It's Vampire!

It's Vampire!
-Z-



"Aneh," gumam Aray dengan pelan. Lelaki itu menarik kedua tangan Veronica yang tadi hendak terulur. Matanya sudah penuh dengan gelimang air.


"Apa yang kau lakukan? Walaupun dia-"


"Kamu masih lupa? Kita menembus ruang dan waktu. Penyihir itu tidak mungkin dapat dikalahkan dengan mudah, aku yakin pasti ini bagian dari rencananya," jelas Aray. Veronica tersadar saat itu juga. Kenapa gadis itu bahkan sampai menangisi dan bertekuk padanya? Benar-benar aneh.


Selang beberapa menit kemudian, ketika Veronica dengan Aray mulai berjalan menjauh, aura hitam perlahan-lahan keluar dari tubuh yang tergeletak di tanah tadi. Wajahnya yang tadi dibuat sama persis dengan wajah Rose berubah, kembali menjadi wajah Arlie yang biasanya. Suara tepukan tangan riuh mengganggu pendengaran Aray dan Veronica. Mereka berdua memalingkan wajahnya ke belakang, melihat sosok tubuh Rose yang asli melayang.


"Sangat pintar!" puji Rose dengan senyum menakutkan di bibirnya. Namun Veronica tidak takut sedikit pun padanya, apalagi Aray.


Gadis itu hanya fokus dan terkejut ketika melihat tubuh yang berada di bawah Rose itu adalah Arlie. Membiru dan beku. Banyak luka sayatan di mana-mana pada tubuhnya, Veronica nyaris menjerit histeris. Namun Aray tiba-tiba jadi semakin erat memeluk Veronica dari samping.


"Veronica sayang. Ikutlah bersama Mom-mu?"


Tidak ada binar mata ketulusan dan juga kehangatan di mata Rose seperti dulu. Yang Veronica lihat dari matanya hanya kosong ... hampa.


Veronica mundur satu langkah, kepalanya menggeleng pelan. Namun tidak menundukkan pandangannya sedikit pun. Melihat penolakan Veronica, Rose merasa gusar. Pupil matanya menghitam pekat, kemudian meyambar ke mana-mana dan hampir membuat seluruh mata Rose hanya hitam.


Bibirnya mendecih, tangannya ke belakang mengambil tudungnya. Lalu menutupi kepalanya sendiri dengan tudung itu.


"Mungkin kita bisa bertemu lagi nanti," ucap Rose kemudian. Perlahan tubuhnya mulai menghilang dari ujung kaki hingga kepalanya. Lalu meninggalkan mayat Arlie yang masih setia di tempatnya tadi.


Pandangan mata Veronica menjadi sayu.


"Aku mau kita mengubur Arlie terlebih dulu," kata Veronica. Aray menyetujuinya.


***


Berulang kali Elias mencoba, tapi hasilnya tetap saja sama. Nihil.


Gerry yang tadi tengah sibuk menyalakan api akhirnya menyala juga. Tapi kemudian lelaki itu menghampiri Elias yang kelihatan lelah. Energinya seperti terkuras habis.


Dengan santai Gerry mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya, sebuah apel. Elias melotot tak percaya, dadanya mulai bergemuruh karna kesal. Merasa seperti dipermainkan.


"Hei, aku sangat lapar! Berulang kali aku mendobrak batu ini tapi tidak terbuka juga. Berikan apel itu padaku!" Elias hampir meraih apel dari tangan Gerry. Tapi Gerry mampu menghindar dengan gerakan cepat, mata Elias berkilat-kilat ketika memgamati apel yang dipegang Gerry.


"Tidak bisa, aku yang menemukannya." Gerry meledek, Elias tetap tidak mau kalah darinya.


"Cepat berikan!" Elias berlari dengan tangannya yang meraih-raih. Mirip seperti zombie, Elias berlari kalang kabut. Gerry memang sedang ada di depannya, namun ketika Elias mempercepat lajunya Gerry menghilang tiba-tiba.


Kepala Elias juga sukses terantuk batu. Seketika lelaki itu merasakan ada yang berputar-putar di atas kepalanya. Gerry yang tadi menghindar kembali meledek Elias, "Kamu kan vampire. Ngapain juga makan apel?"


Gerry menggigit apelnya.


