
Arlie mengusap darah dari bibirnya yang tadi bercecer keluar. Barusan gadis itu terlempar dari kejauhan lima meter. Dadanya seketika menjadi sesak, namun penderitaannya belum cukup sampai di sana. Dagunya diangkat, menghadap langsung pada wajah wanita yang bertudung besar. Mata wanita tersebut berwarna ungu kehitaman. Tubuh Arlie mulai bergetar, bibirnya membuat guyonan yang tidak jelas.
"Ada di pihak mana kau sebenarnya?" tanya wanita itu dengan pandangan matanya yang menusuk. Mulut Arlie hendak mengucapkan sesuatu, dengan terbata-bata.
"A ... aku ti-tidak tahu," jawab Arlie dengan susah payah. Baju seragamnya telah kotor, lengan dan kakinya juga penuh dengan luka.
"Pengkhianat!" teriak wanita itu sembari melempar wajah Arlie.
Sedangkan Arlie merasa kalau tulang bagian lehernya patah. Karna wajahnya dihempaskan dengan kasar. Aura hitam mengelilingi sekujur tubuh wanita tadi. Amarahnya terpancing, menurut Arlie ini adalah saat yang tepat. Gadis itu mengumpulkan seluruh tenaganya dengan cepat, perlu waktu beberapa menit untuk wanita itu mengeluarkan tenaga dalamnya.
Arlie mengeluarkan sebilah pisau dari balik bajunya yang tersembunyi, gadis itu tidak sedang mengenakan baju zirah. Jadi ini sedikit berisiko bahkan mengambil nyawanya.
"Karna kamu memaksaku untuk berada di pihakmu!!" seru Arlie sambil berlari menghampiri, pisaunya ia angkat tinggi-tinggi.
Arlie berhasil menumbangkan wanita penyihir itu hingga tubuhnya jatuh ke tanah. Wanita itu tak bereaksi sama sekali. Arlie menindihnya dengan pisau yang masih diangkat tinggi-tinggi.
"Rose Merry ... itu nama panjangmu yang selama ini disembunyikan, bukan? Maka saat aku berhasil membunuhmu, aku akan langsung membeberkan semua rahasiamu pada...."
"Arlie!" panggil suara yang tidak asing dipendengaran Arlie. Gadis itu menengok ke samping, perhatiannya teralihkan. Di pinggir sana tiba-tiba berdiri Veronica dengan matanya yang berlinang air mata. "Kenapa kamu ... begitu jahat padaku?"
Pandangan mata Arlie melesu. Gadis itu menurunkan pisaunya, mulutnya menggumamkan sesuatu, "Vero, kenapa kamu ... ada di sini?"
Veronica tidak menanggapi Arlie. Gadis itu terdiam kaku di tempatnya sembari menangis, namun Arlie spontan merasakan hal lain. Seperti ada yang meremukkan jantungnya, saluran pernapasannya terhambat. Arlie kembali menatap Rose yang tiba-tiba sudah menancapkan belati di dada Arlie. Belati yang seharusnya ... menancap di dada Rose kini berpindah. Sudut mulut Arlie kembali mengeluarkan darah.
Hidungnya juga langsung mengalami mimisan. Beberapa menit tubuh Arlie terasa kaku, gadis itu susah payah menengok ke samping. Ke tempat terakhir Veronica berdiri, tapi gadis keturunan putri bangsawan itu sudah tidak ada di sana.
"Itu hanya ilusi, sayang," ucap Rose sembari mendorong tubuh Arlie ambruk ke belakang.
Si-sial, gumam Arlie dalam hatinya. Namun tak lama langit berubah menjadi gelap pekat, dicampur dengan suara petir yang menggelegar. Namun tidak turun hujan sama sekali. Rose menengadahkan wajahnya ke langit, mulutnya berguyon sebuah mantra yang Arlie tidak ketahui.
"Begini cara penyihir mengakhiri nyawa musuhnya," ucap Rose lagi. Rose benar-benar berhati iblis, wanita itu menghilang dengan sekejap. Bersamaan dengan tubuh Arlie yang tiba-tiba dihantam oleh petir dengan sadis.
