It's Vampire!

It's Vampire!
-Orang itu!-



Warning! Bab ini bab terpanjang yang pernah author bikin!


 


Setelah kami selesai mencari-cari barang yang diincar di rumah lama aunty Ze, sekarang kami sedang menuju ke tempat rekreasi yang bagus untuk kami pergi piknik bersama. Aku belum tahu ke mana tempat piknik kami, tapi aku serahkan pada kedua orang tuaku saja yang kini sedang mengobrol bersama di depan. Dad tetap mengendalikan mobilnya.


 


Kulihat Sophie yang mulai asyik sendiri bermain dengan bonekanya. Dia tampak sedang mengenalkan boneka barunya yang bernama Becca itu kepada Beccy. Aku menggumam senandung, kulihat dari kaca jendela mobil kami seringkali melewati pepohonan besar yang rindang.


Ah, iya, bukunya! Aku penasaran dengan apa yang ada di dalamnya. Seingatku tadi Mom meletakkan buku tebal itu di belakang mobil bersama bibit bunga dan kail pancing Dad. Aku langsung pindah ke belakang.


"Hei, Vero ada apa?" tanya Mom dari depan. Sepertinya tadi ia melihat aksiku dari kaca.


"Tidak ada, hanya ingin mengambil bukuku yang tadi."


Huh, di sini tidak terlalu sempit, tapi aku merasa pengap. Soalnya AC mobil tidak terlalu terasa di belakang sini. Aku mengangkat sebelah tanganku, berharap kalau Mom melihatku.


"Mom, bisa besarkan AC-nya lebih dingin lagi?"


"Tentu."


Nah, sekarang aku tidak lagi merasa kepanasan. AC-nya sudah berasa sampai ke sini, dan aku bisa membaca beberapa lembar bukunya dengan tenang.


Buku itu sedikit berdebu, aku mengusapnya pelan dan tangankulah yang malah jadi berdebu. Tapi ketika aku membuka lembar pertamanya, ada sebuah tulisan-tulisan aneh yang tidak bisa aku baca. Lembar keduanya ada tulisan kecil yang memanjang, hanya ada satu baris.


"Vampir tidak tahan dengan sinar matahari, biasanya mereka menggunakan jimat atau yang semacamnya."


Kira-kira kata-kata itu yang ditulis di dalam buku. Melihat tulisannya ... aku seperti mengenalnya. Bisa saja ini tulisan aunty Ze. Lalu aku membuka lembar selanjutnya, kupahami satu persatu tulisannya.


Dahulu kala, keluarga bangsawan dengan Vampir dan penyihir memang tidak pernah akur. Penyihir selalu mengadu domba antara klan Vampir dengan bangsawan. Dikatakan jika penyihir mempunyai dendam pribadi dengan klan bangsawan.


Aku rasa, ini bukan sebuah novel ataupun cerpen fiksi. Karna tulisannya memakai tulisan tangan. Aku mengambil kesimpulan kalau buku ini adalah buku pribadi sekaligus buku penelitian atau diary milik aunty Ze. Aku membuka lembar berikutnya lagi, di lembar ini tercakup cukup banyak kata-kata.


*Meneliti tentang vampire memakan waktuku lumayan lama. Di suatu gua sebelah barat dari rumahku aku menemukan ada seorang pria tampan yang sedang menciumi kelinci. Tapi ketika aku dekati, malah mulutnya berlumuran darah. Dan aku yakini jika dia adalah vampire.


Tapi saat itu aku heran mengapa bisa dia berburu di siang hari, dan tanpa perlindungan apapun. Setahuku, vampire tidak tahan dengan sinar matahari.


Waktu itu aku takut-takut mendekatinya. Tapi dengan manis ia mengajakku berkenalan walaupun aku tahu jika dia adalah seorang vampire. Katanya, aku sudah mengetahui rahasianya. Jadinya dia ingin berteman denganku. Tapi tak disangka, saat itu ia malah ingin menceburiku ke sungai. Dia benar-benar licik seperti rubah, apa vampir seperti itu?


Dia memaksa untuk mengatakan padaku apa yang aku tahu, lalu aku ceritakan semua padanya yang pernah aku tulis pada lembar kedua itu. Tapi setelah itu, dia melepaskan aku. Kurasa aku salah menilai tentangnya, dia cukup baik hati.


Hari demi hari sebenarnya aku merasa janggal* ...


Tidak ada lagi tulisan di lembar itu. Selanjutnya aku melihat lembaran-lembaran penelitian tentang berkembangnya tumbuhan, fotosintetis, perkembang biakkan hewan dan lain sebagainya tentang alam.


