
Author's note:
Aku bener-bener gak peduli berapa views yang ada di lapak ini. Intinya, aku sudah menargetkan chapter ini sampai 4.700 kata. Yah, ini chapter terpanjang yang pernah aku buat dalam sejarah. Dan aku juga akan menargetkan cerita ini harus sampai lebih dari 40.000 kata sebelum tanggal 15 Januari 2020.
Fighting untuk author sendiri!!
Hehe.
~Selamat membaca~
Veronica berjalan sedikit mengenda-endap. Entah kenapa gadis itu sangat yakin kalau pagi-pagi buta seperti ini, pasti Aray belum datang masuk ke kelas. Terpaan angin yang dingin menusuk-nusuk kulit Veronica. Tapi gadis itu membiarkannya karna merasa sudah terbiasa.
Gadis itu lupa kalau rambutnya sedaritadi ia biarkan tergerai tanpa ikatan. Lalu ia berhenti dan mengambil sebuah ikat rambut dari sakunya. Bosan selalu diikat ekor kuda, Veronica menggayakannya dengan menguncir seluruh rambutnya ke kanan. Kuncir kuda di sebelah samping. Hari ini Veronica ingin tampak biasa, dia tidak memakai lip balm di lipstiknya. Gadis itu punya alasan kuat mengapa ia tidak memakai lip balmnya, tentu saja supaya tidak menggoda para lawan jenis.
Bahkan setelah pulang ke rumah kemarin, Veronica mencuci bibir juga lehernya hingga tujuh kali lebih. Tak lupa sabun pembersih anti kuman juga ia bilas berkali-kali. Rose, sebagai Mom Veronica merasa bingung mengapa anaknya mencuci terlalu berlebihan seperti itu. Bahkan dia juga sempat khawatir kalau bibir Veronica akan terluka. Tapi gadis itu masih bersikeras dan mengatakan kalau dirinya tidak apa-apa.
Veronica mengintip dari kaca sebelum masuk ke kelasnya. Aman, belum ada Aray di sana. Tapi ada beberapa murid yang juga sudah datang di pagi hari ini. Gadis itu berjalan dengan riang. Hingga ia tak sadar ada orang yang berkacak pinggang di depan dan Veronica langsung menabraknya tanpa tahu dia siapa.
"Akh!" pekik Veronica, kepalanya langsung merasa pusing seketika. Semula ia menganggap kalau dirinya anemia, ternyata Veronica salah tak seperti dugaannya. Dia langsung menyadari kalau di hadapannya itu ada ... Aray.
Kalau saja Veronica seperti psikopat yang tak berperasaan, sudah pasti gadis itu akan membunuhnya dengan cara kejam! Dia tidak ingin bertemu dengan Aray, Elias, atau siapa pun itu temannya atau temannya lagi. Veronica berlagak sombong dengan mengangkat dagunya pada Aray. Sebenarnya, Veronica dengan Aray masih lebih tinggi Aray, Veronica berlagak seperti itu rasanya percuma. Karna ia lebih dilihat seperti ingin berbicara dengan Aray.
Lagipula, kenapa Aray harus tiba-tiba ada di hadapannya?!
"Permisi, Tuan!" ucap sarkas yang keluar dari mulut Veronica. Gadis itu sengaja berjalan dengan menabrak bahu Aray hingga lelaki itu jadi sedikit terhuyung dibuatnya.
Beberapa siswa atau siswi yang melihat cukup terkejut kalau Veronica berlaku seperti itu pada Aray, dan anehnya Aray bahkan tidak melakukan sesuatu pada Veronica. Padahal biasanya, Aray paling marah diberi perlakuan seperti itu. Siapa pun yang mengganggu pasti akan Aray dan teman-temannya tindas hingga mereka tak lagi bisa mengganggu Aray sedikit saja.
Satu hingga dua langkah Veronica berjalan angkuh menjauhinya, Aray dengan cekatan berhasil meraih lengan Veronica lalu menggenggamnya. Saat itu hal refleks yang dilakukan Veronica adalah melepaskannya, tapi tak cukup kuat karna Aray telah menggenggamnya. Ini menjadi sedikit sulit, tapi Veronica tidak akan menyerah dengan mengandalkan kelicikannya.
