
"Cath, berjanjilah padaku untuk selalu disisiku," bisik Hazel di telinganya sebelum menutup mata.
***
Veronica terbangun. Gadis itu merasa ada yang membisik di telinganya barusan, namun yang ia lihat di hadapannya adalah Aray yang semula raut wajahnya khawatir berubah menjadi lebih baik ketika melihat kedua mata Veronica akhirnya terbuka.
Gadis itu sadar sedang berada dipangkuannya. Veronica yang awalnya ingin tersenyum dan berterima kasih pada Aray, cowok itu tiba-tiba menjatuhkan kepalanya dan berdiri. Kemudian melipat kedua tangannya di depan dada. Dia sama sekali tak peduli kalau kepala Veronica jadi pusing akibat perlakuannya.
"Sudah kubilang, melompat dan langsung menjauh, tapi kau tetap saja keras kepala! Itulah akibatnya. Aku tidak mau minta maaf."
Veronica bangun dari tidurannya, dia berkacak pinggang di depan Aray.
"Apa maksudmu, huh? Aku belum siap dan kau langsung melakukan ... semacam peledakan?"
"Cih, untung tembok itu agak menghalangi. Kalau tidak ada, maka tubuhmu yang bisa hancur, tahu!" Aray menunjuk tembok pembatas yang sudah hancur berkeping-keping. Lengkap dengan belasan para vampire yang sudah mati dengan keadaan yang sangat mengenaskan.
"Lalu kenapa kamu juga bisa selamat? Di mana kamu bisa menemukan peledak itu? Kulihat kamu sama sekali tidak membawa apa pun tadi."
"Dari mana aku bisa selamat itu tidak penting. Lagipula aku menemukan peledak yang tertempel di salah satu dinding rumah saat kita berlari tadi. Dalam keadaan mati dan aku menyalakannya."
Veronica menyentuh dahinya, mengecek apakah ada luka di sana. Namun, benar saja apa yang diduganya, ada darah segar yang mengalir. Membuat Veronica bisa beralibi lebih dalam lagi. "Lihat, kau yang membuatku terluka," kata Veronica sembari menunjukkan bercak darah di jarinya. Veronica berkata lagi, "Aku tidak akan memaafkanmu."
"Kamu menunjukkan darah itu," ucap Aray tiba-tiba. Membuat Veronica memelotot tak percaya, dia lupa. "Hanya tidak dapat maaf darimu bukan berarti tidak dapat darahmu, kan?"
Aray mendekat, lidahnya terjulur dan menjilati bercak darah di jari-jari Veronica. Raut wajahnya seperti menemukan minuman terenak di dunia, Veronica jadi geli sendiri melihatnya. Apalagi merasakan setiap sentuhan lidah Aray yang mengemut dan menjilat jarinya.
Ugh, rasanya benar-benar aneh!
Veronica ingin sekali menarik tangannya, namun ia seakan tak ada kuasa dan daya. Tangannya kaku mengambang di udara bahkan sampai Aray selesai menjilati sisa darah di jemarinya hingga habis tak bersisa.
"Ada apa dengan tanganmu? Keram?" tanya Aray setelah selesai, namun ekspresinya seakan menggoda Veronica yang mematung.
Beberapa detik kemudian, gadis itu tersadar dan menarik tangannya, disembunyikan.
"J-jangan sentuh aku lagi," kata Vero dengan sinis. Gadis itu kemudian hendak mengusap darahnya yang ada di dahi, akan tetapi, lagi-lagi tangannya ditahan oleh Aray.
"Bukankah sayang jika makanan dibuang? Sini aku bersihkan." Aray juga menjilat darah yang berada di dahi Veronica kemudian mengecupnya. Memberi efek sengatan listrik pada tubuh Veronica.
"Aray, kau vampire kutukan, bukan? Kenapa ... bisa se-agresif ini pada darah? Menurut yang pernah aku baca, harusnya--"
"Entahlah. Aku hanya candu menyentuhmu lagi dan lagi."
"Ha-Hazel?"
"Yup, benar sekali. Kamu pandai mengenaliku. Aku semakin percaya bahwa di dalam tubuhmu itu ada Catherine."
"Oh, ayolah. Kamu hanya belum mengerti."
Veronica memutar bola matanya malas, sisi lain Aray menyebalkan sekali. Gadis itu meninggalkan Hazel sendiri. Apa jangan-jangan, suara seseorang yang berbisik itu adalah Hazel?