Aku bingung, kenapa buku ini dinamakan dengan judul A Princess with Vampire dan lembar bagian depannya adalah catatan tentang vampire dan diarynya. Aku terus saja membulak-balikkan buku ini, ingin mencari sesuatu yang ada di sini.


Aku merasa selain ini, masih ada lagi yang lain. Masih ada lagi rahasia yang belum aku ketahui dalam buku ini. Tapi ... tunggu dulu, mengapa aku tiba-tiba jadi penasaran tentang vampire?


Apa karna ... setelah diceritakan oleh Arlie aku jadi tertarik meneliti ini juga? Ah, persetan dengan itu. Aku membuka lembaran tengah di buku ini. Kosong.


Perasaan ... setiap lembar dibuku ini selalu diberi keterangan, tidak ada yang dibiarkan kosong. Tapi lembar pertengahan ini sama sekali tidak ada isinya, hanya kertas putih bersih dengan sedikit debu. Sepertinya sudah agak lama tidak dibuka, jadi setiap halamannya memang berdebu.


Kemudian aku merasakan cahaya silau menyentuh tubuhku. Kap belakang mobil sudah dibuka, di sana aku melihat Dad yang membukanya.


"Terlihat sangat seru saat kau membaca buku itu? Ada apa di dalamnya?" ucap Dad seraya berusaha melongok isi buku ini. Aku secara refleks menjauhkan buku tersebut untuk mencegah Dad membacanya.


Aku tersenyum kikuk, "Tidak apa-apa."


"Ah, ayo. Sophie dan Mom sudah turun dari mobil."


"Oke."


Aku keluar dari mobil lewat belakang. Mungkin ini terlihat bar-bar, karna saat seperti ini aku merasa seperti monyet yang habis keluar dari kandangnya dan meloncat. Membayangkan aku yang seperti itu membuatku ingin tertawa.


"Ada apa Vero? Kau terlihat seperti menahan tawa." Ah, ternyata Dad sedaritadi memerhatikan tingkahku. Aku hanya menggeleng sembari tersenyum.


Dad menunjuk tempat yang tak jauh dari kami. Di sana sudah ada Mom dan Sophie yang sibuk menggelar tikar.


"Ayo, Mom sudah memilihkan tempat untuk kita."


Ya ampun, aku lupa. Bukunya masih saja menggelayut di tanganku. Harusnya aku letakkan kembali di mobil.


"Nanti saja Dad, aku akan menyusul!" seruku. Aku cepat-cepat kembali ke mobil.


Sesampai di sana aku meletakkan buku itu diatas kursi penumpang. Tampak berkilau ketika terkena dengan cahaya dari sinar matahari lewat kaca.


"Di sinikah tempatnya?"


Tiba-tiba aku mendengar adanya suara yang tak sengaja masuk ke dalam telingaku.


"Ini tempat piknik yang bagus tahu, di depannya ada pantai kok!"


"Terserah kau saja."


Aku yakin suara itu berasal dari mobil yang baru saja parkir tepat di samping mobil milik Dad. Akhirnya aku memilih mengintip, di sana aku melihat ada tiga orang lelaki yang berdiri di depan mobilnya sendiri. Salah satu lelaki itu ... aku mengenalinya.


Dia Aray kan? Aku tidak salah lihat! Di kejauhan, Mom sudah melambai-lambaikan tangannya padaku. Seakan-akan menyuruhku agar cepat ke sana bersama mereka. Aku melihat Aray dengan pakaian santay-nya. Dia terlihat sedang melihat-lihat dulu pemandangannya.


Sedangkan lelaki di sebelah kanan Aray yang sedikit pendek dari Aray mengenakan kemeja kotak-kotak warna merah. Lelaki di sebelah kiri Aray tingginya sama dengan Aray, tapi rambutnya terlihat dicat jadi warna hitam kepirang-pirangan.


"Jadi ... kita akan terus di sini tanpa menggelar tikar seperti orang piknik pada umumnya sampai kita meninggal nanti?" tanya polos dari si lelaki bertumbuh pendek itu.


Aku terkikik mendengarnya. Dia lucu sekali cara bicaranya! Tentu saja dengan memelankan suaraku agar tidak ketahuan oleh mereka jika aku sedang mengintip.


"Bodoh kau El! Untuk apa kita ke sini hanya melihat-lihat?" lelaki berambut pirang itu menjitak kepala lelaki bernama El. Aku tidak tahu apakah namanya hanya El atau ada kepanjangan lainnya lagi. "Ayo Aray, cepat keluarkan tikarnya."


"Hm." Aku mendengar Aray hanya mendeham.


