It's Vampire!

It's Vampire!
-Garden-



Tampan.


Ya ampun, sepertinya aku memang tak salah lihat dan tak sedang berkhayal. Buktinya diam-diam aku sudah mencubit lenganku sendiri, sakit. Satpam ini benar-benar tampan!


Kulihat nickname yang tersemat di dada sebelah kanannya, ada keterangan tentang usianya. 25 Tahun. Ah, jauh berbeda dengan umurku sekarang yang masih menginjak 15 tahun. Aku mempunyai prinsip untuk tidak mencintai seseorang yang berumur sangat jauh dari umurku.


"Nona Veronica Adelle?" tanya Pak Satpam tersebut memanggil nama lengkapku. Aku juga tidak tahu mengapa ia terlihat begitu mengenalku. Aku menganggukkan kepala dan tersenyum kikuk, benar-benar sangat gugup. "Mari saya antarkan ke ruangan kepala sekolah."


***


Kini, kupegang erat kunci lokerku. Aku benar-benar tak menyangka sekolah ini begitu lengkap fasilitasnya, toilet bersih, ruang drama, rooftop, semuanya ada di sini. Berapa juta dollar yang Mom habiskan untuk membayar sekolah ini?


Awalnya, sekolah ini bukanlah sekolah impianku. Pertamanya aku agak kecewa ketika Mom membawaku ke sekolah ini, tapi setelah aku selesai berjalan-jalan mengelilingi sekolah ini, benar-benar tidak bisa dipercaya! Begitu luas dan menakjubkan. Jauh lebih bagus dari sekolah yang dulu aku impikan.


Aku membuka loker dengan pasangan kuncinya, kumasukkan beberapa barang seperti buku paket, baju olahraga (Yang baru saja diberi oleh Kepala Sekolah) dan peralatan yang menurutku perlu supaya tidak repot-repot membawa barang dari rumah dan hanya tinggal mengambilnya saja dari loker ini. Aku teringat sesuatu, Dad pernah memberiku sebuah gantungan penari yang lucu. Sekarang aku tahu fungsi benda itu, aku selalu membawanya ke mana-mana


Kuambil gantungan kunci itu dari saku bajuku, kemudian mengaitkannya dengan kunci lokerku.


"Selesai," gumamku senang.


Aku kembali berjalan menuju ke kelasku yang sudah diberi tahu kepala sekolah. Di perjalanan aku memang banyak bertemu dengan orang-orang yang menurutku asing. Aku tidak tahu maksud dari tatapan mereka kepadaku ketika aku tengah berjalan ... aneh.


Tapi kuabaikan semua tatapan itu, dan berhenti tepat di ruangan yang dipintunya terdapat nomor kelasku. Pintunya tertutup, aku yakin sepertinya hanya aku satu-satunya yang terlambat masuk di kelas ini.


Buru-buru aku membuka pintu, di sana sudah terdapat wanita yang berdiri di depan kelas dengan rok span-nya. ia Berkacamata dan rambutnya diikat kuncir kuda juga. Aku yakin sepertinya dia adalah guru di sini.


"Ah, ada satu lagi murid yang terlambat masuk. Veronica Adelle, silahkan masuk," ucap wanita itu.


Di depan kelas aku bisa melihat jelas banyak orang yang melirikku lalu saling berbisik-bisik. Aneh sekali.


"Ayo, perkenalkan dulu namamu pada teman-teman baru!" seru Madam Taylor (Yang baru saja aku baca nama di nicknamenya) dengan bersemangat. Semua orang yang ada di kelas langsung terdiam mendengarkan.


Aku mengangguk dan langsung memperkenalkan diriku. "Halo! Saya Veronica Adelle. Senang bertemu dengan kalian semua, kuharap aku bisa berteman baik dengan kalian semua."


Setelah mendengar perkenalanku, ada yang bertepuk tangan dan kembali berbisik-bisik. Tak sengaja aku mendengar beberapa bisikannya dari seorang perempuan berambut pendek sebahu dengan poni di dahinya.


"Singkat sekali. Sepertinya dia tidak tahu caranya memperkenalkan diri."


Hei?! Apa-apaan yang dia bilang itu? Aku cukup terluka dengan kata-katanya jika saja ia mengatakan langsung padaku. Padahal sepertinya aku sudah memperkenalkan diri dengan bagus, karna aku tidak ada lagi kata-kata selain memperkenalkan namaku.


"Baiklah, harap tenang semuanya! Veronica, kamu bisa duduk di bangku yang kosong itu." Madam Taylor menunjuk bangku kosong diurutan nomor dua dari depan, sebelahnya ada lelaki dengan wajah pucatnya yang datar. Sepertinya ... hanya dia yang diam saja dengan kedatanganku.


Aku mengangguk dan langsung duduk di kursi itu. Sekarang aku benar-benar duduk bersebelahan dengan lelaki bermuka pucat itu. Menyeramkan. Aku sangat yakin sebelumnya aku tidak pernah bertemu dengan orang itu.


Madam Taylor mulai berbicara di depan, sedangkan aku merasa penasaran juga dengan lelaki yang ada di sebelahku. Kuhadapkan kepala padanya, ekspresj wajahku aku buat dengan seramah mungkin. Kupaksakan lengkungan senyumanku untuknya, kuharap aku bisa berteman baik dengannya.


"Hai, aku Veronica Adelle. Kau?" tanyaku.


Lelaki itu menengok kepadaku, matanya berkilat tajam. Hal itu membuatku jadi gugup.


"Menyebalkan," gumamnya.


Lalu ia kembali membuang mukanya. Apa yang baru saja ia ucapkan? Menyebalkan? Hei! harusnya aku yang bicara begitu padanya. Dialah yang menyebalkan. Dasar lelaki berwajah pucat yang lebih mirip seperti vampire. Akhirnya kubuang mukaku juga, aku merasa tengah dipermalukan olehnya. Kepalaku menghadap pada jendela, menampilkan keadaan di luar sana. Terdapat sebuah taman yang sepertinya ... tidak asing dalam ingatanku.