
"Kenapa dia tanya begitu? Apa dia di ancam Papanya? sebenarnya dia ada masalah apa? " batin Rizky yang penuh kebingungan.
"Iya, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Selena, ia sangat penasaran dengan jawaban Rizky.
"Aku...akan melakukan perintah Papaku, karena kalau aku gak melakukannya pasti gak di anggap anak kan? aku rasa itu hal terburuk jika Papa gak menganggapku anak" Rizky ragu-ragu dalam memberikan jawabannya.
"*Hhh t**ernyata j**awabannya juga sama*" batin Selena.
Selena menatap wajah Rizky dengan serius begitu pun Rizky, ia juga menatap wajah sang istri. Rizky langsung memutuskan kontak mata dengan mengalihkan pandangannya ke bawah.
Sesaat suasana menjadi hening dan canggung.
"Kamu... di ancam sama Papa ya?" tanya Rizky dengan sangat hati-hati.
"............iya" jawab Selena dengan sangat serius, Rizky langsung terkejut mendengar jawaban sang istri.
Rizky tak membalas apa-apa, ia takut untuk bertanya lebih lanjut. Tapi sebagai pasangan suami istri, harus saling terbuka, memahami, dan mendukung satu sama lain, itu yang di pikirkan Rizky. Makanya ia memutuskan untuk meminta Selena menceritakan semua masalahnya.
"Sebagai pasangan suami istri.... kita harus saling terbuka kan? aku akan mendengar masalahmu, jadi... kalau gak keberatan...kamu bisa cerita sama aku" kata Rizky.
"Kamu mau dengar?" Selena langsung menatap mata sang suami, pasangan suami istri itu saling menatap sekarang.
"Iya.... aku akan dengar semuanya. Siapa tau aku bisa bantu.." jawab Rizky, Selena yang mendengar jawaban sang suami langsung tersenyum tipis.
"Kamu pasti akan kaget mendengar ini, Papaku mengancam kalau aku gak mau menikah sama kamu, aku gak akan di anggap anak dan juga gak akan dapat harta warisan sedikit pun....... Itu artinya... sama saja dengan membuangku kan? sangat jahat bukan?" kata Selena tanpa menatap mata sang suami.
Rizky yang mendengar hal itu langsung kaget dan sedih, ia sama sekali tidak tau Ukalau istrinya sangat terpaksa menikah dengan dirinya. Ia hanya berpikir istrinya menikah dengannya Ia menatap wajah sang istri yang terlihat lelah dan pasrah.
"Sama dengan jawabanmu, aku juga memilih untuk melakukan apa yang di suruh Papaku. Sekarang setelah aku menikah sama kamu, Papa malah menyuruhku untuk punya anak dan mengancamku kembali cih, aku sudah muak" kata Selena dengan raut muka serius.
Rizky hanya diam dan merasa sedih, ia merasa dirinya sangat egois. Selama ini ia merasa bahagia dengan pernikahannya, sedangkan Selena yang tidak mencintainya itu merasa tersiksa bersamanya.
"Bagaimana? menurut kamu bagaimana?" tanya Selena dengan senyum.
"........Kalau itu yang kamu khawatirkan, aku rasa kamu gak perlu terlalu khawatir. Sekarang kita sudah menikah, suatu saat kita pasti memiliki anak. Aku....masih belum mengerti maksud kamu apa" kata Rizky dengan ragu, ia sebenarnya tidak tau harus bilang apa. Ia juga tak mengerti apa yang Selena takutkan, ia juga tak tau bagaimana cara menghibur istrinya.
"..........Jam makan siang hampir habis, kamu nanti terlambat. Kamu harus cepat kembali ke kantor" kata Selena, ia langsung berdiri dari sofa dan berjalan ke meja kerjanya.
Rizky terdiam sesaat dan melihat istrinya yang sedang duduk beberapa meter darinya. Ia berpikir bahwa ia harus segera kembali dan membiarkan istrinya waktu untuk sendirian.
Rizky langsung berdiri dari sofa tersebut.
"Aku pergi dulu, jangan lupa sampaikan terima kasih ke Mama atas makan siangnya" kata Rizky, Selena hanya diam dan tak menghiraukan perkataan suaminya.