Gawat! Pandangannya itu langsung menuju ke sini, aku buru-buru menyembunyikan kepalaku. Bersembunyi di balik mobil Dad. Ngomong-ngomong, lelaki pendek bernama El itu ... lucu. Apa jangan-jangan aku tertarik padanya? Aku masih teringat dengan kata-katanya yang tadi. Kalau aku tidak bersembunyi, sudah pasti aku akan tertawa geli.


Dalam lamunanku, kurasakan tiba-tiba ada yang menepuk-nepuk pundakku. Aku terkejut dan membalikkan badanku. Lebih terkejut lagi ketika aku melihat siapa orangnya, jantungku seakan berhenti berdetak. Dia ...


"Mengintip, huh?" tanya Aray menatapku dengan tatapan seram. Lelaki ini ... benar-benar bisa membuatku naik pitam. Tapi pada situasi ini aku merasa seperti maling yang tertangkap basah.


"Memangnya ini mobilmu?" tanya Aray sembari menepuk-nepuk mobil Dad.


"Hei! Kau bisa merusaknya jika menepuknya terlalu keras tahu! Ini mobil milik Dad-ku!" ucapku marah. Dia benar-benar keterlaluan


"Oh begitu..." tanpa izin, Aray menyentuh lenganku dan membawaku ke belakang mobil. Apa ... Mom, Dad dan Sophie melihatku digeret oleh lelaki astral ini? Kumohon semoga mereka tidak melihatnya.


Sepertinya Aray sengaja membawaku kebagian belakang parkir mobil agar tak terlihat dengan Mom dan Dad-ku.


"Eh? Kau mau membawaku ke mana! Lepaskan!" aku berusaha memberontak, tapi tenaganya kuat sekali. Dia sama sekali tak menoleh padaku.


Sepertinya dia menganggapku seperti seekor anjing yang harus patuh mengikutinya ke mana pun. Tapi aku tidak langsung menyerah, aku masih memaksakan tanganku untuk tidak bisa diam.


"Bisakah tidak banyak tingkah?!" Aray membantingku ke salah satu mobil. Tubuhku terantuk, dia kasar sekali. Aku langsung merasakan sakit di punggungku.


"Jelaskan padaku kenapa kau membuntuti kami." Aray berkata dengan sombong, emosiku cukup tersulut ketika ia mengucapkan kata-kata itu.


"Siapa yang mengikutimu? Aku dan keluargaku yang duluan ke sini!"


"Cih, dasar tidak tahu malu! Kau pikir aku tidak tahu sedaritadi kau memang sedang mengintipi kami? Dalam jarak dua meter, aku bisa mendengar pikiran seseorang. Lalu aku mendengar suara pikiranmu yang paling dekat. Apa masih tidak ingin mengaku?"


"Kau!" Sabar, Veronica. Coba tenangkan dirimu dengan manusia bedebah seperti Aray.


"Apa?" Napasku tercekat. Aray ... memajukan wajahnya terlalu dekat. Hingga aku bisa melihat jelas bola matanya yang berwarna biru penuh dengan ketenangan.


Jantungku seakan berhenti berdetak. Kurasakan perlahan hembusan napas Aray yang menyapu kulit wajahku. Hangat.


Tiba-tiba Aray memundurkan wajahnya, dia tersenyum. Tapi senyumannya itu adalah senyum meremehkan. Astaga, kenapa makhluk ini sangat menjengkelkan?!


"Kau kalah! Baru didekati saja sudah membeku huh? Bagaimana jika tadi aku benar-benar menciummu?"


Aku mendorong tubuh Aray untuk menjauh dariku.


"Enyahlah kau dari pandanganku!" seruku sembari berjalan menjauh menghentak-hentakkan kaki.


***


Katanya, Mom sudah menungguku cukup lama. Tapi Dad sudah tidak ada di sini, Mom bilang jika Dad sedang pergi sebentar ke toilet. Sophie tampak sibuk mengoleskan selai ke selembar roti.


Aku meniru yang dilakukan Sophie. Tapi Mom tiba-tiba bertanya yang membuatku mematung seketika.


"Yang tadi ... siapa lelaki yang menyeretmu itu?" Mom berucap dengan senyum yang diam-diam ia kulum.


"Huh?" Lelaki yang ... ya ampun! Apakah Mom sudah melihatnya? Jangan-jangan Dad juga!


"Sudahlah, Veronica. Tidak perlu terburu-buru menceritakan semua kok. Mom memaklumi jika anak Mom yang satu ini rupanya sudah besar ya."


"Mom!" ucapku dengan kedua pipi yang menggembung. Lalu Mom tertawa ketika aku memanggilnya dengan kesal. Kenapa tiba-tiba aku jadi kesal Mom menertawakanku karna kejadian tadi?


