
Suatu hari ada seekor kucing liar yang tertindas. Pada malam hari kucing itu disuruh mengerjakan PR para kelinci menawan setelah si kucing liar menghabiskan seluruh makanan yang ada di dapur. Dan pada pagi ini, kucing liar berpenampilan sangat liar dengan kedua mata pandanya.
Veronica berjalan lesu di belakang ketiga lelaki itu. Gadis itu benar-benar sangat kelelahan. Elias dan Aray sudah terbiasa begadang di malam hari, karna mereka adalah Vampire. Sedangkan Gerry sudah tewas di ranjangnya, dan pada malam itu Veronica sendiri duduk di lantai dengan tiga tumpuk buku milik Elias, Aray, dan Gerry. Kalau saja malam itu Veronica tidak menghabiskan seluruh makanan yang ada di dapur, gadis itu tidak mungkin jadi seperti ini.
"Ayo jalan yang cepat, princess. Kita tidak boleh terlambat," seru Gerry dengan gaya sok kerennya.
Kalau biasanya Veronica berangkat sekolah lewat gerbang depan, kini dia mengikuti tiga pria brengsek itu lewat pintu belakang. Pintu yang waktu itu pernah ingin dipergunakan untuk menculiknya.
Satu langkah ketika Veronica menapakkan kakinya memasuki area sekolah, gadis itu merasakan ada hawa yang berbeda. Bukan hanya hawa, Veronica tidak tahu bagaimana indra kepekaannya jadi meningkat. Aura, dan juga bau dari sekolah ini berbeda dari biasanya. Padahal biasanya tidak begini.
"Elias, Aray, kak Gerry, apa kalian merasa ada hal aneh?" tanya Veronica.
Tiga lelaki itu saling memandang. Raut wajah mereka juga nampak cuek. Veronica merubah raut wajahnya menjadi datar, seharusnya ia tidak bertanya pada mereka.
Namun, tak lama ada sesuatu bergetar dari tanah. Beberapa siswa-siswi yang berlalu lalang nampak bingung apa yang terjadi. Rasanya seperti gempa bumi. Mulai banyak para siswi yang menjerit ketakutan, ada juga yang berjongkok dan menutup telinga mereka.
Veronica merasa ada yang menariknya untuk berjalan lebih cepat, Aray.
"Sihir, aku tahu ini akan terjadi," gumam Aray.
"Mereka telah mengetahui dia," kata Elias dan Gerry bersamaan sembari menunjuk Veronica yang digenggam oleh Aray. Veronica mengerutkan keningnya, masih belum bisa mencerna kejadian sekarang.
"Apa yang kalian katakan?" tanya Veronica.
Tanah kembali bergetar dengan kencang, mampu membuat beberapa orang kehilangan keseimbangan. Veronica dan Aray berusaha mempertahankan diri mereka. Elias dan Gerry juga sama.
"Saranku, jangan pernah percaya pada siapa pun!" ucapan terakhir Aray bersamaan dengan tanah yang mereka pijak semakin lama semakin rapuh.
Veronica begitu terkejut ketika ia melihat tanah yang dipijaknya sekarang retak, lalu tubuhnya terjatuh ke bawah. Kemudian terdengar teriakan melengking dari Veronica sampai ke telinga Aray, lelaki itu dengan sigap langsung melompat ke tempat Veronica tadi terjatuh. Tapi sama saja ... Dalton High School runtuh tertelan tanah secara mistis. Dengan singkat merubah sekolahan megah tadi menjadi tanah lapangan yang kosong dipenuhi rerumputan hijau.
Para manusia biasa yang dulu pernah kenal dan takjub pada Dalton High School sekarang tak dapat mengingatnya lagi. Dalton High School seakan lenyap tak pernah ada ... bersama dengan murid-muridnya juga yang sekarang tidak tahu ada di mana.
***
bugh.
Veronica yakin kalau ia seharusnya jatuh dengan keras dan punggungnya akan patah. Tapi kenapa ... ia malah merasa ada sesuatu hangat dan empuk yang sampai menjalar ke tubuhnya?
