It's Vampire!

It's Vampire!
-P-



*Warning! Part ini part terpanjang daripada yang kemarin. Dan di part ini, part terakhir menggunakan POV Veronica.


~Selamat membaca*~


 


Semenjak kematian misterius wanita yang heboh waktu itu, tempat piknik yang pernah kami kunjungi sudah disegel. Tidak boleh ada lagi orang yang berkunjung atau rekreasi ke sana. Aku tidak tahu mengapa hanya karna satu orang yang meninggal waktu itu, semuanya tidak boleh lagi berekreasi ke sana.


 


Tapi aku tak ingin memusingkan kejadian yang waktu itu. Pagi ini aku merasa sibuk sekali. Aku lupa jika aku mempunyai PR dari sekolah, jadi aku belum mengerjakannya sekarang. Niatnya aku berangkat pagi-pagi dan segera masuk kelas lalu mengerjakan PR-nya.


Tapi, sepertinya aku belum diperbolehkan melakukan itu. Di jalan aku bertemu dengan dua orang yang waktu itu pernah bersama Aray. Mereka menghalangi jalanku. Kupikir ketika aku berbelok ke kanannya, maka aku akan bebas. Tapi ternyata mereka masih menghalangiku. Kuulangi lagi tapi ke sebelah kiri, mereka masih saja menghalangi. Sekarang aku sangat yakin jika mereka sengaja melakukannya.


"Bisakah kalian minggir dari jalanku?" tanyaku dengan nada sedikit sinis. Kalau mereka ingin bermain-main denganku, kumohon jangan untuk sekarang.


"Memangnya ... kenapa?" pertanyaan menyebalkan dari cowok yang kemarin aku tahu namanya adalah El membuatku geram. Argh, bodohnya aku menilai hanya dari belakangnya saja waktu itu.


"Aku sedang sibuk, jangan menghalangiku. Lagipula aku sama sekali tidak mengenal kalian."


"Tidak mengenal ya? Hm ... bagaimana jika kau mengikuti kami," ucap lelaki tinggi yang satu itu.


Tanpa kuduga, lelaki bertubuh tinggi itu langsung menarik tanganku.


"Hei, lepaskan aku! Aku sedang sibuk hari ini, jangan menggangguku!" mereka benar-benar menyebalkan. Aku memberontak, dan mengguncang-guncamg tanganku dengan keras. Sesekali aku mengayun-ayunkan tanganku, tapi tak juga terlepas. Genggamannya kuat sekali.


"Diam saja gadis manis, kamu hanya perlu mengikuti kami sebentar," kata El.


Aku tidak tahu mereka ingin membawaku ke mana, tapi menurutku mereka seperti lelaki asing yang lancang.


"Aku tidak ingin pergi bersama kalian, cepat lepaskan aku sekarang juga! Atau aku akan menuduh kalian berbuat hal yang senonoh padaku!" saat itu aku berharap mereka mendengarkan ancamanku.


Tapi ternyata, hal tak terduganya lagi, El menghampiri dan langsung membekap mulut sembari tangan sebelahnya yang memegangi tubuhku agar tak terlepas. Apa-apaan ini?


"Hmph!" seruku tapi percuma.


"Gerry, aku akan membawa gadis ini lebih cepat lagi," kata El.


Aku merasa kehilangan akal, secepatnya pula aku harus bisa melepaskan diri. Di depan aku melihat ada pintu kecil. Mereka semakin dekat ingin membawaku ke sana, aku tidak tahu apa yang terjadi jika aku dibawa mereka ke sana.


Tiba-tiba ada satu ide yang melintas di kepalaku. Aku menggigit tangan El yang membekapku. Lalu secepat kilat ketika ia sedang merintih aku pergi menjauh dari pelukannya.


"Lain kali, kalian harus lebih halus pada wanita!" seruku pada mereka sebelum aku pergi.


***


huft.


Gara-gara ulah mereka aku jadi baru setengah mengerjakan tugas. Aku khawatir kalau pak Bronto akan marah. Tapi ... bagaimana jadinya nanti, aku menyerahkannya nanti saja.


"Veronica," ucap pak Bronto. Hatiku mulai cemas ketika pak Bronto memanggilku. "Kenapa kamu baru mengerjakan setengah?"


Mati. Bagaimana cara menjawabnya, Veronica?!