Padahal kejadian yang tadi aku alami beberapa menit yang lalu itu ... ingin segera aku enyahkan dalam pikiranku. Tanpa sengaja, aku melihat Aray bersama El yang lewat tepat di hadapanku. Dia sengaja atau bagaimana?!


Aku yakin jika dia sengaja melakukannya. Ingin membuatku mati kutu di hadapan Mom. Aku membuang muka dari Aray.


"Nah, lelaki yang itu bukan Vero? Mom yakin ingatan Mom tidak salah," ucap Mom sembari menunjuk Aray yang sudah agak jauh dari kami. "Ternyata dia di sini juga ya, Mom benar-benae tak menyangka. Apa sebelumnya kalian pernah berkenalan?"


"Dia teman sekelasku." Aku menjawab sedikit sebal.


"Benarkah?" Mom malah terlihat antusias.


"Mom, tolong lupakan. Sebenarnya aku ... ingin mengetahui sesuatu dari Mom langsung. Apa Mom yang menyuruh Arlie untuk menjagaku?"


"Ya, mengapa?"


"Arlie bilang jika dia adalah pelindungku di kerajaan Dalton. Lalu dia juga menceritakan sekelompok penyihir dan vampire. bisakah Mom menjelaskannya padaku?"


Raut wajah Mom berubah seketika itu juga. Entah kenapa, aku jadi tidak nyaman melihat Mom yang melihatku seperti itu.


"Vero, mungkin saja Arlie hanya mengada-ada. Jangan terlalu percaya padanya. Apalagi soal vampire itu, itu hanya ada di dunia fantasi! Aku ... hanya menyuruh Arlie karna takut kau kenapa-kenapa. Itu saja kok maksud Mom."


Entah kenapa aku meragukan maksudnya Mom. Sekarang ini semua membuatku menjadi bingung, Mom membantah semua perkataan yang pernah Arlie ceritakan. Lalu waktu itu, kenapa aku bisa melihat diriku yang berperang di atas kuda dengan busur panah ya?


"Oh ya, Mom. Sebenarnya aku-"


"Ada apa ribut-ribut di sana itu?" kata Mom memotong pembicaraanku.


Tapi aku mengikuti arah pandang Mom, di daerah dekat pantai aku melihat banyak orang yang berkerumun ramai.


"Mom, ada apa di sana?" tanya Sophie ikut nimbrung.


"Mom juga tidak tahu, coba kita ke sana dan lihat apa yang terjadi."


Karna tingkat penasaranku hampir sama dengan Mom, aku dan Sophie langsung mengikuti Mom bangkit berdiri dan menghampiri kerumunan yang sedang ramai itu. Mataku berpendar ke sekeliling, mengapa tidak ada Aray dan kawan-kawannya?


"Permisi, bisa jelaskan apa yang terjadi?" tanyaku pada seorang wanita asing dengan tetap menjaga kesopananku.


"Aku tidak berani mengatakannya. Kau akan tahu sendiri jika melihat dibarisan paling depan," katanya lalu langsung berlalu pergi.


Aku berusaha mencari celah masuk untuk ke dalam. Sedangkan Sophie dan Mom, aku sudah tidak tahu ke mana mereka. Tapi aku ingin sampai di barisan yang paling depan dan melihat apa yang terjadi di sana.


Banyak orang yang memaki dan mengumpat karna aku menyelaki mereka. Tapi aku tak pedulikan itu, ketika aku akhirnya dengan susah payah telah sampai di barisan terdepan, aku melihat tubuh seorang wanita yang kaku. Tampak seperti mayat atau jangan-jangan itu benar mayat?


"Diduga sepertinya mayat wanita ini digigit oleh seekor vampire dan dijatuhkan dari tebing yang pendek di sana itu!" ucap seseorang ketika aku curi-curi dengar. Ya, dekat sini memang tak jauh dengan tebing pendek, hanya butuh menengok ke sebelah kiri maka tebingnya juga sudah terlihat.


"Tidak, sepertinya dia digigit oleh ular."


"Terserah kau saja, tapi aku tetap memilih jika dia digigit oleh seorang vampire!"


"Ngomong-ngomong, kenapa tidak ada yang menyadari perempuan mengenaskan itu ketika ada di atas sana?"


"Eh? Perkataanmu benar juga. Ini cukup misterius."


Hm, aku juga berpihak seperti itu. Ini kejadian yang aneh. Aku melihat pada leher wanita itu, ada bekas dua tusukan yang dalam. Tapi bentuknya itu rapi, apa jangan-jangan wanita itu benar digigit vampire?