"Halo, bisakah anda melepaskan lengan saya? Saya sedang sibuk hari ini."
"Seingatku, tidak ada pekerjaan rumah yang diberikan kemarin," jawab Aray dengan tenang.
Sialan, Veronica jadi skakmat dibuatnya. Aray benar-benar manusia menyebalkan yang pernah Veronica temui. Padahal sebelumnya, gadis itu tak pernah berpikir mendapat teman dan bisa mengenal orang seperti Aray. Tidak ada orang yang pernah Veronica temui seperti Aray. Gadis itu jadi sedikit sulit menghadapinya.
"Oh, begitu ya."
Veronica jadi punya ide setelahnya. Ia pernah membaca beberapa artikel di internet dan seperti di novel-novel yang suka ia baca tentang kelemahan seorang pria.
"Hiya!" seru Veronica bersamaan dengan kakinya yang melayang tak bisa dikendalikan tepat pada tempat 'burung' milik Aray.
Lelaki itu dengan refleks melepaskan genggaman eratnya dengan Veronica, Aray meringis bercampur dengan decakannya. Veronica benar-benar gadis yang menyebalkan! Bagaimana jika anu-nya tak berfungsi lagi? Tendangan Veronica tadi benar-benar membuat tubuhnya seakan-akan dibelah dua. Siswa-siswi yang melihatnya tentu sangat terkejut dan banyak yang menggumamkan kata 'astaga'.
"Uwah ... hebatnya seorang Veronica! Dia berhasil membuat Tuan Muda Aray menjadi meringis kesakitan seperti itu," ucap salah satu siswi.
Veronica membersihkan tangannya seakan-akan ia habis menyikat serangga. Gadis itu jadi lebih percaya diri dan besar kepala. Sedangkan Aray tidak menyukainya ketika Veronica sudah berlagak yang seperti itu. Niat Aray tadi sebenarnya ingin berbuat baik pada Veronica, tapi gadis itu sangat menyebalkan. Aray tidak tahu seberapa parah burungnya ini terluka. Dia sudah berniat ingin mengeceknya sendiri nanti saat di rumah.
Veronica, kamu akan mendapat balasannya nanti. gumam Aray dalam hatinya. Menarik, Veronica benar-benar gadis yang menarik sekali. Beraninya dia mempermalukannya dengan cara yang seperti ini. Aray akan menggunakan kesempatannya nanti untuk membalas Veronica nanti.
Veronica kembali duduk di tempatnya dengan raut wajah yang senang bercampur bahagia seperti habis memenangkan hadiah. Dalam hatinya ia begitu puas bisa mempermalukan Aray yang seperti tadi. Kapan-kapan, gadis itu akan menggunakan tak tik yang lain jika Aray mengganggunya lagi. Karna jika Veronica masih menggunakan tak-tik yang tadi, sudah pasti Aray akan mengetahui dan mungkin saja bisa menangkisnya. Jadi sepulang sekolah nanti Veronica berniat membaca buku sebanyak-banyaknya tentang kelemahan pria yang bisa dilakukan wanita.
***
Siang-siang yang panas seperti ini, Veronica lupa kalau ada jam pelajaran olahraga di kelasnya. Mereka semua berkumpul di lapangan sekolah. Katanya, pelajaran olahraga kali ini hanya sebuah bermain pemanasan saja. Setiap siswa harus menunjukkan kemampuannya dan melaporkannya pada guru hasil pencapaian kemampuannya itu. Di sini banyak berbagai macam orang dengan jenis kemampuannya masing-masing.
Veronica melihat ada yang bisa ahli dalam kabel-kabel, ada yang jago dalam matematika dan memecahkan segala kehidupannya dengan matematika. Veronica bermimpi, kalau saja ia mendapatkan kemampuan itu, pasti nilai matematikanya akan selalu bagus. Tapi sisi baiknya, apakah tidak lelah terus menghitung dan menghitung?