"Nilaimu ..."


Ayolah, jangan menggantung seperti itu ketika berbicara, pak.


"Nilaimu sangat bagus walau hanya mengerjakan setengah. Tapi lain kali cobalah untuk mengerjakannya sampai penuh, ya."


Huft, kupikir pak Bronto akan menghukum atau memarahiku. Ternyata dia hanya menasihati dan memujiku dengan baik. Saat itu aku bisa menghela napas lega.


"Tapi ... hukumanmu karna mengerjakan tugas hanya setengah adalah membersihkan kamar mandi!"


"Apa?!" teriakku tak percaya. Yang benar saja! Ternyata diam-diam pak Bronto juga adalah iblis. Ralat, IBLIS!


Oh, ya ampun, rasanya aku ingin menangis.


(😭)


Membersihkan kamar mandi adalah sesuatu yang tak mudah. Tenagaku hampir terkuras habis terus menyikat dan menyikat. Noda membandel yang ada di dalam wastafle tidak kunjung hilang. Kamar mandi ini mempunyai tiga bilik. Rasanya mau mati saja. Pak Bronto terlalu kejam menghukumku, kalau begitu besok-besok seharusnya aku menenggelamkan pak Bronto ke lautan. Harusnya aku tersenyum jahat sekarang, tapi pikiranku yang lain mengatakan kalau itu adalah hal yang mustahil.


Berkali-kali dengan satu sikat yang ada di tanganku, aku bolak-balik dari bilik ke satu dan satunya lagi, lalu berganti ke wastafle dan mengelap kaca.


Klek.


Saat itu aku mendengar pintu toilet yang dibuka. Huh, lebih baik aku buru-buru menyelesaikannya.


"Eh? Seorang Veronica Adelle sedang dihukum ya?"


Suara itu ... aku sama sekali tak mengenalnya. Tapi kalau aku menengok dan menghadap padanya, nantinya aku takut membuang-buang waktuku untuk menyelesaikan hukuman secepatnya.


"Hei, kau dengar aku tidak?!"


Kurasakan rambutku tertarik ke belakang bersamaan dengan seruan tadi yang menurutku hal itu sangat tidak sopan. Tak ingin aku menyia-nyiakan kesempatan itu, pada saat rambutku dijambak aku yang tadi masih memegangi sikat sengaja aku lempar ke belakang. Semoga saja mengenai dirinya. Minimal bagian kepalanya yang kena agar ia bisa melatih otaknya dengan baik.


"Kurang ajar!"


Aku langsung bangkit berdiri dan menghadap pada orang yang tadi menjambakku tanpa izin. Awalnya kukira dia hanya sendiri ke sini, ternyata ada dua orang lainnya yang tidak aku kenali. Jangankan dua orang itu, perempuan yang tadi menjambakku saja aku tidak tahu siapa dia.


"Sepertinya anda membutuhkan kaca. Jelas-jelas anda yang kurang ajar terlebih dulu pada saya." kuubah gaya bicaraku menjadi formal, santai tapi sedikit menantang padanya.


"Oh, kamu berani menentang saya ya?" tanya gadis itu.


Dia ... cantik tapi sepertinya berhati busuk. Ya, memang kuakui karna ia mempunyai bulu mata lentik dan bentuk wajah yang bagus.


"Maaf, aku tidak mengenalmu dan sedang tak ingin mencari ribut." Sebelum aku ingin berlalu pergi, kulihat di dahinya terdapat bekasan merah. Sepertinya luka itu karna ulah yang diperbuatku saat aku melemparinya dengan sikat tadi. Tapi entah kenapa, aku puas melihatnya.


"Hei, pelacur!"


Rasanya, dia belum puas mengejekku ya? Hatiku panas ketika dia mengatakan itu padaku. Sepertinya dua gadis yang berada di sampingnya adalah tangan kanan dan kirinya.


plak.


Sial, pipiku terasa sakit. Ini ... benar-benar keterlaluan. Aku tidak mengenal siapa mereka, tapi mereka mencoba mencari masalah denganku. Pandanganku mendadak buram, aku merasa kalau aku tidak pantas diperlakukan seperti ini. Lagipula siapa mereka sebenarnya? Apa mereka tidak bisa sopan sedikit pada orang yang baru dikenal?


