
"Kita terjatuh," ucap Veronica berbicara sendiri. Aray memang ada di sampingnya secara tiba-tiba, namun Veronica tetap melanjutkan kata-katanya, "Anehnya, aku bertemu Ibumu, tahu! Apakah kamu juga sedang bermimpi yang sama denganku?"
Veronica menepuk-nepuk pipi Aray lumayan keras. Gadis itu baru sadar kalau Aray punya luka di dahinya. Aneh, memang. Jika jatuh dari jurang, seharusnya mereka terjatuh di tempat yang berbeda, dan dalam posisi yang membuat patah tulang manusia. Namun kali ini tidak, mereka hanya luka kecil dan tiba-tiba bangun dalam posisi duduk bersandar di pohon.
Seperti ada yang menangkap dan menolong mereka.
"Aray, ayo bangun!" Veronica masih berusaha. Barangkali Aray segera membuka matanya. Namun cowok itu masih belum buka. "Katakan, apa mimpi kau sekarang?"
Ah, Veronica teringat sesuatu. Aray itu vampire kutukan. Gadis itu kemudian menunjukkan jarinya ke bibir Aray, menariknya ke bawah dan membuka mulutnya. Dari situ Veronica dapat melihat gigi taring Aray yang muncul ketika dia membuka mulut. Sedangkan ketika mulut Aray hendak tertutup, bagai ada sesuatu yang membuat taring Aray berubah menjadi gigi manusia biasa.
"Dia, benar-benar vampire kutukan. Harusnya ada cara agar dia bisa kembali seperti manusia asli, menjalankan kehidupan normal dan bukan Vampire." Veronica menyentuh dahinya sendiri, dia merasakan ada sesuatu yang berdenyut-denyut di otaknya. "Aku seperti pernah mengalami hal ini bersama dengan Aray, di waktu yang sangat lama. Padahal aku pertama kali bertemu dengannya saat kami di sekolah."
Tak lama, kedua mata Aray mengerjap-ngerjap. Membuat Veronica menatap Aray penuh harap, Aray akan segera bangun. Alih-alih ingin mendengar Aray mengucapkan sesuatu, cowok itu tiba-tiba malah memeluknya. Sangat dalam.
Hingga Veronica sendiri tidak tahu apa yang sudah terjadi pada Aray? Keadaan sesak juga mengelilingi sekitaran Veronica. Seketika, tubuhnya langsung menegang. Dekat sekali. Sampai ia lupa kalau kali ini, Veronica dipeluk oleh seorang lelaki.
"A-aray?"
"Aku menemukanmu," bisik Aray lembut di telinganya, napas hangatnya menderu di leher Veronica. Membuat gadis itu geli ketika merasakannya. Veronica hanya
... belum terbiasa.
Namun, rasa yang memuncak di dalamnya itu luar biasa. Veronica ingat, dia seperti telah mengenal lama seorang Aray.
"M-maksudmu?"
"Aku menemukanmu, Catherine. Kamu ingat? Aku Hazel."
"Sebentar, Aray. Apa kamu sedang mengigau? Namaku ... Veronica," cicit Vero ketika dia menyebut namanya. Ada perasaan menusuk ketika Aray menyebut perempuan lain, entah karena apa. Padahal sepertinya mereka sama-sama tidak punya rasa.
Aray tiba-tiba melepaskan pelukannya, menatap Veronica dengan dalam. "Aku tahu. Tapi dalam dirimu, jiwamu, sebagian adalah Catherine. Begitu juga denganku. Namaku Aray, namun diriku, jiwaku, sebagian adalah Hazel."
Tunggu, hal yang diceritakan Aray seperti pernah Veronica dengar sebelumnya. Di kisah-kisah atau buku-buku fiksi fantasi.
"Re ... reinkarnasi?"
"Benar. Entah kenapa, tadi aku didatangi dengan mimpi itu. Sosok Hazel yang mirip sekali denganku, mengajakku berbincang di istananya. Sebenarnya, sudah lama aku terus bermimpi didatangi sosok Hazel di istana. Namun, aku selalu menggunakan berbagai macam cara agar bisa bangkit dari tidur sebelum dia berbicara."
Ternyata tidak bermimpi yang sama. Veronica masih belum paham apa maksud Aray padanya.
"Aku dan kamu, kita pernah bertemu sebelumnya? Bahkan sebelum kita dilahirkan, apakah itu maksudmu?"
