sekarang."


Arlie menghela napas. Sedaritadi kami memang sedang berbicara di kamarnya Arlie.


"Baiklah, aku minta maaf. Tentang kejadian yang sekarang menimpamu, itu hal yang biasa. Asal kau tahu ya, ada banyak bangsa vampir berkeliaran untuk mencarimu tahu! Dan sebagian besar telah mengetahui kalau kau tinggal di kota ini. Maka Ibumu mengutusku untuk menjagaku."


Bulu kudukku meremang. Tidak, kumohon jangan dihadapi lagi dengan makhluk bernama vampir itu.


"Hanya ... Vampir saja kan? Bangsa penyihir yang tadi kamu ceritakan?"


"Ah, aku lupa. Di mana vampir berada, para penyihir pasti selalu menyelinap di dalamnya. Kau harus hati-hati Vero."


"Berarti aku dalam bahaya?"


"Tentu saja!" Arlie terlihat geram. "Akh, harusnya ingatanmu masih ada. Jadi aku bisa mudah bercerita denganmu."


Krek.


"Ayah, jangan menggangguku," ucap Arlie ketika pintu dibuka. Aku bingung ketika dia berucap, namun sesaat kemudian ada seseorang yang memunculkan kepalanya dari pintu itu. Ya, ternyata benar Om Wilson.


"Vero sudah ditelepon Ibunya untuk kembali?"


"Sebentar lagi," jawab Arlie mewakiliku. Aku hanya tersenyum riang pada Om Wilson.


"Baiklah, nanti aku tunggu untuk mengantarkan Nona Veronica."


"Kamu tahu Vero? Kalau kamu merasa banyak orang memerhatikanmu saat di sekolah, itu semua hanya karna mengagumimu saja dan kamu adalah orang yang paling banyak membayar sekolah."


Oh ...


"Tapi mereka manusia kan?"


" Yah, aku tidak tahu juga. Beberapa aku sudah melacak ada vampir yang menyamar jadi manusia. Makanya aku menyirihmu menjauhi Emerald itu."


"Dia ... Vampir?"


"Tidak, dia manusia. Tapi dia bersekutu dengan penyihir."


"Sulit dipercaya!" Kutatap cahaya dari sinar bulan yang menembus masuk ke dalam kamar Arlie. Di sana juga gelap sekali, aku takut malam ini sudah terlalu larut.


"Kenapa? Mau aku antar pulang?"


Arlie seperti tahu isi hatiku. Aku takut besok akan terlambat bangun pagi mengikuti piknik keluarga, jadinya aku mengangguk pada Arlie.