I Still Love Her

I Still Love Her
Kamu Cantik Kok



"Makasih ya, udah repot-repot bawa sup untuk aku" ucap aldi, ia langsung memakan sup tersebut. Sedangkan Lyn hanya terus melihatnya makan.


Uhuk! uhuk! Aldi tersedak karena Lyn terus-menerus menatapnya dari tadi.


"Kamu kenapa liat aku terus? aku gak bisa konsen makan tau, kamu mau makan juga? nih kita bagi dua aja. Kalau mau makan ya minta, jangan liat aja" Aldi menyodorkan supnya untuk Lyn.


"Gak usah, aku udah makan. Lain kali kamu gak usah minum-minum ya, tapi temani aku aja. Kamu merepotkan tau gak!" kata Lyn dengan wajah yang kesal.


"Ya maaf hehe, kan kamu yang ajak jadi tanggung jawab dong" balas Aldi.


"Tanggung jawab apanya!! emangnya aku istri kamu!!" omel Lyn.


".........." Aldi yang mau menyuapkan sup ke mulutnya tiba-tiba membeku setelah mendengar perkataan Lyn tersebut, begitu juga dengan Lyn yang sadar akan perkataannya.


"......Hehe kamu kuat minum juga ya, kepala aku sampai sekarang masih pusing banget. Kepala kamu gak pusing?" tanya Aldi yang mencoba mengganti topik pembicaraan.


"Gak!" jawab Lyn dengan dingin.


"Galak banget. Nanti kalau di depan si Rizky langsung jadi baik, ramah, sopan. Beda banget sama aku" Aldi memutar bola matanya, sedangkan Lyn hanya melihatnya dengan wajah yang datar.


Aldi telah menghabiskan sup yang di bawakan Lyn, ia langsung meminum segelas air putih yang tadi di ambilkan oleh Lyn.


"Hei! kemarin kamu bilang kalau aku lebih cantik dengan warna rambut ini loh" kata Lyn.


Pfftt!! Aldi langsung menyemburkan air yang berada di dalam mulutnya, untung saja Lyn tak terkena semburan air tersebut.


"Ih apaan sih, jorok banget. Kamu mengejek aku ya? emang menurut kamu aku gak cantik? Kamu buta atau gimana sih? Perasaan aku ini cantik kok" Lyn menggerutu karena merasa di ejek oleh Aldi.


"Ah hehehe bu-bukan begitu Lyn, kamu jangan marah. Kamu emang cantik kok hehe, aku hanya kaget" kata Aldi dengan tersenyum paksa, bahkan sekarang wajah dan telinganya memerah.


"Selain itu aku gak bilang apa-apa kan? aku gak mengakui perasaan aku kan? aku gak bilang suka sama dia kan? Hhh gak, aku gak ingat pernah bilang hal-hal yang aneh. Dasar bodoh" batin Aldi.


"Hhh terus kenapa kamu memerah kaya gitu? kamu malu ya? hahaha. Bilang aja kalau aku memang cantik, gak usah gengsi-gengsi tau" Lyn tertawa.


"Siapa yang memerah? I-ini merah karena efek minum semalam, hhh apaan sih ada-ada aja. Tapi... selain itu, aku gak bilang yang aneh-aneh kan? hehe" tanya Aldi sambil memegang belakang lehernya.


"Hmm bilang, kamu bilang katanya kamu gak bisa move on sama seseorang haha. Kamu juga bilang kalau kamu itu orang yang setia, terus..." Lyn tak melanjutkan perkataannya.


"Apa!? ya ampun bodoh banget aku, tapi aku gak bilang kalau seseorang itu dia kan?" batin Aldi, ia sangat panik sekarang.


"Terus apa!?" Aldi tambah panik.


"Hehehe santai dong, emang kamu lagi suka sama siapa sih? kamu di tolak ya? hahaha, jangan menyerah dong kejar terus" ejek Lyn.


"Hhh jawab dulu, terus aku bilang apa lagi?" Aldi terlihat tak sabar.


