It's Vampire!

It's Vampire!
-Q-



"Aw, Pelan-pelan!"


Cih, dia pasti berbohong dengan sakitnya. Gumam Gerry dalam hati. Kalau saja bukan perintah dari Aray, si adik kelasnya yang menyebalkan dan bermulut cerewet, Gerry sudah pasti tidak mau merawat gadis gila bin aneh ini. Siapa lagi kalau bukan Veronica?


Sebenarnya, mereka bukan tanpa alasan membawa (ralat: menculik) Veronica datang ke sini secara paksa. Dikarenakan Veronica adalah putri dari kerajaan Bangsawan yang menghilang, kerajaan Dalton, maka mereka punya niat dan memanfaatkan situasi tersebut. Veronica dibawa ke sini adalah persiapan yang sudah mereka siapkan secara masak.


Mereka punya rencana sendiri-sendiri, punya kisah hidup sendiri-sendiri. Tapi Gerry, Aray, dan Elias bersatu demi kepentingan kelancaran rencana pribadi mereka. Mengingat soal rencana, Gerry teringat dengan sekeping memori masa lalunya waktu itu. Sebelum kerajaan Dalton menghilang. Dan sebelum para penyihir yang pengecut itu melarikan diri lalu bersembunyi, sedangkan para vampire tidak tahu lari ke mana dan yang tersisa vampir di sini hanyalah vampir setengah manusia yang keluarganya sudah lebih dulu dikutuk oleh penyihir.


.


.


'Di ujung nestapa, biasanya kamu akan dapat kebahagian setelahnya'


Kata-kata itu, yang dulu pernah terucap dari mulut Ayahnya sebelum meninggalkan dunia terus terngiang-ngiang dalam pikiran Gerry.


"Ayah..." lirih Gerry sewaktu kecil. Lelaki itu berusaha meraih lengan Ayahnya yang tubuhnya lama-kelamaan memudar dilahap cahaya.


"Jaga dirimu, Gerry. Maafkan Ayah."


Tak lama sinar cahaya terasa begitu terang, Gerry sampai tak sanggup untuk melihatnya. Lelaki itu menutup mata, namun ketika Gerry kembali membuka mata, Ayahnya sudah tidak ada di hadapannya. Saat itu Gerry berpikir kalau Ayahnya benar-benar sudah tiada.


Luka di hatinya kembali membuka, pertama Gerry pernah melihat Ibunya yang mati karna serangan vampire jahat. Itu terjadi sekitar dua tahun yang lalu. Butuh waktu lama Gerry berkabung waktu itu. Hingga Ayahnya terus membujuk Gerry, dan berjanji mereka akan selamanya terus bersama. Namun hari ini, Ayahnya meninggalkan Gerry. Dia juga meninggalkan janji yang pernah mereka buat. Gerry merasa sendiri ...


Alasan Ayahnya meninggalkannya adalah karna dia terkena kutukan oleh penyihir. Untuk menghentikan kutukan itu pada keturunannya, Ayahnya melakukan ritual terlarang yang dapat mengambil nyawanya tapi setelah itu kutukannya tak lagi berlaku pada keturunan selanjutnya.


Hari-harinya Gerry merasa sendiri. Saat itu dia hanyalah rakyat biasa di desanya. Apalagi sewaktu perang antara klan bangsawan, vampire dan penyihir benar-benar berdampak sangat buruk pada rakyat. Banyak rakyat yang mengalami kelaparan di mana-mana. Sedangkan Gerry, lelaki itu hanya sendiri di sini. Tidak ada Ayah, Ibu, saudara ataupun keluarga. Dia benar-benar kesepian. Hingga Gerry memulai hidupnya dari awal. Dia mulai belajar memburu berkat seorang kakek tukang kayu dipinggir hutan. Tak hanya itu, padanya Gerry merasa kembali menemukan sosok seorang Ayah yang menyayanginya dan mengajarinya untuk bertahan hidup.


Namun ketika suatu waktu Gerry sedang iseng berjalan-jalan di hutan, lelaki itu melihat seorang berkuda menembus hutan yang rimbun. Gerry benar-benar tak menyangka kalau ternyata seorang yang menunggang itu bahkan lebih muda darinya. Dia ... Aray. Kedatangan Aray juga mengubah segala kehidupan Gerry. Aray mengulurkan tangannya, detik itu mereka menjadi seorang teman.