Iya juga, mengapa Elias tiba-tiba ingin makan apel? Tapi di sini tidak ada makanan apa-apa. Bahkan seekor lalat pun sepertinya takut masuk ke sini, hanya ada Gerry....


Tapi Elias merasa gengsi. Tidak mungkin kan, dirinya menghisap darah Gerry di bagian lehernya seperti sedang ... lupakan. Elias bukan seorang gay! Selama ini Elias selalu bermimpi bisa mempunyai gadis cantik berdarah manis yang menjadi pacarnya. Elias juga selalu menahan nafsunya untuk menghisap darah pria demi gengsinya.


Tapi suara yang paling menjengkelkan akhirnya keluar juga. Elias benar-benar benci suara ini. Tapi mau bagaimana lagi? Suaranya kali ini berasal dari perutnya sendiri.


"A-aku mau darah ..." gumam Elias. Terkadang lelaki itu bisa berubah menjadi pria dewasa dan pria yang sangat kekanak-kanakan. Sifatnya sangat buruk menurut Gerry.


"Sampai kapan kita terjebak di sini?" Gerry menyentuh dinding batu yang terasa dingin ketika menempel di kulitnya.


Elias diam saja. Lelaki itu berusaha menahan rasa laparnya. Namun tak lama di tempat mereka berpijak, tanahnya terasa bergetar. Beberapa batu kecil yang ada di goa ini berjatuhan. Mengenai kepala Elias dan Gerry. Keduanya langsung jongkok dan membuat perlindungan dari tangan menutupi kepalanya. Tentu saja mereka merasa panik, tapi ditutup-tutupi oleh mereka. Api unggun yang diciptakan Gerry susah-susah dari sedikit ranting pohon yang nyasar ke sini mati. Gerry mendecak sebal, mereka jadi gelap-gelapan lagi. Namun getaran seperti gempa bumi masih saja terjadi.


"SESEORANG, TOLONG KAMI!" teriak Elias.


Beberapa detik kemudian, tidak ada getaran gempa bumi lagi.


BLARRR


Namun, yang mereka berdua dengar malah suara batu yang dihancurkan. Elias dan Gerry melindungi diri. Perlahan tapi pasti, mereka membuka sedikit matanya. Ingin melihat apa yang sudah terjadi.


Sebagian goa ini runtuh. Cahaya matahari menerobos masuk ke dalam, tapi di sana berdiri orang yang tidak asing bagi Elias dan Gerry.


"Darrel?" kata Elias.


Darrel menatap remeh Gerry dan Elias. Tapi mereka berdua sudah tahu bagaimana sifat Darrel. Darrel adalah teman sekelas mereka yang selalu menganggap geng Aray sebagai musuhnya.


"Ternyata kalian? Kalau begitu lebih baik aku pergi saja tadi."


Elias mulai menggertakkan giginya. Namun Gerry menahannya ketika Elias mulai maju karna tersulut emosi.


"Sebenarnya, kami juga tidak butuh bantuanmu. Tapi ... karna kamu sudah menghancurkan batunya kami tidak akan berterima kasih," ucap Gerry bersama Elias yang berjalan melewatinya.


Sekarang gantian, Darrel yang menggertakkan giginya karna kesal. Saat itu juga Elias merasa puas. Bibirnya mengulum senyuman mengejek pada Darrel, lalu mereka berdua berjalan santai keluar meninggalkan Darrel.


"Tunggu."


Langkah Elias dan Gerry terhenti. Keduanya siap mendengarkan apa lagi yang mau Darrel katakan.


"Bagaimana kalau kita sedikit mengadu kekuatan?" tanya Darrel.


"Tidak masalah," jawab bersamaan dari Elias dan Gerry.


"Setelah itu kamu tidak mengganggu kami lagi, bagaimana?" tanya dari asal suara lain yang Elias dan Gerry kenali. Ketiganya serentak mengalihkan pandangan mereka. Menatap seseorang yang berdiri di bawah pohon bersama gadis di sampingnya.


"Aray!"


***


Who Am I-nya jangan lupa dibaca ya guys!


HUMORABLE-nya juga! cek profilku! hehe. Jangan lupa masuk chat groupnya juga^^


Kalian boleh mengirim kritik dan saran di kolom komentar ini, demi kemajuan cerita It's Vampire!


Author sangat berterima kasih pada kalian semua yang selalu memberi like, serta komennya!


See u next time😉