It's Vampire!

It's Vampire!
-Umbrella-



"Tiga hari," gumam Aray. Matanya menatap tajam ke luar jendela yang langitnya kini dikerubuni oleh awan hitam yang menutupi sinar matahari.


Gerry menyeruput coklat panasnya sambil duduk di sofa dengan kaki kanan yang berpangku di kaki kirinya. Sesekali lelaki itu meniup-niup minumannya agar bisa lebih dingin sedikit. Bibirnya terasa melepuh ketika pertama kali ia minum tadi.


"Ugh, panas sekali coklat panasnya. Elias! Bagaimana kau membuatnya?" dumel Gerry pada Elias yang sedang asyik menonton berita di televisi.


"Buat saja sendiri jika kau tak suka buatanku." Elias memencet tombol off pada remote dan layarnya langsung mati. Menurutnya, sama sekali tidak ada yang menarik selain orang-orang yang ada di dalam televisi.


Elias menonton televisi hanya saat ia rindu pada darah manusia. Meskipun tidak ada hubungannya, tapi ketika ditanya pasti Elias selalu menjawabnya begitu. Sebuah cangkir ditodongkan pada wajah Elias, lelaki itu hanya memiringkan kepalanya.


"Nih, coba kau rasakan sendiri buatanmu itu," ucap Gerry.


Elias langsung menyerahkan tangannya untuk menolak, "Kamu lupa ya? Aku tidak kenyang dengan air coklat. Sebenarnya itu pertama kalinya aku membuat coklat panas, melihatnya dari internet."


"Jadi maksudmu, aku kelinci percobaan?!" kesal Gerry, matanya mulai berapi-api. "Aray! Aku ingatkan kau untuk tidak meminum air yang dibuat oleh Elias, takutnya mengandung racun."


"Aku membuatnya sepenuh hati loh." Elias melengkungkan jari-jarinya membentuk love.


Aray hanya tersenyum kecil. Padahal Gerry lebih tua setahun dengannya, tapi masih sering bertengkar dengan Elias. Aray tak mendengarkan larangan Gerry, lelaki itu mencicipi sedikit satu cangkir coklat panas lain yang belum disentuh. Walaupun Aray juga punya darah vampire, tetapi ia juga masih butuh makanan manusia. Itu karna ... setengah darahnya Aray juga manusia.


"Tidak begitu buruk," ucap Aray sesudah mencicipi.


Elias tersenyum penuh kemenangan pada Gerry. Sedangkan Gerry ber-raut wajah sebaliknya dari Elias, kesal.


"Ngomong-ngomong, gadis keturunan bangsawan itu membolos sekolah selama tiga hari secara berturut-turut. Ke mana ia pergi?" tanya Aray bingung. Lelaki itu kemudian langsung menghabiskan coklat panasnya dalam sekali teguk.


Elias dan Gerry tiba-tiba langsung merangkul Aray dari sebelah kanan dan kiri. Aray tentu tidak mengerti, tapi kedua temannya tersenyum kecil penuh arti.


"Kamu khawatir dengannya ya?" tanya Gerry.


"Oh, atau jangan-jangan seorang Aray jatuh cinta pada gadis itu?" tambah Elias.


Aray melepaskan rangkulan mereka berdua. Tangannya melipat membentuk silang di depan dada. Aray menggeleng dengan keras, "Aku tidak ada hubungannya sama sekali dengan gadis itu! Hanya bertanya."


"Lalu kenapa waktu itu kau menciumnya? Aku tahu saat itu adalah ciuman pertamamu," timbun Elias. Sekarang Aray merasa kalau dirinya sedang tertimpa batu yang berat.


"Eh? Dari mana kamu tahu kalau itu ciuman pertama Aray dengan wanita?!" Gerry mulai protes.


"Ya, karna aku baru pertama kali melihat Aray berciuman dengan wanita. Jadi aku langsung mengambil kesimpulan."


"Argh, Aray! Kenapa kau tidak menceritakannya padaku? Kalau begitu aku tidak akan dapat komentar di internet lagi kalau kamu seorang gay!"


Seorang gay? Kata-kata itu tepat menusuk di dalam hati Aray. Tapi kalau soal ciuman pertama ... Aray akui kalau itu benar ciuman pertamanya. Aray juga tak menyangka kalau ciumannya jatuh pada gadis bangsawan itu. Padahal dari awal, Aray sama sekali tidak ada niat untuk melakukannya. Dan juga, sebelummya Aray pernah berjanji untuk tidak mencium sembarang wanita. Tapi Aray mengingkari perbuatannya! Entah apakah ada yang selanjutnya dan selanjutnya lagi.


Jauh di hati Aray yang paling dasar, di sana sudah ramah berseru kata LAGI! Tentu saja Aray menguasai pikirannya.


Di antara ributnya mereka, samar-samar mulai terdengar suara ketukan dari pintu utama.


"Eh?" Ketiganya serentak berhenti berdebat dan berjalan untuk membukakan pintu.


Di hadapan ketiga lelaki itu kini ada seorang gadis kecil yang berpakaian basah kuyup. Di lengannya ada besut dan beberapa goresan luka. Tidak lupa dengan satu buah koper di belakangnya, Gadis itu tersenyum lebar pada mereka berdua. Wajahnya dapat dikenali dengan mudah oleh Elias, Aray, dan Gerry. Baju gadis itu bahkan hampir transparant menembus ke baju bagian dalamnya akibat air.


"Tawaran waktu itu, boleh aku tinggal di sini untuk beberapa hari?" ucap gadis itu yang membuat mereka bertiga terkejut.