Rizky langsung berjalan keluar dari ruangan istrinya dan kembali ke kantor.
Sepanjang perjalanan, ia terus memikirkan hal itu.
Apa yang harus kulakukan?
Kenapa Pak Vicky sampai bisa mengancam putrinya sendiri?
Apa pernikahan ini sangat penting sampai-sampai Selena di ancam seperti itu?
Apakah Selena membenci pernikahan ini?
Bagaimana cara aku bisa menghiburnya?
Bagaimana cara agar Selena mencintaiku?
Bagaimana cara agar pernikahan ini bisa bahagia?
Sekarang banyak hal yang ada di pikirannya bahkan saat ia sudah sampai di kantornya, ia masih terus memikirkan hal itu.
Tok..tok..tok.. (bunyi seseorang mengetuk pintu ruangan Rizky)
"Bro!! bro!! aku masuk ya?" teriak seseorang dari luar ruangannya.
"Iya!!" jawab Rizky, ia tau bahwa seseorang yang ingin masuk ke ruangannya itu ialah Aldi sahabatnya.
Aldi langsung membuka pintunya dan langsung duduk di sofa. Rizky terlihat sibuk memandang beberapa lembar kertas. Walau ia terlihat sibuk, ia sebenarnya hanya memandang lembaran-lembaran kertas tersebut dengan tatapan kosong. Ia masih terus saja memikirkan hal tadi.
"Bro! kamu sangat sibuk ya akhir-akhir ini?" tanya Aldi yang sedang duduk santai dengan pangkuan kakinya.
"Iyalah aku sibuk, kamu gak liat?" Rizky berpura-pura mencari-cari sesuatu.
"Hmm kalau akhir pekan gimana? kamu sibuk juga?" tanya Aldi.
"Kamu gak ada kerjaan ya? cepat keluar dan jangan ganggu aku! aku lagi banyak kerja" kata Rizky.
"Hhh bagaimana kalau hari minggu kita refreshing? aku mau keluar jalan-jalan" seru Aldi dengan percaya diri.
Rizky langsung melihat Aldi dengan tatapan jengkelnya.
"Aku refreshingnya di rumah" balas Rizky.
"Hhh iya aku tau kamu udah nikah! udah punya istri! sekali-sekali jalan-jalan keluar sama sahabat sendiri kenapa" kata Aldi dengan nada memaksa.
Rizky tak menghiraukan perkataan Aldi.
"Sebenarnya...tadi pagi Lyn menelpon ku, kamu masih ingat Lyn kan?" kata Aldi.
"Lyn? iya aku masih ingat" jawab Rizky.
"Aku awalnya kaget ku pikir siapa yang telepon soalnya nomornya gak di kenal. Ternyata Lyn, aku kaget karena dia masih save nomor ku hehe" tutur Aldi.
"Oh jadi itu alasannya kamu gak pernah ganti nomor? kamu ternyata setia juga ya" kata Rizky dengan nada mengejek.
"Ha? apa-apaan sih, kamu jangan asal bicara dong.. itu kan udah lama, masih jaman SMA dulu. Tapi aku memang tipe orang yang setia sih hehe" Aldi menyangkal tuduhan Rizky.
Rizky kembali melihat Aldi dengan tatapan jengkelnya.
"Lyn udah kembali ke Indonesia dari kemarin, dia bilang ingin ketemu kita" kata Aldi.
"Hh terus kenapa? kalau cuma bilang soal itu lebih baik kamu kembali kerja, buang-buang waktu aja" Rizky kembali berpura-pura melihat lembaran-lembaran kertas yang sedikit berserakan di atas meja.
"Hhh kamu jangan kaya gitu dong! Lyn itu mau minta nomor telepon kamu, tapi aku gak langsung kasih nanti kamu marah-marah lagi. Makanya aku ke sini mau tanya sama kamu mau nggak nomor telepon kamu aku kasih ke dia? terus kalau bisa kita ketemu hari minggu ini, gimana?" jelas Aldi.
"Dia udah tau kan kalau aku udah punya istri" tanya Rizky dengan serius.