It's Vampire!

It's Vampire!
-Truth-



  Hembusan angin yang menerpa pelan mengenai tubuhnya, membuat Veronica tersadar dari tidurnya. Langsung bangun dengan keadaan terduduk di hamparan padang rerumputan hijau yang membentang luas. Juga banyak pohon bunga lavender di mana-mana. Dalam hati Veronica bertanya-tanya, tidak ada lagi kasur empuknya yang mahal seperti di kamarnya. Bahkan Veronica sendiri tidak tahu di mana ia sekarang. Terakhir kali Veronica ingat adalah dirinya yang tertidur nyaman di atas kasur. Tidak ada lagi hawa dingin akibat AC yang seingatnya tadi ia nyalakan sebelum tidur. Masih tak percaya, Veronica mencubit sendiri bagian lengannya dengan keras, sangat berharap kalau kejadian ini hanyalah mimpi.


Tapi tak sesuai harapannya, cubitannya tadi malah membuat lengannya sakit dan meringis. Kalau sakit, sudah pasti ini bukan ... mimpi. Magis, Veronica yakin kalau ini adalah magis. Tidak mungkin dirinya tiba-tiba hadir di sini secara misterius.


"Veronica, temui aku."


Bisikkan halus yang menggema membuat Veronica mengerjap dan langsung waspada. Bulu-bulu halus di kulitnya mulai meremang dan tubuhnya bergetar, Bahkan matanya terus berpencar untuk mengetahui asal suara tersebut.


"Veronica, ini aku."


Lagi-lagi suara asing itu benar-benar mengganggu Veronica. Sebenarnya, dia juga tidak cukup berani. Veronica sendiri tidak yakin dirinya tengah berada di planet mana.


"Kamu ... jangan bersembunyi seperti itu!" teriak Vero. Napasnya tercekat ketika ia mengucapkan kata-kata tadi, dia menggunakan cukup banyak kekuatan untuk berbicara.


"Vero, aku di sini."


Veronica langsung berbalik dengan cekatan, matanya melebar ketika ia melihat pemandangan tersebut. Seorang wanita anggun bergaun putih bersih, dengan rangkaian bunga di sekitar pinggang gaunnya yang cantik. Tak lupa ada mahkota di atas kepalanya, rambutnya digerai panjang ke belakang. Wanita itu tersenyum lebar ketika menatap Veronica, gadis itu masih melongo tak percaya. Tapi ada salah satu bagian dari anggota tubuh wanita ini yang merebut perhatian Veronica.


Matanya ... berwarna emas dengan ada corak berbentuk bunga di dalamnya. Sama seperti milik Veronica, seingatnya Mom juga tidak pernah punya mata yang seperti itu. Veronica sering mengamati matanya ketika berkaca, bahkan Mom pernah bilang padanya kalau warna matanya itu langka dan istimewa. Veronica jadi percaya diri setelah dikatakan itu. Mungkin saja, wanita ini kebetulan juga punya bentuk mata yang sama sepertinya.


"Siapa kamu?" tanya Veronica, tangannya hampir ingin menyentuh wanita itu. Veronica seakan terpesona melihatnya, wajahnya benar-benar diukir dengan sangat indah.


"Aku Ibumu." Veronica memalingkan wajahnya ketika wanita itu menjawab dengan tak masuk akal.


"Maaf, tapi anda tidak terlihat seperti Ibu saya," jawab Veronica tak percaya. Mungkinkah ... orang ini adalah penyihir dan yang membawanya ke sini tadi? "Bolehkah kamu mengembalikan saya ke dunia saya?"


Wanita itu tersenyum tulus, "Aku sudah duga kamu tidak akan percaya. Tapi, percayalah, ingatanmu itu sudah dimanipulasi." Wanita itu mengetuk dahi Veronica menggunakan dua jarinya, telunjuk dan tengah.


Membuat kepala Veronica sedikit terhuyung ke belakang akibat ketukkannya.


"Aku sama sekali tak mengerti." Veronica menghela napas lelah.


"Kamu dikurung sangat lama. Aku senang sekarang kita punya kesempatan untuk bertemu, walaupun sedikit kecewa kalau beberapa ingatanmu tentangku sudah diambil olehnya."


Apa dia bilang tadi? Tentangnya? Seingat Veronica, gadis itu belum pernah melihat wanita ini sebelumnya. Mungkin dalam ingatannya ini adalah yang pertama. Memangnya ... di mana sebelumnya mereka pernah bertemu?


Veronica hanya diam saja, wanita itu kembali berbicara. "Kamu adalah satu-satunya orang yang berharga bagiku. Maka ... jagalah ini untukku." Wanita itu memberikan sebuah kalung liontin pada tangan Vero.


Gadis itu sungguh bingung apa yang terjadi dengannya.