Aray mengangguk. Cowok itu kemudian berdiri dari posisi terduduknya. Entah kenapa, sekilas Veronica melihat wajah dingin Aray yang kembali lagi. Mengapa mood-nya seringkali berubah-ubah?
"Ekhem, sudah cukup bicaranya? Kita tidak bisa buang-buang waktu."
Veronica ikut berdiri. Dia masih ingin tahu.
"Kamu tidak bisa tiba-tiba berkata begitu padaku! Jelaskan apa yang tadi ingin kau jelaskan?" tanya Veronica tanpa melibatkan emosi, Aray itu susah sekali ditebak. Kejadian tadi jelas membingungkan.
Aray berbalik dan memberinya senyuman. Bahkan, hanya dengan senyumannya pun mampu membuat kaum wanita siapa saja terpesona dengannya.
"Maaf, Aray mengambil alih tubuh ini dengan cepat. Dia lelaki yang pandai. Aku tahu kamu bingung, dan aku percaya kalau tubuh Catherine juga ada di tubuhmu," jawab Aray
Kepribadian ganda? Apa Aray mulai punya kepribadian ganda? Veronica bertanya-tanya. Selang beberapa menit kemudian, Aray menggeleng-gelengkan kepalanya, mulutnya menggertak marah. Menampilkan dua buah taringnya yang mencuat dan tajam.
"Aku benci cowok itu!"
"Cowok siapa yang kau maksud?" Keadaan mulai memanas. Sekarang, kepribadian Aray patut dipertanyakan. Sebentar-sebentar dia marah, kemudian tersenyum dan berbicara panjang lebar yang benar-benar bukan seperti Aray.
"Cowok yang ada dalam tubuh ini juga." Aray menunjuk ke arah tubuhnya sendiri dengan penuh emosi.
"A-aray ... sejak kapan kau mempunyai kepribadian ganda?"
"Tadinya aku tak mau menceritakan ini kepada siapa pun. Diriku yang lain terkunci, dan saat kita terjatuh dari jurang tadi, aku bermimpi. Aku tidak tahu mengapa cowok bernama Hazel yang ada dalam diriku ini bisa lepas dari ikatan alam bawah sadar. Dia merepotkan."
Ah ... sekarang Veronica baru mengerti. Kepribadian Aray yang sesungguhnya agak keras. Selepas mengatakan hal itu pada Veronica, tiba-tiba saja Aray menarik pergelangan tangannya. Menjauhi tempat mereka mendarat tadi.
"Aku tidak percaya omong kosongnya. Kamu juga jangan percaya."
"Iya," jawab singkat dari Veronica. Dia sedang tidak ingin berdebat. Veronica ingin sekali menceritakan ulang kejadian mimpinya pada Aray, namun gadis itu malas berbicara. Aray terlihat tengah kesal.
Namun, sekitar setengah jam mereka melalui banyak pepohonan, Veronica menatap ke depannya. Ternyata ada sebuah desa kecil lagi yang rumah masing-masing mereka hanya terbuat dari lubuk. Pasti mudah terbakar jika dilahap api.
"Desa ini, kamu mengenalnya? Mengapa bisa menunjukkan jalan dengan tepat?" Heran Veronica. Aray melepaskan genggaman mereka dan berbalik, sebelah tangannya menggaruk tengkuknya dengan kikuk.
"Aku yang membantunya. Aray itu payah mengenal jalan di sini. Maklum, dia berasal dari dunia di masa depan. Menurut ... pengakuannya. Oh, kau tahu? Wajahmu dikehidupan sekarang jauh lebih manis dari yang dulu. Tenang saja, aku menyukainya. Ayo kita berbicara sebentar pada sang kepala desa di sini untuk menunjukkan ke arah istana." Baru saja Aray hendak meraih pergelangan tangannya lagi, Veronica langsung menepisnya.
"Jika kamu adalah Hazel yang dibicarakan Aray barusan, bisakah kau tidak membuatku bingung? Kamu beda sekali dengan Aray yang kukenal."
"Aku Aray."
Veronica memelototkan kedua matanya. Dia bersumpah, bingung sekali sekarang. "Terserah!" pekik Veronica seraya berjalan maju, dia malas.
Namun, pergelangan tangannya kembali diraih.
"Sekarang, aku jadi lapar."
Oh, Tuhan. Veronica tahu kalau ia akan menjadi mangsanya.