Veronica belum melakukan apa-apa padahal murid-murid yang lainnya sudah banyak mengumpulkan hasil laporannya pada guru.
"Wah! Hebatnya! Aku dengar, keahlian di bidang melukis adalah keahlian terhebat keempat."
beberapa ucapan dari siswi-siswi yang Veronica rasa kenal karna mereka terlihat sekelas dengannya, membuat Veronica tertarik dan pura-pura ikut bergabung dengan mereka. Tapi ada sebagian yang tiba-tiba memisahkan diri dari Veronica. Gadis itu tak ambil pusing, masih ada satu siswi lagi yang mau menanggapinya.
"Oh ya? Siapa orang pemilik kemampuan itu?" tanya Veronica dengan lagak tidak tahunya. Siswi itu terkejut karna kedatang Veronica yang tiba-tiba.
"Ve-Vero ... itu, dia si kakak kelas kita!" ucap antusias siswi itu, Veronica melihat arah tunjuknya pada seorang gadis yang berpakaian olahraga tengah duduk di hadapan kanvas.
"Eh? Itu ... Ariana?"
"Veronica, kamu kenal kak Ariana?!"
Veronica merasa risih karna belum mengetahui anak perempuan yang sedang ia ajak bicara sekarang. Gadis itu dengan sengaja mencuri-curi nama di nametag-nya. Terdapat nama Stella. P di sana. Ah, sepertinya Veronica akan memanggilnya Stella.
Veronica mengangguk, tapi tatapan gadis itu menghadap pada Ariana yang sedang sibuk melukis dengan tenang. Veronica tidak tahu pasti apa yang sedang Ariana lukis, tapi dia terlihat fokis dan tidak ingin diganggu.
"Kak Ariana itu, kakak kelas ter-ramah di sekolah ini loh! Dia juga baik pada semua orang, kak Ariana punya kemampuan melukis hanya dalam lima detik saja. Tapi, hasil karyanya benar-benar tidak ada yang bisa mengalahkan! Bahkan ada beberapa karya-karya lukisan kak Ariana yang dipajang di galeri negara loh."
Baru beberapa menit kenalan, gadis bernama Stella ini sudah bercerita panjang lebar pada Veronica yang tadinya tidak terlalu akrab dengannya. Tapi, Veronica mensyukuri sifat Stella yang mudah akrab dan bercerita. Membuat Veronica langsung merasa nyaman dengannya.
Tapi, mengenai ucapan Stella tadi yang sempat mengatakan kalau Ariana adalah orang yang baik dan ramah, mengapa waktu itu ... dia sempat membully-nya di toilet? Veronica benar-benar tak habis pikir dengannya.
Apa jangan-jangan, Ariana pencitraan pada semua orang? Gumam Veronica dalam hatinya. Entah kenapa ... rasa cemburu karna Veronica yang kemarin diperlakukan kasar oleh Ariana menyelusup masuk ke hatinya. Gadis itu terlihat busuk kalau di belakang, Veronica benar-benar tak dapat mempercayainya.
Tak sengaja ketika Veronica sedang memperhatikan Ariana, gadis itu menoleh dan memberikan smirk pada Veronica. Gadis itu tidak tahu, apa maksudnya...
"Tapi, kamu juga gak kalah hebat sama kak Ariana kok, Vero. Orang-orang di sekolah ini banyak yang mengagumi kamu karna punya kemampuan Psikometri kan? Sayangnya mereka menjauh karna takut di terawang sama kamu. Jadinya, kamu jangan heran kalau banyak orang natap aneh kamu. Itu karna mereka takut, tahu!" lanjut Stella.
Sialan! Jawaban Arlie waktu itu pasti ngaco, pikir Veronica. Buktinya, gadis itu tahu dari Stella. Terima kasih, terima kasih banyak Stella! Mungkin lain waktu Veronica akan memberinya hadiah.
"Tapi, kamu gak takut dekat denganku?" jawab Veronica hati-hati.
