It's Vampire!

It's Vampire!
Pemburu



 


Sangat tidak bagus. Mood Aray menjadi jelek ketika suara langkah kaki yang banyak itu terdengar berlari dan tergesa-gesa. Masih ada sedikit darah yang mengalir dari leher Veronica. Gadis itu mati-matian menahan rasa sakitnya.


 


Tetapi ia tahu, rasa sakit yang kali ini tak sesakit saat Aray pertama kali mengigitnya. Saat itu, Veronica merasa hampir mati. Tubuhnya membeku dan mengejang, dia seakan tak ada daya dan menurut ketika Aray menyuruhnya diam. Veronica itu bukan tipe gadis yang mudah mengeluarkan keluh kesahnya.


"Ayo, kita harus segera pergi dari sini." Aray menarik tubuhnya untuk menjauh. Ini bukan suara langkah kaki dari manusia biasa, tetapi dari sekawanan bangsa vampire lain. Vampire asli.


Aray dapat menciumnya. Sekarang lelaki itu harus mendapatkan cara agar Veronica tidak terlalu menyengat bagi mereka.


"Kita pergi ke mana?"


"Lihat, ada manusia di sana!"


Deg.


Detak jantung Veronica tiba-tiba menjadi lebih cepat. Aray juga merasakan hal sama, Veronica itu hanya miliknya. Tidak boleh ada siapa pun lagi yang mencicipinya. Lelaki itu tak kehabisan akal, dia membawa Veronica berlari pergi dan berbelok.


"Cepat, kejar! Masih tersisa manusia di sini, gadis itu!"


Napas Vero memburu, dia sudah tidak kuat lagi untuk berlari. Namun orang-- ralat, para vampire yang mengejarnya tidak mau berhenti.


"Para vampire tidak mengenal lelah mengejar mangsanya," ucap Aray tiba-tiba. Mereka masih berlari bersama, namun di depannya terdapat tembok yang menghalangi.


Ekspresi wajah Veronica berubah panik dan pucat pasi. Masalahnya, dia tidak ingin tertangkap oleh para vampire itu.


Aray menyentuh bagian lehernya, memberikan kesan geli namun Veronica tahan dalam hatinya. Entah apa yang sedang dilakukan lelaki itu sekarang.


"Aray, ini bagaima--"


"Cepat naik! Kita harus melewati dinding ini."


Ragu-ragu, Veronica menginjak kedua tangan Aray yang bersatu itu. Dia ingat masih mengenakan rok. Veronica menatap tajam dirinya. "Jangan mengintip!"


"Cepat atau kau bisa mati oleh para vampire buas itu."


Rasa berdebar ini seakan menambah sensasi. Baru sekarang Aray sadar kalau tubuh Veronica berat sekali. Kalau bukan karena darurat atau terpaksa, dia pasti tidak akan melakukan ini.


"Aray, aku sudah tiba di atas!" seru Veronica, gadis itu duduk tepat di atas dindingnya sekarang.


"Loncatlah dan menjauh sejauh mungkin. Kemudian jangan dengarkan suara apa pun, dan tunggu aku. Aku akan segera ke sana."


Veronica tak berkata apa-apa. Sekarang bagaimana ia harus meloncat? Yang dilihatnya banyak sekali pohon dengan daun kuning serta semak-semak kering. Apakah ini musim gugur?


Yang benar saja, lagipula mereka baru saja melewati hutan musim semi. Tidak mungkin perubahannya langsung secepat itu.


Dengan mengeluarkan segala sisa-sisa tenaga Veronica, tangannya tadi sudah bergetar ketakutan. Bahkan tubuhnya hampir keringat dingin, Veronica sendiri tidak tahu apakah Aray juga merasakan perubahan suhu pada dirinya atau tidak.


Tepat ketika Veronica baru saja meloncat, suara gedebum kencang tiba-tiba berbunyi begitu keras beserta dentumannya. Membuat tubuh Veronica terlempar dan mengejang.


"Argh!" pekik Veronica mendengar suara itu sebelum alam bawah sadar memanggilnya.


Maaf, Aray ... aku terlambat dan ceroboh, gumam Vero dalam hati. detik berikutnya, Veronica menutup mata dan tak sadarkan diri.