
Veronica.
Seingat Aray, gadis ini tidak asing dalam hidupnya. Karna ada beberapa ingatannya yang hilang akibat perpindahan waktu yang sangat panjang. Awalnya Aray juga tak menyangka kalau dia bisa bertemu Veronica di sini. Gadis bangsawan yang hilang pada masa kerajaan Dalton. Taoi entah kenapa, Aray percaya kalau kerajaan itu sudah hilang.
Sebenarnya, Aray sendiri tidak tahu dari mana asal-usul dirinya. Karna sewaktu kecil Aray hanya mengenal pamannya dan tidak mengetahui siapa orang tuanya. Saat diumur Aray yang ke sepuluh tahun, lelaki itu memutuskan untuk pergi dari rumah pamannya dan memilih untuk berdiri sendiri. Pamannya tak berkeberatan dan mengizinkan Aray berbuat sesukanya. Dari situlah Aray punya banyak pengalaman dan sering bertemu dengan para perompak atau penjahat, awalnya ia merasa takut dengan mereka. Namun ketika para perompak tahu kalau Aray tinggal sebatang kara, mereka memutuskan membawa Aray ke kediaman mereka dan merawat Aray. Banyak hal yang Aray dapat kemudian.
Salah satunya, Aray jadi bisa menunggangi kuda. Memanah, memancing, berburu, biasanya orang-orang butuh waktu lama untuk memahami dan mempelajari beberapa tak-tik dari itu semua. Tapi Aray berbeda, hanya sekali diajarkan saja dia langsung memahami dan mempraktikan dengan tepat seperti yang dicontohkan. Para perompak begitu kagum dengan kemampuan Aray.
Sangat disayangkan kalau ternyata Aray juga bisa membaca pikiran seseorang. Tak sengaja dia pernah membaca pikiran si ketua perompak kalau dia ingin memanfaatkan Aray demi kepentingannya sendiri lalu membuangnya ke sungai. Padahal ... para perompak yang lain sangat menghormati dan menghargai Aray, tapi si ketua perompak itu bermasalah. Aray pernah melihat ada sebuah jam berbentuk aneh di kamar ketua perompak. Karna dirasa tidak ada orang, Aray mengambil dan langsung kabur dari sana. Disitulah perjalanannya, saat-saat ia menemukan Gerry lalu ke masa kini. Aray tak pernah merasa menyesal atas perbuatannya pada perampok itu sampai sekarang. Bahkan ia berpikiran kalau mungkin saja mereka semua sudah mati sekarang.
Bergeraknya bola mata Veronica membuat Aray langsung tersadar. Lelaki itu begitu senang ketika melihat Veronica masih hidup, matanya perlahan membuka. Disaat seperti ini Veronica pasti belum sepenuhnya sadar dan Aray mengambil saat-saat kesempatan ini.
"Maaf..." lirih Aray. Dia masih teringat tentang kejadian yang kemarin itu, dan Aray merasa sangat bersalah. Dia harusnya bisa mengendalikan dirinya. Tapi ... Aray akui kalau Veronica memang begitu manis. Contohnya seperti sekarang ketika Veronica sedang berada di posisi tidur.
Jauh dari pengawasan Aray, Elias mengintip dari balik pintu. Tadinya ia habis membawa beberapa buah-buahan untuk Veronica. Tapi sudah ada Aray yang duduk di sana.
Aray tidak biasanya mengucapkan kata maaf pada seseorang, gumam Elias dalam hatinya. Ya, Aray memang tak biasanya tiba-tiba bersikap seperti itu. Karna yang Elias tahu, Aray terlihat arogan walaupun diam-diam dia juga perhatian. Asal-usul Aray juga tak jelas, berbeda dengan Elias yang memang sudah lahir di masa ini. Aray dan Gerry, mereka berdua hanyalah orang-orang yang datang dari masa lalu mempunyai tujuan.
"Aray ...?" gumam Veronica. Matanya masih memburam untuk melihat sesuatu, gadis itu berusaha untuk menetralkan pandangannya. Hingga yang ia lihat tidak ada siapa pun di sampingnya.
Aray bisa berjalan cepat berkat dirinya yang setengah vampire, lelaki itu tiba-tiba ada di belakang Elias. Tetapi lelaki itu sama sekali tak terkejut.