Sebenarnya, tidak semua bisa langsung diterawang oleh Veronica. Gadis itu hanya bisa menerawang kalau dia sedang mau melakukannya. Tapi kenapa alasan orang-orang menjauhinya itu sangat tak masuk akal?
"Enggak, kan kita sama-sama manusia." Stella tersenyum manis setelahnya. Ah, apakah Stella cocok menjadi temannya?
"Baguslah. Lagipula aku tidak menggigitmu kok!"
"Iya aku tahu. Tapi kamu tahu gak? Psikometri itu adalah keahlian terhebat nomor dua loh! Sangat jarang sekali orang mendapatnya. Keahlian terendah adalah bisa merasakan kehadiran manusia sejauh dua meter. Dan keahlian yang pasaran, mempunyai mata berpenglihatan tajam yang bisa sampai melihat walau dibatasi dinding."
Punya mata tajam saja pasaran, padahal menurut Veronica itu adalah keahlian yang hebat! Ngomong-ngomong, ke mana Ariana? Dia sudah tidak ada di tempatnya tadi. Tapi Veronica enggan untuk bertanya, jadinya dia diam saja.
"Apa keahlian yang kamu dapat?" tanya Vero.
"Oh, iya. Namaku Stella. Sebenarnya aku memiliki kemampuan ... yang pasaran."
Entah perasaan Veronica saja atau apa, pandangan mata Stella melesu. Di dalam bola matanya seakan menyiratkan sesuatu.
"Stella-" Veronica sengaja menyentuh tangannya. Sebentar lagi potongan-potongan masa lalunya pasti akan terbaca oleh Veronica.
Benar saja, Veronica melihat di sana ada Stella yang merasa sendirian. Veronica baru tahu kalau Stella punya banyak saudara, tapi diantara saudara-saudaranya itu, Veronica melihat kalau Stella seperti dikucilkan di dalam keluargnya. Gadis itu selalu dipermalukan di depan orang tuanya oleh ulah saudaranya. Suatu waktu Stella mendapatkan sebuah surat di depan pintu kamarnya. Tadinya gadis itu sangat bahagia. Tapi siapa sangka, isinya hanya beberapa kalimat yang semakin mengucilkan dirinya.
GADIS BERKEAHLIAN PASARAN, MAUKAH KAU JADI PEMBANTUKU? HAHAHA.
-Robert
Kejam, bahkan Veronica ragu jangan-jangan Stella buka anak kandung dari keluarga itu. Tak mau lama-lama, Veronica menyudahinya.
"Ada apa, Vero?"
Veronica tadinya sempat merasakan pusing, tapi ia bisa kembali menetralkan dirinya untuk tidak kehilangan kesadaran.
"Tidak, aku hanya ingin bertanya bagaimana proses dirimu mendapat keahlian itu?"
"Oh, soal itu?" Stella mendeham sebelum kembali melanjutkan bicaranya. "Setiap orang dimimpikan jika dia diletakkan di sekolah asrama besar yang megah. Itu tandanya dia akan segera mendapat keahlian, namun yang tidak dapat mimpi itu, berarti dia cacat dalam segala sesuatu. Barulah setelah kita sadar, proses keahlian kita sedang bekerja apa yang akan kita dapat. Namun kalau kita dapat mengingat orang yang masuk ke dalam mimpi kita saat itu, biasanya kita akan dipertemukan selamanya."
Sekolah asrama dan orang yang masuk ke dalam mimpi. Ya, Veronica ingat itu saat ia dibawa ke sekolah asrama. Namun saat bermimpi itu yang Veronica ingat adalah nama Emerald. Jangan-jangan dia...
"Oh iya, aku lupa memberitahumu satu informasi lagi. Kita akan bermimpi seperti itu saat diumur yang ke lima belas..."
"Stel-" Veronica tidak lagi melihat adanya Stella yang tadi di sampingnya. Padahal tadi Veronica hanya oleng sebentar melihat ke samping, Stella cepat sekali menghilangnya. "Hei! Kamu tahu di mana Stella?"
