
Sedikit-sedikit Veronica mulai membuka matanya. Hal yang pertama kali disambut dari penglihatannya adalah sebuah tempat asing yang tidak dapat Veronica kenali. Dinding-dindingnya penuh dengan retakkan, perabotan sederhana di ruangan ini semuanya terbuat dari kayu. Tidak ada yang dari besi seperti di rumahnya dulu. Maksudnya, rumah tante Rose si penyihir itu. Awalnya Veronica sangat kecewa pada Rose karna sifatnya yang menutup-nutupi. Maka dari itu, alasan Veronica kabur dan memilih untuk tinggal bersama tiga pria idiot itu. Entah berapa banyak umpatan dari Veronica untuk menyebut ketiga lelaki itu.
Tapi kepala gadis itu kini sangat pusing. Dirinya ingat dia masih memakai seragam sekolah juga tasnya. Tapi ... di mana ini? Seingat Veronica dirinya pingsan gara-gara kehabisan darah. Saat itu Aray ada bersamanya, tapi kenapa sekarang dia tidak ada?
Klek
Terdengar suara pintu dibuka.
"Aray-"
"Maaf, nama saya Loren. Bukan Aray," potong seseorang. Veronica menengok ke arah pintu, di sana ternyata berdiri seorang gadis dengan pakaian adat kuno.
Ketika kedua mata mereka saling beradu, gadis bernama Loren itu terkejut. Tubuhnya seketika ambruk. Pandangannya turun ke bawah.
"Maaf."
"Maaf."
Loren dan Veronica berbicara bersamaan. Sedangkan Veronica bingung dengan Loren yang tiba-tiba jatuh seperti itu.
"Anda ... anda sudah ditemukan!" seru Loren. Belum sempat Veronica bertanya tiba-tiba ada orang yang langsung membekap mulut Loren dari belakang.
"Aray?"
Aray tak langsung menjawab pertanyaan Vero. Lelaki itu membunyikan suara gemerincing dalam kantungnya, kemudian mengeluarkan beberapa keping emas dan memberikannya pada Loren.
"Tolong jangan membocorkan identitas Veronica. Anggap saja kamu tidak melihat apa-apa tadi," ucap Aray dengan tegas. Netranya pun sudah mewakili dirinya kalau Aray sedang berkata dengan serius.
Loren menunduk takut, "Ba-baik."
Setelah menerima keping emas itu, Loren langsung beranjak pergi. Aray berjalan mendekati Veronica, dia tiba-tiba menutupi setengah wajah Veronica dengan kain. Lalu menggendongnya bridal style.
"Hei, apa maksudmu?" bingung Veronica.
"Di negri ini tidak boleh ada yang tahu satu pun kalau kamu adalah anak dari Raja dan Ratu kerajaan Dalton. Vero mungkin nama yang bagus untuk samaranmu."
Aneh, biasanya Aray paling malas kalau diajak berbicara dengan kalimat yang sebegitu panjangnya.
"Apa yang terjadi padaku sebelumnya?"
"Kau koma selama sebulan. Aku sudah berpesan untuk jangan ada yang memasuki kamarmu selain aku, tapi pelayan yang tadi itu melanggar ucapanku ketika aku pergi."
"Apa tidak akan ada yang curiga hanya kamu yang boleh masuk ke kamarku? Lalu darimana kamu mendapat koin emas itu? Apa jangan-jangan ... kamu juga yang mengganti pakaianku saat aku koma ya?!" Veronica menyipit curiga. Pipinya terasa panas jika benar Aray yang melakukannya.
"Aku bekerja, dan mengaku sebagai suamimu. Kalau soal mengganti pakaian, tentu saja aku menyuruh pelayan. Dengan pesan agar kain penutup di wajahmu jangan dibuka."
"Omong kosong! Cepat turunkan aku!"
Veronica memberontak.
"Kita harus pergi dari sini." Aray membawa Vero bersamanya untuk keluar dari tempat penginapan ini.
"Ke mana kita akan pergi?" tanya Vero lagi.
"Mencari Elias dan Gerry."
Silaunya sinar matahari menusuk tepat pada mata Vero. Lalu di luar ternyata banyak sekali orang berjualan. Begitu ramai. Vero melihat ada beberapa orang yang memperhatikan dirinya dengan Aray. Sepertinya mereka tak sengaja menjadi sorot perhatian. Karna kalau dilihat, mereka berdua memang terlihat seperti penjahat. Apalagi Veronica dengan kain penutupnya.
Aray tiba-tiba langsung mengambil tangannya dan memelintirkannya ke belakang. Sontak orang-orang pun langsung memusatkan perhatiannya pada Aray dan melihat dengan seru. Vero melepas diri dari gendongan Aray waktu itu, gadis itu berdiri di belakamg Aray.