"Aku tahu dari tadi kamu di sini," ucap Aray.
Elias menerbitkan senyuman kecilnya sembari menjawab, "Uh, ketahuan."
Lalu ketika Elias menengok, Aray sudah tidak ada di sana. Elias hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Tapi Elias tahu ... Aray memang sedikit berubah karna Veronica. Apa yang spesial dalam diri perempuan itu memangnya? Sebenarnya, Elias mempunyai kemampuan bisa menebak apa yang ada dalam hatinya lewat mata. Kemampuan ini agak mirip dengan mindreader, tapi ada yang berbeda. Dari tatapan Aray, Elias melihat kalau Aray ... sepertinya mulai jatuh cinta dengan gadis ini.
Veronica mengusap-usap kepalanya, gadis itu merasa bingung. Tubuhnya sudah berada di posisi duduk, tapi Veronica melihat ada Elias yang berjalan menghampirinya.
"Sepertinya, tadi aku melihat ada Aray di sini," kata Veronica sembari menunjuk tempat terakhir Aray yang di sampingnya.
"Mungkin hanya halusinasi," jawab Elias.
Mata Veronica menemukan sebuah benda yang sedari tadi dipegang Elias. Plastik itu lumayan transparan, jadi Veronica bisa melihat kalau di dalamnya ada buah-buahan. Matanya langsung berbinar senang.
"Elias, aku mau buahnya!" Veronica berkata sembari tangannya yang berusaha menggapai buah-buahan itu.
Tapi Elias sengaja langsung menyembunyikan buah-buahannya ke belakang tubuhnya dan bergerak refleks
menghindari Veronica.
"Tidak boleh," kata Elias sembari menirukan lagak anak kecil yang tidak mau makanannya diambil.
"Ayolah, itu untukku kan?"
Hal tak terduga terjadi pada diri Veronica, Elias langsung mengangkat Veronica dari tempat tidur lalu meletakkan dia di pundaknya. Gadis itu tak menyangka kalau Elias menganggapnya seperti karung beras. Elias membawa Veronica keluar ruangan, tentu saja membuat Veronica terkejut. Gadis itu memukul-mukuli punggung Elias bermaksud untuk berhenti, tapi pukulan itu tidak mempan untuk Elias.
"Kau sudah sembuh kan? Lagipula dokter mengatakan kalau kamu hanya cidera di bagian kakinya saja kok. Jadi daripada membiarkanmu lama berjalan, lebih baik aku menggendongmu yang seperti ini."
"Elias, ini tidak lucu!" seru Veronica marah. Dia tidak suka jadi bahan perhatian orang lain, tapi semua terlanjur sudah.
Sekarang ada lumayan banyak orang yang memperlihatkan, bahkan tak sengaja Veronica mendengar celetukan seseorang yang mampu membuat telinganya panas.
"Wah, manisnya mereka!"
Rasanya Veronica membutuhkan kantung plastik hitam untuk muntahannya. Geram sekali Elias masih keras kepala tidak menuruti kemauannya.
"Elias, lepas!"
Kini mereka telah sampai di parkiran. Veronica tahu, pasti akan ada banyak orang yang melihat. Dan gadis itu merasa kalau dirinya diperlakukan tidak pantas oleh Elias.
"Risih ya?" Tadinya ketika Elias mengatakan kalimat itu, Veronica merasa lega. Tapi ternyata tak sesuai dugaannya, Elias masih belum mengizinkannya untuk menyentuh tanah.
Lelaki itu memosisikan Veronica dengan gendongan ala bridal style.
Argh! Yang ini lebih parah, gumam Veronica dalam hatinya. Bukan ini yang Veronica mau...
"Kalau kamu masih merasa risih, sembunyikan saja wajahmu agar tak terlihat orang," ucapan Elias memberikan Veronica sebuah ide.
Tadinya Elias pikir Veronica tak akan ada cara untuk menyembunyikan wajahnya, tapi gadis itu malah menghadapkan kepalanya pada dada bidang milik Elias.
Dia pintar juga, ucap Elias dalam hatinya. Menarik, Veronica benar-benar menarik. Sepertinya Elias tahu apa alasan Aray bisa tertarik padanya. Tapi ... ada satu hal yang aneh ketika kejadian ini terjadi. Elias jadi merasa hal yang tak biasa, Veronica pun sama.