Veronica bertanya asal pada salah satu orang.
"Dia sudah pergi lebih dulu ke kelas," jawab seorang murid lelaki. Veronica hanya ber-oh ria dan mengangguk-angguk saja. Tak lama Veronica merasa ada yang menepuk bahunya.
"Veronica, hanya kamu yang belum mengumpulkan tugas," ucap Bapak olahraga itu pada Veronica.
Tugas? Ah, Veronica belum sempat mengisinya. Tapi dia jadi dapat ide berkat bantuan Stella tadi. Dengan gerakan cepat Veronica mengisi kertas dan langsung menyerahkannya.
"Terima kasih, kau boleh kembali ke kelas."
Bapak olahraga itu kemudian pergi menjauh dengan banyaknya lembaran kertas hasil laporan dari murid-muridnya. Tapi di sini, Veronica masih terheran-heran mengapa Stella tiba-tiba pergi dengan sangat cepat. Bahkan sampai tak pamit atau salam perpisahan dulu sebagaimana teman. Dia berlalu begitu saja, tapi mungkin Stella punya urusan mendadak. Veronica memahaminya.
"Veronica ... ada yang memberikan ini untukmu." Veronica menoleh dan melihat gadis berkacamata tebal dengan rambutnya yang dikepang tebal. Gadis itu menyerahkan surat berwarna merah jambu pada Veronica, kening Veronica mengerut sebelum mengambil surat itu.
"Terima kasih."
Lalu gadis itu langsung berlari pergi menjauhi Veronica. Tapi setelah itu Veronica sempat mendengar suara petir dan awan yang mulai menggelap. Bisa diyakinkan kalau sebentar lagi akan turun hujan, Veronica buru-buru pergi untuk ganti baju dan kembali masuk ke dalam kelasnya.
***
Hi, Veronica! Aku ingin bertemu denganmu. Jika kamu punya waktu, datanglah ke danau *** pulang sekolah. Aku akan di sana sebelum kau datang, sampai jumpa! Tadi aku masih banyak ingin berbicara.
-Stella P.
Konyol. Tulisannya benar-benar berantakan, Veronica tidak tahu apakah ini jebakan atau bukan. Sekolah sudah agak sepi, kalau Stella benar ingin bertemu dengannya, setiap hari dia juga bisa melihat Veronica di kelas. Tapi, apa motif si pembuat surat? Veronica yakin kalau yang membuat suratnya adalah orang bodoh tingkat dewa.
Di beberapa mata pelajaran, Aray sama sekali tak mengajak Veronica berbicara. Veronica juga merasa enggan untuk berbicara pada Aray, lelaki itu perlu dilenyapkan. Tapi yang aneh akhir-akhir ini, tadi Veronica sempat melihat Elias dan Gerry yang bulak-balik berjalan di depan kelas dengan gelagatnya yang aneh. Apa jangan-jangan, kedatangan surat ini adalah ulah mereka?
Jika benar iya, maka Veronica akan menyiapkan serangan balik untuk mereka! Tapi gadis itu akan tetap ke sana untuk memastikan. Mungkin saja dugaannya nanti adalah benar.
Jauh dari jangkauan mata Veronica, ada seseorang yang terus memerhatikannya.
"Dasar bodoh! Surat-suratan seperti itu sangat kuno tahu, gak ada di zaman sekarang," gertak Debora.
"Tapi ada beberapa temanku yang masih pake surat kok," sahut Fany tak mau kalah.
"Tapi berbeda di zaman ini!"
"Hentikan, tak ada habisnya kalian bertengkar. Lebih baik cepat bersiap dan pergi ke danau xxx," lerai Ariana. Debora dan Fanny langsung terdiam.
"Tapi, apa kamu yakin kalau Veronica akan datang?" tanya Fanny.
Ariana sempat bimbang. Pandangannya tiba-tiba melesu, gadis itu menghela napasnya dengan sangat pelan. Lalu ia kembali ke nada suaranya yang kasar, "Terserah dia! Kau ikuti saja apa kataku."