"Tunggu, siapa nama-" gerakan tangan Veronica yang tadi ingin menyentuhnya malah terambang di udara. Perlahan-lahan tubuh wanita itu berubah menjadi daun maple berawal dari kakinya. Lalu berterbangan terbawa angin.


"Mungkin kita bisa bicara lagi lain waktu, selamat tinggal." Bertepatan dengan berbaliknya tubuh wanita itu, seluruh tubuhnya menjadi kepingan daun maple dan berterbangan menjauh. Veronica tak sempat menggapainya, hingga pandangan gelap menghampiri penglihatannya.


Anehnya, saat itu Veronica merasa setengah sadar. Tidak ada lagi hembusan angin, yang ada hanyalah hawa dingin. Menggelitik dari kaki hingga ke seluruh tubuhnya, Veronica terbangun dan membuka matanya. Di wajahnya tiba-tiba ada daun maple yang tidak tahu dari mana asalnya.


Aneh, batin Vero. Gadis itu meletakkan daun maple ke laci nakasnya daripada dibuang. Kakinya mulai menginjak lantai, Veronica sedikit mengguncang-guncangkan kasur empuknya dengan tubuhnya. Tiba-tiba ia sadar ada luka bekas cubitan di lengannya, dan Veronica merasa ada yang berat di sekitaran lehernya. Gadis itu buru-buru berlari menggapai kaca. Tentu saja sangat terkejut ketika ia melihat dirinya sendiri di cermin.


Padahal baru semalam, Veronica merasa kalau rambutnya tumbuh dengan cepat. Yang tadinya masih di area punggung kini telah mencapai pinggang. Juga ... ada kalung liontin yang tersemat di lehernya. Seingat Veronica, gadis itu tidak pernah memakai kalung sebelum tidur ke lehernya. Kejadian yang tadi sungguh luar biasa, kalung liontin Veronica seketika bercahaya dan berkilau. Tanpa mandi pun, wajah Vero tampak segar tiga kali lebih cepat dari sebelumnya. Ia tidak tahu mengapa kejadian ini terjadi pada dirinya, seperti sebuah sihir!


Gadis itu berjalan gontai menuju pintu kamarnya. Langkahnya langsung terhenti ketika dirinya melihat ada sepasang kaki di bawahnya.


"Veronica, apa yang terjadi denganmu?"


Veronica mendongak ketika ia mendengar suara itu. Ada Rose yang menatapnya dengan sangat intens. Uh, pasti dia juga menyadari adanya hal aneh yang berubah pada dirinya.


"Kalung ini ... dari mana kamu mendapatnya?" Pandangan mata Rose menjadi emosi. Tapi sekuat mungkin ia menahannya dalam hati. Wajahnya terus berharap mendapatkan jawaban yang berisi penjelasan oleh Veronica.


"Aku tidak tahu," jawab Veronica pada akhirnya.


Rose mengguncang-guncangkan tubuh Veronica, entah perasaan Veronica saja, tapi sekilas Veronica melihat warna mata Rose yang berubah kehijau-hijauan. "Bagaimana bisa kamu menjawabnya dengan 'tidak tahu'?"


"Mom, tolong jangan berlebihan seperti ini." Veronica menurunkan lengan Rose dari tangannya.


Rose tersadar atas perbuatannya, warna mata kehijauan yang tadi Veronica lihat berangsur-angsur kembali seperti semula. Mata khas orang Eropa. Tapi Veronica akui, dia tidak pernah melihat Rose sebegitu marahnya.


Itu adalah alasan yang cukup masuk akal. Tapi sepertinya Rose tidak akan tahu bagaimana Veronica mempunyai kalung ini. Veronica menghela napas dan berkata, "Aku tidak diculik, Mom. Tapi ... aku rasa badanku sedikit tidak enak."


"Ok, nanti Mom buatkan surat izin sakit untukmu. Istirahatlah yang cukup, Mom akan mengantarkan obatmu ke kamar."


"Terima kasih."


Tepat ketika Rose berbalik badan, dia mendengar suara keras dari pintu kamar Veronica yang tertutup.


***


 


Cantiknya bunga teratai tidak secantik dirinya. Ariana memandang kolam air dengan perasaan hampa. Di sana terdapat wajahnya yang dekil, penuh jerawat dan kering. Para penyihir bilang, ini adalah sebuah kutukan, karna tidak dapat disembuhkan dan bersifat permanent. Ya, memang benar. Ariana pernah dua kali menjalani operasi plastik untuk wajahnya, tak lama kemudian kembali ke wajahnya yang jelek ini. Waktu itu Ariana pernah bertanya pada paman Elf, salah satu penyihir baik yang menolongnya hingga sekarang. Ariana pertama kali bertemu dengannya saat di rumah sakit tempat Ariana melakukan perawatan.