"Hhh kamu pulang sana, aku mau istirahat. Makasih atas supnya" Aldi langsung berdiri dan meninggalkan Lyn.


"Hehehe okay! jangan marah-marah dong! Aku pulang ya" Lyn langsung beranjak dari tempat duduknya lalu keluar dari apartemen Aldi.





Tak terasa sudah hampir satu minggu berlalu. Hari demi hari berlalu, namun Aldi dan Lyn tak pernah berkomunikasi atau bertemu. Bukan karena sedang saling marah karena kejadian tempo hari, namun karena masing-masing memiliki kesibukan yang harus di prioritaskan dan tak boleh di sampingkan.


Dengan tanpa beban dan paksaan, Lyn sudah mulai bekerja di perusahaan ayahnya. Tak seperti pagi-pagi kemarin, tentu saja setiap pagi Lyn harus pergi ke kantor dengan tepat waktu.


Sedangkan Aldi, ia terus merasa cemas dan khawatir karena ia dan Lyn tak lagi saling komunikasi. Perasaan rindu mulai bergejolak di dalam hatinya, ia amat ragu untuk menghubungi wanita berambut cokelat tersebut. Rasanya ia terlihat seperti pengecut sekarang, walau ia tahu bahwa Lyn bukanlah wanita yang terlalu banyak menuntut dan juga bukanlah wanita yang suka menyimpan dendam.


Dengan memberanikan diri, Aldi berniat akan pergi menemui Lyn sebelum pergi ke kantor. Aldi pergi sedikit lebih awal menuju Wijaya Group yang tak jauh dari apartemennya sambil membawa roti baguette kesukaan Lyn. Ia berpikir untuk apa ia ragu dan takut untuk menemui Lyn, apa salahnya jika mengunjungi sahabat sendiri.


Aldi sudah sampai di depan gedung Wijaya Group, ia turun dari mobilnya sambil membawa sebuah kantong berisi roti di tangannya. Sekarang apa yang harus ia lakukan? Apakah ia harus menunggu Lyn dan berdiri di sini? Aldi juga bingung. Saat Aldi sedang berdiri dan berpikir, tiba-tiba ada yang menyapanya dari kejauhan.


"Aldi!!" sapa Lyn dengan melambaikan tangannya, ia kemudian berjalan mendekati Aldi.


"Ya ampun, ada Lyn! Apa aku terlalu berlebihan sampai datang ke sini? Aduh gimana nih!" pikir Aldi.


"Kamu ngapain datang ke sini? tumben banget. Ada hal penting ya?" tanya Lyn.


"Ah.. K-kamu juga ngapain di sini? Aku.. tadi lewat dan gak sengaja ke sini hehe" jawab Aldi.


"Ha? Ih kamu apa-apaan sih, jangan bohong. Ini kan Wijaya Group, perusahan Ayahku" kata Lyn.


"Eh? I-iya ya, ini kan perusahan Ayah kamu hehe" Aldi tersenyum kaku


"Kamu sengaja datang mau ketemu aku kan? hayo ngaku, jangan bohong. Terus ini apa? kamu bawa apaan tuh?" Lyn melirik ke arah kantong plastik yang di pegang Aldi.


"Ah iya hehe, aku sebenarnya khawatir sama kamu soalnya akhir-akhir ini kamu gak kasih kabar. Ini aku bawakan roti kesukaan kamu" kata Aldi.


"Wah hehe kamu baik banget, makasih ya. Aku gak kabarin kamu itu gara-gara lagi sibuk, tapi gak terlalu sibuk-sibuk amat sih. Kalau mau ajak aku jalan, ajak aja dan gak usah malu-malu hehe" balas Lyn.


"Ah hahaha iya-iya, aku ke kantor dulu ya takutnya telat hehe" kata Aldi.


"Hm okay, hati-hati ya" balas Lyn.


Aldi pun bergegas pergi ke kantornya sebelum terlambat dan Lyn juga masuk untuk bekerja setelah melihat mobil Aldi yang sudah jauh.