It's Vampire!

It's Vampire!
Desa Hisako



Suasana langit yang cerah di pagi ini seakan mewakili banyak perasaan warga desa yang ada di sini. Di antaranya, ada sepasang kekasih yang sedang berbahagia.


Banyak karangan bunga mawar putih dan merah di mana-mana. Seharusnya, tidak perlu se-special ini.


"Tuan Putri, apakah tidak keberatan melakukan pernikahan di desa kumuh seperti ini?" bisik salah satu pengawal di telinga Catherine. Walaupun pelan, tapi nadanya begitu menusuk dan tajam. Catherine tidak pernah mengira kalau keluarga istana seburuk itu memandang para warga desa.


Padahal, tidak semua orang-orang desa itu berperilaku buruk terhadap lingkungan atau dirinya sendiri. Contohnya seperti desa ini.


Desa Hisako.


Catherine mengingat saat-saat belasan tahun ia tinggal dan menyamar di sini sebagai warga desa, hanya untuk menghindari dirinya terbunuh oleh kakaknya sendiri karena ribut soal pembagian tahkta. Padahal, suatu saat nanti ia akan menjadi raja, namun kakaknya selalu merasa tidak puas dengan yang didapatkannya. Dia seorang pencemburu akut.


Catherine sering sekali tidak habis pikir dengannya.


"Di desa tidak seburuk itu. Aku ingat masa-masa saat pertama kali bertemu dengan pangeran Hazel. Lagipula, warga desa Hisako sudah menyambut kita dengan cukup baik, mereka juga sudah merawatku saat skandal kerajaan yang masih ditutupi hingga sekarang," jawab Catherine pada penjaga di sampingnya, membuat dia menghela napas panjang. Mereka menaiki kereta kuda.


Seperti pernikahan pada kerajaan-kerajaan umumnya, tetap ada pesta dansa dan upacara yang seperti biasa. Namun bedanya, putri Catherine dengan pangeran Hazel memilih untuk melakukan upacara pernikahannya di tempat ini.


Kriet.


Kereta kuda yang dinaiki oleh putri Catherine berhenti. Dengan cepat penjaga yang tadi duduk di samping Catherine langsung turun dari kursinya. Penjaga itu adalah penjaga kepercayaan keluarga kerajaan Redolf. Jadi dia bisa leluasa dan dekat dengan anggota keluarga siapa saja. Lagipula, usia penjaga itu belum terpaut tua. Umurnya masih sekitar dua puluh lima tahun dan masih lajang hingga kini.


"Yang mulia."


"Terima kasih, Willson. Aku sangat bahagia hari ini." Catherine turun dari kereta itu dibantu dengan uluran tangan Willson, penjaganya.


Disaat Catherine tersenyum bangga dengan bahagia, Willson justru mendecih pelan. Dia tidak suka dengan orang desa, namun pria itu tetap harus menjaga sang putri yang sudah sudah diberi kepercayaan oleh raja.


"Putri Catherine sudah datang, upacara pernikahan ini akan segera dilakukan!"


Orang-orang berteriak seru dan ramai. Mereka juga ikut merasakan bahagia yang membuncah di dada Catherine juga Hazel. Kini, pandangan mata Catherine manatap lurus pria yang ada di hadapannya.


Tiba-tiba saja, rasa gugup itu menghampiri Catherine. Bukan, bukan hanya perasaan gugup. Namun perasaan takut, khawatir, senang, semuanya tercampur aduk. Gadis itu memegang erat satu buket besar bunga mawar merah dan putih.


Perlahan tapi pasti, pangeran Hazel dengan jas hitam yang tersampir bunga mawar di dadanya berjalan mendekati. Tunggu, ada pandangan tidak tenang yang juga dilihat dari mata pangeran itu. Catherine cukup peka untuk mengenal situasinya saat ini.


Tinggal beberapa langkah lagi, pangeran Hazel akan menyamparnya, memberinya uluran tangan dan mereka akan jalan bergandengan bersama.


Namun, ketika pangeran Hazel dengan senyuman mengembangnya dipaksakan sudah datang, Catherine tidak langsung buru-buru menggandeng lengannya.


"A-aku merasakan suatu hal aneh," kata Catherine sembari memberanikan diri menatap iris mata biru keemasan milik Hazel.


"Aku juga, tapi tidak tahu kenapa, semoga saja tidak ada hal buruk yang berlangsung saat pernikahan kita, Catherine."


Catherine langsung mengapit tangannya. Kemudian mereka berdua menunjukkan senyuman lebar mereka, dan berusaha menyingkirkan rasa khawatir itu. Hanya tinggal mengucapkan janji suci mereka, dan semuanya mungkin akan baik-baik saja.


Namun, baru saja langkah kaki mereka menaiki altar, sebuah panah kecil melesat tepat di tengah-tengahnya. Membuat semua orang yang melihatnya berubah raut wajah.


"Penyusup!"