Tak lama, Gerry dapat kabar kalau kakek tua yang kesehariannya hanya menjual kayu itu ternyata sudah tiada karna diserang oleh bangsa penyihir. Walaupun Gerry sempat merasa sedih, tapi kali ini ia tidak terlalu kesepian berkat kedatangan Aray. Lalu mereka berdua membuat janji, saat itu Aray mengeluarkan benda yang ternyata selama ini ia sembunyikan. Jam waktu untuk ke masa depan. Gerry pikir, dia harus membalas budinya pada Aray karna dia telah menolongnya saat kesulitan. Jadi dia mengikuti apa yang Aray mau, mereka tidak menyangka jika mereka terlempar ke abad yang sangat jauh dari abadnya dulu. Mereka terlempar di abad ini. Aray juga pernah mengatakan pada Gerry, sebenarnya ada dua jenis jam. Jam waktu masa depan dan masa lalu, tapi yang Aray punya waktu itu hanya jam waktu masa depan. Ada seseorang yang menculik jam waktu masa lalu. Gerry juga tak banyak bertanya dari mana Aray bisa mendapatkan jam waktu itu.


Tapi ketika mereka datang ke masa kini, tak menyangka jika mereka berdua bertemu dengan Elias yang saat itu keadaannya sangat tidak menahan diri sedang menghisap darah seorang wanita hingga mati. Cara Elias membunuhnya benar-benar kejam dan brutal, Gerry menyadari kalau Elias adalah vampire. Lelaki itu menghajarnya hingga babak belur. Tapi saat dilawan Gerry, Elias malah diam tak berkata apa-apa. Keadaan Elias juga dilihat-lihat sangat mengenaskan.


Gerry melihat pamdangan Elias yang menyedihkan juga kesepian, saat itulah diulurkan tangan mereka pada Elias dan mereka menjadi sahabat hingga sekarang.


.


.


"Kakak?"


Gerry tersadar dari lamunannya. Sepertinya ... dia terlalu lama mengingat tentang masa lalunya dulu.


Aneh sekali dia, gumam Veronica dalam hatinya. Veronica juga menyadari sikap Gerry yang tiba-tiba jadi pendiam. Sebenarnya, saat Gerry melamun tadi dia sempat hampir salah memegang anggota tubuhnya. Bukannya tangan yang harus diobati, arah tangan Gerry waktu itu malah hampir mengenai payudaranya, tapi tanpa suara Veronica terkejut dan langsung mengarahkan lengan Gerry ke tangannya. Veronica tahu, saat itu Gerry sedang tak sadar melakukannya.


Lama kemudian, Gerry merapikan kembali alat-alat yang tadi digunakan untuk mengobati Veronica.


"Apa kamu bisa tinggal di sini bersama kami?" Gerry tidak mungkin lupa dengan rencana bersama teman-temannya. Sebenarnya, mereka semua tahu kalau Veronica adalah putri dari anak bangsawan yang menghilang abad lalu. Tak memyangkan mereka bertemu dengan putri yang hilang itu pada abad ini.


"Eh? Ta-tapi aku ..."


"Tapi?"


"Tapi aku mempunyai seorang Ibu yang bisa mengkhawatirkanku jika aku tidak pulang."


Gerry terdiam saat itu juga. Ibu? Lagi-lagi sosok itu. Padahal Gerry sudah hampir tidak memikirkannya lagi, tapi ucapan Veronica seakan melemparnya kembali pada dirinya yang dulu. Tanpa mengucap apapun lagi, Gerry langsung berjalan pergi keluar ruangan meninggalkan Veronica sendiri di dalamnya.


Lagi-lagi Veronica dibuat bingung atas tingkah kakak kelasnya itu yang moody. Gerry sangat moody bin aneh.


Krek.


Pintu dibuka sedikit, yang menampakkan bayangan seseorang sebelum orang itu masuk.


"Jadi, sudah selesai diobati?" tanya lelaki itu, Aray. Dia datang menyilangkan tangan di depan dadanya. Pandangannya menghadap lurus pada Veronica yang kini sudah layak kembali menjadi manusia. Tidak seperti beberpaa menit yang lalu Veronica datang dengan keadaan yang berantakan dan mengenaskan.


"Ya, seperti apa yang kamu lihat sekarang," jawab Veronica ingin nampak angkuh. Cowok itu hanyalah sosok memyebalkan bagi Vero.


Tahu-tahu Aray sudah duduk persis di samping Vero. Membuat gadis itu refleks agak menjauhkan dirinya dengan Aray. Lelaki itu melihat luka yang diperban di kaki Vero, rambutnya juga tidak acak-acakan lagi. Tapi ada satu yang tiba-tiba mengganggu penglihatan Aray.


