
Kenapa aku baru mengetahuinya sekarang?
"Ngomong-ngomong, siapa namamu?" Ini kesempatan yang bagus! Aku bisa berkenalan terlebih dulu padanya.
"Cih, kau mengambil kesempatan untuk berkenalan denganku." Gayanya langsung berubah angkuh dan membuang mukanya ke samping.
Ya ampun, aku lupa jika dia adalah Mindreader.
"Aray, bisakah kau diam dan memperhatikan aku yang ada di depan? Kau bisa berpacaran dengan dia nanti," ucap guru yang ada di depan memergoki kami.
Tunggu, apa katanya? Berpacaran?! Benar-benar sakit jiwa. Mana mungkin kami yang baru kenalan langsung ke tahap pacaran?
"Maaf, Madam." Lelaki yang baru aku ketahui bernama Aray berkata dengan datar. Kemudian tatapannya jatuh kepadaku, "Sekarang kau puas mengetahui namaku?"
"Sombong sekali kau ini!" Emosiku mulai tersulut olehnya. Benar-benar lelaki aneh yang sombong! Mana mungkin ke depannya aku bisa berpacaran dengan dirinya? Benar-benar bukan kriteria lelaki idamanku.
"Berharap sekali menjadi pacarku nanti." Aray kembali berbicara. Dasar tidak sopan! Lagi-lagi ia membaca pikiranku.
Aku membuang mukaku, tak lagi mood aku ingin berkenalan ataupun berteman akrab dengan orang sepertinya. Dia menyebalkan!
***
Sore ini aku menepati janjiku pada gadis bernama Arlie. Aku pikir, di sini aku yang telat datang. Rupanya hampir setengah jam aku menunggu tapi Arlie belum juga datang.
Kulihat matahari yang sudah setengah terbenam, tapi Arlie masih belum datang. Mengusir rasa bosan, aku mengayun-ayunkan kakiku di atas tanah. Kini aku memang sedang duduk di salah satu bangku taman.
Srek
Tiba-tiba aku mendengar adanya suara gesekan dari tanaman. Bukan, bukan, sepertinya berasal dari semak-semak yang ada di samping kananku. Tempat ini yang tadi ramai dengan anak-anak satu persatu kembali pulang ke rumah mereka masing-masing.
Sepi, sunyi, dan aku sendiri. Ya ampun, ke mana Arlie hingga jam segini? Aku menyenderkan punggungku di tahanan kursi. Mungkin saja, dengan begini Arlie bisa tiba-tiba ada di hadapanku. Aku menutup mata, lalu membukanya lagi dengan cepat. Tapi di hadapanku masih belum ada Arlie.
Aku menutup mata dan membukanya lagi, masih belum ada.
"Huft!" helaku dengan kasar. Pulang atau tidak ya? Tapi aku takut jika aku pulang, maka Arlie akan datang.
Aku harus mencobanya lagi! Perlahan aku menutup mata. Kali ini agak lama. Dan aku terlalu konyol mengharap Arlie sudah pasti datang.
***
Aku mebuka mataku lagi, di sini sudah gelap gulita persis seperti pada malam hari. Tunggu, malam hari?! Astaga. Aku buru-buru bangkit dari kursi, sekarang aku tak bisa membayangkan bagaimana marahnya Mom ketika aku pulang nanti.
"Vero!"
"Akh!" Baru aku bangkit berdiri, seseorang langsung membuatku terkejut karna langsung menampakkan wajanya tepat di hadapanku. Membuatku otomatis terjungkir ke belakang melewati kursi panjang tadi dan langsung jatuh tersungkur ke tanah di belakangnya.
"Aku minta maaf!"
Kuabaikan permintaan maaf itu, kepalaku benar-benar pusing saat ini. Ingatkan aku sudah berapa kali aku merasakan pusing hari ini. Ketika aku melihat, Arlie sudah ada di hadapanku mengulurkan tangannya. Sebelah tangannya lagi kuyakini adalah benda bernama lampion. Menyala sangat terang.
Aku mengambil uluran tangan Arlie, dan aku memberdirikan tubuhku.
"Kau lama sekali Arlie!" ucapku benar-benar marah padanya. Ketika matahari sudah tenggelam dia baru datang? Kukira yang tadi mengagetiku adalah hantu. Ternyata Arlie sialan!!!
Arlie hanya menyengir kuda dengan pandangan tak berdosa.
"Maaf." Hanya satu kata itu yang diucapkan Arlie sembari menggaruk tengkuknya.
Arlie menarik tanganku, mengajaku kembali untuk duduk di bangku. Apakah Mom sedang mencariku sekarang? Jujur, sebenarnya aku sangat ingin pulang. Tapi Arlie sudah datang, tidak mungkin jika dia baru datang lalu aku meninggalkannya begitu saja. Tapi sepertinya, aku benar-benar harus pulang sekarang. Gara-gara sifat konyolku yang membuka tutup mata menyebabkan aku tertidur dan masih berada di sini.