"Bersikaplah sopan sedikit pada kakak kelasmu, sayang."


Dasar ****. Siapa yang duluan tidak berlaku sopan? Tapi aku tak menyia-nyiakan pada kesempatan ini, aku melihat nickname yang ada di dadanya. Ariana Grande.


Bukan-bukan, maksudku namanya Ariana Gisselle. Karna kalau Ariana Grande, itu adalah penyanyi terkenal yang mempunyai suara merdu. Sedangkan dia adalah Ariana Gisselle yang jago mengadu mulut dan membully orang seperti aku sekarang. Aku berusaha keras untuk menahan air mataku untuk keluar. Karna aku tahu ini bukan waktu yang tepat untuk aku menangis.


Karna jika aku menangis sekarang, berarti aku kalah dan dialah pemenangnya. Kuangkat daguku tinggi-tinggi padanya, sembari jari telunjukku menunjuk pada area pipiku yang tadi dia tampar.


"Apa? Masih mau menamparku lagi? Aku tidak takut pada kakak kelas pengecut sepertimu!" Setelah berucap seperti itu, aku mengumpulkan semua keberanianku. Aku sangat berharap kalau sekarang ada orang yang tiba-tiba datang menyelamatkanku.


Aku tahu kalau emosinya sudah hampir meledak-ledak berkat ucapanku. Kulihat dari pintu toilet yang ditutup, seperti ada orang dari luar berusaha membuka pintu.


"Debora, Fansy, cepat bereskan orang kurang ajar seperti dia!" ucap Ariana.


Ayolah, aku harus benar-benar menyiapkan mentalku. Tak sadar aku berjalan mundur ketika perempuan bernama Debora dan Fansy itu menghampiriku dengan pandangan matanya yang juga marah. Mereka benar-benar tersulut emosinya. Hingga aku tak menyadari jika aku sudah terpojok. Belakangku ada wastafle yang menghalangiku untuk mundur lagi.


"Jaga ucapanmu pada Nona muda kami, bocah!" seru Debora.


Lalu tanpa kuduga Fansy langsung meloncat ke samping dan menjambaki rambutku. Kulihat Debora mengeluarkan gunting dari sakunya.


Fansy membantu Debora menahan lenganku untuk memberontak, kemudian Debora mulai menggunting rok seragamku memanjang ke atas. Baru setengah dia menggunting rokku, pintu terbuka dengan keras.


BRAK!


Detik itu juga, aku menjatuhkan diriku dan menutup mata. Ya, aku memang sedang berpura-pura pingsan.


Kuintip dari celah mataku Debora dan Fansy begitu tercengang dan ketakutan. Yeah, sedikit lagi aku akan berhasil! Aku senang melihat mereka menderita. Bahkan perempuan bernama Ariana juga sama terkejutnya. Orang yang menemukanku di toilet benar-benar adalah pahlawanku.


Lalu sedikit mataku agak terbuka, kulihat di depan pintu berdiri sosok....


Aray?!


Astaga, aku kembali menutup mata. Selanjutnya aku mendengar suara langkah kaki mendekat, suara itu aku yakini sebagai suara sepatu dari Aray.


"Ma-maaf, Tuan muda Aray, ini bukan seperti yang kau lihat," ucap Ariana. Aku masih menutup mata, tidak melihat bagaimana reaksi mereka.


Tapi aku sangat bingung mengapa mereka memanggil Aray sebagai Tuan muda. Ariana pun juga sama dipanggilnya dengan Nona muda. Tidak masuk akal. Tapi aku berharap Aray cepat-cepat membawaku pergi dari sini, kemudian aku bisa langsung bebas dari mereka.


"Hm, tidak apa. Aku kira di toilet wanita ada ribut-ribut apa di sini. Ternyata kalian sedang mem-bully orang ya? Lanjutkan saja lagi aktivitasnya." Kata-kata itu tak terduga keluar dari mulut sang Aray. Rasanya aku ... ingin menamparnya kalau tidak sedang berakting. Tapi aku masih tetap menjalani aktingku di sini.


"Tapi ... gadis ini, sudah pingsan. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Ariana. Aku heran mengapa nada bicaranya tiba-tiba menjadi selembut itu.