"Jangan coba-coba untuk menyentuhnya." Nada bicara Aray terlihat dingin. Ada sedikit percikan marah dikilat matanya.
"Kamu tidak tahu siapa aku ya?" pria tua itu berlagak sombong di hadapan Aray. "Hey, anak muda. Kuingatkan kamu-"
Jleb.
Beberapa orang yang menyaksikan ada yang sampai menjerit histeris dan menjauhi tempat Aray berdiri. Veronica pun tak menyangka Aray bisa berlaku sekeji ini, tak berperikemanusiaan menurutnya. Aray menancapkan belati yang tadi disembunyikannya pada bagian dada pria tua itu. Kemudian Aray juga menumbangkan tubuhnya dan menginjak wajahnya. Bahkan Veronica sendiri sampai memejamkan matanya.
"Sudah kubilang, jangan coba-coba denganku."
Sesaat setelah Veronica mendengar kata-kata itu, gadis itu merasa kalau tubuhnya kembali melayang.
"Aray?" tanya Veronica bertujuan untuk memastikan.
"Aku di sini."
Veronica merasa lega ketika panggilannya dijawab. Sedikit-sedikit gadis itu membuka matanya. Gadis itu memang kembali lagi di gendongan Aray. Veronica mengintip ke belakang, tiba-tiba dirinya sudah berada di atas bukit.
Cepat sekali. Oh, istana itu ... aku seperti mengenalinya, gumam Veronica dalam hati.
"Itu adalah istana Dalton. Atau ... tempat kelahiranmu, tapi kupikir kamu tidak bisa pergi dulu untuk bertemu keluargamu. Terlalu berbahaya. Ngomong-ngomong jangan lupakan kalau aku adalah vampire."
Veronica hampir lupa kalau Aray adalah mindreader. Gadis itu juga jadi ingat kemampuannya, karna posisi yang bagus seperti ini Vsronica pasti mudah untuk menerawang Aray. Lama Veronica menutup mata, tapi tidak ada bayang-bayang sama sekali dengan masa lalu Aray. Aneh. Tentu saja bagi Veronica hal ini sangat aneh.
"Turunkan aku, aku mau jalan saja," pinta Vero. Aray menyetujuinya.
"Kamu lumayan berat sebenernya," jujur Aray. Kalau tidak melihat pemandangan, Veronica pasti sudah kesal bahkan akan bertengkar dengan Aray.
Tapi emosinya teredam ketika ia melihat kota cantik di bawah tebing.
"Indah sekali! Apa kita akan ke sana?" Veronica menatap Aray dengan mata berbinar-binarnya.
"Ya, kurasa Elias pasti ada di sana. Karna kota itu adalah tempat kelahirannya."
"Eh? Lalu mengapa saat itu aku tidak tiba di tempat kelahiranku? Lalu bagaimana dengan murid lain yang juga tertrlan ke dimensi ini?"
"Karna sewaktu jatuh, aku mengambil posisi mendarat lebih dulu di belakang badanmu. Jadinya kita jatuh di antara pepohonan. Soal anak murid yang lain, mungkin mereka semua terjatuh di tempat yang berbeda. Tapi tidak jauh dari sini."
Veronica melongo ketika memperhatikan Aray. Entah perasaannya saja atau apa, tapi Aray yang ada di hadapannya jadi banyak bicara dan memeberikannya penjelasan secara rinci. Aray yang sadar diperhatikan aneh oleh Vero langsung menatapnya dengan tegas.
"Ayo kita turun!" tanpa aba-aba Aray meloncat lebih dulu ke bawah. Veronica memperkirakan kalau tebing ini setinggi tiga meter, tapi Aray bisa mendarat dengan mulus di bawah.
Raut wajah Veronica berganti panik, "Hei! Bagaimana denganku?!"
"Loncat!" seru Aray.
"Bagaimana caranya?!"
"Loncat!"
Baiklah. Veronica menarik napas dalam-dalam, lalu membuang hembusannya dengan pelan. Jantungnya berdebar-debar tak karuan, kalau dirinya mati karna loncat dari tebing setinggi tiga meter, maka dirinya akan menggentayangi Aray dan membuatnya juga mati.
Tinggal satu langkah lagi lalu Veronica akan terjatuh. Awalnya gadis itu merasa ragu, namun kalau dipikir-pikir lagi, mungkin Aray menjadi gesit karna dia adalah vampire.
"HIYAAAA!!!" teriak Veronica bersamaan dengan tubuhnya yang melayang di udara.