***
Veronica meniup-niup sebuah buku yang di bagian covernya sudah berdebu. Sudah lama gadis itu tak membukanya, kira-kira sekitar sebulan Veronica tak lagi berani untuk membuka. Buku itu adalah buku yang waktu itu ditemukan di rumah aunty Ze. Bahkan veronica masih ingat tentang buku berjudul A Princess With Vampire ini yang halaman tengahnya kosong tak ada tulisan sedikit pun.
Saat ini Veronica memberanikan diri untuk membukanya kembali, entah dorongan dari mana tiba-tiba dia yakin mungkin ada keajaiban yang dapat ia temukan di lembar tengah yang kosong itu ketika membukanya lagi. Ngomong-ngomong, Veronica menemukan buku ini tersemat di dalam lemarinya, bahkan ia tak ingat kalau ia meletakkannya di sana. Gadis itu tadi hanya iseng mengobrak-abrik lemarinya, lalu kembali menemukan buku ini.
Veronica membuka dengan langsung meloncat halaman ke bagian tengah, di sana masih tak ada tulisan apa-apa. Masih belum menyerah, Veronica membuka-tutup lembar itu sembari berharap kalau saja ada sedikit tulisan yang akan muncul di sana.
Tiga kali Veronica mencoba, tapi matanya terasa silau saat itu juga. Seperti ada cahaya yang muncul tiba-tiba, hingga Veronica dapat membuka kembali matanya. Dan ini ... benar-benar tidak bisa dipercaya, Veronica melihat ada tulisan yang muncul, tapi hanya sedikit.
'Putri bangsawan harus...'
"Putri bangsawan harus ... apa?" tanya Veronica pada dirinya sendiri. Lebih tepatnya, mungkin Veronica bertanya pada bukunya. Sangat tak masuk akal kalau bukunya tiba-tiba punya mulut untuk bicara dan menjawab pertanyaannya. Jadinya gadis itu hanya menghela napas saja, sedikit kecewa.
"Apa ... yang harus aku lakukan?" Veronica memandang bukunya dengan perasaan kecewa. Ia tak menyangka buku ini hanya memberinya sangat sedikit petunjuk. Benar-benar buku aneh yang tidak bisa Veronica tebak.
Krek.
Pintu dibuka, hal itu membuat Veronica terkejut. Gadis itu refleks menyembunyikan bukunya di bawah bantal, kemudian bersikap seolah-olah biasa saja. Di depan pintu ada Rose yang berdiri di sana, sembari membawa nampan yang di atasnya terdapat segelas susu. Rose mendekati Veronica yang kini tengah duduk di tepi ranjangnya, dia tersenyum kikuk.
"Bagaimana dengan kakimu?" tanya Rose. Wanita itu tahu kalau Veronica terluka karna tadi Veronica diantar oleh Elias. Elias menjelaskan kejadian yang dialami Veronica pada Rose. Sedangkan Veronica saat itu memandang bosan mereka berdua.
Elias tampak seperti pria menyenangkan di hadapan Rose. Padahal ... kalau dengannya sifat Elias sangat bertolak belakang.
"Lebih baik," jawab Veronica seadanya. Rose meletakkan segelas susu itu di atas nakas milik Vero.
"Kupikir, aku ingin membawamu kembali ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut?"
Veronica menggeleng, "Itu berlebihan. Aku baik-baik saja kok, lagipula perbannya sudah boleh dibuka besok."
Rose menghela napasnya. Sebenarnya
... bukan itu tujuannya, tapi Rose tidak ingin memaksa Veronica yang akan menjadi kecerobohannya.
"Kalau begitu, tidurlah."
"Iya." Entah kenapa, Veronica merasa ada hal aneh dari Rose ketika ia berbalik meninggalkan kamarnya. Entah perasaan Veronica saja atau ini benar nyata.
Rose berjalan menuruni tangga, wanita itu melihat ada sepupunya yang sedaritadi menunggu di sofa. Ditemani dengan segelas teh hangat, sesekali dia juga menyesapnya. Namun kegiatannya terhenti ketika Rose sudah datang.