"Tinggalkan saja dia di sana, tidak perlu dipedulikan." Lalu aku mendengar suara langkah kaki yang menjauh. "Aku akan pergi, sampai jumpa!"


Itu ... tidak pernah terpikirkan di benakku sebenarnya. Benar-benar menyayat hati. Diriku seakan tersambar petir di siang hari yang bolong. Aray memang ****. Hatinya seperti iblis jahat, bahkan lebih iblis dari pak Bronto. Dia memang cowok yang menyebalkan! Aku tidak akan menolongnya saat nanti ia susah. Awas saja, aku akan membalas perbuatannya.


"Ayo semua. Tinggalkan gadis menyedihkan ini di sini, aku juga sudah malas karna ia begitu lemah baru sebentar dibully." Aku mendengar lagi suara Ariana. Kemudian banyak langkah kaki yang perlahan menjauh.


Pada saat ini aku membuka mata sepenuhnya. Sudah tidak ada orang di sini. Keadaan diriku benar-benar berantakan. Kutatap diriku di cermin toilet. Benar kata Ariana. Aku adalah gadis menyedihkan. Baju seragamku robek di mana-mana, rambutku berantakan. Bahkan aku juga melihat tanganku ada bekas lebam, sepertinya karna tadi terantuk wastafle.


Aku berhenti menatal diri di cermin. Berarti, mulai saat ini aku harus mandiri. Baru selangkah berjalan untuk pergi, kakiku tiba-tiba terasa sakit. Ah, sialan. Mengapa aku begitu lemah sekarang? Tapi ... kalau saja aku tidak akting pingsan tadi, pasti nyawaku sudah melayang-layang. Aku berusaha membuka kenop pintu, tenagaku benar-benar sudah terkuras habis. Baru saja membukanya, tubuhku malah melayang jatuh keluar.


"Ahh!" pekikku. Aku kira akan terasa sakit saat jatuh, tapi ternyata aku malah merasakan hal lain. Di bawah tubuhku ada rasa yang hangat. Tidak dingin seperti lantai.


Aku memberanikan diri membuka mata, mataku begitu terkejut ketika kami saling beradu netra.


"E-El?!"


"Veronica," gumam El.


Tidak banyak orang yang lewat sini. Bahkan aku mendengar ada seorang perempuan yang langsung menilai kami.


"Cih, apa itu Veronica dengan Tuan muda Elias? Mengapa Veronica terlihat murahan berada pada pose di atas Elias? Mana lagi, seragam Veronica begitu berantakan."


Aku dan El langsung tersadar dan membangkitkan diri. Astaga, aku tidak ingin memperburuk situasi lagi. Tapi dari sini aku mendapat hikmah. Bahwa namanya El bukan hanya El, Tapi Elias.


"Ehm, ini. Gunakan jaket ini untuk melindungi tubuhmu." Elias memberikan jaket hitam kepadaku. Bahkan orang yang tadi pagi aku kira sangat jahat malah membantuku sekarang. Ya Tuhan, aku sedikit terharu oleh perbuatannya. Jadinya aku menerima jaket itu dan langsung mengenakannya di tubuhku.


Tapi, jaket itu tak sampai menutupi rokku yang sudah digunting. Aku melihatnya dengan tatapan nanar. Pahaku terekspos bebas di sana.


"Sebentar, sebentar. Jaket itu cukup panjang tahu. Sini biar kubantu," kata El. Eh, maksudku Elias.


Lelaki itu membantuku memanjangkan jaketnya hingga ke bawah. Ah, ternyata aku baru tahu kalau jaket ini dilipat ke dalam agar tak terlihat panjang. Kemudian Elias juga membantuku merestleting jaketnya dari bawah hingga atas.


"Te-terima kasih," kataku ragu-ragu. Untuk pertama kalinya Elias tersenyum kepadaku. Ugh, senyumannya itu... benar-benar membuatku terpesona.


"Kalau begitu, ayo ikuti aku." Elias berjalan lebih dulu di depanku. Aku menarik baju seragamnya, mencegahnya untuk berjalan.


"Ke mana?"


"Ikuti saja aku. Nanti kau juga akan tahu."


Tapi ... seingatku jam istirahat sudah berakhir. Tapi lelaki ini ingin membawaku ke mana?


Ah, baiklah! Untuk kali ini saja aku akan bersikap baik padanya karna sudah menolongku. Anggap saja sebagai hutang budi. Lalu aku tidak akan terlibat lagi padanya.