Bibir Veronica yang ranum berwarna merah muda itu...


"Aray, kamu ngapain sih? Keluar dari sini jika kamu tidak punya keperluan," ucap Veronica dengan tatapan mulai menajam.


"Siapa kamu menyuruhku keluar dari sini? Ini kan ... mansion milikku dan kedua temanku."


Menurut Veronica, Aray terlalu sombong hari ini. Tanpa disadari, entah sejak detik ke berapa Aray sudah menempelkan bibirnya pada bibir Veronica. Tubuh Veronica langsung membeku seperti batu. Dia tak percaya dengan apa yang dilakukan Aray padanya. Lagipula ini ... ciuman pertamanya diambil oleh Aray! Veronica tak menyangka jika ciumannya dicuri oleh lelaki menyebalkan bernama Aray.


Veronica belum pernah mendapatkan pengalaman ini sebelumnya, detak jantungnya berubah menjadi irama yang tak beraturan.


"Aray kamu-"


"Kenapa? Aku hanya melanjutkan ciuman kita yang sempat tertunda waktu di tempat piknik." Aray menjawabnya disela-sela ciuman mereka.


Aray masih belum mau melepaskannya, lelaki itu menggigit bibir bawah Veronica, gadis itu refleks membuka mulutnya. Aray tentu tak menyia-nyiakan kesempatan bagusnya. Lidahnya langsung menerobos masuk dan mengabsen serta mengeceknya satu persatu. Irama jantung Veronica berubah menjadi irama yang naik-turun. Ini tidak bisa dibendung lagi, satu bulir air mata turun dari mat Veronica. Gadis itu benar-benar marah dengan yang dilakukan oleh Aray.


Lelaki itu tak hanya menciumi bibirnya, dia turun pada leher jenjang milik Veronica. Aray seakan lepas kendali, tak bisa mengontrol dirinya lagi. Aray menjilati area itu, kemudian dia mengeluarkan sebuah taring yang selama ini ia sembunyikan pada orang-orang. Sudah lama Aray tak merasakan hangatnya darah manusia. Kali ini ia ingin melakukannya, baru saja Aray menempelkan ujung taringnya yang runcing pada leher Veronica, mereka berdua mendengar suara gedebum yang kencang dari pintu.


"Kau tidak bisa mengontrol dirimu, Aray!" teriak Elias. Lelaki itu mengepalkan tangannya setelah meninju Aray lumayan keras.


Veronica tak sengaja melihat gigi Aray yang bertaring runcing ... jangan-jangan, Aray adalah ... Vampire?


Veronica benar-benar tak percaya.


"Veronica, untuk menghindari sesuatu buruk terjadi padamu lebih baik kamu pergi dari mansion ini."


Benar-benar aneh. Beberapa menit yang lalu Gerry menyuruhnya untuk tinggal di sini, tapi sekarang Elias menyuruhnya untuk pergi dari sini. Tapi Veronica rasa, ini jalan yang baik untuknya. Gadis itu melangkah cepat keluar dari rumah ini.


Veronica benar-benar masih marah atas kelakuan tidak sopan yang Aray berikan untuknya. Veronica tak lagi mau peduli, dia berjalan sembari menghentak-hentakkan kakinya ke tanah. Kesialan apalagi yang akan didapat dirinya hari ini?


"Veronica!"


Suara tersebut terdengar seperti suara perempuan. Jadi tidak ada alasan Veronica untuk tidak menengok ke belakang. Di sana Arlie berlari menghampirinya, tentu saja dengan tas di pundaknya sehabis pulang sekolah. Sedangkan Veronica lupa kalau barang-barangnya masih tertinggal di mansion itu. Baru sekarang ... Arlie datang? Itu benar-benar terlambat.


"Aku mendengar kabar tentangmu. Pertama, kamu diseret oleh orang yang paling disorot di sekolah. Kedua, kamu dapat hukuman dari pak Bronto lalu dibully di kamar mandi oleh geng Ariana. Ketiga, kamu dibawa pergi oleh Elias. Benar kan?!"


Veronica tidak tahu orang mana yang memberitahu Arlie hingga ia bisa lengkap mengingat semua kesialannya hari ini. Tapi yang sangat disayangkan, dari semua kejadian itu tidak ada satupun Arlie membantunya. Dan sepertinya, Arlie belum tahu kesialan keempat yang didapat Veronica. Yaitu dia dicium oleh si brengsek Aray. Argh! Veronica akan menggosok bibirnya nanti.