"Bagaimana? Kau sudah membujuk Vero?" tanyanya. Rose tak langsung menjawabnya, ia duduk berhadapan dengan sepupunya, Reyn.
"Tidak semudah itu, aku sudah berbohong pada Veronica. Tapi ia tidak mau dan aku tidak ingin memaksa, ritual penghapusan ingatan itu sepertinya harus ditunda."
"Lalu kenapa kau begitu nurut padanya?"
"Kamu tidak mengerti, Reyn! Aku tidak ingin memaksa Veronica yang menjadi kecerobohanku sendiri. Arlie si penjaga bodoh itu memang sudah membocorkan jati diri Veronica, dan aku ingin kembali menghapusnya. Aku tidak ingin ... kehilangan Veronica." Mata Rose melayu saat itu juga. Kemudian ia berbicara lagi untuk memuaskan argumen-nya, "Kamu tahu kan kalau reputasi penyihir sudah hancur dan dianggap berbahaya? Lalu putri bangsawan yang hilang itu adalah Veronica, aku yang membawanya. Kemudian aku menghilangkan seluruh ingatan Veronica tentang jati dirinya, dan yang ada di ingatannya hanyalah keluarga kami yang sekarang. Itu semua karna ... aku sangat menyayangi Veronica. Aku juga tidak ingin sudah bertahun-tahun kubangun keluarga ini jadi hancur gara-gara Veronica telah mengetahui jati dirinya."
"Lalu mengapa kau tidak menghabisi Arlie karna telah membocorkan rahasia?"
"Arlie dan Ayahnya itu dulunya hanya rakyat biasa sebelum diangkat menjadi penjaga terhormat. Mereka juga terlempar di masa ini, kurasa percuma jika aku membunuh Arlie dengan tanganku. Dia sudah terlanjur membeberkannya, Arlie orang yang sok kuat tapi bodoh pikirannya," jawab Rose. Emosinya benar-benar terkumpul. Tangannya juga sangat gatal ingin membunuh Arlie dan keluarganya, tapi dia tahu dia harus bersabar. Dan Rose harus punya tak-tik lebih dulu untuk menjalankan rencananya.
"Jadi ... kamu punya rencana?" tanya Reyn, pria itu kembali mengambil tehnya yang sisa setengah. Mengaduk-aduknya dulu lalu meminumnya dengan satu tegukan hingga habis.
"Belum. Tapi aku memang ingin menyiapkan sebuah rencana." Rose menengadah untuk melihat pintu kamar Veronica di atas yang tertutup rapat. "Ngomong-ngomong, sebelumnya aku sempat melihat Veronica membaca buku lalu langsung menyembunyikannya ketika aku datang."
Reyn tiba-tiba langsung menjentikkan jarinya. Seakan-akan punya ide yang spontan datang. "Jangan-jangan, itu buku petunjuk jati dirinya?"
"Jangan mencoba menakutiku!" Urat-urat di leher Rose sangat terlihat jelas. Terbukti kalau ia marah dengan perkataan yang dilontarkan Reyn.
"Wow-wow, sepupuku. Padahal kulihat kau nampak sangat baik di hadapan suami dan anak-anakmu. Mengapa denganku kau menjadi sangat pemarah?" Reyn berusaha menenangkan, tapi tidak mempan.
Rose membuang mukanya ke samping, terasa enggan untuk melihat wajah Reyn. "Karna kau seperti tikus yang menyebalkan. Kau memang menyebalkan sedari dulu, Reyn!"
"Untuk apa aku datang ke sini kalau bukan karna permintaanmu? Kan kamu yang mengajakku ke sini dengan alasan ingin melakukan ritual pembersihan bersama."
"Tapi tidak jadi kan? Sekarang kau boleh pergi!"
"Oke." Reyn menepuk tangannya di udara sebanyak dua tepukan, kemudian muncul sebuah portal oval yang berwarna ungu diiringi hitam. Kedua perpaduan warna itu terus berputar-putar. Sebelum pergi Reyn sempat melirik pada Rose yang kini membuang muka darinya sembari kedua tangan yang melipat di dada. Reyn bergumam pelan, "Rose memang tak pernah berubah sejak dulu. Licik tapi begitu manja ketika denganku."
Reyn mengeraskan suaranya sambil berkata, "Sampai jumpa!"