"Oke."


Aku berjalan di belakangnya. Lalu pikiranki tiba-tiba saja memungkinkan suatu hal. Bisa saja dia ... ingin membawaku ke tempat yang tadi pagi kan?! Karna aku lihat di depan ada belokan kanan dan kiri. Sedangkan lelaki ini bersama temannya tadi pagi membawaku ke tempat yang sebelah kiri.


Tapi ternyata, Elias berbelok ke kanan. Berarti aku juga harus mengikutinya. Huft, syukurlah, aku pikir dia ingin membawaku ke tempat yang tadi.


"Hei!"


teriakkan tersebut membuat aku dengan Elias berhenti mematung. Jangan-jangan itu adalah teriakan dari orang yang berkeliling sekolah untuk mengawasi para murid? Tiba-tiba saja Elias berjalan mundur dan menyejajarkan dia dengan temlat berhentiku.


Tanpa kuduga lelaki itu merangkul dan membisik di telingaku.


"Kau ... tidak ingin dihukum lagi kan?" tanya Elias. Pertanyaan itu membuatku mengangguk dengan keras. "Maka ... ayo kita lari sekarang!"


Tanpa aba-aba Elias langsung berlari sambil merangkulku. Ya Tuhan, tolong selamatkan kakiku! Dia benar-benar letih. Tapi Elias tak melepaskan rangkulannya, sepertinya disengaja untuk mencegah kakiku terluka lebih parah. Tapi ... tetap saja rasanya sakit.


Tiba-tiba ada sesuatu terpikirkan di benakku.


"Bagaimana kau tahu kalau tadi aku dihukum?" tanyaku bingung.


"Tidak perlu banyak bertanya." Elias langsung berhenti dan berjongkok di hadapanku. Aku bingung kenapa dia mau melakukannya. "Cepat naik ke punggungku."


"Hei, kalian berdua akan mendapat hukuman!" aku menengok ke belakang. Benar saja, dia adalah guru BP.


Karna menurutku tidak ada lagi pilihan, aku langsung melompat ke punggung Elias. Lelaki itu langsung berdiri dan berlari membawaku pergi. Kepalaku bersandar di pundaknya. Ini ... mengapa rasanya sangat nyaman? Ah, aku persetan dengan dirinya. Kemudian aku menutup mata, perlahan aku merasakan hembusan angin menerpa wajahku.


Tak pernah terpikirkan olehku mendapat kejadian yang seperti ini. Entah mengapa, detik itu juga tiba-tiba jantungku berdebar lebih kencang dari biasanya.


Veronica! Kumohon sadarlah!


"Vero?" tanya Elias.


"hm?"


"Kita ... kita sudah sampai. Cepat turun dari punggungku."


Eh? Aku membuka mata. Dihadapanku sudah terdapat bangunan besar yang mewah. Di mana ini? Tak lama, kemudian aku melihat pintu rumah itu terbuka. Menampakkan dua orang di sana. Dan dia adalah ... Aray dengan cowok tinggi itu bernama Gerry.


"Sampai kapan kalian akan seperti itu?" Gerry berkata dengan nada malas. Aray hanya diam saja, tapi menghampiri kami berdua.


"Dasar curut. Jangan modus dengan Elias, cepat turun dari punggungnya!" Itu kata terpedas yang dilontarkan dari mulut Aray. Tapi cowok itu menyodorkan tangannya padaku.


Sudah menyakiti hati orang, ingin berbuat sok baik?


"Aku tidak sok baik padamu. Hanya kasihan saja dengan kondisimu yang seperti ini." Ah, iya. Lagi-lagi aku lupa dengan Aray yang bisa membaca pikiran.


"Aku tidak perlu bantuanmu. Elias, kamu ... masih kuat menggendongku ke dalam kan?"


Lalu aku melirik Aray. Cowok itu sedikit terkikik, bahkan Gerry yang tadinya malas melihat juga ikut-ikutan. Semoga saja Elias mau menggendongku untuk menyelamatkan aku dari Aray. Dan semoga saja ... Elias tidak langsung mati hanya karna menggendongiku terus. Hihihi.


"O-oke."


Aku khawatir Elias akan menggerutu dalam hati.


😄