It's Vampire!

It's Vampire!
-Attention-



 


Beberapa daun yang sudah menguning mulai berjatuhan. Nabastala yang suram berganti riang. Beberapa burung merpati berterbangan untuk mulai pergi mencari makan. Anila yang sejuk berhembus pelan di kulit mereka. Khas hawa pagi hari yang bersih, jejak kunang-kunang yang tadi malam bergentayangan juga sudah lenyap.


Diantaranya ada sekelompok orang yang masih tertidur membentuk posisi lingkaran. Bunyi-bunyi nyaring kicauan burung merpati tak sanggup membangunkan mereka, hingga akhirnya ada salah satu patera yang jatuh di atas wajah Veronica. Membuat sang empunya merasa terganggu dan mengerjap-ngerjapkan netra-nya.


Lalu, sinar yang dihasilkan bagaskara menusuk pandangannya tiba-tiba. Veronica menyomot daun hijau segar yang tadi jatuh di atas wajahnya. Keningnya berkerut bingung. Namun dirinya langsung terbangun ketika menyadari kalau kepalanya tadi bersebalahan dengan kepala Aray dan Elias.


"Astaga," gumam Veronica. Tapi tangannya terangkat ke atas untuk meregangkan. Lalu mulutnya menguap dengan lebar.


Sampai-sampai Aray, Gerry, dan Elias yang masih tertidur tadi jadi ikut terbangun.


"Apa?! Ke mana si brengsek Darry?" geram Elias, Gerry tiba-tiba memeluknya dari belakang, "Sayang, ini masih pagi," katanya.


Veronica memandang mereka dengan pandangan yang aneh. Aray menepuk jidatnya sendiri dengan keras.


"Lepaskan aku bodoh!" teriak Elias merasa kaget. Gerry yang tadi nyawanya masih terkumpul setengah langsung sadar sepenuhnya. Terkejut sudah pasti, karna yang Gerry peluk ketika ia bangun bukan gadis cantik yang ada di mimpinya.


Gerry dan Elias berpandangan sesaat, beberapa detik kemudian perang mulut pun dimulai. Keduanya saling mengoceh dan membela dirinya sendiri. Veronica memandang jenuh, gadis itu melihat ke arah yang lain.


Jari telunjuknya saling bertautan dengan jari telunjuknya yang lain, Veronica sempat melihat ke wajah Aray. Namun ketika Aray menatapnya, Veronica membuang muka.


"Kalian ... tidak berbuat sesuatu padaku tadi malam kan?" tanya Veronica pada akhirnya.


Gerry dan Elias sempat diam sejenak. Keduanya menggeleng yakin, "Kami tidak berbuat apa-apa kok!" jawab keduanya.


"Apa yang kamu pikirkan memangnya?" Aray tiba-tiba menyahut, tangannya berayun untuk menyentil dahi Veronica.


Veronica bertanya sok polos, "Apa yang aku pikirkan? Memangnya apa yang aku pikirkan? Bukankah kamu pasti udah tahu apa pikiranku?" nada bicara Veronica terdengar emosi.


"Ya, benar."


Aray berjalan pergi.


"Kamu mau ke mana?" tanya Veronica.


"Tentu saja kita harus mencari tempat tinggal," jawab Elias. Dia tiba-tiba sudah ada di samping Aray bersama Gerry.


Rasanya Veronica ingin sekali memaki-maki mereka. Namun, gadis itu tidak akan tahu ke mana ia harus pergi tanpa mereka.


"Sialan, akh-!"


Belum selesai merutuk, tanah yang tadi baru selangkah Veronica pijak seketika menjadi runtuh. Veronica tidak berani melihat ke bawah, tangannya beruntung bisa meraih batu untuk dirinya bergelantungan. Aneh, ini benar-benar aneh!


Aray yang tadi berjalan pergi langsung kembali, dia berlari untuk mengejar Veronica yang tubuhnya sedang mengambang-ambang. Jalannya tiba-tiba terbelah menjadi dua. Ritme jantung Veronica sedang tidak baik, ini antara hidup dan mati. Seumur-umur gadis itu tidak pernah ada di kondisi yang seperti ini. Hanya pernah melihat di acara film saja, tapi kini Veronica tak percaya kalau ia sedang mengalaminya sekarang.


Elias dan Gerry menghampiri dengan raut wajah mereka yang panik.


"Apa yang terjadi?" gumam Gerry. Padahal sebelumnya di sini masih baik-baik saja, tanahnya masih menyatu utuh tidak seperti sekarang.


"Lenganku ... rasanya mau patah!" balas Veronica.


Krek.


Sepertinya, batu yang dipegang Veronica untuk penahan tidak bisa lebih lama. Aray berusaha memberikan lengannya lebih dalam pada Veronica, hanya untuk supaya gadis itu bisa meraihnya.


Veronica juga tengah berusaha, ia tidak mau mati di sini. Sedikit lagi tangannya bisa meraih Aray, namun tiba-tiba lengan Aray seperti diperjauh.


Krak!


"Aaaaa!" teriakan Veronica begitu melengking. Dia tidak berhasil menggapai Aray, saat itu juga pupil matanya membesar.


Aray tak menduga hal ini akan terjadi. Tanpa pikir panjang, pria itu segera terjun ke bawah ketika melihat Veronica terlepas. Mengabaikan teriakan Elias dan Gerry yang memanggil-manggil namanya.


Tubuh Aray dan Veronica langsung menghilang ketika mereka sudah terjatuh begitu dalam.


Veronica menutup matanya, dia ingin segera tertidur. Tidak ingin merasakan tubuhnya yang terbentur tanah dan tulangnya yang retak.


Aku sudah tahu kelemahanmu


Entah dari siapa, bisikan itu tiba-tiba hinggap di pikiran Veronica. Membuat gadis itu membelalakkan matanya, tubuhnya tidak terbentur tanah yang keras. Tulangnya juga tidak ada yang remuk, Veronica tiba-tiba berada di bawah pohon maple. Seorang diri.


Di sisi lain, Aray yang seingatnya tadi mengejar Veronica tiba-tiba juga mendengar suara bisikan dalam pikirannya. Tubuhnya tidak ambruk ke tanah, melainkan jatuh ke atas benda yang begitu empuk. Kasur.


Ini ... istana kerajaan. Mengapa tiba-tiba dirinya bisa ada di sini? Bisa jadi ini adalah ulah penyihir yang mau menjebak dirinya lagi. Mengapa Aray jadi mudah tertipu? Aray yang tadi berada dalam posisi telentang langsung bangun dari tidurannya, tangannya mengepal dan menonjok dinding dengan keras. Hingga dinding itu menjadi retak, Aray mengenal tempat ini. Tempat yang Aray tidak ingin datangi lagi.


"Selamat datang, Aray."


Terlambat.


***


Nabastala: Langit


Anila: Angin


Patera: Daun


Netra: mata