"Mau kau pulang sekarang atau besok, Mom-mu tidak akan marah karna kau bersamaku, Vero."
"Eh?" Aku yang tadi sudah berniat meninggalkan dirinya langsung membalikkan badan dan melihatnya yang masih memegangi lampion. "Jelaskan sekarang kepadaku semuanya!"
"Wow, tenanglah Vero. Tadinya aku berniat ingin menerbangkan lampion ini bersamamu."
Walaupun rasa penasaranku sedang memuncak, tapi aku tak dapat menolak permintaan Arlie. Aku menghela napas panjang lalu menghembuskannya dengan singkat.
"Oke," ucapku kembali mendekatinya.
"Kau tahu? Aku lama datang karna membuat lampion ini dulu." Pernyataannya tadi cukup menarik.
"Kau benar membuatnya sendiri?"
"Ya, aku menyukai lampion. Jadi aku minta pada Ayahku untuk mengajari cara membuat lampion, dia sangat berbakat dalam membuat lampion." Arlie membiarkan tanganku menyentuh lampionnya. Kami berdua memeganginya dengan erat, lalu Arlie menutup mata. Aku juga turut melakukan hal yang sama, ketika ingin menerbangkan lampion, hendaknya kita menmbuat wish. Siapa tahu jika doa kami terkabulkan.
Aku ingin ... tidak punya masalah apapun, mempunyai hidup yang selalu bahagia dan bisa menemukan cinta sejatiku.
"Mari terbangkan bersama-sama." Mendengar perintah Arlie, aku langsung bersiap-siap untuk menerbangkan sedangkan Arlie menghitung dari hitungan satu sampai tiga.
"Tiga!"
Saat itu kami langsung menerbangkan lampionnya yang bercahaya sangat terang di atas sana. Bahkan, sinar lampionnya itu lebih terang daripada bintang. Entah kenapa, hatiku saat itu jadi merasa tenang. Lalu aku menyimpulkan bahwa Arlie jika di sekolah sangat berbeda dengan yang sebenarnya. Mungkin dia terlihat kejam, arogan dan tak berperasaan mengusir orang seenaknya, tapi ... Arlie juga perempuan. Ada sifat lembutnya di dalam.
"Wow, lampion itu lebih terang daripada bintang yang lainnya. Bagaimana cara kau membuat apinya?" tanyaku masih dengan kepala yang mendangak ke atas.
"Ah, itu ... rahasia. Ayahku tidak mengizinkanku memberitahukannya pada siapapun cara supaya lampunya bisa sangat terang."
"Eh? Baiklah."
"Kata siapa tidak boleh dengan Veronica? Kau ingat jika dia adalah seorang putri kita?" suara berat seorang lelaki menginterupsi kami berdua. Aku dan Arlie sama-sama terkejut mendengar suara itu yang tiba-tiba.
Lalu kami berbalik dan mendapati seorang pria tinggi dan tampan. Tampaknya memang seperti anak muda, tapi aku cukup terkejut ketika Arlie menyebutnya 'Ayah'.
"Ayah!" Arlie langsung berhambur dan memeluk pria tersebut. Aku berdiri mematung di sini.
Kemudian Arlie dan pria yang Arlie sebut Ayah itu menghampiriku.
"Selamat malam, Nona Veronica." Pria itu tiba-tiba membungkuk di hadapanku. Arlie juga sedang melakukan hal yang sama.
"Eh? Kalian apa-apaan? Aku rasa, kalian tidak pantas seperti itu di hadapanku."
Ayah Arlie dan Arlie kemudian menegakkan tubuhnya lagi. Aku masih bingung dengan perlakuan mereka yang menurutku berlebihan itu.
"Aku Wilson, Ayah dari Arlie. Dulunya adalah bangsawan di kerajaan Dalton. Kini, aku juga sangat bingung mengapa di sini Dalton berubah menjadi sebuah sekolah. Tapi Arlie menuruni kemampuanku, maka dari itu ia diutus untuk menjagamu."
"Apa yang kalian bicarakan?" tanyaku heran.
Kulihat diam-diam Arlie menyikut perut Ayahnya sendiri, lalu membisik sesuatu yang aku tidak tahu. Suaranya dibiarkan kecil sepertinya.
"Oh, maaf membuatmu bingung. Aku tidak tahu kalau ingatanmu tentang kerajaan dulu sudah diambil oleh Merry, si penyihir jahat itu!" kata Wilson.
"Bisakah kau ... menceritakan padaku?" tanyaku dan Wilson mengangguk. Sepertinya aku bisa akan mendapatkan titik terang, aku harus mengetahui sesuatu yang janggal ini.
"Ayah, bagaimana jika kita berbicara saja di rumah?" ucap Arlie. Nampaknya, Arlie sangat manja ketika ia berdekatan dengan Ayahnya. Astaga, aku benar-benar tak menyangka dengan hal ini!
"Wah, itu ide bagus. Ayo bawa Nona Veronica ke rumah kita, kami akan membicarakan semuanya pada anda."