It's Vampire!

It's Vampire!
King of ...?



"Apakah ini sudah cukup?"


Sekantung penuh koin-koin emas diberikan pada tangan kotor orang pendosa. Inilah sifat buruk Ayahnya yang paling dibenci oleh Hazel semasa ia hidup. Bahkan, sampai orang yang dua nyawa dalam tubuh ini juga ikut-ikutan membencinya.


Oh, Hazel sedang tidak ingin mengambil alih tubuh Aray secara paksa seperti biasanya. Cowok itu termenung di dalam ruangan yang hampa, kosong, tak ada udara. Mengingat sisa kenang-kenangan yang tersisa.


Bahkan, Hazel sendiri bertanya-tanya. Apakah ia masih hidup atau sekadar menumpang saja pada tubuh Aray. Cowok itu juga tidak terlalu mengerti. Yang ia ingat terakhir kali sebelum meninggal, Catheline mati tertombak di depan matanya oleh sekawanan para vampire liar yang sebelumnya memang suka sekali mengganggu ketenangan desa Hisako.


Seorang Pria yang ada di dalam ingatan Hazel itu selalu mengenakan jubah hitam panjang setiap kali keluar rumah. Pekerjaan kerajaan selalu saja ia tinggalkan demi teman berjudinya. Namun, tidak ada satu orang pun yang tahu tentang kelakuan buruknya, dia benar-benar Raja yang egois. Hazel pernah mengingat sedikit tentang pengupingannya, Ayahnya itu pernah mebunuh Raja sebelumnya hanya agar ia bisa naik tahkta dan mendapatkan kekuasaan.


Setelah itu, uang yang ia dapat akan digunakan untuk bermain judi, judi, dan judi ke berbagai tempat bar.


Jubah hitam itu bukan jubah biasa sebenarnya, jika saja ada orang yang memerhatikan di bagian bawahnya, ada simbol titik tiga yang dibuat dari emas asli. Harganya bisa sangat mahal jika dijual. Pria berjubah itu meneguk wine-nya. Wajahnya selalu menunduk.


Keberuntungannya ada dijubah ini. Itulah alasannya tidak mau menjual simbol pada jubahnya, dia yang membawa keberuntugan selama ini. Hanya tinggal membuka kartu, sekali ucap ia akan menang.


Siapa yang tahu, kalau raja berseketu dengan penyihir? Andai, andaikan para rakyat atau siapa saja tahu tentang kelakuannya, ia pasti bisa turun takhta lebih cepat dan digantikan dengan anaknya.


"Aku mau kita taruhan dengan uang yang lebih besar lagi, bagaimana?" tawar pria berjubah itu.


"Ayolah, bung. Kau selalu memenangkan pertaruhan ini sampai kami miskin. Aku jadi penasaran, apa bentuk wajahmu? Mengapa selalu menyembunyikannya dari kami?"


Orang-orang berbadan besar yang merupakan teman-teman dari orang yang diajak taruhan oleh berjubah itu langsung angkat tangan. Mereka siap mendengar perintah bosnya kapan saja. Sedangkan sang pria berjubah itu meneguk saliva dengan susah. Kakinya berjalan mundur ke belakang.


"Jangan menyentuhku, aku akan pergi," kata pria berjubah tersebut. Dalam satu detik, langkahnya yang pelan tiba-tiba menjadi larian.


Membuatnya menjadi incaran.


Pikirannya selalu berpikir untuk kabur, setelah itu semuanya akan baik-baik saja.


"Tuan!'


Pria berjubah yang dipanggil 'tuan' itu akhirnya menengok. Melihat bayang-bayang yang samar mengikuti langkahnya berlari.


"Aku disisimu," kata bayang-bayang itu lagi. Pria itu mengangguk. "Ikutlah denganku."


Tanpa pikir panjang, pria tersebut menyentuh tangannya yang samar. Dalam hitungan detik, tubuhnya lenyap.


Oh, lebih tepatnya, dibuat tak terlihat. Oleh si penyihir wanita yang menjadi temannya itu setelah sekian lama.


"A-aku ... benar-benar minta maaf," kata penyihir itu.


"Kau, adalah penyihir hebat sekaligus teman terbaik yang aku punya."


"Maafkan aku."


Sebilah duri mawar tiba-tiba ditusukkan pada leher sang Raja bodoh itu. Membuatnya membulatkan mata tak percaya. Bukankah perjanjian mereka, tidak boleh ada pengkhianatan?


"Maafkan aku dalam jangka waktu yang lama. Kau harus tertidur, di alammu. Selamat tinggal."


"A-apa yang kau lakukan ... Rose?"


Tubuhnya mengambang di udara. Dibiarkan terjatuh setelah dibawa jauh ke atas sana, kemudian menghilang selama-lamanya. Digantikan dengan penyihir Rose yang selama ini menyamar menjadi raja.