***


"Paman Reyn!" seru Veronica di tengah-tengah derasnya hujan yang turun. Gadis itu menahan kepergian seorang yang tangannya sedang ia pegang.


"Veronica, kita bertemu," gumam Reyn. Pria itu berbalik dan menghadap pada Veronica. Awalnya Reyn merasa silau ketika melihat kalung yang di kenakan di leher Vero. Pria itu cukup terkejut ketika melihatnya, "Selamat. Kamu sudah mendapatkan kalungnya. Sudah pasti kalau ingatanmu telah dikembalikan sepenuhnya, Rose gagal untuk membiarkan kamu tetap di sisinya."


Saat itu juga, tubuh Veronica seakan membeku bahkan membatu. Paman Reyn ... sudah tahu. Hal itu yang malah membuat hati Veronica semakin berkecamuk.


"Dua hari lalu aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Mom dengan Paman. Malam saat aku tertidur ... aku didatangi oleh wanita yang mengaku sebagai Ibu kandungku," jelas Veronica. Dari awal gadis itu sudah memantapkan hatinya, tapi dirinya kembali diselimuti perasaan was-was.


"Maaf jika selama ini paman mengecewakanmu. Tapi, maukah kamu tetap berada di sisi Rose?" Reyn menatap Veronica dengan pandangan berharap.


'Jangan tatap matanya...'


Veronica tidak tahu siapa yang menggumam dalam hatinya. Tapi ... yang tadi itu Veronica hampir terbujuk untuk melakukan apa yang tadi Paman Reyn katakan. Akhirnya Veronica membuang muka.


"Mau bagaimana pun ... keturunan penyihir tidak ada yang punya hati bersih," jawab Veronica. Setelah menemukan kembali jati dirinya, Veronica merasa dirinya jadi berbeda. Tapi ini ... memang sifat aslinya. Selama bertahun-tahun Veronica merasa ada yang membelenggu dirinya dengan kaki yang dirantai, seakan tidak boleh pergi ke mana-mana. Tapi gadis itu tak pernah menyadari jika dirinya di penjara.


"Lalu, kamu kira kamu satu-satunya orang yang berhati bersih?"


Veronica sempat tercengang dengan serangan balik dari pamannya. Tapi gadis itu berusaha untuk optimis dan tenang, "Aunty Ze manusia kan? Aku tahu yang waktu itu menakut-nakuti aunty Ze di rumah penelitiannya adalah kamu yang menyamar jadi vampire."


Reyn berdecih. "Kamu pintar juga, keponakanku. Tapi dia adalah istriku, tak ada salahnya sedikit bermain-main dengannya dan menyuruhnya agar pulang dan melayaniku dengan benar di rumah."


Veronica ingat kalau aunty Ze itu sebenarnya sangat pemalu. Tapi ia begitu banyak bicara jika sudah di datangkan dengan alam.


"Jangan sakiti dia."


"Untuk apa aku tidak menyakitinya?"


"Karna dia adalah manusia yang tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa."


Tanpa di duga oleh Veronica, bersamaan dengan suara jeritan dari paman Reyn tubuhnya terlempar jauh ke belakang. Saat itu ia merasa kalau tulang rusuknya sebentar lagi mungkin akan patah, dadanya menghatam aspal dengan kejam. Untung di sini malam-malam yang sudah sepi, jadi tidak akan ada yang menonton. Tapi Veronica mengenali apakah ini. Tidak salah lagi, kalau ini adalah kekuatan sihir.


"Tahu apa kamu tentang hidupku?!" kesal Reyn. Tangannya mengepal dan mengeluarkan kabut cahaya yamg berputar-putar di sekitarannya.


Veronica bangkit berdiri. Dirinya yakin kalau tubuhnya ada yang terbesut. Payung yang tadi di pegangnya terlempar tak jauh darinya. Veronica mengambil dan mengarahkan payungnya yang terbuka pada paman Reyn yang mulai berjalan mendekat.


"Tak peduli kamu anak kesayangan siapa, tapi aku akan menghabisimu jika kamu membuatku marah. Dasar keponakan tidak tahu diuntung dan lancang!"


Ya Tuhan, kumohon jangan sekarang. gumam Veronica dalam hatinya, kakinya bergetar. Veronica mencoba untuk menggerakkan kakinya, tapi seakan ada penahan. Gadis itu tahu kalau paman Reyn sedang menggunakan sihirnnya.


Beberapa kali Veronica mencoba untuk menutup mata. Masih tidak ada reaksi pada dirinya, tangannya berpegang erat pada payungnya. Reyn tersenyum seperti sedang melihat mangsa. Warna matanya berubah menjadi putih total. Pria itu hendak melayangkan tinjuan magis pada Veronica, tapi ketika Reyn melihatnya lagi, tubuh Veronica sudah tidak ada. Payung transparant yang tadinya ingin Veronica gunakan untuk senjata malah terbang terbawa angin kencang. Sementara itu, air yang turun dari langit langsung perlahan-lahan berhenti dan kembali menjadi deras.


"SIALAAN!!" kesal Reyn dan melemparkan tinjuannya pada udara kosong dan air yang mengalir deras.


***


Follow my Instagram😂:


@hafnizrl


Boleh saya minta bantuan? Saya butuh kritik dan juga saran. Mohon maaf, masih pemula🤗 Silahkan beri kritik kalian pada cerita ini di kolam komentar. Tapi bersýarat loh🤫


-Kritik doang kok make syarat segala?


Hehe, gapapa sih sebenernya.


Syaratnya adalah, gunakan bahasamu sendiri. Ingin menggunakan kata kasar? Silahkan😙 Asalkan jangan bawa kebun binatang😉