It's Vampire!

It's Vampire!
-In dream-



brukk.


Aku tidak mau tahu apa yang aku tabrak sekarang. Pikiranku menerawang jauh hingga ke peristiwa saat itu. Napasku tercekat, dedaunan bergoyang ke sana-sini mengikuti irama sang angin. Pohon-pohon seperti ikut bersenandung, seakan-akan menyaksikan dengan seru pemandangan orang yang tengah menderita sekarang. Jarakku dengan jaraknya hanya tinggal beberapa senti lagi. Netraku bertumbukkan dengan netranya yang merah legam. Nabastala ikut berubah suram, awan cerah digulung dan digantikan dengan awan yang hitam kelam.


Pepohonan masih menyaksikan dengan rindang. Aku ingin segera berlari, tapi aku menunggu kawananku. Ke mana mereka? Di saat genting seperti ini mereka serasa lambat untuk melindungiku. Pikiranku mengatakan jika aku sudah tak ada pilihan hidup. Kakiku hampir saja melesat jatuh ke bawah jika saja aku tak sadar kalau sedari tadi aku berjalan mundur, menjauhi dirinya. Ini tidak mungkin, aku membencinya. Benar-benar membencinya. Gemuruh di dadaku tidak mungkin berdusta. Saat ini aku merasa jika nyawaku sudah berada di ujung tanduk. Dia benar-benar bukan orang yang aku percaya. Sialan, aku melesat dalam menyimpulkan. Ketika dirinya berjalan pelan mendekatiku, mulutnya seraya bergumam.


"Maaf ..."


Aku tidak akan pernah memaafkannya. Kuangkat satu tanganku ke udara, bibirku mengangkat senyuman cantik yang sinis. Lalu ... kulayangkan tubuhku dari tingginya tebing. Kejadian itu bersahut-sahutan dengan adanya suara-suara teriakan yang aku yakini adalah kawananku yang baru datang. Kututup mataku, dan aku akan berpikir jika semuanya telah berakhir. Tidak akan ada lagi seorang pun yang membuatku seperti boneka. Tidak akan. Hantaman keras adalah hal yang terakhir aku rasakan.


***


"Ya ampun, Vero!" seruan itu membuatku terbangun dan langsung terkesiap.


Sinar matahari membuat mataku sangat silau di pagi hari ini. Pandangan mataku yang pertama adalah wajah Mom yang tepat di hadapanku. Kemudian Mom menegakkan tubuhnya dan berkacak pinggang.


"Kau tidak ingin terlambat hari ini kan?"


"Ah, iya!" seruku baru tersadar.


Tapi ... yang tadi malam itu, mimpiku sangat aneh. Uhm, maksudku, aneh tapi seperti nyata ketika aku di dalamnya. Perasaan sedih, kecewa, semua rasa itu seakan nyata dan masih saja terdekam di dalam dada. Bahkan rasa benciku ketika dimimpi itu seakan perasaan yang nyata juga.


Tapi kini aku sudah mengabaikan mimpi itu, Mom sudah mengantarku ke sekolah. Sekarang aku baru tahu dari beberapa siswa yang berbisik-bisik, bahwa aku dinyatakan sebagai primadona sekolah. Tapi aku tidak tahu apa alasannya.


Tiba-tiba saja aku menjadi tidak nyaman terus diperhatikan ketika aku berjalan di koridor sekolah.


Aku menghadapkan pandanganku ke belakang, karna seingatku tadi suaranya ada di sana. Namun, langkahku yang terhenti malah membuat seorang gadis yang sedang berjalan sembari membawa buku yang tadi di belakangku malah menabrakku dan terjatuh.


"Ah!"


"Hei, kenapa kau menabrak Vero?! Apa kau tak punya mata?" Lalu aku melihat lagi ada tiga gadis asing tiba-tiba datang yang membelaku. Padahal, aku sama sekali tidak tahu siapa mereka.


Tapi, apa selama ini aku seterkenal itu?


"Maaf," gumam gadis yang jatuh itu. Ia mengambil bukunya yang juga jatuh dan mendangakkan kepalanya, saat itu matanya langsung menghadap padaku. Aku benar-benar mengenalinya sekarang.


"Cepat pergi dari hadapan Vero!" kata gadis asing berambut pendek sebahu. Sepertinya, rambutnya dicat menjadi warna biru. Ia melipat tangan di depan dada, berlagak sok angkuh. Malah, yang seperti ini aku tidak menyukai gayanya.


"Aku mengenal perempuan ini, kalian siapa tiba-tiba membelaku? Bahkan aku belum mengenali kalian," ucapku dengan berani.


"Maaf, Vero. Kami adalah ketiga perempuan yang diharuskan menjagamu di sini."


"Tapi aku tidak meminta kalian untuk menjagaku!" Aku tak sadar sudah berucap dengan nada tinggi.


Lalu aku menarik perempuan yang aku kenal itu, membawanya ke suatu tempat yang sepi.


"Kak Emerald?" tanyaku. Entah hanya perasaanku saja atau apa, ia terlihat terkejut ketika aku memanggil namanya.