"Cath!" panggil Hazel sembari menyusulnya.
"Berhenti panggil aku dengan sebutan perempuan itu. Selama ini aku cukup sadar bahwa di dalam diriku sama sekali tidak ada gadis yang kau sebut 'Catherine'." Veronica enggan menatapnya, gadis itu berbicara sambil berjalan menelusuri hutan aneh ini.
"Tapi, bagaimana jika iya?"
"Sudah cukup!" Veronica berbalik dan menatap tajam matanya. Barusan ia sempat terpesona pada Aray ketika dia melakukan sentuhan itu. Namun, ketika Hazel yang muncul, membuat Veronica tiba-tiba jijik dan kecewa.
"Vero, aku Aray." Pandangan mata tajam dan menusuk itu kembali seperti biasa, menandakan kalau ia benar-benar sosok Aray.
"Hazel benar-benar pria pemaksa. Aku tidak tahu kenapa ia bisa menempeli dirimu?"
Aray mengendikkan bahunya, "Aku juga tidak tahu. Aku merasa risih semenjak ia terlepas dalam jeratan. Ia selalu mengambil alih posisi alam bawah sadarku dengan tiba-tiba."
"Katakan padanya kalau dia menyebalkan," ucap Veronica yang terakhir kalinya berbicara pada Aray hari ini.
***
"Aku mencium bau sihir. Semakin pekat, aku rasa penyihir Rose ada di sekitar sini. Kita harus lebih berhati-hati, Gerry." Gerry yang sedaritadi berada di belakang Elias hanya bisa mengangguk paham tanpa berbicara. "Sepertinya kita akan semakin dekat bertemu dengan jam yang bisa membawa kita semua ke masa depan."
"Tapi aku tidak cukup yakin. Bagaimana jika jam itu disembunyikan? Tidak ada di sini melainkan tempat lain," kata Gerry pada akhirnya.
"Hei, jangan pesimis seperti itu. Kita belum coba."
Beberapa jam ketika mereka berputar-putar setelah merelakan kepergian Veronica dengan Aray, akhirnya menemukan sebuah rumah tua di pinggir hutan. Beberapa kilometer lagi dari tempat mereka, sebenarnya akan sampai disebuah kastil kerajaan. Namun Elias dan Gerry lebih memilih untuk mengecek lebih dulu rumah ini. Karena penciuman Elias mendapat penemuan baru.
Barang yang terlihat kuno dan berdebu sangat mengganggu. Membuat Elias tidak tahan dan membanting beberapa barang-barang itu ke lantai sambil berteriak, "Hei, ayolah! Jangan jadi pengecut. Aku tidak takut."
Gerry memukul lumayan keras tengkuk cowok itu dari belakang untuk menyadarkannya. "Kau sudah gila?"
Elias berbalik dan menyengir. Tingkahnya benar-benar konyol. "Mau lakukan sekali lagi?" tanyanya.
Gerry menepuk dahinya sendiri, merasa tak habis pikir dengan perlakuan bodoh Elias. Biasanya jika dia sampai melakukan hal bodoh seperti itu, pertanda kalau Elias tengah lapar.
"Dikeadaan yang sangat terpaksa, aku mengizinkanmu untuk mencicipi sedikit darahku agar kamu tidak bertingkah terlalu bodoh seperti itu."
Elias membuka mulutnya, menampakkan taring panjang yang tajam beserta cengiran lebar di bibirnya. Kedua telinga pria itu sedikit meruncing, inilah wujud asli vampire yang sebenarnya dibandingkan dengan Aray si vampire kutukan.
"Kau memang yang terbaik, Gerry."
Gerry harus menahan napas. Gigitan Elias itu lumayan sakitnya, tahu. Pernah sekali waktu Elias masih vampire liar, dia mengigit leher Gerry dengan brutal. Itu jauh lebih sakit. Namun ketika mereka akhirnya mampu bersahabat dengan Aray, perlahan Elias menjadi vampire penghisap darah binatang. Kecuali dalam keadaan terdesak seperti sekarang, dia akan menghisap darah manusia. Tetapi, tunggu, jika penyihir itu benar ada di sini kenapa tidak menampakkan dirinya walau Elias sudah memecahkan beberapa barang-barangnya?