
Veronica pelan-pelan merasakan hamparan rumput yang ada di sekitarannya. Lembut dan halus, tanaman rumput yang terawat. Perlahan gadis itu membuka matanya, menatap sungai jernih yang ada di hadapannya. Di sana benar-benar tenang, entah kenapa juga mampu membuat hati Veronica merasa tenang.
Veronica ingat barusan ia terjatuh dari jurang dalam yang gelap, namun tiba-tiba dirinya ada di bawah pohon ini sendiri. Namun ketika Veronica perhatikan lagi, tempat ini terasa tak asing baginya. Gadis itu pernah mengenalinya disuatu tempat, namun ia tidak tahu ada di mana.
"Kamu?"
Veronica tersentak kaget. Gadis itu beranjak berdiri dan melihat sosok wanita dengan gaun putih panjang yang mengembang. Di bawah gaunnya terdapat beberapa renda bunga-bunga, wanita itu juga mengenakan topi Floppy hats yang anggun seperti khas kerajaan. Veronica menatap matanya, warna mata itu ... hampir mirip dengan warna mata Aray.
Wanita itu mendekati Veronica, mata cantiknya menatap Veronica dengan lekat.
"Aku sudah menunggu kedatangan kamu," kata wanita itu.
Veronica mengangkat tangannya, niatnya ia hendak menyentuh wanita tadi. Namun Veronica tiba-tiba menarik tangannya kembali.
"Kamu siapa?" tanya Veronica, namun wanita itu hanya diam dan membuka mulutnya. Menampilkan taringnya yang sangat lancip dan tajam, wanita itu menyentuh ujung taringnya sendiri dengan tangannya, kemudian menusuknya.
Darah mulai mengalir dari jari itu, namun wanita itu malah menghisapnya hingga habis, "Mungkin kamu tidak akan percaya."
Veronica diam, gadis itu memilih untuk mendengarkan saja.
"Aray adalah vampire kutukan..." wanita itu kembali memberi jeda, "Dia anakku."
Meskipun Veronica tertarik pada topik pembahasan ini, namun bibirnya seolah tak bisa bergerak dan melafalkan sesuatu.
"Tenang saja, aku tidak menggunakan sihir apapun untukmu," kata wanita itu, "Namun ini adalah dunia yang tidak nyata. Kamu bisa berbicara hanya ketika ada dialogmu saja yang sudah tertulis dalam buku dewa. Sedangkan aku ... mainannya yang harus dipertemukan olehmu, memberi informasi."
Veronica meneguk salivanya. Gadis itu tiba-tiba merasa situasinya jadi semakin memburuk.
"Kenapa aku bisa terdampar ke masa lalu?" Veronica sontak menutup mulutnya. Yang dikatakan wanita itu benar, mulut Veronica berbicara sendiri tanpa Veronica kendali.
"Itu karna kamu masih punya urusan di masa lalumu itu, dan kamu harus menyelesaikannya secepat mungkin."
"Lalu mengapa aku juga dilibatkan oleh sekawanan vampire?" Lagi-lagi, mulut Veronica berbicara sendiri.
"Kamu tahu, sayang? Aray juga tak seharusnya menjadi vampire. Namun kamu hanya cukup menikmati, permainan baru saja dimulai. Kamu akan tahu jawaba nya saat ending berakhir nanti ... sampai jumpa."
Secara perlahan, semuanya meredup bahkan menggelap. Kemudian Veronica merasa jika tubuhnya berada di suatu ruangan hampa, namun masih sama. Veronica masih belum bisa melihat apa-apa.
Semua kisah ini berawal dari rumah Nenek dan darah dipekarangan rumah Nenek waktu itu. Namun, Nenek pernah bersikap tidak wajar waktu itu. Kemudian, Veronica yang pernah dimimpikan masuk asrama oleh Mom-nya. Lalu tak lupa pertemuan Veronica dengan Aray yang mengubah segalanya.
Akankah semua itu ada hubungannya? Kenapa kehidupan Veronica seakan-akan dipermainkan dan diacak-acak seperti ini?
Bahkan untuk alurnya, Veronica juga tidak tahu ke mana.
Gadis itu membuka mata, tidak ada lagi gelap yang gulita. Namun ketika Veronica menyentuh dahinya, ada bercakan darah merah di sana. Tubuh Veronica tidak remuk, hanya terbentur bagian kepalanya saja. Tapi satu hal yang Veronica tahu, ia masih berada di tempat yang sama. Masa lalunya pada zaman dahulu kala di kerajaan-kerajaan.
Gadis itu merasa ada yang berat di pundaknya, ternyata ada kepala Aray yang bersandar. Matanya masih memejam, Veronica membuka mata sepenuhnya. Gadis itu menepuk-nepuk Pipi Aray dengan keras.
Aneh, ini semua sangat aneh. Seharusnya jika mereka terjatuh dari jurang, maka tubuh mereka bisa hancur remuk ketika jatuh di bebatuan. Namun, mereka berdua malah mendarat dengan posisi duduk di balik batu besar. Apakah semua ini telah direncanakan sebelumnya?
Namun, Aray masih saja terpejam. Ada darah mengalir dari sudut bibirnya, Veronica mengusapnya. Gadis itu kemudian memberanikan diri untuk menjilatnya. Sampai saat ini, Veronica sendiri tidak tahu jati diri yang sebenarnya.
"Aray!" seru Veronica. Gadis itu terus memanggil-manggil namanya, namun Aray tak kunjung bangun.
***
"Misi kita saat ini hanya untuk mencari jam waktu ke masa depan."
Elias yang bersandar di pohon dengan posisi berdiri dan tangannya yang terlipat di depan dada, lelaki itu mendeham. Gerry melempar batu ke dalam jurang tempat Veronica dan Aray terjatuh. Mereka cukup frustasi dengan hilangnya sahabat mereka.
"Aku sedang tidak ada pikiran," kata El.
"Aray!! Vero!!" teriak Gerry. Suaranya menggema dalam jurang itu, namun Gerry tahu usahanya sia-sia. "Apa kita harus datang ke sana juga?" tunjuk Gerry ke dalam jurang.
Elias mendekat dan menjitak kepalanya, "Jangan gila! Aku tahu pasti ada caranya. Percaya saja padaku, mereka akan baik-baik saja."
"Cih, kau pikir aku anak kecil, huh? Aku tidak perlu ditenangkan dengan cara yang menjijikan seperti itu," balas Gerry. Ya, memang di saat seperti ini terkadang Elias suka sok bijak. Yang membuat Gerry muak.
Elias hanya tertawa mendengar gerutuan itu, adalah salah satu cara Elias menenangkan diri untuk tidak panik dan bertindak ceroboh. Lelaki itu sebenarnya juga sedih kehilangan teman, cuma kandang lebih suka disembunyikan.
Elias merangkul bahu Gerry, seakan memberi semangat pada satu sama lain. "Ayolah, kawan. Perjalanan kita di sini sepertinya masih panjang, dan akan kita akhiri secepat mungkin."
"Padahal kita baru saja bertemu mereka, kenapa seolah-olah kita tidak ditakdirkan untuk mencari jam masa depan itu bersama?"
"Ya, tapi aku yakin kita akan bertemu lagi dalam waktu yang tak terduga."
Elias menjauhi tebing jurang, tadinya Gerry masih berdiri di sana. Namun cowok itu kemudian mengikuti Elias dan mengekori di belakangnya.