"Kamu datangnya terlambat banget, Arlie!" kesal Veronica. Arlie menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Sebenarnya, aku juga sedang menjalankan hukuman dari wali kelasku karna tak mengerjakan PR."


Huh, ternyata Arlie sama saja dengannya.


"Tapi, kusarankan agar kau menjauhi kedua lelaki itu," lanjut Arlie.


"Kedua lelaki ... siapa?"


"Aray dan Elias," jawab Arlie dengan serius. Tanpa disuruh pun, Veronica sudah pasti akan menjauhi mereka termasuk kak Gerry.


"Ya, aku tahu." Veronica tampak tak tertarik lagi, gadis itu berjalan menjauhi Arlie.


"Kamu mau ke mana?"


"Tentu saja aku mau pulang, Arlie."


"Ooh, baiklah."


Selepas kepergian Veronica yang sudah lumayan jauh, Arlie baru teringat sesuatu.


"Veronica! Aku kan disuruh Ibumu untuk menjemputmu pulang!" teriak Arlie. Sayangnya, sepertinya Veronica tak mendengar ucapan Arlie karna sudah berjalan terlalu jauh.


***


Tin... tin...


"Mom!" ucap Veronica senang. Tentu saja ia mengenali suara klakson mobil itu.


Mom membuka kaca jendela mobilnya, ia melambaikan tangan pada Veronica. Veronica kira, Mom datang untuk menjemputnya.


"Kenapa kamu berjalan kaki? Ayo cepat masuk ke dalam mobil."


Veronica mengikuti perintah Mom, gadis itu langsung menaiki mobilnya. Ternyata, di dalam ada banyak paperbag di kursi penumpang. Veronica menyingkirkannya sedikit untuk ia bisa duduk. Jarang-jarang Veronica melihat Mom-nya habis belanja gila-gilaan seperti ini.


"Tadinya, Mom habis belanja ke supermarket. Tapi ingin melewati sekolahmu, ternyata insting Mom benar ya? Ke mana Arlie yang Mom suruh untuk menjemputmu?"


Aku jawab iya atau tidak ya? gumam Veronica dalam hati. Tapi gadis itu tidak mau mengotori mulutnya dengan berkata bohong 'tidak' jadi dia hanya menggelengkan kepala.


Sesaat kemudian suasana seakan canggung. Veronica langsung teringat dengan ucapan Mom-nya yang mengatakan kalau vampire itu tidak ada. Tapi apa yang tadi dia lihat? Vampire itu benar-benar ada ... Aray salah satu contohnya. Juga, waktu Veronica menerawang pintu rumah kayu aunty Ze. Sekarang Veronica sudah sepenuhnya percaya dengan vampire. Gadis itu berpikir kalau besok dia akan pindah tempat duduk untuk menjauh dari Aray.


"Ah, iya. Tadi Mom sempat pergi ke toko butik. Di sana Mom mendapat gaun bagus yang pemiliknya bilang gaun itu adalah edisi terbatas, jadi Mom membelinya untukmu. Mau lihat? Ada di paperbag yang warna biru itu," kata Mom panjang lebar.


Veronica melihat ke sampingnya, dari semua paperbag berwarna coklat, memang ada yang berwarna biru sendiri. Sepertinya paperbag itu yang berisi gaun untuknya.


"Nanti saja di rumah," jawab Veronica. "Mom, apa kamu punya kaca?"


Beberapa detik kemudian, Mom langsung memberikan Veronica sebuah kaca. Gadis itu menunjukkan pada dirinya. Benar saja, di sana ia melihat ada bekas dua titik yang tak dalam. Tapi mengeluarkan sedikit darah. Veronica mengelapnya dengan bajunya. Benar-benar menyebalkan! Dia sangat takut kalau luka itu tidak hilang besok. Bagaimana jika ada yang menanyakannya?


"Mom, apa ada syal?" ucap Vero.


"Untuk apa?"


"Aku merasa ... kedingin." Tentu saja Veronica berbohong.


"Cari saja diantara paperbag itu."


Veronica langsung mencarinya. Untung saja, syalnya ketemu di paperbag warna coklat dengan totol-totol putih4. Di sana ada banyak syal yang baru dibeli. Veronica langsung mengenakannya di lehernya. Kalau saja tadi Aray memperdalam gigitannya, sudah pasti nanti akan-


Argh! Veronica memikirkan hal gila. Cewek itu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Benar-benar sakit jiwa," gumam Veronica dalam hatinya.