
"Veronica! Tolong, jangan, Vero!"
Aku sudah berusaha. Berusaha agar mataku tak tertutup, tapi pusing di kepalaku lama-lama terasa begitu nyeri. Jeritan kak Emerald terus menyemangatiku untuk tetap bangkit.
Kemudian, aku mendengar adanya suara langkah kaki seseorang. Seolah-olah berjalan mendekati kami. Lalu kini aku bisa melihat jelas adanya sosok perempuan itu lagi, yang berambut pendek. Tapi ia menghampiri kami sendiri, tidak bersama kedua temannya yang tadi. Tanganku masih memegangi kepalaku yang nyeri.
"Sudah aku bilang kan? Kau begitu keras kepala." Perempuan yang belum kuketahui namanya itu, tanpa izin langsung menyentuh kepalaku.
Saat itu aku merasakan nyeriku satu persatu menghilang. Hingga aku merasa jika kepalaku sudah kembali normal. Aku sungguh tak menyangka dengan kejadian tadi. Kupandangi perempuan itu, nampak tersenyum kecil ketika aku melihatnya. Hebat, hanya dengan tangannya saja langsung bisa menyembuhkan nyeri di kepalaku. Masih kurang percaya, aku memegangi kepalaku, lalu melihat lagi padanya dengan pandangan mataku yang terkejut juga kagum.
"Bagaimana ... kau melakukannya?" tanyaku bingung.
"Sepertinya kau sudah mulai lunak padaku. Perkenalkan, namaku Arlie." gadis bernama Arlie itu tersenyum padaku, kemudian tatapannya menajam ketika ia melihat kak Emerald. "Hei, kau. Cepat pergi dan jauhi Vero! Jangan pernah bertemu lagi dengannya."
"Hei! Tapi dia kakak kelas," bantahku pada Arlie. Menurutku perlakuannya sama sekali tidak sopan pada orang yang lebih tua.
Tapi aku sudah melihat kak Emerald yang berjalan menjauhi kami.
"Dia licik dan busuk. Apa kau masih percaya padanya setelah kau lihat masa lalunya?"
Iya, tapi ... aku yakin jika Emerald punya alasan atas perbuatannya. Beberapa potongan masa lalunya waktu itu aku melihat Emerald membunuh kakaknya yang dulu kejam padanya, lalu membuat perjanjian pada seorang yang berpakaian aneh. Itu ... sangat mengerikan. Tapi Arlie menurutku jauh lebih mengerikan tiba-tiba saja langsung mengetahui kemampuanku dalam menerawang.
"Tapi ... aku yakin Emerald mempunyai hati yang baik."
"Omong kosong. Cepat kembali ke kelasmu." Arlie baru saja ingin melangkah, tapi aku langsung menahan pergelangan tangannya.
"Ngomong-ngomong, aku masih bingung apa yang terjadi pada diriku. Aku yang tiba-tiba mempunyai kemampuan psikometri, lalu kau yang mengaku adalah penjagaku dan bisa menyembuhkan nyeri di kepalaku dengan cepat. Apa kau ... bisa menjelaskannya?"
Arlie lagi-lagi tersenyum kecil. "Temui aku di taman sekolah sore nanti."
***
Aku menatap cowok yang ada di sampingku, kepalanya tenggelam dalam lipatan kedua tangannya di atas meja. Apa dia ... tertidur?
"Aish, berisik sekali," gumamnya yang membuatku bingung.
Kuedarkan pandanganku ke keliling ruangan, padahal di sini benar-benar senyap. Semua murid diam dan fokus mengamati guru.
Apanya yang dia bilang berisik?
"Dasar bodoh. Kau yang berisik!" katanya sambil mengahadap padaku. Kenapa pandangannya menakutkan?
Ngomong-ngomong aku masih bingung siapa yang ia ajak bicara.
"Apa masih kurang jelas jika kepalaku menghadap padamu?"
"Aku tak mengerti apa yang kamu ucapkan," jawabku menanggapinya.
"Kau bilang aku adalah anak pendiam, lalu kau ingin menaklukiku sebagai temanmu. Lalu kau beranggapan jika aku tidur barusan."
Eh? Itu kan kata-kata yang tadi aku bilang dalam pikiranku. Apa jangan-jangan dia....
"Mindreader," potongnya ketika aku berbicara dalam pikiran.
Menakjubkan! Sudah dua kali dalam sehari aku bertemu dengan-dengan orang yang mempunyai kemampuan spesial.
"Kau juga punya kemampuan spesial. Asal kau tahu saja, orang-orang di sekolah ini semuanya mempunyai bakat kemampuan spesial masing-masing."
Astaga, kenapa aku baru mengetahuinya sekarang?!