
Pagi ini, aku terbangun di kamarku. Udaranya sejuk sekali, aku juga tak lupa jika hari ini keluarga kami akan pergi piknik setelah melihat rumah aunty Ze.
Aku buru-buru mempersiapkan diri. Kacamata, kamera, topi, semuanya sudah siap ingin aku bawa. Lalu aku langsung melesat turun ke bawah. Semuanya sudah ada di ruang tamu sedaritadi menungguku. Aku melihat Sophie yang sedang tidak memegangi Beccy, tapi tangannya memegang boneka baru.
"Kak, lihat. Aku dapat boneka baru dari Dad, yang ini aku namakan Becca," ucap Sophie dengan senang. Ia memperlihatkan ke wajahku bonekanya itu. Aku hanya ikut-ikutan tersenyum senang.
"Jadi, semuanya sudah siap?" tanya Dad.
Aku dan Sophie kompak menjawab, "Yeah!"
***
Lokasinya, cukup angker menurutku. Di kiri dan kanan rumah ini terdapat pohon beringin yang besar. Tapi di pohon beringin sebelah kanan, aku melihat ada rumah pohon di atas sana. Belum lagi, rumah yang dulu ditempati aunty Ze benar-benar di tengah hutan!
Aku tidak bisa membayangkan jika aku yang tinggal di sini ... pasti aku akan menjerit setiap hari. Pintu kayu rumah aunty Ze tampak sudah rusak dioyak. Aku yakin sepertinya ini perbuatan binatang buas yang mencoba mendobrak pintunya untuk masuk ketika aunty Ze sudah pergi. Aku juga melihat adanya obor yang menyala di samping kanan pintu itu.
"Mom dan Dad akan masuk lebih dulu," ucap Mo dengan semangat.
"Sebenarnya, untuk apa kita datang ke sini Mom?" tanyaku disetujui Sophie.
"Aunty Ze bilang, di rumahnya ada sekantung bibit bunga Edelweis dan Camelia. Itu bunga yang sangat langka, Mom ingin mengambilnya." Pantas saja. Mom berkata sembari tersenyum riang.
Lalu tiba-tiba Dad menimpali padahal kami tidak bertanya padanya. "Aunty Ze juga berkata ada kail pancing bagus di sini, jadi Dad ingin mengambilnya."
Aku baru tahu kalau ternyata ada yang mereka incar di sini.
"Lalu aku dan Sophie?"
"Oh! Sophie juga mau mencari boneka kayu buatan aunty Ze di sini. Ia meninggalkan beberapa barangnya di sini karna mobil tidak cukup untuk mengangkut semua barang koleksinya," ucap Sophie.
Astaga, ternyata mereka sudah
berencana. Lalu untuk apa aku di sini yang sama sekali tidak mengetahui rencana mereka bertiga?
"Ayo masuk!!" Mom membuka pintu dengan semangat.
Hingga akhirnya aku baru menyadari jika aku masih berada di luar sendiri.
"Mom! Dad! Sophie!" teriakku. Aku buru-buru mengikuti mereka masuk.
Tapi ketika aku melihat lebih jelas lagi pintu yang sudah teroyak-oyak itu, ada bekas lima cakaran sejajar. Tidak mungkin ulah harimau atau singa kan? Mereka hanya mempunyai tiga cakar saja.
Oh, iya! Aku lupa jika kemarin saja aku bisa menerawang Emerald. Itu pertama kalinya aku bisa menerawang, kali ini mungkin saja jika aku menerawang pintunya maka akan berhasil.
Aku menyentuh bekas cakaran itu, tiba-tiba aku merasa jika kepalaku memberat, lalu seperti ada serpihan-serpiha yang lama-lama menjadi satu dan menunjukkan sebua gambaran. Sepertinya, kemampuanku berhasil!
Aku melihat aunty Ze yang meringkik ketakutan di balik pintu, aku tidak tahu apa maksudnya dia ada di balik pintu. Namun aku juga melihat pintunya ada yang mendobrak-dobrak dengan keras. Semacam memaksa untuk pintunya dibuka. Tapi aunty Ze menahan pintu tersebut untuk tidak terbuka.