Kemudian Ariana melihat Veronica yang berjalan keluar kelas. Langsung saja Ariana mengangkat tangannya, bermaksud memberi perintah untuk pergi sekarang.
***
Veronica akhirnya memutuskan untuk datang. Pokoknya dia sudah memantapkan diri dengan konsekuensinya nanti. Veronica sangat yakin akan ada yang mengerjainya, jadi dia harus berhati-hati.
Di danau ini nampak begitu sepi, tapi di pesisir danau Veronica melihat siluet tubuh seseorang. Dia mengenakan jaket berhoodie, jadi Veronica tidak dapat mengenalinya dengan jelas.
Siapa dia? Elias? Gerry? Atau Aray?
Veronica terus bertanya-tanya dalam hatinya. Gadis itu mulai berhati-hati untuk jalan mendekat, dia mempunyai ide gila untuk menceburkan orang itu ke danau. Semoga saja niatnya berhasil. Jika orang itu benar adalah Gerry, Elias, atau Aray, maka Veronica bisa membalaskan dendamnya lewat ini.
Mereka menciptakan kuburannya sendiri, gumam Veronica dalam hati. Tapi dia tidak tahu, ada apa yang akan terjadi pada dirinya.
Tanpa diduga, sebuah gerakan singkat menyebabkan Veronica sulit untuk mengingat apa yang sedang terjadi tadi. Tahu-tahu dirinya sudah ditenggelamkan ke dalam air. Sial! Padahal belum sempat Veronica melihat wajah orangnya. Mengapa dia bisa bergerak sangat cepat seperti itu?
Pasukan oksigen serasa mengurang, Veronica terus meronta untuk bisa naik ke atas. Gadis itu sudah lama tidak lagi berenang. Dia mencoba untuk menggunakan kemampuannya yang lama itu, tapu sialnya dia merasa jika kakinya terkilir. Veronica punya kebiasaan berolahraga terlebih dahulu sebelum renang, karna itu akan memperlancar aktivitasnya di dalam air.
Tapi kali ini, Veronica merasa jika riwayatnya sebentar lagi akan tamat. Dadanya sangat sesak, Veronica yakin kalau dadanya sudah terisi banyak air. Berkali-kali gadis itu tak sengaja menelan air danau, membuatnya tersedak air dan benar-benar tak mampu untuk bernapas.
Seseorang, kumohon tolong diriku sekarang... guman Veronica dalam hati. Pandangannya hampir menghilang, tapi sebelum sepenuhnya menghilang, Veronica merasa ada yang memberikannya hawa hangat. Bibirnya terasa menempel dengan sesuatu yang lembab, basah dan juga kenyal. Ini ... astaga, Veronica tahu apa yang dilakukan.
Ada orang yang memberinya napas buatan! Sebelum sempat melihat wajah, pandangannya langsung menggelap saat itu juga. Gadis itu terlalu banyak menggunakan tenaga. Lagi-lagi, Aray datang untuk membantunya.
Memang dialah ... yang membantu dan memberikan Veronica napas buatan. Cepat-cepat Aray membawa Veronica yang pingsan di pelukannya menuju daratan. Aray sempat meletakkan Veronica ke atas rumput-rumput yang sekarang menjadi basah akibat terkena siraman air.
"Aray," panggil Elias dan Gerry bersamaan. Mereka datang dan langsung menghampiri Aray.
"Sudah kuduga, pasti mereka yang merencanakan semua ini," ucap Elias.
"Kita tidak boleh membiarkan Veronica mati dulu, masih ada beberapa hal dari Veronica untuk petunjuk kita," timpal Gerry.
"Untuk sekarang ... bawa Veronica ke rumah sakit lebih dulu." Yang lainnya langsung menyetujui perintah Aray.
mereka membawa Veronica ke rumah sakit terdekat dari sini. Dalam hati Aray terus berharap, Veronica akan baik-baik saja.
AUTHOR'S NOTE:
Maaf-maaf, kayaknya gak bisa nargetin bab ini sampe 4700 kata:(
cuma mampu sampai 2800 kata doang:(