
Sekitar setahun yang lalu, pernah ada peperangan antar kerajaan. Pembawa kehancuran yang menyebabkan sebagian hutan menjadi terluka permanen.
Retak.
Tidak ada lagi yang namanya 'raja' yang berhak menguasai. Banyak beberapa orang bertindak semaunya. Hingga Rose, si penyihir yang dijuluki terkuat itu, mengatakan kalau satu-satunya cara agar semua kembali tenang tanpa kekhawatiran adalah dengan ... membunuh sang putri dari kerajaan lain yang waktu itu ingin menikah dengan pangeran Hazel.
Banyak orang-orang berpendapat kalau hal itu sia-sia. Karena, Catherine sendiri sudah meninggal pada pesta pernikahannya sendiri akibat serangan ganas dari vampire liar yang tiba-tiba masuk. Hingga akhirnya Rose kembali bersuara kalau ... Catherine bisa jadi bereinkarnasi ke dunia masa depan yang jauh dari sini.
Dari situlah, semuanya bermula. Dari situlah, jam waktu masa depan dan masa lalu tercipta. Berkat kekuatan sihir Rose.
Rose hanya ingin dipuji. Pendapatnya yang mengatakan kalau kekacauan akan segera berakhir dengan cara membunuh ulang Catherine itu sebenarnya terdapat tujuan. Jika Rose bisa membunuh Catherine kembali, maka kekuatannya, sihirnya, ... akan meningkat sangat pesat. Ditambah, jika Rose berhasil membunuh Catherine di depan para iblis.
Mereka akan sangat bahagia. Dan Rose tentu saja akan ... mendapat banyak sekali ganjarannya dan tidak akan terkalahkan. Dibalik jubahnya, penyihir itu membentuk senyuman miring. Senyum licik dengan pandangan kosong sembari mengamati dari jauh Veronica dengan Aray yang berjalan santai.
"Aku mendapatkannya dan selalu mengawasinya, dia sudah masuk ke sini. Kau tenang saja, Luke. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi," gumamnya sebelum menghilang.
***
"AAARRRGGGHHH!"
Ia langsung membuka mata, napasnya terlihat memburu, kacau dan tak beraturan.
Dadanya bergemuruh naik-turun. Langit-langit cokelat bercampur hitam yang sangat menjijikan waktu itu sudah tiada, digantikan dengan atap putih bersih dengan lampu yang menyala terang di tengah-tengahnya.
"A-aku ... di mana?" gumamnya pelan. Tangan kanan cowok itu meraba bagian letak jantungnya, baik-baik saja. Padahal sebelumnya dia merasakan sangat nyata kalau jantungnya ditikam. "Apakah di dunia akhirat?"
Lelaki itu kembali memejamkan mata, masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Jari telunjuk dan jempolnya ia gunakan untuk memijit pelan hidung bagian atasnya, tepat di tengah-tengah.
Samar-samar, suara bising mengganggu pendengarannya. Membuat lelaki itu terpaksa kembali membuka mata dan mulai memasang telinga.
"Ini semua salahmu."
Teriakan lain dari luar ruangan terdengar jelas. "Kenapa jadi aku?"
"Anak kita tidak akan seperti itu kalau saja kamu--"
"A-yah? Ibu?"
Bukankah keluarga itu sebagai anggota yang selalu ada? Bukan anggota yang saling membenci dan menyakiti.
Contohnya adalah keluarganya. Darrel tahu kalau kedua orang tuanya itu menikah tanpa cinta. Tetapi ... tidak bisakah mereka akrab sekali saja untuk anaknya?
"Darrel, kamu ..."
Darrel berjalan mundur. Dia baru menyadari saat bangun tadi, ada selang infus yang mengalir. Menyebabkan Darrel sedikit kesulitan menggerakan tubuhnya, jadi harus membawa infus itu ke mana-mana. Ini kamar VIP. Pantas saja tadi Darrel sendiri.
Cowok itu menatap kosong ke pemandangan di depannya saat baru saja tiba, Ibu yang hampir menampar Ayahnya tadi. Apa-apaan ini?
Darrel mendecak marah. "Ibu, jangan sentuh aku. Aku mau masuk, kuharap tidak ada yang menggangguku."
Lelaki itu masuk menutup pintunya.
"Darrel! Ibu menyayangimu. A-astaga ..." teriak Ibunya dari luar. Mereka berdua hanya bisa terkejut, tak menyangka jika Darrel telah sadar dari komanya. Namun harus menahan perih ketika Darrel memilih untuk tidak ingin diganggu.
Bolehkah sekali saja, Darrel tidak mrngabaikan mereka?
Di dalam, Darrel sendiri mati-matian terhadap tubuhnya sendiri. Pokoknya dia harus segera mencapai kasur. Namun tubuhnya tak bisa mengajak kompromi. Dia sok kuat. Padahal tulang-tulangnya seakan hampir remuk ketika baru saja menurunkan kaki.
"Argh!" Darrel menahan teriakannya ketika cowok itu jatuh tersungkur, dia takut kalau kedua orang tuanya di luar akan menerobos masuk dan mengacaukannya.
Namun rasa sakit itu kini tersingkirkan terlebih dulu, ketika mata Darrel menangkap sebuah arloji kuno yang terlihat dari emas asli. Mengapa benda itu bisa ada di kolong
kasurnya secara tiba-tiba?
Tangannya meraih dan menangkapnya.
"The Future," gumam Darrel ketika membaca deretan huruf pada arlojinya. Dalam seketika, matanya membulat.
Darrel baru menyadari sesuatu. Apakah ini ... jam yang bisa membawa ke masa depan itu?
Lalu, apakah orang-orang --yang terkhusus seluruh teman-teman sekolahya-- masih terjebak di sana? Atau semuanya hanya khayalan?
Tidak, Darrel harus mulai mencari tahu. Yang pertama, apakah sekolahnya benar-benar lenyap?