DUAARRRR
Arlie tak dapat berbuat apa-apa lagi.
***
"Aray, kenapa langit tiba-tiba menjadi sangat gelap?" tanya Vero dalam gendongan Aray.
Aray nampak sangat kelelahan, sudah satu jam dirinya menggendong Vero yang kakinya keseleo. Tapi ini semua karna kesalahannya membiarkan Vero lompat sendiri dari tebing. Lelaki itu lupa kalau Vero bukan vampire, untungnya Vero terjatuh di atasnya. Membuat Vero tidak cedera terlalu serius, namun mampu membuat kondisi awkward saat itu.
Sedaritadi Aray mengabaikan pertanyaan Vero. Veronica hanya menghembuskan napasnya dibalik punggung Aray dengan kesal. Tak lama ada suara menggelegar dari sekumpulan petir. Aray merasa kalau Vero mengencangkan pelukannya. Rupanya gadis itu takut pada petir.
"Aray, turunkan aku!" perintah Vero. Aray menurunkannya dengan sukarela. Walau Aray tahu Vero masih jalan terpincang-pincang, Aray tidak mau menampakkan dengan jelas ekspresi khawatirnya.
Kini gantian Vero memimpin jalan di depan, langkahnya sangat lambat. Aray hanya memperhatikannya dari belakang.
Dia lucu juga, kata Aray lagi-lagi bergumam dalam batinnya.
Namun tiba-tiba Aray melihat Vero berhenti dari jalannya. Gadis itu berbalik dengan ekspresi paniknya, Vero berjalan dengan terburu-buru menghampiri Aray. Namun gadis itu lupa kalau kakinya sedang sakit, suatu hal yang tak diinginkan terjadi pada Veronica. Gadis itu hampir jatuh tersungkur ke tanah, namun Vero merasa kalau ada yang menarik tubuhnya untuk mencegah.
Vero perlahan membuka matanya, dia melihat adanya wajah tampan Aray yang kelelahan sekaligus khawatir yang tersirat. Dari dagunya jatuh satu butir keringat, sepertinya karna Vero yang tadi sudah menyusahkannya.
Mereka saling tatap menatap, namun Veronica seketika langsung melepaskan pegangan Aray. Gadis itu menahan malunya, wajahnya tidak ingin berhadapan langsung dengan Aray. Veronica melipat kedua tangannya di dada.
"Jangan mencari kesempatan padaku."
Aray yang tadi hampir terpesona menjadi kesal karna ucapan Vero yang terdengar menyebalkan.
"Siapa yang mencari-cari kesempatan? Bukankah itu kamu yang sengaja menjatuhkan dirimu?" Aray membalas tak kalah dari Veronica.
Veronica yang mendengarnya sudah pasti merasakan telinganya memanas. Gadis itu berbalik dengan tatapan matanya yang tak kalah sengit, "Hei, aku tidak berbuat yang seperti itu!"
"Oh ya?" Aray mengangkat dagu Veronica tanpa seizinnya. "Lalu, apa yang kamu mau dariku?"
Veronica membuang muka. Pipinya menggembung dengan kesal. Aray selalu saja yang memenangkan segalanya, lain kali Veronica harus berhati-hati jika berhadapan dengannya.
"Aku tidak mau apapun darimu! Tapi tadi ... aku melihat ada orang yang berbaring lemah di sana!" tunjuk Veronica pada tempat yang tadi ia lihat. Aray menarik lengan Veronica untuk berjalan cepat, gadis itu menggerutu sembari menahan sakit di pergelangan kakinya.
"Hei, pelan-pelan!" gerutu Veronica. Namun matanya malah menangkap sosok tubuh yang tak asing terbujur kaku di hadapannya.
Tubuh Veronica langsung bergetar, Aray hanya diam tak menunjukkan ekspresi sebenarnya.
"Bukankah dia ... Rose?" tanya Veronica dengan bibirnya yang bergetar. Tubuhnya tak sadar sudah ambruk jatuh ke tanah.
***
Jangan lupa follow:
Instagram: @hafnizrl_
twitter: @hafnizrl
*******: @thisAnneRose