 


Paman Elf bilang, hanya ada satu cara untuk menyembuhkan wajahnya. Yaitu membunuh putri dari keturunan bangsawan. Awalnya Ariana mengira ia harus membunuh para pejabat dan petinggi negeri. Tapi ternyata, Paman Elf bilang ia harus membunuh putri bangsawan terdahulu-hulu yang singgah di sini karna perjalanan waktu. Mungkin sangat tak masuk akal di pikiran Ariana, tapi Paman Elf kemudian mengubah wajah Ariana menjadi cantik. Walaupun diberi waktu sampai beberapa jam, saat itulah Ariana mulai tunduk kepadanya.


Diberinya ciri-ciri tubuh dari anak putri bangsawan itu. Salah satunya, mempunyai mata berwarna emas dengan corak bunga di pupilnya. Ariana sangat yakin ketika ia pertama kali melihat Veronica dengan warna matanya. Persis seperti yang di bilang oleh paman Elf. Maka dari itu, Ariana akan terus berusaha ...


Demi dirinya.


"Ariana."


Ariana langsung menghadapkan tubuhnya ke belakang. Di sana terdapat paman Elf yang berjalan dengan senyum berseri-seri kepadanya. Katanya, paman Elf masih berusia 26 tahun. Tapi wajahnya sangat rupawan seperti anak remaja yang masih menginjak umur 17 tahun.


"Paman Elf!" balas Ariana. Dia melengkungkan senyuman terbaiknya hanya pada paman Elf saja. Ariana belum tahu apa itu cinta, orang tuanya jarang memberi kasih sayang padanya sebelum kecelakaan terjadi dan merenggut nyawa kedua orangtuanya ketika dalam perjalan pulang dari rumah sakit. Di saat itulah, Paman Elf menolongnya dan mengangkat Ariana sebagai anak angkatnya.


 


Paman Elf datang dan langsung memeluk Ariana dengan penuh kasih sayang. Ariana membalas pelukan hangat itu. "Dia punya kemampuan psikometri."


Ariana melepas pelukannya dan menjawab, "Iya aku tahu."


"Kamu harus berhati-hati dengannya, atau masa lalumu bisa dibaca olehnya." Paman Elf berkata dengan pandangan khawatir.


"Tentu saja." Tidak akan, Ariana tidak akan membiarkan perempuan bernama Veronica itu menyentuh sedikit saja bagian tubuhnya. Maka Ariana akan tetap waspada terhadapnya saat memulai aksi.


"Kenapa kamu tidak langsung membunuhnya padahal sudah tahu orangnya?" tanya Paman Elf heran.


"Aku tidak mau dia mati begitu cepat. Pelan-pelan mungkin aku bisa membunuhnya."


"Ide yang sangat cerdik! Tidak salah jika aku mengangkatmu menjadi anakku." Paman Elf memeluk Ariana sekali lagi.


Kasih sayang ini ... akan selalu Ariana ingat dalam memorinya. Tidak pernah Ariana mendapat perhatian yang lebih seperti ini, ia akan terus mengabdi pada Paman Elf yang sudah sangat baik padanya.


"Sini, biar kuubah lagi bentuk wajahmu itu."


Ariana mendongak pada Paman Elf. Ia begitu bersemangat jika wajahnya dikembalikan menjadi cantik. Mungkin kecantikkan yang diberikan Paman Elf untuknya jauh lebih cantik daripada wajah yang sebelumnya. Hingga Ariana mendapat penyakit seperti ini di wajahnya ketika ia habis menangis di dalam gudang akibat pukulan keras dari Ayahnya. Kalau bukan karna paman Elf, sudah pasti Ariana ... akan dijauhkan dari teman-temannya.


"Sekarang tutup matamu dan jangan mengintip sedikitpun!"


Ariana membentuk gerakan tangan hormat lalu menutup kedua matanya. Sebenarnya Ariana tidak tahu mantra apa yang digunakan paman Elf hingga mengubah wajahnya menjadi sangat cantik seperti ini. Tapi Ariana tidak pernah meminta mantranya pada paman Elf.


"Sudah!"


Ariana membuka matanya begitu aba-aba dari paman Elf tiba. Gadis itu berbalik dan menatap wajahnya di kolam air yang tadi. Cantik, Ariana selalu puas dengan kemampuan paman Elf. Dia menatap bunga teratai yang cantik itu, kemudian menyentuh bagian kelopaknya seraya menggumam, "Kita sudah sama-sama cantik."


"Baiklah, kamu bisa pergi ke sekolahmu sekarang agar tidak terlambat. Efeknya hanya ampuh selama 10 jam. Jangan sampai wajahmu terkena siraman air yang dapat membuatnya menjadi jelek lagi."


Ariana mengangguk. Daritadi dia sudah memakai pakaian seragam yang rapi. Cuma tasnya tadi ia letakkan di bawah bersender dekat dengan kolam.


"Ya, aku akan selalu berhati-hati."