"Jangan sentuh aku!" seru aunty Ze ketakutan ketika pintu ternyata berhasil dibuka. Ajaib, padahal pintu itu sudah dikunci juga dengan aunty Ze.
"Kau telah mengetahui rahasiaku, sayang. Hanya ada dua pilihan, mati atau kau menjadi milikku." Pria itu menjilati leher aunty Ze.
Uh, seharusnya aku tidak melihat yang seperti itu.
"Kumohon maafkan aku ... aku akan pergi dan tidak akan membocorkan rahasiamu."
"Sebentar saja, ini tidak akan sakit." Lalu pria itu mengeluarkan taringnya yang tersembunyi. Mulai memggerayangi terlebih dulu leher jenjang milik aunty Ze. Lalu menggigit leher itu dengan taringnya.
"Akh! Le-lepaskan aku!" Kedua mata aunty Ze melebar, ia memukul-mukul pundak pria itu. Tapi kekuatannya lama kelamaan melemah. Pria itu membisiki sesuatu.
"Kalau begitu, pergilah dari sini."
Aunty Ze mengangguk lemah dengan matanya yang lama kelamaan tertutup. Aunty Ze tak sadarkan diri.
Uh, lagi-lagi aku merasa pusing dibagian kepala. Benar-benar menyiksa jika aku sedang menerawang. Untungnya masih bekerja. Tapi sekarang aku sudah mengetahui kenapa bisa ada lima goresan di sini, diperbuat oleh Vampir itu. Apa jangan-jangan ... aunty Ze pindah ke rumahnya yang baru itu karna disuruh oleh vampir pria yang tadi?
Kalau iya ... maka aku yakin sepertinya rumah ini ada yang mengawasi.
"Kak Vero?"
Eh? Saat aku ingin menghadap pada si pemilik suara yang tadi memanggilku, tubuhku malah jatuh tersungkur ke lantai kayu. Sepertinya ini efeknya, ketika aku selesai menerawang, aku seperti seorang yang sedang mabuk.
"Kak! Tidak apa-apa?" tanya Sophie.
"Ya, aku baik-baik saja," kataku. Sophie menghela napas lega.
Lalu tiba-tiba saja Sophie menyodorkan sebuah buku kepadaku. Terlihat seperti buku yang sudah usang dan lama. Tapi di tangan satunya ada boneka kayu yang lucu. Aku rasa boneka itu yang Sophie incar.
"Aku sudah menemukan boneka kayuku, sangat lucu! Tapi di bawah boneka kayu ini, aku melihat ada sebuah buku. Kupikir ini adalah buku novel. Kak Vero suka membaca novel kan? Coba lihat judulnya. Kalau tidak tertarik aku akan mengembalikannya lagi di tempatnya tadi."
Aku mengambil buku yang disodorkan Sophie, buku itu bersampul warna merah maroon. Judulnya adalah A Princess. Di bawahnya terdapat sebuah pita besar berwarna pink. Bukunya juga lumayan tebal. Aku iseng menarik pita itu hingga terlepas, ah ternyata di sana ada bacaannya lagi sangat kecil. with Vampire.
Huh? Jika disatukan dengan judul awalnya, maka menjadi a Princess with Vampire.
Aneh sekali judulnya.
"Tertarik?" tanya Sophie.
"Y-ya, nanti akan kakak bawa pulang buku ini."
"Baguslah."
"Kalian berdua, sudah selesaikah mencari benda incaran kalian di sini?" tanya Dad bersama kail pancing di tangannya.
"Ya!" jawabku serentak dengan Sophie. Kupegang erat buku yang tadi diberikan Sophie, rasanya aku tak sabar ingin membaca isinya. Buku ini seperti buku sebuah rahasia.
"Bagus, kalau begitu ayo kita pergi piknik!" seru Mom yang berdiri di samping Dad. Mom juga membawa sekantung plaatik di tangannya, yang aku yakini isinya adalah bibit bunga yang Mom incar tadi.