Tanpa ragu gadis itu membuka mata, lalu pemandangan yang dilihatnya benar-benar tidak bisa dipercaya. Veronica jatuh dipelukan Aray!!
"Astaga!" Veronica menutup mulutnya sendiri, gadis itu bingung harus berbuat apa selain berdiri dan tidak menindih Aray lagi.
Ini pasti salahku karna terlalu berat, gumam Veronica dalam hatinya. Matanya berpendar ke segala arah, anehnya tidak dapat menemukan siapa pun ada di sini. Di hutan ini. Veronica sendiri juga tidak tahu ini ada di mana, sedangkan Aray masih saja menutup matanya.
"Apa yang harus aku lakukan?!" Veronica mulai frustasi. Gadis itu mengangkat kepala Aray, hanya untuk melihat luka di bagian kepala. Veronica bahkan tidak tahu bagaimana caranya dengan luka ini di situasi paniknya sekarang.
"Elias! Kak Gerry! Di mana kalian?!" teriak Veronica. Namun dirinya tak berdaya, hanya ada Aray di pangkuannya. "Aray! Kumohon bangunlah ..."
Kedua mata Aray sedikit bergerak, Veronica tak menyadarinya. Gadis itu tak sadar menitikkan air matanya.
Apa aku ... membunuh Aray? kata Veronica dalam pikirannya.
"Akh, s-sakit ..." rintih Veronica. Gadis itu sekarang merasa ... seperti ada yang menyedot darahnya dari tangannya.
Barulah saat itu Aray sadar sepenuhnya. Lelaki itu mengubah posisi tidurnya menjadi duduk, mulutnya sibuk menghisapi setiap darah yang ada pada tubuh Veronica. Ini ... baru pertama kali Veronica merasakannya! Sakit, sakit sekali. Tapi gadis itu takut tangannya akan robek jika ia menarik paksa lengannya.
"A-aray, hentikan ... sakit."
Aray mendongak, pria itu menghentikan aktivitasnya. Pandangan matanya menatap datar Veronica. Perlahan-lahan Aray menyadari luka di kepalanya berangsur-angsur pulih.
"Sedikit lagi," ucap Aray. Veronica tak menyangka kalau pria itu kini menggigit bagian lehernya.
Yang di sini ... lebih sakit.
Veronica ingin sekali memberontak, tapi kenapa seperti ada yang mengontrol dirinya? Seketika dadanya mulai merasakan sesak. Gigitan Aray seperti ditusuk oleh jarum yang berukuran tiga kali lipat lebih besar. Veronica ... benar-benar sudah tidak tahan.
Matanya perlahan mulai berkunang-kunang. Kesadarannya semakin menipis, matanya sayup-sayup ingin segera menutup. Aray melepaskan gigitannya, tepat saat itu juga kini gantian Veronica yang jatuh pingsan di dalam pelukannya.
Aray menepuk dahinya sendiri dengan keras, lelaki itu mengusap kasar darah Veronica yang ada di sudut bibirnya. "Aku sudah kelewatan, maaf ..."
Aray menggendong Veronica secara bridal style. Luka yang tadi ada di kepalanya sudah benar-benar pulih akibat bantuan darah dari Veronica.
Ketika lelaki itu memandang sekitar hutan yang ada di sini ... benar-benar sudah tidak asing lagi bagi Aray. Dirinya pernah berkelana dsn berburu di sini sewaktu dulu.
"Ada yang menggunakan jam waktu masa lalu, untuk sekarang ... lebih baik aku mencari Elias dan Gerry."
Walaupun Aray mengerti dengan kondisi sekarang, tapi masih ada sebuah pertanyaan di dalam benaknya. Mengapa bisa menggunakan jam waktu masa lalu untuk menyeret satu sekolah? Padahal setahu Aray ... jam waktu masa lalu hanya bisa menyeret paling banyak dua orang.
Tidak salah lagi, ini pasti campur tangan sihir dari penyihir. gumam Aray dalam hatinya. Lelaki itu berlari dengan lihai dengan membawa Veronica bersamanya. Di dalam pikirannya, lelaki itu sudah tahu akan mencari tempat penginapan mana yang terdekat dari sini.